Istri Sampah Kini Berlian

Istri Sampah Kini Berlian
Perusahaan Bermasalah


__ADS_3

"Apa kau lelah?" tanya Agam.


"Tidak, lelahku hilang saat melihatmu," jawab Cassandra.


"Benarkah? Bukannya kau sebel padaku dulu?" sahut Agam


Tangan Cassandra memegang kedua pipi Agam.


"Itu karena Agam yang dulu arogan dan ketus," jawab Cassandra.


"Jadi Agam yang sekarang seperti apa?" tanya Agam. Dia ingin mendengar seperti apa dirinya dimata Cassandra saat ini.


"Harus ku katakan sekarang?" tanya Cassandra.


"Nanti saat kita berduaan," jawab Agam.


Cassandra tersenyum manis. Dia masih ingat malam indahnya bersama Agam.


"Agam, turun!" pinta Cassandra.


Agam mengangguk. Dia menurunkan Cassandra.


"Apa kau lapar?" tanya Agam.


"Sedikit," jawab Cassandra.


"Mau makan bakso, sate atau nasi Padang?" tanya Agam. Dia menyebutkan beberapa makanan yang sering ada di tepi jalan. Padahal Agam sendiri belum tentu pernah makan di tempat itu.


"Mau, tapi makan di warteg jauh lebih hemat," jawab Cassandra.


"Hari ini aku punya uang. Kau boleh makan makanan yang kau suka," sahut Agam.


"Benarkah?" tanya Cassandra.


Agam mengangguk.


"Apa kau sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik?" tanya Cassandra. Dia ingin tahu apapun tentang suaminya.


"Iya, semua ini berkat doa yang selalu kau panjatkan sayang," jawab Agam.


"Alhamdulillah." Cassandra bersyukur. Besar kecil suaminya sudah berusaha untuk bekerja dan mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya.


"Makanya hari ini aku ingin mengukir senyuman manis di bibirmu," ucap Agam. Tangannya terbuka. Dia ingin Cassandra menyambutnya.


Tanpa ragu Cassandra meletakkannya tangannya dalam genggaman tangan Agam. Mereka berdua tersenyum lalu berjalan bersama.


"Mau makan apa?" tanya Agam.


"Pengen makan nasi biar kenyang," jawab Cassandra.


"Oke," jawab Agam.


Mereka berdua memutuskan menghampiri tukang jualan sate Madura. Cassandra duduk lebih dulu saat Agam memesan sate kambing. Laki-laki tampan itu yang hampir tidak pernah makan di tepi jalan kini menghilangkan egonya. Dia menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya. Mulai terbiasa dengan kehidupannya yang sekarang.

__ADS_1


"Pesan apa Mas?"


"Sate dua porsi pakai nasi ya?" jawab Agam.


Penjual sate mengangguk.


"Pakai saus kacang atau bumbu kecap?" tanyanya.


"Saus kacang aja Pak," jawab Agam.


"Minumnya?"


Agam terdiam. Dia tidak tahu minuman apa yang biasa dijual di tempat seperti itu.


"Memang ada apa aja Pak?" tanya Agam.


"Teh panas, teh dingin, jeruk panas, jeruk dingin, atau air putih. Mau tawar atau pakai gula terserah Masnya," jawabnya.


"Air putih saja Pak. Dua gelas," sahut Agam.


Penjual sate mengangguk.


Setelah itu Agam menghampiri Cassandra dan duduk di sampingnya.


"Tadi aku melihat deretan harga satenya. Harganya murah ya. Tapi karena aku sekarang miskin, harga semurah itupun seperti mahal," ucap Agam.


"Itulah hidup. Mahal untuk orang miskin mungkin murah untuk orang kaya. Cara pandang yang berbeda karena status yang berbeda," jawab Cassandra.


Agam mengangguk.


Agam mengangguk. Dia menceritakan apa yang sudah dia lakukan seharian ini. Sampai dia memiliki sejumlah uang. Meski tak banyak tapi ada untuk makan hari ini.


"Alhamdulillah, Allah begitu baik pada kita sayang," ucap Cassandra.


Agam mengelus kepala Cassandra yang tertutup hijab.


"Terimakasih sayang, aku pikir kau akan malu suamimu hanya seorang laki-laki miskin. Tapi kau justru bersyukur atas kerja kerasku yang tidak seberapa ini," ucap Agam.


"Suamiku hebat. Dia mau berusaha menjadi apa saja meskipun dulu suamiku seorang CEO dari perusahaan besar," sahut Cassandra.


Mata Agam berkaca-kaca. Terharu dengan ucapan Cassandra. Dia senang bisa memperjuangkan wanita yang memang patut diperjuangkan.


"Aku akan berusaha membahagiakanmu, dengan semua kerja kerasku," ucap Agam.


Cassandra mengangguk.


Tak lama dua piring sate datang dengan nasi dan dua gelas air putih. Aroma wangi sate itu sudah membuat perut Agam dan Cassandra makin melilit. Mereka berdua berdoa sebelum makan. Baru mau menyuapkan Cassandra melihat anak kecil yang tak jauh darinya terlihat duduk diemperan ruko yang tutup. Anak itu melihat ke arahnya. Sedangkan ibu anak itu tidur di emperan.


"Agam, bolehkah aku memberikan satu porsi milik kita untuk anak itu?" tanya Cassandra sambil menunjuk ke arah anak kecil itu.


Agam menoleh ke arah anak kecil itu. Dia tidak menyangka hati Cassandra begitu lembut. Dia penuh kasih sayang dan peduli pada orang lain.


"Boleh sayang," jawab Agam.

__ADS_1


Cassandra bangun sambil membawa seporsi sate dan nasi untuk anak kecil itu. Dia memberikan padanya lalu kembali duduk bersama suaminya.


"Kalau begitu kita makan sepiring berdua biar romantis," ucap Agam.


Cassandra mengangguk.


Agam mengangkat tangannya dan menyuapkan satu kepalan nasi untuk istrinya.


"Kau lapar akupun akan lapar. Kau kenyang akupun kenyang," ucap Agam.


Cassandra mengangguk.


Mereka berdua makan bersama. Sepiring berdua. Makanan itu terasa jauh lebih nikmat. Keduanya sama-sama menikmati makanan yang dimakan berdua.


Di tempat yang berbeda, Renaldi tampak marah. Dia baru saja menelpon sekretarisnya Agam di kantor untuk menanyakan perkembangan perusahaan.


"Pa, ada apa?" tanya Emma menghampiri suaminya yang berdiri di balkon atap rumahnya.


"Mama tahukan Zafran menggantikan posisi Agam di perusahaan?" jawab Renaldi.


"Iya, bukannya sudah diumumkan ke semua direksi dan pemegang saham?" sahut Emma.


"Sudah, justru karena pengumuman itu jadi masalah untuk kita," jawab Renaldi. Wajahnya tampak bermuram durja. Ada sesuatu yang sudah membebani pikirannya.


"Masalah apa?" tanya Emna. Penasaran dengan apa yang sudah terjadi di perusahaan setelah diumumkan perpindahan kepemimpinan.


"Semua pemegang saham mempertanyakan kelayakan Zafran. Bahkan klien tiba-tiba membatalkan kerja sama. Proses produksi yang sudah berjalan pun berhenti," jawab Renaldi. Dia tahu hal ini akan terjadi. Agam memang memegang peranan terpenting dalam perusahaan. Semenjak kepemimpinannya perusahaan berkembang pesat. Agam mendesain sendiri mobil-mobil dan motor yang akan diproduksi.


"Kok bisa?" Emma terkejut.


"Ya bisa. Agam itu nyawanya perusahaan kita. Sedangkan Zafran selama ini belum pernah memimpin. Dia juga tidak memiliki bakat seperti Agam," sahut Renaldi. Dia dan perusahaan sangat bergantung pada Agam.


"Papa sudah jelaskan kalau Zafran juga bisa diandalkan?" tanya Emma.


"Belum ada bukti mana mereka percaya. Memang Zafran pernah kerja di perusahaan kita? Paling tidak punya pengalaman disitu, enggakkan?" jawab Renaldi. Dia mencengkram erat tralis pagar pembatas balkon.


"Kalau begini kita harus gimana Pa? Tetap memposisikan Zafran sebagai pimpinan baru atau mencari orang yang mampu memimpin?" tanya Emma.


"Nanti ku pikirkan lagi. Sekalian tunggu Zafran pulang dari bulan madu," jawab Renaldi.


Emma mengangguk. Dia bisa merasakan apa yang sekarang dipikirkan suaminya.


"Oya, ponakanmu sudah kau hubungi?" tanya Renaldi.


"Sudah, dia sedang di luar negeri. Baru bulan depan bisa pulang ke Indonesia," jawab Emma.


Renaldi terdiam. Dia masih berharap Agam kembali. Tapi tanpa Cassandra.


"Kalau ponakanmu itu bisa meluluhkan hati Agam untuk kembali, perusahaan kita akan baik-baik saja. Agam lebih bisa diandalkan dari Zafran," ucap Renaldi.


"Iya Pa, ini juga sedang ku bujuk biar dia mau pulang secepatnya," sahut Emma.


"Jangan sampai perusahaan kita bangkrut gara-gara Zafran gak becus memimpin perusahaan!" ucap Renaldi. Kalau saja dia sehat sudah pasti dia akan kembali memimpin. Tapi jantungnya lemah. Dia harus banyak beristirahat. Tidak bisa kerja berat seperti dulu. Bahkan harus lembur sampai malam.

__ADS_1


Emma mengangguk.


__ADS_2