
Renaldi dan Emma tidak bisa tenang. Mereka terus memikirkan masalah keluarga mereka yang semakin berat. Mereka merasa sedih dan kecewa dengan anak-anak mereka yang telah membuat mereka kecewa.
Namun, Renaldi dan Emma tahu bahwa mereka harus menyelesaikan masalah ini. Mereka memutuskan untuk mencari tahu siapa ayah dari bayi yang dikandung Elena. Apakah anaknya atau orang lain?
Sepulang dari rumah Harry, Agam mengajak Cassandra jalan-jalan ke Mall. Dia ingin mengajak Cassandra membeli sesuatu yang dibutuhkannya. Selama menikahi dengannya Agam belum pernah memberikan sesuatu.
"Sayang, kenapa kita ke sini?" tanya Cassandra. Dia memperhatikan keramaian. Banyak orang lulu lalang di dalam mall. Baik ke kanan dan kiri. Mereka sibuk berbelanja dan makan. Ada yang menikmati wahana ataupun permainan yang ada di dalamnya.
"Jalan-jalan nyenengin kamu sayang," jawab Agam.
"Beneran?" tanya Cassandra.
Tangan Agam memegang tangan Cassandra dengan erat.
"Beneran. Selama kita menikah aku belum pernah menyenangkanmu," jawab Agam.
"Agam, pernikahan kita hal terindah untukku, lebih dari apapun," sahut Cassandra.
"Terimakasih sayang, aku merasa menjadi laki-laki yang paling bahagia karena memilikimu," jawab Agam.
Cassandra mengangguk.
"Sayang, beli ranjang ya?" ucap Agam.
"Ranjang pasti lumayan mahal sayang," sahut Cassandra.
"Kita beli! Aku punya uangnya," ucap Agam.
Cassandra terdiam sejenak. Harga ranjang pasti lumayan mahal.
"Biar nanti malam bisa romantisan dengan nyaman," bisik Agam.
"Sayang," sahut Cassandra langsung menggandeng tangan Agam.
"Gak usah dipikirkan. Insya Allah kita mampu membelinya," ucap Agam.
Cassandra mengangguk.
Mereka mulai melihat-lihat ranjang yang dipamerkan di mall itu. Banyak macamnya dan harganya. Agam dan Cassandra melihat-lihat terlebih dahulu.
__ADS_1
"Sayang, mau yang mana?" tanya Agam.
"Semuanya bagus, bingung," jawab Cassandra. Semua ranjang-ranjang yang dipajang bagus. Membuat Cassandra dilema.
"Gimana kalau yang itu!" Agam menunjuk ke arah ranjang besar dan megah.
"Terlalu besar. Kontrakan kita kecil," sahut Cassandra.
"Iya ya, nanti sulit diletakkan, di kontrakan," ucap
Agam.
"Bagaimana kalau yang itu?" ucap Cassandra menunjuk ranjang berukuran lebih kecil.
Agam mengangguk. Dia langsung membayar ranjang yang diinginkan Cassandra.
Kemudian, Agam mengajak Cassandra ke toko perhiasan dan meminta Cassandra untuk memilih cincin emas yang dia inginkan. Cassandra sangat senang dan terharu, tidak pernah sekalipun Agam membelikan barang mewah seperti itu untuknya.
Setelah memilih cincin yang diinginkan, Agam mengajak Cassandra ke restoran mewah di mall tersebut. Mereka menikmati makan malam yang romantis dan penuh kehangatan. Agam dan Cassandra saling bercerita tentang pengalaman hidup mereka dan tawa mereka menggema di ruangan makan.
Ketika mereka selesai makan malam, Agam memberikan cincin emas yang sudah dipilih oleh Cassandra. Cassandra sangat terharu dan bahagia, dia merasa sangat dicintai oleh suaminya. Agam memeluk Cassandra dan berkata, "Aku selalu ingin membahagiakanmu, sayang. Kau adalah segalanya."
Cassandra menangis bahagia dan merasa sangat bersyukur memiliki suami seperti Agam. Mereka berjalan keluar dari restoran dengan senyum bahagia di wajah mereka dan berpegangan tangan, merasakan kebahagiaan yang tak ternilai.
"Sayang, kau suka?" tanya Agam.
"Iya sayang," jawab Cassandra.
Agam meletakkan kepala Cassandra di bahunya. Mereka menonton film itu sampai selesai.
***
Agam merasa tegang saat memulai hari pertamanya sebagai CEO di Perusahaan Francisco Group. Dia tahu bahwa tanggung jawabnya sangat besar dan dia harus memastikan bahwa perusahaan tersebut berjalan dengan baik.
Agam tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Dia ingin memastikan bahwa semuanya siap untuk hari pertamanya. Dia berjalan ke ruangannya dan duduk di kursi yang baru untuk pertama kalinya. Dia merasakan kebanggaan dan tanggung jawab yang besar.
Kemudian, Agam memulai hari kerjanya dengan berkeliling kantor dan berkenalan dengan seluruh karyawan. Dia ingin memastikan bahwa semua karyawan merasa nyaman dengannya dan bahwa mereka tahu bahwa dia selalu siap membantu mereka.
Agam menghabiskan sebagian besar waktu paginya berbicara dengan karyawan dan mempelajari semua pekerjaan barunya. Dia bertanya tentang tugas mereka, tantangan yang mereka hadapi, dan cara mereka mengatasi masalah.
__ADS_1
Setelah itu, Agam mengadakan rapat dengan seluruh karyawan untuk memperkenalkan dirinya dan membahas rencana untuk masa depan perusahaan. Dia ingin memastikan bahwa semua orang merasa termotivasi dan bersemangat untuk bekerja di bawah kepemimpinannya.
Agam juga memperkenalkan beberapa perubahan yang akan dilakukan di perusahaan. Dia ingin meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan dengan melakukan beberapa perubahan sistem dan proses.
Karyawan merespons positif atas kepemimpinan Agam. Mereka menyukai cara dia bekerja dan cara dia berbicara dengan mereka. Mereka merasa termotivasi dan bersemangat untuk bekerja di bawah kepemimpinannya.
Setelah rapat, Agam melanjutkan hari kerjanya dengan menghadiri beberapa pertemuan dan membaca beberapa laporan. Dia ingin memastikan bahwa dia selalu terinformasi tentang semua hal yang terjadi di perusahaan.
Agam juga mengambil waktu untuk berbicara dengan beberapa karyawan secara individu. Dia ingin tahu lebih banyak tentang pekerjaan mereka dan cara mereka berkontribusi pada perusahaan.
Saat hari kerja hampir berakhir, Agam merasa lega. Dia merasa bahwa hari pertamanya sebagai CEO berjalan dengan baik. Dia merasa termotivasi dan siap untuk mengambil tantangan berikutnya.
Agam tiba di rumah dengan senyum di wajahnya. Dia merasa senang bahwa dia telah membuat kesan yang baik pada seluruh karyawan. Dia tahu bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, tetapi dia siap untuk menghadapi semua tantangan tersebut.
Setelah menghabiskan waktu dengan keluarganya, Agam kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih tertunda. Dia tahu bahwa sebagai CEO, dia harus siap bekerja keras dan selalu siap untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk memastikan kesuksesan perusahaan.
Agam merasa bahagia dan puas dengan pekerjaannya. Dia tahu bahwa dia telah menemukan panggilannya dan dia siap untuk terus bekerja keras dan mengambil tantangan yang lebih besar di masa depan.
Tak hanya Agam, Harry juga mulai mengerjakan pekerjaannya sebagai manager di perusahaan itu. Kebetulan posisi itu kosong dan Harry juga memiliki pengalaman sebagai manager sebelum meneruskan bengkel ayahnya.
Sore harinya Agam selesai bekerja lebih cepat. Dia memutuskan untuk mampir ke toko makanan favorit istrinya untuk membeli makan malam. Saat dia berjalan di trotoar, dia melihat seseorang yang tampaknya mengenali dirinya.
"Tunggu sebentar, kak Agam?" terdengar suara dari orang tersebut.
Agam berbalik dan terkejut melihat adiknya Zafran yang berdiri di dekatnya.
"Zafran! Apa kabar?" sapa Agam sambil memberikan pelukan pada adiknya.
"Wow, kak Agam. Kau tampak sangat berbeda hari ini," kata Zafran dengan nada mencemooh.
Agam melihat ke arah dirinya dan menyadari bahwa dia mengenakan setelan jas hitam yang cukup formal. Dia tersenyum dan menjawab, "Yah, aku harus terlihat rapi sebagai CEO baru di Perusahaan Francisco Group."
Zafran terlihat lebih terkejut lagi mendengar jawaban Agam. "CEO? Kau bercanda, kan?"
Agam menggelengkan kepala dan menjawab, "Tidak, aku serius. Aku baru saja diangkat sebagai CEO beberapa minggu yang lalu."
Zafran masih terlihat tidak percaya. Dia bertanya lagi, "Kau, kak Agam? Siapa yang mempekerjakanmu sebagai CEO?"
Agam merasa sedikit tersinggung dengan pertanyaan Zafran. Namun, dia memahami bahwa adiknya tidak akan tahu tentang pekerjaannya karena mereka jarang bertemu.
__ADS_1
"Perusahaan Francisco Group mempekerjakanku untuk mengembangkan bisnis mereka. Aku sudah mempelajari semuanya dan berusaha memastikan bahwa perusahaan berjalan dengan baik," jelas Agam.
"Apa?" Zafran terkejut. Benarkah Agam bekerja di perusahaan besar itu?