Istri Sampah Kini Berlian

Istri Sampah Kini Berlian
Cintamu Palsu


__ADS_3

"Apa saat malam pertama itu kau memakai pengaman?" tanya Elena. Dia harus tahu apakah saat mereka berhubungan Ken menggunakan pengaman atau tidak untuk membuktikan anak itu anak siapa.


"Aku mabuk. Mana ingat pakai atau tidak," jawab Ken. Dia mengatakan apa adanya. Sesuai kronologis malam itu.


"Iya juga sih, malam itu kita sama-sama mabuk makanya terjadi hal itu," batin Elena. Saat itu Elena sengaja memutuskan Ken. Dan setelah mengatakan putus mereka sempat mabuk bersama untuk perpisahan terakhir. Dan akhirnya terjadilah sesuatu yang membuat Elena kehilangan kehormatannya. Padahal dia sudah ada niatan serius dengan Agam. Tadinya Elena akan menyembunyikan hal itu. Tapi nyatanya dia malah hamil.


"Memang kenapa kau tanya seperti itu Elena?" tanya Ken penasaran Kenapa Elena menanyakan hal seint!m itu. Bahkan Ken tidak pernah memikirkannya.


"Tidak kenapa-napa. Aku hanya ingin tahu," jawab Elena. Untuk saat ini dia tidak bisa memberitahu soal kehamilannya pada Ken. Lagi pula belum tentukan ayah dari bayi yang dikandungnya. Dia tidak ingin jadi boomerang dan senjata makan tuan.


"Elena, kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Ken. Matanya menelisik ke arah Elena. Dia merasa wanita cantik itu sedang menyembunyikan sesuatu.


"Tidak, aku hanya tanya hal biasa. Itu saja," jawab Elena. Dia harus bersikap biasa saja biarkan tidak curiga padanya. Jangan sampai dia tahu tentang kehamilan dirinya. Nanti rencananya untuk kembali pada agama akan semakin sulit Kalau Ken tahu kehamilannya.


Ken mengangguk. Dia tetap mencurigai wanita di depannya meskipun untuk saat ini sudah cukup puas dengan jawabannya.


"Elena, ku dengar pernikahanmu dan Agam batal," ucap Ken. Dari awal dia memang menginginkan kegagalan pernikahan Agam dan Elena. Dia sudah merancang rencana saat malam sebelum aga menikah dengan Elena tapi justru gagal hanya saja takdir membuat keinginannya terwujud.


"Iya, pernikahanku dan Agam memang batal. Kau sudah tahu atau pura-pura tidak tahu?" tanya Elena. Sepertinya tidak mungkin kan tidak mengetahui hal itu. Rencana pernikahannya dengan Agam diketahui banyak orang. Bahkan pembatalan pernikahannya pun diketahui banyak orang, tidak mungkin kan tidak mengetahui hal itu.


"Aku tahu, hanya ingin memastikan saja," jawab Ken. Di hari pernikahan Agam dan Elena, Ken datang agak siangan karena dia tidak ingin menyaksikan ijab kabul keduanya tapi nyatanya dia justru melihat hal lain. Elena menikah dengan Zafran adik dari Agam.


Elena terdiam. Dia kurang suka dengan Ken karena laki-laki itu terlalu mencintainya. Elena lebih suka mencintai daripada dicintai.


"Berarti kau sudah tahu aku menikahi Zafran bukan Agam," ucap Elena.


"Iya, itu yang membuatku terkejut. Kenapa tidak aku saja yang menikahimu Elena?" sahut Ken. Sampai saat ini dia tetap mencintai wanita di depannya itu. Tidak peduli beberapa kali Elena sudah menyakiti hatinya. Dia sudah terlanjur cinta buta pada wanita itu.


"Kau tahukan aku tidak suka dicintai tapi aku lebih suka mencintai," jawab Elena.


"Oke, tapi seharusnya kau memilih orang yang mencintaimu dari pada orang yang kau cintai. Karena saat kau ditinggalkan rasanya akan menyakitkan," sahut Ken menatap wanita yang ada di depannya.


Elena terdiam karena kata-kata Ken semuanya benar. Dia memang ditinggalkan Agam orang yang dicintainya. Rasanya masih sakit sampai saat ini bahkan dia belum bisa move on dari laki-laki itu.

__ADS_1


"Elena, Zafran tidak mencintaimu. Dia hanya mencintai dirinya sendiri. Lebih baik kau denganku. Aku akan membuatmu seperti ratu," ucap Ken. Dia tetap berusaha untuk menaklukkan wanita di depannya tidak peduli akan ditolak terus-menerus.


"Zafran memang tidak mencintaiku tapi dia sepakat untuk menikah diatas kertas denganku," sahut Elena. Sebelum dia mengatakan hal itu, dia sudah konsultasi terlebih dahulu pada pengacaranya dan pada Agam.


"Berarti kau hanya pajangan untuknya. Apa enaknya? Selama kau dan Zafran akan seperti itu?" ucap Ken.


"Tidak, aku akan mendapatkan Agam kembali," sahut Elena. Dia ingin menikah kembali dengan Agam. Saat Agam kembali ke rumah besarnya.


"Kau yakin? Aku lihat Agam lebih memilih wanita miskin dari pada dirimu," ucap Ken. Dia tahu soal pernikahan Agam dengan wanita miskin. Meskipun Ken tidak tahu bagaimana kronologisnya sampai Agam menikahi wanita miskin di hari pernikahannya dengan Elena.


"Aku yakin! Agam hanya sedang bermain-main. Saat dia lelah nanti, dia akan kembali ke rumahnya. Mana mungkin Agam mau hidup miskin," sahut Elena.


"Bagaimana kalau Agam mencintai wanita itu dan memiliki anak darinya? Kau masih yakin Agam akan kembali?" ucap Ken. Senyuman licik menghiasi bibir kecoklatannya. Dia sengaja membuat Elena semakin panas.


Elena mengepalkan tangannya.


"Aku tidak peduli. Asal Agam kembali ke rumahnya aku akan mengambil Agam kembali jadi milikku!" tegas Elena.


"Sayang sekali, ku rasa Agam akan betah di luar sana. Dan kau, apa mau dengan Agam yang miskin dan tidak memiliki kedudukan?" tanya Ken. Elena sudah terbiasa hidup bergelimang harta. Mana mau hidup seadanya. Apalagi harus serba kekurangan.


"Kau tidak sungguh-sungguh mencintai Agam. Kau mencintai Agam jika dia kaya. Cintamu fake," ucap Ken.


"Ken!" pekik Elena marah.


"Agam sengaja memilih wanita miskin itu karena cintanya tulus bukan fake sepertimu. Makanya dia betah di luar sana. Makanya Elena, hanya aku yang mau menerima cinta fake mu itu," ucap Ken.


Elena bangun dari kursinya. Dia menatap ke arah Ken yang duduk.


"Jangan berharap aku akan mau denganmu Ken! Kau itu hanya terobsesi. Aku tidak suka laki-laki bucin sepertimu. Sampai kapanpun aku tidak akan mau balikan denganmu. Masih banyak laki-laki yang lebih baik darimu!" tegas Elena lalu pergi meninggalkan Ken.


Braaak ...


Ken menggebrak meja setelah Elena pergi. Dia tidak habis pikir Elena jual mahal. Padahal dia sudah merenggut kehormatannya.

__ADS_1


"Sialan! Aku akan mendapatkanmu Elena!" pekik Ken. Sampai sekarang dia masih terobsesi pada Elena.


Pukul 4 sore Agam sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia mandi di bengkel dan pinjam kemeja milik Harry untuk pergi ke perusahaan milik Tuan Andrian. Tidak enak kalau tidak rapi dan bau asam. Biar bagaimanapun Tuan Andrian juga menghormatinya.


"Gam, ganteng banget. Mau kemana Bro?" tanya Harry.


"Mau ketemu Bos besar," jawab Agam.


"Alhamdulillah, semoga bengkel Gue kecipratan," sahut Harry. Dia tahu Agam punya banyak kenalan bos-bos gedean. Secara Agam dulu CEO di perusahaan besar.


"Amin, doain aja Bro!" sahut Agam.


Harry mengangguk.


"Aku berangkat dulu! Makasih ya dah dipinjemin kemeja," ucap Agam.


"Iya, santai Bro. Kitakan sahabat. Harus saling bahu-membahu," jawab Harry.


Agam menepuk bahunya lalu tersenyum.


"Assalamualaikum," ucap Agam.


"Wa'alaikumsallam," sahut Harry.


Agam melangkahkan kakinya menuju jalan raya. Dia sengaja pulang duluan untuk pergi ke perusahaan milik Tuan Andrian.


Beberapa saat berlalu, Agam sudah sampai perusahaan. Sayangnya sekuriti menghalangi Agam karena dia tidak memiliki kartu karyawan ataupun kartu tamu.


"Saya sudah janjian dengan Tuan Andrian, Pak," ucap Agam.


"Mana buktinya? Coba telpon beliau!" titah sekuriti.


Agam terdiam. Dia tidak punya handphone. Semua fasilitas miliknya dulu sudah dikembalikan pada ayahnya.

__ADS_1


"Gak bisakan? Sebaiknya anda pulang saja! Jangan sampai saya mengusir paksa anda!" ucap sekuriti. Tugasnya hanya menjaga ketertiban dan keamanan tempat itu.


"Ada apa Pak?" Tuan Andrian berjalan menghampiri sekuriti dan Agam yang berdiri di luar lobi.


__ADS_2