Istri Kesayangan Tuan Noah

Istri Kesayangan Tuan Noah
chapter 18


__ADS_3

Bab 18


Clara menunggu Megan di resoran di mana tempat Megan bekerja. Ini masih pukul sepuluh, jadi Clara gunakan untuk browsing cari informasi mengenai pekerjaan. Sambil di temani segelas jus apel, Clara begitu fokus menatap layar ponselnya.


"Harusnya kau jangan biarkan putri keduamu itu menikah dengannya."


"Benar itu. Toh kalaupun tidak menikah, masih ada hak dengan Jou. Jadi Chloe akan memiliki menantu kaya."


Meski begitu fokus, Clara bisa mendengar percakapan ibu-ibu yang duduk di bangku belakangnya. Clara terdiam dan meletakkan ponselnya untuk memastikan siapa yang sedang mereka bicarakan.


"Aku juga saat ini memang memiliki menantu kaya," sahut Tania.


"Benar juga ya."


"Entahlah! Aku tidak peduli."


Mereka semua terdengar tertawa. Clara yang terus mendengar, merasa heran dengan sikap ibunya yang sampai harus bergosip sejauh ini.


Tidak lama setelah tawa berhenti, Tania menghela napas. "Tapi aku masih berharap Chloe yang menikah dengan putra Tuan Josh dan Lily."


"Ah, yang penting kan putra mereka tetap menikahi salah satu putrimu," sahut salah satu ibu dengan rambut bergelombang. "Biarkan Chloe mengejar mimpinya dulu."


"Kau tidak tahu saja, meski mereka putriku aku masih lebih berharap pada Chloe. Kalian tahu lah bagaimana Clara yang begitu susah diatur mengenai pria."


Clara sampai membelakkan mata mendengar sang ibu bisa bicara demikian di depan para teman-teman arisan.


"Kenapa ibu bicara seperti itu?" batin Clara. "Ibu dengan tega menggunjingku di belakang."


Tidak mau mendengar obrolan menyakitkan itu, Clara pun bangkit. Ia mencangklong tas lalu memasukkan ponselnya dan memakai kaca mata hitamnya.


"Aduh!" pekik Clara tiba-tiba.


Clara tidak sengaja menabrak seorang pelayan yang tengah membawa nampan berisi gelas. Kejadian tersebut sontak membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah Clara. Clara sendiri saat ini terlihat panik karena bajunya basah dan takut jikalau ibunya tahu dia ada di sini.


"Ma-maaf, Mas. Saya tidak sengaja," kata Clara sembari membantu pelayan tersebut.


Tatapan beberapa orang, membuat Clara terus coba menyembunyikan wajah.


"Tidak apa-apa, Nona. Saya yang kurang hati-hati," ujar pelayan tersebut.


"Kalau begitu saya permisi," kata Clara. Ia berjalan cepat menuju toilet.


"Apa itu Clara?" gumam Tania.


Ucapan lirih Tania ternyata didengar oleh ketiga sahabatnya.

__ADS_1


"Kurasa dia memang Clara," kata salah satu teman Tania. "Dari pawakan dan bentuk rambut sih, mirip." Imbuhnya lagi.


"Ah, pasti bukan. Kalau dia memang Clara pasti sudah tahu kalau aku juga ada di sini," kata Tania.


Beralih ke Clara, ia saat ini sedang membersihkan roknya yang tertumpahi minuman. Tidak terlalu banyak harusnya, tapi karena rok yang ia kenakan berwarna cerah, noda kopi latte itu terlihat jelas bekasnya.


"Gara-gara ibu jadi begini kan?" keluh Clara.


Meski percuma, Clara coba mengibaskan roknya dan sedikit menggosok-gosok dengan tisu yang tersedia di toilet.


"Bisa-bisanya ibu menggosipkanku di depan teman-temannya. Dia pikir aku apa? Tega sekali. Aku jadi makin sadar, kalau selama ini ibu memang hanya menyayangi Chloe."


Tidak ada hasil dan roknya tetap terlihat kotor, Clara berpasrah. Ia keluar meninggalkan toilet. Ketika berjalan di lorong menuju jalan ke luar, pas kebetulan selali Clara bertemu dengan Megan.


"Astaga Clara, ternyata kau di sini," cerocos Megan sambil menghela napas. "Kupikir kau sudah pulang. Aku mencarimu di luar tadi."


"Maaf, aku tadi le toilet sebentar," jelas Clara.


Megan melihat noda di rok Clara. "Ada apa dengan rokmu?"


Clara mendesah kasar. "Tadi tertumpahi minuman. Aku tidak sengaja menabrak pelayan."


Megan mengajak Clara mengobrol di ruang belakang. Tepatnya di gudang menyimpanan minuman.


"Mau pakai rokku saja?" tawar Megan.


"Aku bisa pakai baju kerjaku untuk sementara."


"Tidak usah. Sebentar lagi aku juga pulang kok. Perutku sedikit tidak enak juga. Aku sedang datang bulan."


"Ooh."


Mereka berdua duduk sebentar untuk membicarakan kenapa Megan menyuruhnya datang ke sini.


"Maaf ya, kau menunggu terlalu lam tadi. Aku agak sibuk hari ini," ujar Megan. "Pengunjung hari ini lebih banyak dari yang kemarin."


"Tidak apa. Em, ngomong-ngomong ada apa kau memintaku datang?"


"Aku dapat informasi lowongan pekerjaan."


"Sungguh?" Clara sontak berbinar. "Di mana?"


"Tapi sepertinya bukan dalam bidangmu sih! Jauh dari bidangmu malahan. Aku hanya menawarkan saja dulu, barang kali kau mau."


"Apa, apa?" Clara begitu antusias.

__ADS_1


"Aku sebenarnya ragu mau menawarkan ini padamu." Megan nyengir tipis sambil menggaruk-garuk kepala.


"Kenapa memangnya?"


"Ini hanya pekerjaan sebagai office girl," ujar Megan.


"Oooh." Dengan santainya Clara membulatkan bibir. "Tidak masalah buatku. Asal ada pekerjaan, aku mau."


"Tapi, em, kau tahulah, suamimu kan orang kaya, apa tidak masalah kalau kau bekerja sebagai office girl? Itu terlalu rendah menurutku melihat bagaimana posisimu saat ini."


Clara tersenyum tipis. "Aku memang menikah dengan orang kaya, tapi aku belum sepenuhnya berarti dianggap istri olehnya. Aku butuh uang untuk berjaga-jaga jika suatu saat Noah melepasku. Aku harus punya simpanan untuk melanjutkan hidup."


Melihat bagaimana sifat ibu di belakang, Clara sudah enggan untuk meminta bantuan padanya. Kalaupun meminta bantuan nanti, yang ada ibu hanya akan memarahinya dan mengatakan "Dasar anak tidak berguna!"


"Kalau kau memang yakin, kau bisa datang ke perusahaan ini." Megan meletakkan sebuah alamat yang tertulis di kertas di atas meja.


"Oke." Clara menyambutnya dengan antusias. "Terimakasih banyak!" Clara memberi pelukan erat untuk Megan.


"Jangan terlalu erat, nanti aku kehabisan napas."


"Oh maaf."


Keduanya tertawa lepas sebelum akhirnya harus berpisah karena jam istrirahat Megan sudah berakhir. Clara pun juga harus pulang karena tidak mau sampai kehujanan lagi.


Heran saja, setiap pagi selalu nampak terang, tapi menjelang siang, sore hingga malam, lebih sering mendung dan hujan.


Baru keluar dari restoran, Clara tidak menyangka kalau ibunya masih berada di restoran. Tepatnya di halaman restoran. Mungkin sedang menunggu taksi atau jemputan.


"Clara?"


"Ibu?"


Keduanya nampak terkejut. Clara pikir ibunya sudah pulang sedari tadi, tapi tenyata masih di sini dan ditakdirkan bertemu.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Tania angkuh.


"Kenapa nada bicara ibu seperti itu? Ibu seperti tidak merindukanku saja," sahut Clara.


"Untuk apa ibu merindukanmu, kau sudah hidup mewab sekarang. Kau bahka tidak pernah menjenguk ayah dan ibu sekarang."


Kalimat sindiran itu membuat Clara merasa marah. Namun, Clara bukan tipe wanira yang suka terpancinv emosi apalagi ini di hadapan orang tuanya sendiri.


"Aku paham, Bu. Yang selalu ibu rindukan adalah Chloe, putri kesayangan ibu yang selalu dibangga-banggakan."


Clara tidak berkata apapun lagi melainkan pergi begitu saja meninggalkan ibunya.

__ADS_1


***


__ADS_2