
Malam itu Agam sudah merapikan tempat tidur sebelum Cassandra keluar dari toilet. Agam menunggu kedatangan istrinya. Setiap malam akan jadi malam-malam indah untuknya dan Cassandra. Agam tersenyum sendirian. Dia bolak-balik melihat ke arah pintu toilet.
"Cassandra mana?" Agam tak sabaran.
Tap
Tap
Suara langkah kaki Cassandra mulai terdengar di telinganya. Agam melihat ke arah pintu dapur yang tertutup tirai kain seadanya. Wajah cantik dengan rambut panjang itu tampak angun. Apalagi dress pendek yang dikenakannya berwarna merah membuat Agam semakin membara.
"Sayang belum tidur?" tanya Cassandra.
"Kok tidur? Bukannya mau melakukan sesuatu dulu," jawab Agam.
Cassandra tersenyum malu-malu.
Melihat senyuman manis itu Agam bergegas menghampiri istrinya.
"Cantik," puji Agam.
"Makasih sayang," sahut Cassandra.
Cup
Agam mencium kening Cassandra. Membuat wanita cantik itu menatap penuh cinta. Apalagi saat tangan Agam meraba pipinya.
"Cassandra, terimakasih atas semuanya. Kau membuatku mengetahui banyak hal yang selama itu tidak pernah ku ketahui. Kau mengajarkanku tentang sebuah keikhlasan dan ketulusan," ujar Agam. Wanita di depannya itu bukan sekedar istri tapi panutan untuknya. Mentor sekaligus penasehat pribadinya.
"Iya sayang. Akupun berterimakasih karena kau mau hidup bersamaku. Meskipun keadaan kita pas-pasan," sahut Cassandra.
Agam mengangguk dan menarik pinggang Cassandra ke pelukannya. Lalu menciumnya. Malam ini menjadi malam-malam candu yang tidak terlupakan. Agam tidak bisa melewatkan satu malampun tanpa hangatnya cinta Cassandra. Melampaui sebuah batasnya. Dia berusaha memupuk rasa dan hanyut dalam gelora. Membiarkan semuanya menyatu indah dalam malam-malam penuh kehangatan.
***
Pukul 10 pagi
Cassandra merapikan tempat kasir sembari menunggu pembeli memilah-milah barang yang ingin dibelinya. Semenjak kasir dipegang Cassandra jadi lebih rapi dan bersih. Cassandra juga merapikan data yang sempat gak jelas antara pemasukan dan modal utama. Dia rajin dan tak terlewatkan sholat wajib. Di saat sepi juga sering sholawatan. Membuat hatinya jauh lebih tenang dan nyaman.
"Cassandra, kasir rapi kali. Padahal kau baru kerja dua hari," ucap Husein memuji wanita berhijab itu.
"Aku hanya ingin memudahkan pekerjaanku dan membuat tempat ini enak dipandang Paman. Maaf kalau lancang," sahut Cassandra.
"Justru aku suka. Padahal aku tidak menyuruhmu tapi kau pengertian," jawab Husein.
__ADS_1
"Iya Paman, biar bagaimanapun tempat ini tempatku bekerja. Aku sudah menganggapnya sebagai rumahku sendiri yang harus ku rawat dan rapikan," ucap Cassandra.
Husein mengangguk. Dia tidak salah pilih pegawai. Cassandra memang baik, sholeha dan amanah. Selain itu dia rajin dan ramah. Banyak pembeli yang suka padanya.
"Cassandra, apa kau sudah punya suami?" tanya Husein.
"Alhamdulillah sudah Paman," jawab Cassandra.
"Oh, sayang sekali. Padahal Paman punya ponakan. Tadinya kalau kau masih lajang mau ku kenalkan padamu," sahut Husein. Melihat kepribadian Cassandra yang baik membuat Husein tertarik untuk menjadikannya saudara.
"Maaf Paman, mungkin belum berjodoh. Aku yakin ponakan Paman akan mendapatkan jodoh yang lebih baik," ucap Cassandra.
Husein mengangguk.
"Oya, suamimu tidak pernah mengantarmu ke agen. Apa dia kerja diluar kota?" tanya Husein.
"Tidak Paman, suamiku bekerja di dekat sini. Hanya saja aku memintanya untuk mengantar sampai ujung jalan," jawab Cassandra. Dia tahu Agam juga harus sampai tepat waktu itu sebabnya Cassandra meminta agar diantar sampai ujung jalan.
Husein mengangguk paham.
"Suamimu namanya siapa?" tanya Husein. Pemilik agen sembako itu penasaran laki-laki yang sudah meminang wanita sebaik Cassandra.
"Agam Maheswara," jawab Cassandra.
"Apa?" Husein terkejut mendengarnya. Dia pernah membaca koran yang berisi kabar tentang Agam Maheswara, seorang pebisnis otomotif yang sukses.
"Agam Maheswara yang CEO itukan?" tanya Husein balik.
Cassandra mengangguk.
"Tapi kenapa kau bekerja di sini kalau suamimu saja sudah sangat kaya?" tanya Husein.
Cassandra pun mau tak mau menceritakan seperti apa perjalanan hidupnya pada Husein. Terlepas dari sikap dan perkataan keluarga Agam padanya. Dia hanya menceritakan garis besarnya tanpa menjelekkan siapapun.
"Ini namanya kerja keras. Bukan mengandalkan kekayaan orangtua. Lagi pula menikah memang harus memulainya dari nol agar kalian saling memahami satu sama lain dan cinta kalian benar-benar kuat," ujar Husein.
"Iya Paman," jawab Cassandra.
"Semangat Cassandra! Paman yakin kelak kau akan sukses di masa depan," ucap Husein menyemangati wanita muda itu. Dia kagum pada perjuangannya dan suaminya.
"Terimakasih Paman," jawab Cassandra.
"Semoga Allah memudahkan rejeki kalian," ucap Husein.
__ADS_1
"Amin," jawab Cassandra. Wajahnya berseri-seri. Dia senang bisa bekerja pada Husein yang baik dan sabar.
Husein meninggalkan tempat itu. Tinggal Cassandra yang sibuk bekerja. Satu persatu orang memberikan barang-barang yang sudah dipilhnya untuk dihitung Cassandra. Mereka membayar setelahnya. Cassandra sangat teliti dan cepat dalam bekerja membuat orang-orang senang pada kinerjanya.
Beberapa saat kemudian, Monika dan Khanza datang ke tempat itu. Mereka berbelanja untuk membuat berbagai macam kue sekalian ingin melihat keadaan Cassandra saat itu. Tak lupa membawa undangan untuknya.
Pluuuk ...
Khanza melempar undangan berwarna gold ke depan Cassandra.
"Itu undangan untukmu kak! Aku masih berbaik hati mengundangmu. Agar kau melihat betapa bahagianya aku," ujar Khanza. Dia terlihat senang dan pamer barang-barang yang dikenakannya. Semua pemberian dari keluarganya Fahri.
Cassandra menatap mereka sekilas. Wanita paruh baya itu tersenyum tipis padanya. Apalagi Khanza yang memamerkan emas di tangan dan lehernya.
"Ambil! Kau ingin makan gratiskan?" ucap Monika.
Cassandra menarik nafas panjangnya. Dia harus bersabar menghadapi mereka berdua.
"Terimakasih, sudah mengundangku dan suamiku," sahut Cassandra. Dia mengambil undangan di atas etalase.
"Pastikan kau datang membawa diri! Gak usah muluk-muluk bawa kado. Aku tahu kau tidak akan sanggup," ucap Khanza.
"Iya, kita tahu kondisimu saat ini. Untuk makan dan tinggal saja kau pas-pasan apalagi untuk membeli kado. Ibu khawatir kau kelaparan," tambah Monika.
"Terimakasih atas pengertiannya. Insya Allah aku dan suamiku akan datang," jawab Cassandra.
"Baguslah kalau begitu! Aku akan puas melihatmu," ucap Khanza.
"Iya, sayang kalau pesta besar tanpa dihadiri olehmu. Nanti siapa yang akan makan dan cuci piring," tambah Monika.
"Sudah selesai bicaranya? Aku sibuk. Banyak pembeli yang ingin membayar belanjaannya," ucap Cassandra.
Kedua orang itu kesal. Dia berjalan keluar dari agen sembako itu. Tidak jadi belanja barang-barang yang dibutuhkan.
"Neng Cassandra, siapa? Julid banget." Seorang pembeli ikut naik darah mendengar ucapan dua orang tadi.
"Iya, mulutnya kaya merc0n," tambahnya.
Cassandra hanya tersenyum. Apa yang dikatakan ibu-ibu itu menghiburnya.
Dug ...
Suara hantaman cukup keras terdengar dari dalam toko sembako itu. Suara orang-orang di luar mulai terdengar ricuh.
__ADS_1
"Ada apa ya?" ucap ibu-ibu itu.
Cassandra ikut penasaran. Suaranya terdengar cukup kencang dan ada beberapa orang berkerumum di depan toko agen sembako itu.