Istri Sampah Kini Berlian

Istri Sampah Kini Berlian
Begini Rasanya Jadi Orang Miskin


__ADS_3

"Cassandra!" panggil Safira.


"Aku akan ke sana. Terimakasih ya Safira," ucap Cassandra.


Safira mengangguk. Dia menepuk lengan Cassandra.


"Semoga semuanya baik-baik saja," ucap Safira.


Cassandra mengangguk. Kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu. Dia berjalan menuju ruang kepala sekolah. Cassandra mengetuk pintu. Setelah diizinkan barulah masuk ke dalam. Dalam hatinya dia mengucapkan basmalah. Cassandra sedikit khawatir. Biar bagaimanapun gosip penggerebekan dirinya dan Agam santer terdengar sampai sekolah.


"Assalamu'alaikum," sapa Cassandra.


"Wa'alaikumsallam," sahut laki-laki paruh baya. Dia bernama Umar Sodikin. Kepala sekolah SD Nusa Bangsa. Di dalam ruangan itu ada wakil kepala sekolah juga. Dia bernama Zaenab Rohayati. Mereka berdua begitu disegani di sekolah. Cassandra juga begitu menghormatinya. Bukan karena kedudukan tapi karena mereka memang baik dan bertanggungjawab.


"Wa'alaikumsallam," tambah Zaenab.


"Duduklah Cassandra!" titah Umar.


Cassandra mengangguk. Dia duduk di sofa. Cassandra menarik nafas panjangnya. Dia menyerahkan segalanya pada Allah SWT. Dia yakin segala sesuatunya sudah diatur olehNya.


"Cassandra, maksud dan tujuanku memanggilmu ke ruanganku untuk membahas gosip yang menyebar luas di luaran," ucap Umar.


"Iya Cassandra. Kita selaku pihak sekolah sedikit terganggu. Karena mereka menyangkut pautkan gosip itu dengan citra sekolah kita," tambah Zaenab.


"Saya bisa memahami itu. Apa yang terjadi kemarin pasti sudah mencoreng nama baik sekolah," sahut Cassandra.


"Sebenarnya kita tidak percaya dengan gosip itu. Apalagi kita sudah mengenalmu sejak lama. Hanya saja kita berada di bawah naungan instansi pendidikan. Gosip seperti ini bisa menjatuhkan kredibilitas guru yang seharusnya menjadi contoh dan teladan yang baik," ucap Umar. Secara pribadi Umar percaya pada Cassandra hanya saja dia seorang pimpinan tinggi di sekolah. Dia harus memikirkan nama baik dan kelangsungan sekolahnya. Kemajuan sekolah dan kepercayaan masyarakat tergantung kinerjanya selama memimpin.


"Iya Cassandra. Kalau masyarakat ragu dan takut menyekolahkan anak-anaknya karena gosip ini tentu akan merugikan sekolah kita. Selain itu peraturan tetap harus ditegakkan. Apa yang terjadi padamu secara tidak langsung menciderai norma yang ada di masyarakat kita," tambah Zaenab. Sama seperti Umar, dia juga harus memutuskan atas nama sekolah. Tempatnya bekerja dan memimpin.


"Saya sudah ikhlas dengan keputusan yang akan dikeluarkan oleh bapak Umar dan Ibu Zaenab. Saya tahu apapun itu untuk kebaikan bersama," jawab Cassandra. Dia paham ke arah mana pembicaraan mereka berdua. Cassandra sudah menyiapkan mentalnya.


"Terimakasih Cassandra, kau sudah memahami posisi kita. Untuk itu kita akan memberhentikanmu secara hormat. Semoga Allah memberimu pekerjaan yang jauh lebih baik dari ini," ucap Umar.


"Sama-sama Pak, amin," sahut Cassandra. Dia hanya manusia yang berencana. Tapi Allah tetap yang menentukan. Di mana pun dia berada dan bekerja Allah akan selalu bersamanya. Tidak peduli siapa dia dan seberapa banyak amalannya. Allah tidak akan meninggalkan hambaNya.


"Cassandra, maafkan kita ya? Keputusan ini terpaksa harus kita pilih untuk kepentingan banyak orang," ucap Zaenab.


"Iya Bu, saya bisa mengerti." Cassandra tahu tidak selamanya akan berjalan sesuai keinginannya. Kadang kala menyakitkan dan membuatnya menangis.


"Terimakasih atas semua ilmu dan kesempatan yang bapak dan ibu berikan pada saya selama ini. Saya senang bisa mengajar di sini. Apalagi anak-anaknya menyenangkan," sahut Cassandra.


Umar dan Zaenab mengangguk. Sebenarnya mereka tidak ingin Cassandra dipecat. Wanita cantik itu sangat baik dan sholeha.


Cassandra keluar dari ruangan kepala sekolah. Tubuhnya terasa lemas. Sekarang Cassandra sudah tidak memiliki pekerjaan lagi. Apalagi kondisi keuangannya sedang tidak baik.


"Ya Allah hamba ikhlas. Jika ini memang jalan takdirku. Berikan hamba kekuatan dan kesabaran untuk melewati semuanya! Jangan tinggalkan hamba jika semuanya pergi meninggalkanku Ya Allah! Karena ku tahu Engkau selalu ada untukku," batin Cassandra. Dia berjalan dengan berat hati. Sekarang Cassandra harus menatap ke depan. Dia yakin ketika satu pintu tertutup ada pintu-pintu lain yang terbuka.


"Cassandra!" panggil Safira.


Cassandra menoleh. Dia melihat sahabatnya menghampirinya.


"Safira!" sahut Cassandra.


"Bagaimana? Apa yang Pak Umar bicarakan padamu?" tanya Safira.


"Kita duduk di sana ya Safira!" ajak Cassandra sambil menunjuk kursi di dekat tiang koridor.


Safira mengangguk. Mereka berdua duduk di kursi. Cassandra tampak murung meskipun berusaha tersenyum.


"Cassandra, apa ini ada hubungannya dengan gosip yang menyebar di sini?" tanya Safira.

__ADS_1


"Iya, sepertinya aku harus mencari pekerjaan baru," jawab Cassandra.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un. Sabar ya Cassandra. Aku yakin Allah sudah menyiapkan yang terbaik untukmu," ucap Safira.


"Amin, terimakasih Safira," sahut Cassandra. Dia berusaha tersenyum. Meski hatinya bersedih.


"Sekarang rencanamu apa?" tanya Safira.


"Belum tahu, tapi aku akan mencari pekerjaan lain," jawab Cassandra.


"Bagaimana kalau kau bekerja di agen sembako milik pamanku?" tanya Safira.


"Memang ada lowongan?" tanya Cassandra balik.


"Ada jadi kasir atau penata barang," jawab Safira.


Cassandra terdiam.


"Gajinya sama dengan bekerja di sini. Malah dapat makan," tambah Safira. Dia berusaha membantu Cassandra. Safira tahu Cassandra sahabatnya sedang kesulitan.


"Aku bicarakan dengan suamiku dulu ya?" ujar Cassandra.


"Iya, nanti ku share alamatnya kalau kau sudah oke," jawab Safira.


Cassandra mengangguk.


"Terimakasih ya Safira," ucap Cassandra.


Safira mengangguk. Lalu memeluk Cassandra.


Cassandra terharu. Safira memang sahabat yang baik selalu ada disetiap kesusahannya.


Di tempat yang berbeda Agam berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Sekarang mencari pekerjaan tanpa ijazah miliknya susah. Orang tidak akan percaya kalau dia lulusan S2 di luar negeri. Apalagi penampilan Agam yang hanya mengenakan kaos dan celana kargo. Dia hanya jadi bahan tertawan. Agam sempat putus asa. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


"Kalau begini bagaimana aku bisa hidup? Untuk mendapatkan pekerjaan saja sulit," keluh Agam. Dia teringat saat dulu masih diatas. Dia pernah marah-marah pelamar kerja yang hanya lulusan SMA.


"Ini perusahaan besar. Tanpa pendidikan yang bagus dan kemampuan yang terbaik kau tidak bisa bekerja disini. Aku tidak akan membiarkanmu bekerja di perusahaanku. Aku hanya membutuhkan karyawan yang cerdas dan berpendidikan tinggi." Kata-kata itu terngiang di telinga Agam. Sekarang dia merasakan betapa sulitnya mencari pekerjaan dengan bermodalkan diri. Tanpa ijazah S2 miliknya. Dia hanya debu yang tidak ada harganya.


Agam duduk di bawah pohon. Dia sudah lelah ke sana ke mari. Perutnya lapar dan tenggorokannya haus. Agam memperhatikan orang-orang lulu lalang. Beberapa orang tampak mengemis dan ada yang mengambil barang-barang rongsokan di tempat sampah. Agam terdiam memikirkan hal itu.


Beberapa jam berlalu. Cassandra duduk di kontrakannya. Dia sudah menyiapkan makan sore untuk suaminya dan segelas teh hangat yang masih ada di plastik. Cassandra berharap Agam pulang cepat agar teh itu tidak dingin.


Ceklek ...


"Assalamu'alaikum," sapa Agam.


"Wa'alaikumsallam," sahut Cassandra. Bergegas wanita cantik itu menghampiri Agam. Dia mencium tangannya.


"Kau sudah pulang juga?" tanya Agam.


Cassandra mengangguk. Dia memperhatikan tubuh suaminya yang kotor dan bau. Keringat juga memenuhi tubuhnya.


"Agam, apa kau lelah?" tanya Cassandra. Dia meraba pipi laki-laki tampan itu.


"Iya, jadi orang miskin ternyata melelahkan," jawab Agam.


Cassandra tersenyum.


"Aku siapkan air mandinya ya?" ujar Cassandra.


Agam menutup pintu. Lalu memeluk Cassandra dari belakang.

__ADS_1


"Agam," ucap Cassandra terkejut.


"Gak papakan aku bau?" tanya Agam.


Cassandra mengangguk.


Agam mencium pipi Cassandra dan menghirup aroma wangi di rambut panjangnya.


"Agam," ucap Cassandra. Dia merasa Agam sedikit aneh.


Cassandra berbalik. Dia meraba kedua pipinya.


"Kenapa?" tanya Cassandra.


"Aku tidak bisa menjadi layak untukmu Cassandra. Aku hanya sampah," jawab Agam.


"Siapa bilang tak layak dan sampah? Kau suamiku. Kita akan lewati semua ini bersama-sama," sahut Cassandra.


Mata Agam berkaca-kaca. Benarkah wanita di depannya mau diajak hidup sulit? Agam mengenal banyak wanita di luar sana. Mereka menginginkan hidup mapan. Tidak ada yang mau memulai dari nol.


Cassandra mendekat dan mencium Agam. Sebaliknya Agam membalasnya. Lalu membopong Cassandra masuk ke dalam toilet.


"Agam mau apa?" tanya Cassandra.


Agam hanya tersenyum.


Beberapa saat kemudian mereka berdua tersenyum-senyum keluar dari toilet. Agam memegang tangan Cassandra.


"Aku lapar, apa ada makanan untukku?" tanya Agam.


"Ada, aku sudah siapkan," jawab Cassandra.


Agam dan Cassandra masuk ruang depan. Mereka duduk bersama. Agam terus menempel di dekat Cassandra.


"Agam, gak papakan lauknya hanya ini?" tanya Cassandra. Nasi dengan lauk pauk seadanya. Hanya telor, tempe dan tumis buncis.


"Gak papa, aku sudah mulai terbiasa miskin. Meski ini menyebalkan," jawab Agam.


Cassandra tersenyum.


"Kalau begitu kita makan!" ajak Cassandra.


Agam mengangguk.


Mereka berdua berdoa lalu makan dengan lahapnya. Khususnya Agam. Dari tadi dia belum makan. Makanan itu terasa sangat enak. Padahal hanya dengan lauk pauk seadanya. Dia seperti orang yang belum makan berhari-hari.


"Agam, memangnya enak ya?" tanya Cassandra. Dia tahu suaminya pasti tidak terbiasa makan seadanya tapi dari cara makannya suaminya begitu menikmati makanan itu.


"Ternyata rasa enak itu datang disaat kita lapar dan tidak punya uang," jawab Agam.


Cassandra tersenyum. Memang nikmat lebih sering dirasakan orang-orang yang kekurangan. Makanan seadanya pun akan terasa enak. Bukan karena harga atau kualitas tapi rasa bersyukur dan ikhlas yang membuat semuanya terasa enak dan nikmat.


Setelah makan Agam menempel pada Cassandra. Dia memangku istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Cassandra, ini untukmu," ucap Agam memberikan uang di sakunya pada istrinya.


Cassandra menerima uang itu. Recehan tapi cukup banyak.


"Agam, apa kau sudah mendapatkan pekerjaan?" tanya Cassandra.


"Sudah, makanya aku punya uang," jawab Agam.

__ADS_1


"Pekerjaan apa?" tanya Cassandra.


Agam terdiam sejenak. Haruskah dia memberi tahu Cassandra?


__ADS_2