
Agam langsung menoleh ke belakang. Seorang laki-laki paruh baya berperawakan sedang dan badannya cukup tinggi. Dia mengenakan setelan jas berwarna silver. Namanya tuan Andrian Fransisco. Seorang pengusaha yang mengenal Agam. Dia sangat mengenal laki-laki muda itu. Tak jarang mereka sering bertukar pikiran dan nongkrong di sebuah cafe untuk sekedar minum kopi dan mengobrol.
"Tuan Andrian!" sahut Agam. Dia tidak menyangka bertemu dengan Tuan Andrian ditempat itu. Sosok yang begitu disegani olehnya.
Agam mengajak Cassandra menghampiri laki-laki paruh baya itu.
"Sudah lama tidak bertemu denganmu Agam," ucap Tuan Andrian.
"Iya Tuan," sahut Agam.
"Siapa Nona cantik ini?" tanya Tuan Andrian. Dia memperhatikan wanita cantik yang ada di samping Agam.
"Ini istriku Tuan Andrian," jawab Agam. Dengan senang hati dia mengakui wanita yang disampingnya sebagai istrinya.
"Istrimu? Kemarin ku dengar kau batal menikah?" tanya Tuan Andrian. Dia sempat mendengar desas-desus tentang pembatalan pernikahan Agam dengan Elena. Dan Zafran yang menggantikannya.
"Iya aku memang batal menikah dengan Elena Tapi sebaliknya Aku menikah dengan Cassandra," jawab Agam. Berita pernikahannya dengan Elena yang sudah tersebar luas memang tidak bisa dipungkiri olehnya. Begitupun dengan berita pembatalan pernikahannya.
"Oh, pantas saja aku melihat Zafran yang menikahi Elena," jawab Tuan Andrian. Dia datang ke acara pernikahan itu untuk melihat pernikahan Agam dan Elena tapi nyatanya justru Zafran dan Elena lah yang menikah.
Agam hanya tersenyum tipis mendengar apa yang dikatakan Tuan Andrian.
"Siapa namanya?" Tanya Tuan Andrian pada sosok wanita yang ada di samping Agam.
"Namanya Cassandra," jawab Agam. Memperkenalkan istrinya pada laki-laki paruh baya yang sudah lama dikenal olehnya.
"Cassandra, senang bisa bertemu dengan tuan," ucap Cassandra memperkenalkan dirinya pada laki-laki tua itu.
"Tuan Andrian, senang juga bisa bertemu denganmu nona," jawab Tuan Andrian. Dia hendak bersalaman dengan wanita berhijab itu tapi wanita itu justru menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Membuat laki-laki paruh baya itu segan dan menghormatinya.
"Agam, besok datanglah ke kantorku terserah jam berapa aku ingin mengobrol denganmu," ucap Tuan Andrian. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan laki-laki muda itu.
"Baik Tuan Insya Allah," jawab Agam pada laki-laki paruh baya yang terlihat berharap agar dia datang ke kantornya.
"Kalau begitu aku duluan, sampai bertemu besok," ucap Tuan Andrian.
__ADS_1
"Iya Tuan," jawab Agam.
Tuan Andrian meninggalkan tempat itu setelah selesai berbicara dengan Agam.
"Sayang apa dia rekan bisnismu?" Tanya Cassandra ingin mengetahui siapa laki-laki paruh baya tadi.
Aga menggangguk.
"Kenapa dia ingin mengajakmu bertemu?" Tanya Cassandra. Penasaran kenapa laki-laki paruh baya itu meminta Agam datang ke kantornya.
"Aku belum tahu sayang, kami memang sering mengobrol sebelumnya mungkin ingin membicarakan soal bisnis," jawab Agam. Dia belum tahu pasti kenapa laki-laki baru bayar itu mengajaknya bertemu. Hanya saja setiap mereka bersama pasti membicarakan masalah bisnis.
"Oh begitu," sahut Cassandra.
Mereka berdua pun berjalan menuju pelaminan. Mengantri dengan tamu undangan yang lainnya. Sampai akhirnya mereka bersalaman dengan Abdul dan Monika.
"Alhamdulillah kau datang juga nak," ucap Abdul. Dia senang dengan kedatangan anaknya ke acara pernikahan adiknya.
"Iya Pak, aku ingin mengucapkan selamat pada adikku," sahut Cassandra. Biar bagaimanapun Khanza tetap adiknya meskipun mereka bukan saudara kandung.
"Bagus, seharusnya kau datang membawa kado yang terbaikkan?" sahut Monika. Dia menyinggung soal finansial Cassandra secara halus. Mana mungkin wanita berhijab itu mampu memberikan kado yang lebih baik untuk adiknya.
Cassandra hanya tersenyum. Sedangkan Agam mengepalkan tangannya untuk menahan emosi yang bergejolak di hatinya. Dia tidak habis pikir Kenapa wanita paruh baya itu selalu menghina istrinya.
Mereka berdua kembali berjalan dan bersalaman dengan pengantin.
"Selamat ya atas pernikahannya. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan warohmah," ucap Cassandra. Dia mengucapkan selamat sekali mendoakan kebaikan untuk sepasang pengantin itu.
Mereka berdua hanya mengangguk malas. Khususnya Khanza. Dia tidak suka bertemu dengan saudara tirinya. Tapi hari ini dia ingin pamer padanya.
"Mana kadonya? Jangan-jangan kau tidak bawa kado atau kau memang tidak punya uang?" ucap Khanza. Dia meremehkan wanita yang ada di depannya.
"Aku sudah bawa kado untukmu tadi ku letakkan di tempat penyimpanan kado," jawab Cassandra. Meskipun kondisi ekonominya sedang tidak baik tapi dia mengusahakan untuk membeli kado semampunya.
"Oh, kok mengado apa? Jangan bilang barang yang kau beli hasil kreditnya?" ucap Khanza. Dia berkata ketus pada wanita berhijab itu.
__ADS_1
"Istriku tidak mungkin kredit. Berapapun harganya dia akan bayar cash meskipun harus menabung dulu," jawab Agam. Dia tidak bisa membiarkan istrinya dicaci oleh wanita yang ada di depannya.
"Heh! Baguslah kalau begitu. Setidaknya kau tidak datang hanya untuk makan," sahut Khanza.
"Tadinya niatannya begitu tapi kurasa makanan di sini tidak sesuai dengan selera kita. Makanan di pinggir jalan lebih enak daripada makanan yang disuguhkan tanpa keikhlasan," celetuk Agam.
Khanza mengepalkan tangannya. dia tidak menyangka laki-laki tampan yang ada di depannya itu akan membalas ucapannya.
"Ayo sayang! Tempat ini terlalu sempit untukmu," ajak Agam. Dia memegang tangan Cassandra dan mengajaknya meninggalkan tempat itu.
"Sialan! Padahal aku ingin mempermalukannya," ucap Khanza kesal. Dia tidak berkutik di depan Agam. Bahkan membalas semua perkataannya.
Agam dan Cassandra berkeliling di tempat itu. Mereka ingin melihat-lihat sebentar sebelum pulang. Sekalian mencicipi beberapa makanan yang memang disuguhkan. Khanza yang tadi kesal dia ingin mempermalukan kembali Cassandra. Dia membawa segelas jus di tangannya. Dia berencana untuk menuang jus itu ke baju Cassandra dan berpura-pura tidak sengaja. Namun justru dia terpeleset dan terjatuh di lantai.
"Ha ha ha." Semua orang menertawakan pengantin wanita yang tergeletak di bawah.
"Sial! Aku ingin mempermalukan Cassandra kenapa justru aku yang dipermalukan," batin Khanza. Dia termakan oleh rencananya sendiri. Seharusnya dia menggunakan cara yang matang untuk mempermalukan Cassandra.
"Khanza!" Cassandra menghampiri Khanza dan mengulurkan tangan padanya.
Pengantin mengenakan cadar itu menatap ke atas. Dia belum puas sebelum Cassandra dipermalukan. Dia hendak menarik baju Cassandra biar sobek tapi justru cadarnya lah yang terbuka.
"Wajahnya!" Semua orang di sekelilingnya terkejut melihat wajah Khanza yang cacat di sebelah kirinya.
"Itu kenapa?"
"Apa wajahnya cacat?"
Satu persatu orang silih berganti memberikan komentar saat melihat wajah Khanza.
"Sialan!" batin Khanza. Kenapa dia justru terkena karmanya sendiri. Sedangkan Cassandra baik-baik saja.
"Khanza!" Fahri datang menghampiri wanita yang terduduk di lantai.
"Fahri!" Khanza terkejut melihat kedatangan Fahri. Dia takut Fahri akan melihat wajahnya yang buruk rupa.
__ADS_1