Istri Kesayangan Tuan Noah

Istri Kesayangan Tuan Noah
chapter 17


__ADS_3

Bab 17


Luka di tangan Clara sudah mulai mereda setelah di kompres es beberapa kali. Rasa perih dan panas juga perlahan menghilang. Gara-gara kejadian ini, Noah sampai harus kesiangan berangkat ke kantor.


"Maaf, membuatmu kesiangan," kata Clara sambil membantu Noah mengancing kemeja.


Noah tidak menjawab selain berdehem kecil.


Jujur saja situasi ini membuat Clara kembali merasa gugup. Embusan napas Noah, bisa Clara rasakan menyapu wajah dengan lembut. Aroma mint bahkan bisa Clara cium dan ingin rasanya mata ini terpecam meniknati wanginya.


Sudah sejak Noah berniat menuruti keinginan sang ibu untuk coba menerima Clara, memang suasana canggung mulai tidak ada. Di sini, sudah terasa seolah seperti kehidupan sepasang suami istri pada umumnya.


Tiba saat di mana Clara harus berjinjit memakaikan dasi. Setiap situasi ini, mendadak Clara merasakan jantungnya melompat-lompat tidak karuan. Apalagi saat mendapati Noah sedang menatap, Clara segera tunduk dan pura-pura acuh.


"Sudah," kata Clara.


Clara segera mundur untuk mengambilan tas kerja di tepi ranjang.


"Ini tasnya," Clara mengulurkan tas tersebut ke arah Noah.


Sebelum menerima tasnya sendiri, Noah tiba-tiba meraih bagian tengkuk Clara dengan cepat hingga Clara jatuh pada dada bidangnya. Clara yang kaget hanya menjerit kecil tanpa bisa berkutik.


"Peluk aku sebentar," pinta Noah.


Clara tidak merespom selain terpaku diam dengan wajah masih menempel pada dada Noah. Degupan jantung Noah, rasanya terdengar seperti ritme musik yang nyaman untuk di dengar.


"Aku bilang, peluk aku!" tegas Noah tiba-tiba.


Clara jadi gelagapan sendiri dan mau tidak mau kedua tangannya merangkul tubuh Noah masih sambil menenteng tas kerja.


Sekian menit pelukan berlangsung, rasa nyaman benar-benat keduanya rasakan. Clara yang sebelumnya tidak pernah dipeluk pria, merasakan nyaman dan enggan terlepas. Clara tipe wanita yang hanya sibuk mengejar impian, ia sampai lupa atau enggan memikirkan sang kekasih. Jika mendapat pelukan, itu biasanya dari sahabat atau ayah dan ibu.


"Noah," panggil Clara.


Noah melepas pelukan dengan perlahan. "Ada apa?"


Ah, sungguh suaranya terdengar lembut. Tak biasanya Clara begitu senang mendengar kata yang terucap dari bibir Noah.


"Kenapa mendadak kau baik padaku?" tanya Clara.


Clara sudah mendongak menatap wajah Noah yang menunduk. Meski pelukan sudah terlepas, tapi kedua tangan Noah masih melingkar di pinggang Clara.

__ADS_1


"Apa harus kujawab?" Noah balik bertanya.


Clara hanya diam, tapi tetap menatap lekat wajah Noah yang begitu menawan. Posisi wajah Clara yang begitu, seolah sedang merayu Noah untuk segera mencicipi rona merah bibir menggiurkan itu.


Bibir Clara yang sedikit terbuka, tidak sengaja berhasil mengundang Noah untuk menyentuhnya dengan lembut.


"Apa kau sedang menggodaku?" tanya Noah sambil mengusap bibir Clara dengan jemari.


Ingin menolak, tapi tubuh menerima dengan baik.


"Kenapa kau diam saja, Clara! Wake up!" Bisikan asing terus mengganggu pikiran Clara, namun raga tak bisa berkutik.


Jemari itu kini sudah menyingkir beralih merambat ke bagian tengkuk. Noah menunduk dan satu kecupan berhasil mendarat di bibir Clara.


Lagi-lagi Clara tetap diam, hanya bola matanya yang membulat sempurna saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Noah.


Perlahan kecupan itu berubah menjadi ciuman halus. Clara bisa merasakan sapuan lidah basak milik Noah. Manis, kenyal dan Uh! Tidak tahu lagi rasanya.


Dia merebut ciuman pertamaku. Astaga!


Tersadar, Clara segera melepaskan diri. Clara mundur lalu dengan cepat mengusap bibirnya yang basah. Dua pipinya terlihat merah merona menahan malu.


"Ke-kenapa kau menciumku?" tanya Clara gugup.


"Kenapa kau terkejut begitu?" Noah balik tanya. "Apa kau tidak pernah melakukannya?"


Cih! Pertanyaan macam apa itu? Apa dia sedang menyombongkan diri kalau dia sering melakukannya dengan banyak wanita? Sungguh tidak adil untukku!


Mendadak Clara jadi kesal sendiri. Hatinya merasa tidak terima dengan pertanyaan Noah yang menunjukkan kalau sudah serinv berbuat begitu.


"Aku bukan wanita murahan yang harus melakukan itu," jelas Clara.


Kening Noah semakin berkerut. Ini negara barat, ciuman bukanlah hal tabu. Harusnya Clara tahu itu kan? Bahkan harusnya Clara tahu bahkan bercintapun sekarang sudah marak terjadi di manapun.


"Sungguh kau belum pernah berciuman?" Noah bertanya lagi.


"Berhentilah bertanya begitu!" hardik Clara. "Aku memang belum pernah berciuman apalagi sampai dekat dengan pria!"


Sungguh Noah tidak menyangka sekaligus tidak percaya. Ini kehidupan di metropolitan, hampir setiap wanita atau pria pasti pernah memiliki pasangan.


"Berhentilah seolah kau sedang mengejekku!" hardik Clara lagi.

__ADS_1


Rasa kesal semakin memuncak tatkala pikiran Clara melayang-layang bagaimana dulu saat Noah masih menjalin kasih dengan beberapa wanita.


"Sebaiknya kau berangkat saja ke kantor! Ini sudah siang." Clara memutar badan memunggungi Noah.


Noah masih tidak paham mengapa Clara jadi marah-marah tidak jelas. Karena memang sudah siang, Noah memutuskan untuk berangkat ke kantor saja.


Ketika Noah sudah keluar, Clara berjalan menuju balkon. Dari sini, Clara bisa melihat Noah yang berada di bawah sana.


"Apa aku sedang cemburu?" gumam Clara. "Dia merenggut ciuman pertamaku. Tapi aku bukan yang pertama kan? Aish! Brengsek!"


Akhir kalimat, Clara terlalu mengucapkannya dengan lantang. Noah yang saat itu hendak masuk ke dalam mobil, sampai mendongak mencari asal suara itu.


Ups! Clara segera mundur dengan cepat sebelum Noab mengetahuinya.


"Apa dia melihatku?" umpat Clara sambil menggigit bibir.


"Sepertinya aku salah dengar," kata Noah saat masuk ke dalam mobil.


"Pak Rey, apa tadi ada suara aneh?" tanya Pak Rey yang sudah lebih dulu duduk di jok kemudi.


"Tidak, Tuan. Saya tidak mendengar apapun," jelas Pak Rey.


Mobil pun segera melaju menuju kantor. Di sana, pasti Angela sudah mengomel tidak jelas karena si bos tak kunjung datang.


"Astaga! Aku sampai lupa kalau Megan menelponku tadi!" Clara berlari masuk ke dalam kamar lagi.


Saat Clara sudah mendapatkan ponselnya, terlihat ada tiga pesan masuk dari nomor yang sama, yaitu Megan.


Di dalam pesan tersebut, Megan meminta Clara untuk menemuinya di jam makan siang. Karena sepertinya sangat penting, Clara segera bersiap-siap.


Sudah selesai mandi dan berganti pakaian, Clara dengan cepat menyisir rambutnya yang hanya panjang sebahu. Poninya yang menyamping ia biarkan menutupi kedua alisnya.


"Bibi Tere!" panggil Clara.


Bibi Tere muncul sambil menggendong Jou.


"Ada apa, Nona?"


"Aku hari ini mau pergi sebentar. Tidak apa kalau kau menjaga Jou sendiri dulu kan?"


"Iya, Nona. Tidak apa. Ada pelayan lain yang bisa membantuku nanti."

__ADS_1


Sudah terbiasa bersama Bibi Tere dan Jou, rasanya akan tidak sopan jika pergi tanpa berpamitan. Apalagi secara tidak langsung saat ini Clara adalah ibu dari Jou karena sudah menikah dengan Noah.


***


__ADS_2