
"Fahri!" sahut Cassandra. Dia tidak menyangka akan dipertemukan dengan Fahri di tempat itu.
"Fahri? Siapa?" batin Agam. Dia memperhatikan laki-laki tampan di depannya. Terlihat memperhatikan istrinya.
"Siapa dia Cassandra?" tanya Fahri. Dia calon suami Cassandra. Bagaimana calon istrinya bermesraan dengan laki-laki lain di depannya.
"Kau sendiri siapa?" balas Agam. Dia menatap tajam laki-laki di depannya.
"Eee ..." Cassandra bingung. Bagaimana menceritakan ini semua pada Fahri.
"Aku Fahri Hardian calon suami Cassandra. Tolong lepaskan tanganmu dari tubuh calon istriku!" ucap Fahri sambil mengulurkan tangannya. Dia tidak suka melihat Agam merangkul Cassandra. Seolah seseorang yang spesial.
"Aku Agam Maheswara suami Cassandra. Jadi wajarkan aku merangkul istriku," sahut Agam mengulurkan tangan kanannya dan menyalami Fahri.
Seketika Fahri terkejut dan melepaskan tangannya dari Agam.
"Suami?" tanya Fahri. Dia tidak percaya laki-laki di depannya suami Cassandra.
"Iya, Agam suamiku, Fahri," jawab Cassandra. Sebenarnya dia tidak enak hati mengatakan itu. Tapi dia harus tetap memberitahu kenyataannya. Fahri harus tahu kalau Cassandra sudah menikah dengan Agam.
"Tidak mungkin Cassandra! Kau dan aku akan menikah! Kau lupa?" sahut Fahri. Matanya terbelalak mendengar apa yang dikatakan Cassandra padanya. Satu minggu lagi mereka akan menikah tidak mungkin Cassandra menikahi laki-laki lain.
"Aku tidak lupa Fahri, tapi takdir menuliskan hal yang berbeda. Dan aku tidak menolaknya," jawab Cassandra. Sejauh apa dia berencana tetap saja takdir Allah yang menentukan.
"Takdir? Takdir apa Cassandra?" tanya Fahri. Dia tidak bisa terima kalau Cassandra menikah dengan laki-laki lain. Fahri sudah sangat cocok dengan Cassandra. Dia sampai pulang dari luar negeri untuk bisa meminang Cassandra.
"Takdir pernikahan kita atas permintaan warga," jawab Agam.
Fahri menggelengkan kepalanya. Dia masih tidak bisa mengerti kenapa semua ini terjadi.
"Apa yang sudah terjadi Cassandra?" tanya Fahri. Dia yakin Cassandra tidak mungkin sengaja membatalkan pernikahannya dengan Fahri. Cassandra wanita yang baik dan bertanggungjawab. Pasti ada alasan tertentu kenapa dia menikah dengan Agam.
Cassandra terdiam. Dia bingung.
"Oh aku tahu, pasti laki-laki ini memaksamu menikah dengannya kan?" Fahri menunjuk ke arah Agam. Pasti laki-laki bertato itu sudah memaksa Cassandra untuk menikah dengannya. Dari cara bicaranya pun kasar dan terlihat sangar.
"Tidak! Itu tidak benar. Agam tidak pernah memaksaku untuk menikah dengannya," jawab Cassandra.
"Lalu kenapa Cassandra?" tanya Fahri. Dia benar-benar sangat kecewa pada wanita yang ada di depannya.
"Berzina di dalam mobil," jawab Khanza. Dia datang menghampiri ketiga orang itu.
Seketika ketika orang itu menoleh ke arah Khanza.
"Apa? Berzina di dalam mobil?" tanya Fahri.
"Iya, mereka berdua digerebek warga berzina di dalam mobil. Mau tak mau menikah paksa atas desakan warga," jawab Khanza. Dia memangku kedua tangannya.
"Benarkah Cassandra?" tanya Fahri.
"Iya benar," jawab Agam.
"Agam," sahut Cassandra.
Agam menatap wajah cantik yang menatap ke arahnya. Lalu dia menatap ke arah Fahri.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin!" Fahri terus mengelak. Dia tidak bisa mempercayai semua itu.
__ADS_1
"Kau puas?" tanya Agam.
Fahri menatap ke arah Cassandra penuh dengan amarah.
"Kenapa kau mengkhianatiku Cassandra? Kau pela-cur!" pekik Fahri.
Plaaak ...
Agam menampar Fahri dengan keras.
"Hati-hati kalau bicara! Cassandra istriku. Dia bukan pela-cur!" tegas Agam.
"Apa bedanya pela-cur dengan wanita yang mengobral keperawanannya tanpa sebuah ikatan pernikahan?" tanya Fahri.
"Tidak ada bedanya. Tapi Cassandra masih suci. Aku tidak pernah menyentuhnya sampai detik ini. Dan apa yang terjadi hanya kesalahfahaman," jawab Agam.
Cassandra menatap wajah Agam yang membelanya. Laki-laki yang dikenal arogan dan ketus itu ternyata bisa membelanya sampai seperti itu. Bahkan tangannya tak beralih dari bahu Cassandra.
Fahri terdiam dengan jawaban Agam. Dia tidak bisa membalasnya lagi.
"Ayo sayang kita pergi dari sini!" ajak Agam.
Cassandra mengangguk.
"Maafkan aku Fahri. Terimakasih atas semua kebaikanmu. Sampaikan juga pada kedua orangtuamu! Maafkanku dan rasa terimakasihku. Semoga kau bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Assalamu'alaikum," ucap Cassandra.
"Wa'alaikumsallam," sahut Fahri. Dia menatap ke bawah. Dia masih kecewa, marah dan kesal. Dia gagal mempersunting Cassandra.
Agam dan Cassandra meninggalkan tempat itu. Mereka berdua berjalan kaki untuk menghemat uang. Agam bolak-balik mengeluh sepanjang jalan.
"Haruskah kita terus berjalan? Matahari mulai memasak kita," keluh Agam. Dia berjalan di depan Cassandra.
Agam menghentikan langkah kakinya dan melihat ke arah wanita berhijab itu.
"Naik bus? Kau gila?" tanya Agam.
"Gila kenapa?" tanya Cassandra balik.
"Aku Agam ..." Tadinya Agam mau menyombongkan dirinya. Tapi dia ingat sekarang hanya orang miskin seperti Cassandra.
"Ya sudah, ayo kita naik bus!" sahut Agam. Dia tampak lesu. Sebenarnya dia hampir tak pernah naik bus.
"Beneran? Kau tidak akan mengeluh lagi?" tanya Cassandra mengikuti Agam.
"Aku tepaksa. Seharusnya kita naik mobil mewah. Paling tidak taksi," jawab Agam. Tangganya memaju mundurkan kerah bajunya. Dia benar-benar kepanasan.
"Uangku belum tentu cukup untuk mengontrak dan makan satu bulan," jawab Cassandra.
"Memang kau kerja apa? Kecil sekali gajimu!" ujar Agam berjalan sambil mengeluarkan kata-kata ketusnya lagi.
"Aku hanya guru SD. Itupun honorer. Jadi harap dimaklum," jawab Cassandra.
"Pantas. Kau miskin terus," sahut Agam.
Cassandra tersenyum lalu menyusul Agam dan mengimbangi langkah kakinya.
"Tapi biarpun sedikit halal dari pada mencuri atau merampok milik orang lain," ucap Cassandra.
__ADS_1
"Tetap saja kau miskin," sahut Agam.
Cassandra mengelengkan kepalanya. Dia harus tahan dan terbiasa dengan sikap Agam. Laki-laki itu suaminya.
"Agam, terimakasih ya," ucap Cassandra.
"Terimakasih untuk apa?" tanya Agam.
"Untuk kata-katamu tadi di depan Fahri," jawab Cassandra.
Agam mengingat apa yang dia katakan tadi.
"Aku hanya terpaksa mengatakan itu. Gini-gini aku kasihan melihat orang miskin sepertimu dihina terus. Lagi pula hanya aku yang boleh menghinamu," sahut Agam.
Cassandra memutar bola mata malasnya.
"Itu busnya! Ayo naik!" ajak Agam.
Cassandra mengangguk.
Mereka berdua naik ke dalam bus. Agam duduk berdua dengan Cassandra.
"Rame banget," keluh Agam.
"Tapi seru," sahut Cassandra.
"Seru gimana? Bau apa saja tercampur di sini. Sudah seperti pasar," jawab Agam.
Cassandra terdiam. Biarkan saja Agam mengoceh sampai bosan. Dia memperhatikan beberapa orang yang lulu lalang. Kemudian membeli gorengan, cimol dan air mineral.
"Mau?" tanya Cassandra.
"Aku akan batuk makan itu. Gak sehat!" jawab Agam.
"Cobain dulu! Kalau batuk kan ada istrimu yang akan merawatmu," sahut Cassandra.
"Hei! Aku belum sepenuhnya yakin kau istriku. Jangan besar kepala!" jawab Agam.
Cassandra langsung menyuapi Agam satu cimol.
"Kunyah sayang!" bisik Cassandra.
Agam memalingkan wajahnya dan langsung mengunyah cimol itu. Sedangkan Cassandra tersenyum.
"Pasti harganya murahkan. Rasanya gak enak," ucap Agam.
"Masa sih? Tapi kau makan tuh," sahut Cassandra.
"Terpaksa," jawab Agam.
Cassandra menyuapi Agam cimol lagi. Dan Agam mengunyah lagi dan lagi sampai habis.
Beberapa saat kemudian Cassandra sudah tidur di bahu Agam. Sedangkan tangannya memegang tangan Agam. Laki-laki bertato di lehernya itu menoleh ke arah Cassandra lalu melihat tangannya yang terus digenggam wanita cantik itu.
"Bang, istrinya cantik," ucap kenek bus.
Agam tersenyum tipis. Dia tak menyangka akan duduk bersama Cassandra di bus itu.
__ADS_1
"Sepertinya aku kena karma," batin Agam.