
"Kalau kau tidak percaya besok datanglah ke kantorku!" jawab Agam. Dari pada dia bicara panjang lebar lebih baik menyuruh adiknya datang ke kantornya.
Zafran terdiam. Dia masih kebingungan dan terheran-heran.
"Aku duluan Zafran!" ucap Agam sambil menepuk bahu Zafran.
Laki-laki itu hanya diam saja. Dia tidak menanggapi ucapan Agam.
"Assalamualaikum!" ucap Agam.
"Wa'alaikumsallam!" jawab Zafran.
Agam meninggalkan tempat itu. Dia tersenyum manis. Kemudian naik kembali ke dalam mobilnya meninggalkan tempat itu.
"Bagaimana bisa Agam jadi CEO perusahaan besar?" ucap Zafran. Tangannya mengepal. Dia masih belum mempercayai apa yang tadi dilihat olehnya.
Zafran pergi meninggalkan tempat itu.
Rumah Keluarga Maheswara
Zafran pulang ke rumahnya. Wajahnya tampak masam dan murung. Sudah perusahaan sedang bermasalah ditambah lagi tadi bertemu Agam yang membuatnya kesal. Dia merasa Agam bisa bangkit secepat itu.
"Zafran!" ucap Emma yang duduk di sofa ruang tamu.
Zafra menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah Emma.
"Ada apa Mi?" tanya Zafran.
"Kau baru pulang kenapa wajahmu murung?" tanya Emma. Dia merasa ada yang tidak beres dengan putranya.
"Aku capek Mi," jawab Zafran. Urusan kantor, rumah dan Agam membuatnya lelah dan tidak mood.
"Duduklah sebentar! Ada yang ingin Mami katakan," ucap Emma. Dia ingin membicarakan sesuatu dengan putra bungsunya.
"Apa Mi?" tanya Zafran penasaran.
"Duduk dulu!" jawab Emma sambil menunjuk ke arah sofa.
Zafran mengangguk. Dia duduk di sofa dengan Maminya.
"Zafran, masalah kantor gimana?" tanya Emma.
"Belum ada perkembangan Mi," jawab Zafran murung. Dia tidak punya solusi untuk perusahaannya. Selain menunggu dan mencari investor baru. Itupun sulit dia dapatkan. Masalah kepercayaan dan kemampuan jadi bahan pertimbangan.
Emma tampak kecewa. Dia tidak tahu lagi bagaimana menyelesaikan masalah perusahaan. Seakan jalan buntu jadi jawabannya.
"Udah perusahaan bermasalah. Istrimu hamil secepat itu," ucap Emma. Luka lama terungkit kembali. Rasanya dia ingin menghakimi takdir yang menorehkan kekecewaan.
"Sudahlah Mi! Aku sedang malas berdebat. Aku lelah," jawab Zafran. Moodnya sedang tidak baik. Dia malas berdebat mengenai masalah itu-itu lagi. Hanya membuat kepalanya pusing.
__ADS_1
"Coba ada Agam, pasti perusahaan kita tidak akan begini," celetuk Emma tanpa sadar. Agam memang nyawa dari perusahaannya. Dia pergi perusahaan mati begitu saja.
"Mami membandingkanku dan kak Agam?" tanya Zafra. Sudah sering Maminya meninggikan kakaknya tapi tidak kali ini. Sampai kapan Zafran hidup di bawah bayang-bayang Agam terus.
"Mami gak bermaksud begitu," bantah Emma. Dia langsung mengoreksi sebelum Zafran marah besar.
Zafran membuang nafas gusarnya. Dia hampir saja termakan emosi mendengar ucapan Maminya yang menusuk.
"Agam itu sudah memilih wanita miskin. Mana mungkin Mami pro padanya lagi," ucap Emma.
Zafran tak menggubris. Apa yang sedang dia pikirkan lebih besar dari itu.
"Zafran, apa kau yakin Elena hamil anakmu?" tanya Emma lagi. Sampai detik ini dia ragu dan ingin mengulik informasi penting dari Zafran. Jangan-jangan anaknya menyembunyikan sesuatu.
"Mi, ini sudah dibahas. Aku malas berdebat lagi soal kehamilan Elena," jawab Zafran. Sudah tahu moodnya sedang tidak baik. Maminya malah lagi-lagi mengungkit.
Emma langsung diam saja. Percuma dia bicara kalau Zafran sendiri malas membahasnya.
"Apa aku harus memberitahu Mami kalau kak Agam sekarang jadi CEO?" batin Zafran. Sebenarnya dia ragu, apalagi kalau Maminya tahu Agam semakin hebat. Paling ujung-ujungnya dia dibulli lagi.
"Aku naik dulu!" ucap Zafran.
"Kau tidak makan dulu?" Emma melihat Zafran tampak lemas. Tidak seperti biasanya.
"Aku belum lapar Mi," jawab Zafra. Rasa laparnya hilang sejak pertemuannya dengan Agam tadi.
Zafran meninggalkan ruang tamu. Dia naik ke atas memasuki kamarnya.
"Kau sudah pulang?" tanya Elena. Dia duduk bersandar di sandaran ranjang.
"Iya, kau kenapa?" tanya Zafran balik. Dia memperhatikan Elena terlihat pucat dan lemas. Aura keceriaan tak lagi tampak.
"Aku muntah terus. Sampai sekarang belum bisa makan," jawab Elena. Kehamilannya cukup berat. Berbeda dengan wanita lainnya.
Zafran menarik nafas panjangnya. Dia menghampiri Elena dan duduk di sampingnya. Tangannya menyentuh dahi wanita itu.
"Kau tidak demam," ucap Zafran.
"Emang, tapi perutku gak enak," keluh Elena. Dia memang tidak demam. Tapi sesendok nasipun belum masuk ke dalam perutnya.
Zafran memegang perut Elena. Memang lebih ramping dan dingin.
"Sakit?" tanya Zafran. Dia cuek tapi masih ada rasa peduli pada anak yang dikandung Elena. Biar bagaimanapun Zafran yakin itu anaknya.
"Iya," jawab Elena.
"Kau mau makan apa?" tanya Zafran. Dia kasihan pada Elena. Kehamilannya tidak mudah.
Elena menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Mau dipijat atau ...?" Zafran berpikir.
"Mau dielus," jawab Elena.
Zafran menatap wajah Elena. Begitupun Elena juga menatap wajahnya.
"Elus perutku! Kata orang rasanya enak dielus ayahnya bayi," ucap Elena.
Zafran tampak gugup. Hubungannya dengan Elena tidak terlalu baik. Hanya sebatas pernikahan di atas kertas. Jika mereka tidur seranjang pun seperti tetangga yang tak akrab dan bercengkrama.
"Kalau kau tidak ..." Belum sempat bibir merah pucat itu berbicara tangan Zafran mengelus perutnya dengan lembut.
"Enak, sepertinya dia tahu kau ayahnya," ucap Elena.
Zafran hanya diam saja. Pikirannya yang tadi teralihkan pada bayinya.
"Zafran baik juga, meskipun cuek dan dingin," batin Elena. Dia tersenyum. Senyuman yang tipis tapi bermakna. Memperhatikan laki-laki yang sibuk mengelus perutnya.
Di tempat yang berbeda, Agam baru saja sampai. Dia menghampiri istrinya yang sedang mengangkat jemurannya di teras kontrakan. Cassandra berdiri membelakangi Agam. Dia sibuk menarik pakaian. Agam tersenyum. Dia ingin mengejutkan istrinya. Baru melangkah Cassandra justru mengejutkannya.
"Sayang, baru aku mau membuatmu terkejut," ucap Agam.
"Tapi aku yang duluan yang membuatmu terkejut iyakan?" sahut Cassandra.
Agam mengangguk.
"Aku melihat bayanganmu dipantulan kaca," ucap Cassandra. Dia memang sibuk menarik baju tapi tubuh Agam terlihat sekilas dipantulan kaca jendela.
Agam tersenyum tipis mendengarnya.
"Assalamualaikum!" sapa Agam.
"Wa'alaikumsallam!" sahut Cassandra.
Agam mendekat sedangkan Cassandra meraih tangan Agam dan menciumnya.
Cup
Agam mencium kening Cassandra dengan lembut.
"Cantik sekali istriku. Mau kemana?" tanya Agam. Memperhatikan riasan tipis di wajah istrinya. Merona dan manis.
"Mau menyambut suamiku," jawab Cassandra. Dia sengaja dandan untuk menyambut suaminya. Hampir setiap bertemu suaminya selalu seperti itu.
Agam langsung membopong Cassandra masuk ke dalam kontrakannya. Istrinya sudah memberi kode cinta.
"Sayang, belum selesai mengangkat bajunya," ucap Cassandra. Jemurannya belum semua dibawa masuk. Masih banyak di jemuran besinya. Tapi Agam udah membawanya begitu saja.
"Gak papa sayang, ada yang jauh lebih penting," sahut Agam. Dia bergegas menutup pintu. Yang lebih penting dari semuanya yaitu berdua dengan istrinya. Selain itu dia punya kejutan untuk Cassandra.
__ADS_1