
"Mungkin Ma," jawab Zafran.
"Loh kok mungkin, kau ini suaminya masa gak tahu?" sahut Emma. Heran padahal Zafran suaminya Elena tapi dia tidak tahu kondisi kesehatan istrinya.
"Aku sibuk ngurus bisnis Ma," jawab Zafran mencari alasan yang tepat.
"Sesibuk apapun kau harus perhatian pada istrimu," sahut Emma.
"Iya Ma," jawab Zafran. Malas berdebat dengan ibunya lebih baik mengiyakan saja. Toh ibunya tidak tahu seperti apa hubungannya dengan Elena. Yang tahu hanya dia dan wanita itu.
"Tapi Elena kok kaya wanita hamil muntah-muntah ya?" ucap Emma.
"Mana mungkin Elena hamil. Pernikahan Zafran dan Elena kan belum ada satu bulan," sahut Renaldi. Tidak mungkin Elena hamil lebih lebih cepat sebelum waktunya. Lagi pula Zafran dan Elena kan tidak memiliki hubungan sebelum mereka menikah.
"Iya sih Pa, aku hanya menebak saja," jawab Emma. Dia hanya menebak kemungkinan yang ada. Meskipun dia sedikit merasa heran melihat Elena muntah-muntah.
Zafran terdiam dia tidak begitu mempedulikan apa yang dikatakan ibunya. Meskipun dia juga merasa sedikit heran dengan tingkah Elena beberapa hari ini. Istrinya kerap muntah-muntah setiap pagi.
"Ma, memang ibu hamil muntah mulu?" tanya Zafran. Dia jadi penasaran seperti apa wanita hamil.
"Gak semua, tapi sebagian besar begitu. Apalagi saat kehamilan trimester pertama. Mual dan muntah jadi langganan tiap pagi dan saat makan," jawab Emma menjelaskan sesuai pengalamannya dan pengalaman beberapa orang. Hampir sebagian besar wanita mengalami mual dan muntah ketika hamil. Meskipun sebagian besarnya biasa saja. Orang menyebutnya hamil keb0.
Zafran terdiam. Dia mengingat sesuatu yang terjadi beberapa hari yang lalu. Elena kerap muntah di pagi hari dan setelah makan. Dia juga sering mengeluh mual pada temannya saat menelpon temannya itu.
"Kok gelajanya hampir sama dengan Elena? Apa Elena?" batin Zafran. Dia belum berani berspekulasi lebih jauh meskipun ada kecurigaan ke arah situ.
"Zafran, bantuin Elena!" titah Renaldi.
"Iya Pa," jawab Zafran terpaksa. Mau tak mau dia bangun dari sofa dan menghampiri Elena yang sedang muntah-muntah di wastafel yang ada di ruang keluarga. Laki-laki itu memijat punggung leher wanita cantik itu.
"Kau sakit Elena?" tanya Zafran penasaran.
"E-enggak," jawab Elena. Mana mungkin dia memberitahu Zafran kalau dia sedang hamil makanya dari kemarin kurang enak badan. Bahkan cenderung lemas. Dia lebih banyak berbaring di atas ranjang dari pada beraktivitas. Meskipun kebiasaannya shopping tetap saja dilakukan sebagai bentuk kesenangan tersendiri.
Zafran terus memijat punggung leher wanita cantik itu sampai dia benar-benar tidak muntah lagi.
"Zafran, bolehkah aku minta air hangat?" tanya Elena. Dia ingin meminta tolong pada Zafran tapi tidak enak. Mereka sudah sepakat untuk tidak mengganggu satu sama lain ataupun menyusahkan satu sama lain.
__ADS_1
"Iya," jawab Zafran datar. Sebenarnya dia malas tapi dia tidak enak menolak permintaan Elena di depan kedua orang tuanya. Biar bagaimanapun kedua orang tuanya hanya mengetahui hubungan mereka baik-baik saja.
Zafran meninggalkan ruang keluarga. Dia pergi ke dapur untuk membuat teh hangat. Sedangkan Elena duduk bersama kedua orang tuanya dan mengobrol dengan mereka.
"Elena, kau sakit?" tanya Emma penasaran. Wajah menantunya tampak pucat dan lemas Setelah dia muntah-muntah tadi.
"Iya Ma, perutku sedang tidak enak dan mual," jawab Elena.
"Kau sudah ke Dokter?" tanya Emma.
"Apa Ma?" Elena terkejut mendengar ucapan ibu mertuanya. Dia bingung harus menjawab apa.
"Kau sudah ke Dokter?" tanyanya.
"Belum Ma," jawab Elena. Dia tidak mungkin berbohong pada wanita paruh baya itu. Semua yang dikatakan benar adanya.
"Kalau begitu biar Mama panggilkan Dokter pribadi kita!" sahut Emma.
"Eeee ... tidak usah Ma," sanggah Elena. Dia takut ketahuan hamil kalau ibu mertuanya memanggil dokter pribadi keluarganya.
"Tidak usah gimana? Kau sakit gitu. Lebih baik segera diobati biar gak parah," sahut Emma.
"Nanti aku akan ke Dokter Ma," ucap Elena.
"Ngapain nanti? Sekarang aja!" sahut Emma.
"Benar kata Mamamu, lebih baik sekarang. Biar sakitmu cepat sembuh," tambah Renaldi.
Elena bingung cara menolaknya agar ibu mertuanya tidak lagi kekeh dengan pendapatnya.
"Ma, Pa, nanti Zafran yang akan mengantar Elena ke rumah sakit," ucap Zafran sambil memegang nampan di tangannya. Di atas nampan ada segelas teh hangat untuk Elena. Dia berjalan menghampiri mereka bertiga.
Zafran meletakkan teh hangat di atas meja lalu duduk bersama di sofa.
"Baguslah kalau kau berpikir seperti itu. Mama rasa istrimu sakit. Dia harus mendapatkan perawatan dan obat-obatan sesuai anjuran dokter," sahut Emma.
"Benar Zafran, istrimu pucat begitu. Papa rasa dia sedang sakit," Tambah Renaldi. Dia juga merasa Elena sakit. Hanya saja dia tidak tahu Elena sakit apa.
__ADS_1
"Iya Pa, Ma, terimakasih atas perhatiannya. Aku sebagai suaminya tentu akan membawa Elena ke rumah sakit," jawab Zafran.
"Sekarang saja! Jangan nunggu besok-besok! Elena sudah pucat Zafran," ucap Emma.
"Iya Nak," tambah Renaldi.
Zafran menoleh ke arah Elena. Wajahnya memang sudah pucat seperti mayat.
"Elena, kita ke rumah sakit ya?" tanya Zafran. Tidak ada pilihan selain mengantarkan Elena ke rumah sakit. Dari pada orangtuanya ngoceh terus.
"Aku baik-baik saja," jawab Elena.
"Tidak bisa begitu, kau harus ke rumah sakit!" titah Emma.
"Iya. Kalau di rumah terus khawatirnya kondisimu memburuk," tambah Renaldi.
Elena tidak bisa menyangkal dan mengelak lagi dari pada didatangkan dokter pribadi. Lebih baik ke rumah sakit. Soal nanti akan dipikirkan lagi.
"Aku mau ke rumah sakit sayang," ucap Elena terpaksa. Dari pada dipermalukan mentah-mentah di depan orangtua Zafran.
"Oke, sekarang juga kita berangkat," sahut Zafran.
"Sekarang?" Elena terkejut.
"Iya," jawab Zafran.
Elena tidak bisa menolak. Mau tak mau mengikuti Zafran pergi ke rumah sakit. Dia pergi meninggalkan ruang keluarga bersama suaminya. Dia masuk ke dalam mobil mewah. Duduk bersama suaminya.
"Zafran, aku bisa sendiri," ucap Elena. Dia berusaha menghentikan Zafran untuk mengantarnya ke rumah sakit.
"Aku suamimu, jadi aku harus mengantarmu sampai ke rumah sakit!" tegas Zafran.
Elena tidak bisa menolak. Dia harus mengikuti suaminya ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, keduanya turun dari mobil. Mereka masuk ke rumah sakit. Sayangnya Elena tergelincir karena lantai yang licin.
Bruuug ...
__ADS_1
Elena terduduk di lantai, dia tampak kesakitan dan memegang perutnya.
"Elena!" Zafran menghampirinya. Dia melihat memperhatikan Elena. Ada darah yang mengalir di kakinya. Wanita cantik itu juga merintih memegang perutnya.