
"Jadi pemulung. Apa kau tidak keberatan memiliki suami seorang pemulung?" tanya Agam.
Mata Cassandra berkaca-kaca. Seorang Agam yang dikenalnya arogan dan ketus harus bertranformasi menjadi seorang pemulung.
"Cassandra, apa kau malu?" tanya Agam.
Cassandra berbalik lalu mencium Agam. Laki-laki tampan itu membalasnya.
"Cassandra," ucap Agam sambil menatap wajah cantik di depannya. Tangannya masih setia di pinggang wanita cantik itu.
"Agam, apapun pekerjaannya asalkan halal aku akan menerimanya. Berapapun hasilnya Insya Allah berkah untuk kita," jawab Cassandra.
Agam mencium kening Cassandra. Dulu dia tidak pernah membayangkan akan memiliki pasangan seperti Cassandra yang bisa menerima kekurangannya. Bahkan mau diajak hidup susah.
Cassandra bersandar di dada bidang Agam dan memeluk pinggangnya. Nyaman dan membuatnya merasa memiliki seseorang yang ada untuknya.
"Besok aku akan mencari pekerjaan lagi. Kalau belum dapat aku akan mencari rongsokan untuk ditukar dengan uang recehan," ucap Agam.
Cassandra mengangguk. Tidak peduli berapa yang didapatkan Agam tapi laki-laki tampan itu sudah berusaha sekuat tenaga. Dan Cassandra berusaha menghargai usahanya.
***
"Fahri, kau judi seperti ini orangtuamu tidak tahu?" ucap salah satu teman Fahri yang nongkrong dengan Fahri.
"Tidaklah! Mereka tahunya aku ikut pengajian di masjid Al Ihsan," jawab Fahri. Dia sedang memperhatikan kartu di tangannya. Hampir setiap hari semenjak pulang dari luar negri Fahri nongrong dengan teman-teman lamanya. Kedua orangtuanya tidak tahu kebiasaannya itu.
Mereka tertawa. Sudah tahu kebiasaan Fahri.
"Kau itu anak nakal yang berkedok ustad," ucap temen lainnya.
"Iya, orang-orang tahunya kau anak baik-baik, berpendidikan dan soleh. Tahunya bejat."
Fahri tersenyum tipis. Apa yang dikatakan teman-teman benar.
"Fahri, ku dengar kau akan married."
"Iya, memang kenapa?" tanya Fahri. Dia melempar satu kartu andalannya di atas meja.
"Kau akan menikahi wanita sholeha itu?"
"Gak jadi," jawab Fahri. Dia mengusap rokoknya.
"Kenapa? Apa kau sudah bosan?"
"Bukan itu. Bahkan aku belum sempat menyentuhnya. Dia itu naif dan sok jual mahal," jawab Fahri. Dia belum bisa menyentuh Cassandra sebelum menikahinya padahal Fahri niatan ingin ngicip dulu sebelum dinikahi.
"Terus kau gak jadi menikah?" tanyanya.
"Jadi. Tapi terpaksa dari pada diomelin nyokap dan bokap," jawab Fahri.
"Nikah sama Cassandra?"
"Bukan," jawab Fahri santai. Dia fokus pada permainan kartunya.
"Terus nikah sama siapa? Bukannya lima hari lagi kau akan menikah?"
__ADS_1
Fahri meneguk wine di gelas miliknya.
"Iya makanya aku terpaksa menikahi adiknya Cassandra," jawab Fahri.
"Loh kenapa diganti adiknya? Memang kau ada masalah dengannya?" tanyanya.
"Cassandra mesum di dalam mobil bersama seorang laki-laki," jawab Fahri.
"Pantes kau gak jadi menikahinya. Ternyata bekasan toh?"
Fahri hanya tersenyum tipis.
"Terus adiknya gimana?"
"Lumayan tapi matre," jawab Fahri. Dia terlihat malas membahas Khanza.
"Kalau gitu kau harus menyediakan banyak uang, kalau tidak dia akan mengkhianatimu."
"Aku tidak peduli. Sekarang yang terpenting aku punya istri agar orangtuaku tidak ngomel terus. Nanti kalau aku bosan tinggal buang dan ganti baru," sahut Fahri.
Teman-temannya tertawa. Kedua orangtuanya Fahri memang tidak tahu kelakuan bejatnya. Fahri sering mengaji dan pandai bercakap manis membuat kedua orang tuanya tidak tahu kelakuannya yang sebenarnya.
Di tempat yang berbeda, Khanza sedang menelpon pacarnya. Dia harus memutuskan laki-laki yang dianggap tidak pantas untuknya. Dia sekarang sudah mendapatkan Fahri laki-laki idamannya.
["Apa? Kita putus Khanza?"]
["Iya, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita."]
["Memang kenapa? Selama ini aku sudah berkorban banyak hal untukmu. Katanya kita akan menikah."]
["Tapi Khanza. Ku mohon beri aku kesempatan!"]
["Pokoknya kita putus!"]
Khanza mengakhiri panggilannya. Dia tidak sudi berbicara lebih lama lagi dengan laki-laki yang dianggap tidak selevel dengannya.
"Udah tahu miskin ngapain juga ngotot," ucap Khanza.
"Kenapa sih Nak?" tanya Monika. Heran melihat putrinya tampak kesal.
"Aku baru saja putus Bu," jawab Khanza.
"Bagus. Lebih baik kau pilih Fahri yang sudah jelas bebet, bobot dan bibitnya," sahut Monika.
Khanza mengangguk.
"Setelah kalian menikahi sudah pasti nasibmu akan seperti Cinderella," ucap Monika. Dia sudah membayangkan kebagian anaknya. Pasti dia akan tersenyum seharian.
"Iya lah Bu. Aku akan punya banyak uang dan jadi wanita yang paling bahagia," jawab Khanzad
Monika mengangguk dan tersenyum.
"Kalau begitu kita harus mempersiapkan semuanya!" ajak Monika.
"Oke," sahut Khanza.
__ADS_1
Monika sedang memeriksa persiapan pernikahan. Di dalam bukunya dia memeriksa apa saja yang sudah selesai.
"Bu m, bagaimana nasib Cassandra?" tanya Khanza.
"Paling menggembel di jalanan," jawab Monika.
Khanza tertawa senang mendengarnya.
"Aku dengar dia sudah dipecat dari sekolah," ucap Monika.
"Beneran Bu?" tanya Khanza antusias. Dia senang sekali Cassandra menderita. Padahal selama ini Cassandra selalu baik padanya.
"Iya, aku yang sudah membuat gosip itu semakin liar dan sampai di sekolah. Dengan begitu Cassandra akan dipecat," jawab Monika. Dari dulu dia tidak suka pada anak tirinya. Berbagai cara dilakukan untuk membuatnya menderita.
"Pastilah! Siapa yang mau punya guru mesum kaya dia? Bikin muridnya ikut gak bener," sahut Khanza.
Mereka berdua tertawa puas. Senang mendengar kabar buruk yang kini menimpa Cassandra.
Sementara itu, Cassandra sedang berbaring dengan Agam. Meski tidur di tikar tapi rasanya hangat. Apalagi Agam memeluk Cassandra dengan erat. Laki-laki tampan itu lupa dengan kata-katanya tempo lalu. Dia justru menjadi orang yang paling menyayangi Cassandra saat ini.
"Agam, aku baru saja dipecat," ucap Cassandra.
"Kau dipecat?" Agam terkejut mendengarnya.
Cassandra mengangguk.
"Kenapa kau dipecat?" tanya Agam. Dia menatap wajah cantik yang sendu.
"Gosip ..." Cassandra ragu mengatakannya.
"Tidak usah dipikirkan. Nanti aku akan mencari pekerjaan yanh lebih baik. Dan hidup kita akan lebih baik dari ini," sahut Agam.
Cassandra menatap laki-laki tampan yang kini ingin berjuang bersamanya. Dia tersenyum manis.
"Agam, kata Safira agen milik pamannya membuka lowongan sebagai kasir atau penata barang. Bolehkah aku kerja di sana?" tanya Cassandra. Dia harus minta izin dulu pada suaminya. Biar bagaimanapun Agam sekarang imamnya.
"Boleh," jawab Agam.
"Terimakasih Agam," sahut Cassandra.
Agam mengangguk. Dia mendekati wajah cantik Cassandra dan menciumnya.
"Aku ingin Cassandra," ucap Agam. Menatap Cassandra dengan intens.
Cassandra mengangguk. Mereka memang suami istri yang sah. Cassandra siap menjadi milik Agam seutuhnya.
Agam menata beberapa kain dan selimut di atas tikar.
"Agam untuk apa?" tanya Cassandra bingung. Kenapa suaminya menata banyak kain dan selimut di atasnya.
"Untuk tempat kita bermesraan," jawab Agam. Dia menatap ke arah Cassandra.
Deg ...
Jantung Cassandra berdebar tak karuan. Aliran darahnya semakin deras. Dan bulu kuduknya berdiri. Tubuhnya meremang mendengar apa yang dikatakan Agam. Benarkah laki-laki tampan itu Agam? Dia ingat betul ekspresi Agam saat bertemu pertama kali dengannya. Ekspresi dingin, menatap tajam seperti elang dan wajah masam yang begitu kental. Dia terlihat tidak menyukai Cassandra. Apalagi mulutnya yang lebih pedas dari cabai. Tapi Agam di depannya begitu manis dan hangat.
__ADS_1