Istri Sampah Kini Berlian

Istri Sampah Kini Berlian
Kontrakan Kuning


__ADS_3

Monika, Khanza, dan Fahri duduk di ruang tamu. Ibu dan anak itu tampak senang sudah berhasil menyingkirkan Cassandra dari hidup Fahri dan dari rumahnya. Sekarang mereka bebas menguasai rumah itu dan merencanakan pernikahan Khanza dan Fahri tanpa ada pengganggu.


"Nak Fahri, Cassandra memang begitu. Dari dulu Ibu tidak suka dengan perilakunya yang suka membawa laki-laki ke rumah. Eh ujung-ujungnya berzina di mobil," ucap Monika.


"Iya Fahri, ibu sudah sering menasehati. Makanya dia pindah tempat di dalam mobil. Aku menyaksikan sendiri loh penggerebekan itu," tambah Khanza.


Mereka berdua sengaja menjelek-jelekkan Cassandra di depan Fahri supaya nama Cassandra semakin jelek di mata laki-laki itu.


"Cassandra benar-benar mengecewakanku. Padahal orangtuaku sudah menyiapkan pernikahan kita. Aku benar-benar malu. Bagaimana mengatakan semua ini pads orangtuaku," ucap Fahri.


Monika tersenyum licik. Saatnya dia menjalankan rencananya.


"Nak Fahri, bilang saja Cassandra wanita yang tidak baik. Dan pernikahan ini tidak perlu dibatalkan. Kau bisa mencari calon pengantin pengganti yang lebih baik. Dengan begitu keluargamu tidak akan menanggung malu," ucap Monika. Memang ini yang dia inginkan. Mendapatkan menantu dari keluarga kaya.


"Iya Fahri. Untuk apa memikirkan wanita yang tidak tahu diri seperti Cassandra. Sudah jelas dia itu murahan dan tidak tahu malu. Sedangkan Fahri laki-laki yang baik," tambah Khanza. Dia harus membantu ibunya memprovokasi Fahri.


Laki-laki itu terdiam. Dia memikirkan ucapan Monika dan Khanza.


"Nak Fahri, masih banyak wanita yang jauh lebih baik dari Cassandra. Nak Fahri tinggal memilih. Yang jelas harus yang dikenal dan sudah pasti baik," ucap Monika.


"Siapa yang pantas untuk ku nikahi? Cassandra saja sudah mengecewakanku," sahut Fahri.


"Sebenarnya anakku Khanza jauh lebih baik dari Cassandra. Dia pintar memasak dan bisa diandalkan. Selain itu putriku wanita terhormat tidak seperti Cassandra," jawab Monika.


Fahri menatap ke arah Khanza. Wanita di depannya memang cukup cantik dan seksi.


"Baiklah Bu, aku bersedia menikahi putrimu," ucap Fahri.


"Alhamdulillah, kalau begitu kita tinggal menjalankan sesuai rencana awal," sahut Monika. Dia tidak perlu membatalkan rencana pernikahan sebelumnya hanya mengganti pengantin wanitanya.


Fahri mengangguk.


Monika dan Khanza tersenyum licik. Mereka senang rencananya berhasil.


"Setidaknya aku bisa menikah," batin Fahri.


***


Tap


Tap


Agam menggendong Cassandra di punggungnya sambil memegang tas besar milik istrinya. Dia benar-benar kesulitan. Tapi tetap berjalan.


Perlahan Cassandra terbangun. Dia melihat sekeliling. Ternyata ada di punggung laki-laki tampan yang kini menjadi suaminya.


"Agam," ucap Cassandra.


"Tuan putri sudah bangun?" tanya Agam dengan suara menyindir.


"Sudah," jawab Cassandra.


"Enak sekali kau bisa tidur. Sedangkan aku keberatan menggendong beras di punggungku," sahut Agam.


Cassandra tersenyum. Sudah pasti Agam keberatan menggendongnya.


"Agam, makasih," bisik Cassandra.

__ADS_1


Agam hanya diam. Dia terlihat acuh tak acuh.


"Turunlah!" titah Agam.


Cassandra mengangguk. Bergegas dia turun setelah Agam menghentikan langkah kakinya.


"Kita mau kemana?" tanya Agam.


"Nyari kontrakan," jawab Cassandra.


"Apa? Ngontrak?" tanya Agam terkejut. Seumur-umur mana pernah dia ngontrak. Apalagi harus hidup susah seperti sekarang ini.


"Iya," jawab Cassandra.


"Sewa rumah saja. Lebih nyaman dan luas," sahut Agam. Dia berbicara tanpa berpikir kalau mereka tidak punya uang.


"Uangku pas-pasan. Mana cukup. Kecuali satu hari tinggal di rumah bagus habis itu kita tinggal di rumah kardus, mau?" tanya Cassandra.


"Ogah, masa iya tidur di rumah kardus. Tertiup angin udah gak ada lagi tempat berteduh," jawab Agam.


Cassandra tertawa kecil mendengar celotehan Agam.


"Tuh tahu, makanya kita nyari kontrakan biar lebih nyaman dari rumah kardus," ucap Cassandra.


Agam mendengus kesal. Dulu hidupnya bergelimang harta. Mau beli apapun bisa. Sekarang untuk tinggal saja mesti mikir-mikir lagi.


"Ayo sayang!" ajak Cassandra. Dia berjalan duluan.


"Nasibku benar-benar menyedihkan semenjak bersamamu," keluh Agam.


Cassandra masa bodoh. Dia tidak menggubris ucapan Agam. Dia sudah mengeluh dari tadi.


"Kenapa gak yang tadi? Lebih bersih dan masih baru," ucap Agam.


"Harganya satu juta. Uang ...," ucap Cassandra.


"Gak cukup menyewa dan makan satu bulan. Iyakan?" potong Agam. Kata-kata itu sudah berulang kali Cassandra katakan. Agam sampai hafal.


"Iya, kita nyari kontrakan termurah dan lingkungannya enak," jawab Cassandra.


Agam menghampiri Cassandra yang berdiri tak jauh darinya.


"Kau mau apa?" tanya Cassandra. Dia gugup gara-gara Agam mendekatinya.


"Agam, aku belum siap," jawab Cassandra. Dia menutup matanya.


"Ada ulat di hijabmu," sahut Agam mengambil ulat hijau di hijab Cassandra. Dan memperlihatkan padanya.


"Oh, ku pikir dia mau menciumku? Aku takut," batin Cassandra. Dia belum pernah ciuman. Butuh persiapan untuk melakukannya. Cassandra melihat ulat di tangan Agam.


"Kau tidak takut ulat?" tanya Cassandra sambil menunjuk ulat di tangan Agam.


"Ini kan cu- ... ulaaaat!" Agam berteriak. Dia bukan takut tapi geli. Dan gak sadar dari tadi memegangnya. Agam langsung spontan melempar ulat itu begitu saja. Kemudian dia mengibas-ngibaskan tangannya.


"Aku paling tidak suka ulat. Mereka itu kegatelan," ucap Agam.


Cassandra tertawa kecil. Satu hal yang dia tahu tentang suaminya.

__ADS_1


Mereka kembali berjalan diantara kontrakan demi kontrakan. Beberapa muda-mudi terlihat berpacaran di teras. Ada yang sedang berciuman.


Membuat Agam menutup mata Cassandra dengan satu tangannya.


"Agam," ucap Cassandra.


"Nanti kau pengen," sahut Agam.


Cassandra langsung malu.


"Jangan membayangkan aku akan menciummu! Belum tentu aku mau," bisik Agam.


"Aku tidak membayangkan tapi memikirkannyax sahut Cassandra.


"Apa?" tanya Agam. Dia melepaskan tangannya dari mata Cassandra. Dan menatap wajah cantik itu.


"Itu dia kontrakannya!" Cassandra pura-pura tak menggubris Agam. Dia berjalan lebih dulu menghampiri kontrakan berwarna kuning yang tak jauh dari tempat mereka berada.


"Kau tadi bilang apa?" Agam membuntuti Cassandra. Sedangkan wanita berhijab itu acuh tak acuh. Dia langsung mengobrol dengan pemilik kontrakan.


"Tujuh ratus ribu?" tanya Cassandra.


"Iya Neng cantik," jawabnya.


"Alhamdulillah," ucap Cassandra. Akhirnya dia bisa mendapatkan kontrakan yang lebih murah. Setidaknya bisa menghemat biaya sewanya.


"Tapi listrik bayar sendiri ya?" ujarnya.


"Iya Bu," jawab Cassandra.


Setelah itu Cassandra langsung membayarnya. Yang paling penting untuknya harga. Uangnya pas-pasan. Dia tidak bisa memilih kontrakan yang lebih bagus.


"Ini kuncinya!" Ibu kontrakan memberikan kunci.


"Makasih Bu," sahut Cassandra. Dia menerima kunci lalu mengajak Agam masuk ke kontrakan mereka berdua.


"Heh! Pantas murah. Kau lihat kontrakannya butut, sempit, panas lagi," keluh Agam.


"Yang penting murah. Itu yang kita butuhkan sekarang," jawab Cassandra.


"Kau selalu berpikir positif. Sudah tahu kontrakan ini tidak layak," sahut Agam.


Cassandra tersenyum. Agam memang seperti itu. Dia tidak terlalu memasukkan ke dalam hatinya.


"Agam, bantu aku membersihkannya ya?" pinta Cassandra.


"Kau pikir aku OB?" tanya Agam balik.


Cassandra meletakkan tasnya di lantai. Lalu mengambil sapu yang ada. Mungkin sapu penghuni kontrakan sebelumnya. Dia memberikan pada Agam.


"Hei! Kau menyuruhku nyapu?" tanya Agam.


Cup


Cassandra mencium pipi Agam. Membuat Agam terdiam seribu bahasa. Tangannya gemetaran.


"Aku mau membersihkan toilet. Kau menyapu sayang. Nanti biar aku yang mengepel," ucap Cassandra.

__ADS_1


Agam hanya diam. Tangannya gemetaran. Dia masih syok mendapatkan ciuman pipi dari Cassandra. Sedangkan wanita cantik itu membersihkan toilet.


***


__ADS_2