
"Begini Bos, Mas Agam ini ingin masuk dan bertemu Anda," jawab sekuriti. Dia terlihat tidak enak harus berbicara langsung dengan bos besar perusahaan tersebut. Berbicara secara langsung seperti itu sangat jarang dia lakukan kecuali memang momennya pas.
"Oke Pak, sebenarnya Mas Agam ini memang tamu istimewa ku," jawab Tuan Andrian.
"Oh tamu istimewa Anda, saya minta maaf," sahutnya. Apa yang dia lakukan sesuai prosedur tidak ada yang menyalahi aturan yang sudah diberlakukan di tempat itu.
"Tidak apa-apa, justru aku senang kau bekerja dengan baik," jawab Tuan Andrian. Bukan memarahinya justru memuji security itu karena apa yang dia lakukan demi kepentingan perusahaan.
"Mas Agam, saya minta maaf atas apa kata-kata dan perbuatan saya tadi," ucap sekuriti.
"Gak papa Pak. Saya paham kok," jawab Agam. Dia pun jika di posisi security tentu akan melakukan hal yang sama.
"Bos Agam, mari ikut aku! Dari tadi aku sudah menunggumu," ucap Tuan Andrian.
"Baik Tuan," jawab Agam. Dia masuk ke dalam kantor dan naik ke lantai atas. Di ruangan CEO Tuan Andrian dan Agam duduk di sofa. Mereka mengobrol santai layaknya teman lama. Padahal satu bulan yang lalu mereka bertemu.
"Aku suka gayamu dari dulu. Kau punya ide dan gagasan yang tidak bisa dijiplak dari orang lain," ucap Tuan Andrian. Agam laki-laki yang kreatif dan inovatif itulah yang disukai Tuan Andrian. Sayangnya Tuan Andrian tidak bisa mengajaknya bekerja sama karena saat itu Agam memimpin perusahaan milik keluarganya.
"Tuan Andrian terlalu memuji. Aku hanya orang biasa yang kebetulan memiliki sedikit kemampuan," jawab Agam. Cara pandangnya mulai berubah. Dia lebih merendah dari dirinya yang dulu. Cassandra membuat agar menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Membuat Agam berusaha untuk menjadi imam untuknya.
"Tapi sedikit kemampuanmu itu membuatku tertarik. Aku ingin mengajakmu bergabung di perusahaanku. Kebetulan aku sudah tua. Aku ingin ada seseorang yang bisa memimpin perusahaan. Kau tahukan aku tidak memiliki anak," sahut Tuan Andrian. Dia begitu kesepian karena hidup sendirian tanpa anak dan istri. Perusahaan besarnya seakan hanya benda yang tak berguna ketika dia sudah tua. Tapi Tuan Adrian tidak ingin perusahaannya sia-sia begitu saja. Banyak karyawan yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan.
"Maksud anda, aku memimpin perusahaan ini?" tanya Agam.
"Iya, rencanaku tahun ini pensiun. Aku ingin mencari mantan istriku. Itu sebabnya aku ingin ada yang bisa bertanggungjawab disini. Dan aku percaya padamu," jawab Tuan Andrian. Dari awal dia sudah menyukai Agam dengan kemampuannya di atas rata-rata dalam memimpin dan memajukan perusahaan. Selain itu akan bekerja keras dan memiliki banyak ide-ide brilian.
__ADS_1
Agam terdiam sejenak. Dia memikirkan tawaran dari tuan Andrian dan pekerjaannya saat ini bersama Harry.
"Tuan Andrian, saat ini aku bekerja pada temanku. Aku tidak mungkin meninggalkannya sementara dia memberiku pekerjaan saat aku benar-benar tidak memiliki apapun. Aku tidak ingin meninggalkan temanku. Jika aku sukses dia pun harus sukses. Aku tidak ingin meninggalkannya sendirian," ucap Agam. Dia sudah ditinggalkan banyak orang dan kehilangan semuanya yang dimilikinya. Hanya Cassandra yang terus ada dan sekarang Harry yang memberinya sebuah harapan baru. Untuk itu dia tidak ingin meninggalkan sahabatnya.
"Kalau soal itu, kau boleh mengajaknya bekerja di sini. Aku ingin kau mau memimpin perusahaan. Terserah, kau bisa pilih sendiri orang-orang yang akan bekerja di sini nantinya," jawab Tuan Andrian. Yang terpenting baginya aga mau memimpin perusahaan dan meneruskannya. Tuan Andrian benar-benar ingin pensiun dan mencari mantan istrinya.
"Baiklah, tapi berikan aku waktu satu hari lagi untuk berpikir dan membicarakan semua ini dengan istri dan sahabatku," sahut Agam. Dia minta keringanan waktu untuk membicarakan semuanya dengan orang-orang terdekatnya. Biar bagaimanapun hidupnya tidak akan bisa lebih baik tanpa mereka.
"Oke, kau bebas menentukan waktunya. Dan segera datang ke perusahaan sebagai pimpinan di tempat ini," jawab Tuan Andrian.
Agam mengangguk. Dia tidak menyangka akan mendapatkan peluang yang sangat besar untuk membahagiakan istrinya dan membantu temannya.
Tuan Andrian bangun dari sofa dia mengambil sesuatu di atas mejanya dan meletakkan di atas meja sofa.
"Terimakasih Tuan Andrian," sahut Agam. Dia tidak menyangka rezeki seakan datang tiba-tiba saat dia berusaha untuk lebih baik.
"Dan ini black card untukmu! Kau bisa pakai untuk semua keperluanmu, termasuk untuk membeli pakaian yang layak karena kau akan menjadi pimpinan perusahaan!" titah Tuan Andrian. Dia ingin akan berpenampilan seperti dulu agar cocok menjadi seorang pimpinan dan layak untuk bertemu dengan rekan-rekan bisnisnya.
Agam mengangguk. Dia mengambil black card itu.
"Terimakasih Tuan Andrian, atas semua kepercayaanmu padaku dan atas kebaikanmu memberiku kesempatan," ucap Agam. Dia merasa sedang mendapatkan angin segar dari surga. Allah memberinya kemudahan yang tidak pernah terbayangkan olehnya. Pertemuannya dengan Tuan Andrian beberapa tahun lalu justru mengantarkannya pada titik ini.
Tuan Andrian memgangguk.
"Alhamdulillah," ucap Agam. Dia bersyukur atas nikmat dan rezeki yang Allah berikan padanya. Tak sabar Agam ingin memberitahu berita baik ini pada istrinya. Wanita cantik itu orang pertama yang harus tahu kabar gembira ini.
__ADS_1
Setelah pertemuan itu, Agam turun ke lantai bawah. Wajahnya tampak berseri-seri. Dia sangat bahagia dan ingin pulang ke rumah. Di perjalanan Agam terus memikirkan istrinya. Tak lupa membeli makanan enak yang ada di restoran untuknya. Dengan kartu black card itu dia bisa membeli apa saja untuk menyenangkan Cassandra. Memberinya kehidupan yang jauh lebih layak dan masa depan untuk keluarga kecilnya.
Di tempat yang berbeda, Cassandra baru saja pulang ke kontrakan. Dia melihat suaminya sudah menunggu di teras. Laki-laki tampan itu terlihat tersenyum padanya. Di kedua tangannya memegang beberapa goodie bag dan plastik.
"Assalamualaikum," sapa Cassandra.
"Wa'alaikumsallam," sahut Agam. Bergegas akan meletakkan barang-barang di lantai dan menghampiri istrinya. Wanita berhijab itu mencium tangannya beberapa kali sedangkan Agam mencium keningnya.
"Sayang sudah pulang?" tanya Cassandra.
"Iya, aku punya kabar gembira untukmu," jawab Agam. Matanya menatap wajah cantik yang tampak penasaran.
"Kabar gembira apa?" tanya Cassandra.
"Kita makan dulu, nanti aku akan menceritakan semuanya," jawab Agam.
Cassandra mengangguk. Baginya, asal bersama Agam itu sudah menjadi kabar gembira untuknya.
Mereka berdua masuk ke dalam kontrakan. Agam meletakkan semua yang dibelinya di karpet. Ada makanan dan beberapa barang.
"Sayang itu apa?" tanya Cassandra.
"Makanan dan sesuatu," jawab Agam.
"Sesuatu?" Cassandra terkejut. Dia tahu suaminya tidak memiliki banyak uang.
__ADS_1