
Kasir menggesek kartu itu. Semua kue yang dipilih Emma sudah dibayar Agam.
"Ini kartunya Tuan!" Kasir memberikan kartu itu kembali pada Agam.
Agam mengangguk dan tersenyum tipis.
"Mi!" ucap Agam.
"Agam, untuk apa kau membayarkan tagihanku?" tanya Emma.
"Untuk melakukan apa yang seharusnya ku lakukan sebagai anak," jawab Agam. Dia melakukan semua itu karena menyayangi ibunya terlepas atas apa yang dia lakukan padanya.
"Kalau begitu kenapa kau tidak tinggalkan Cassandra? Itu baru yang ku inginkan," sahut Emma.
"Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan Cassandra!" tegas Agam. Dia lebih rela kehilangan semua fasilitasnya dari pada kehilangan Cassandra.
"Keras kepala hanya untuk wanita murahan itu," sahut Emma.
Disela-sela obrolan mereka, kasir memberikan plastik belanjaan milik Emma.
"Makasih," ucap Emma.
Kasir mengangguk dan tersenyum ramah.
"Ngomong-ngomong kau dapat black card dari mana? Kau tidak menipu atau mencurikan Agam?" tanya Emma.
"Alhamdulillah tidak Mi, aku mendapatkan kartu karena rejeki dari Allah," jawab Agam.
"Heh! Kau percaya hal bodoh seperti itu," sahut Emma. Dia tidak mempercayai putranya. Dia mengira putranya dipengaruhi Cassandra untuk melakukan hal buruk demi membahagiakannya.
Agam hanya diam dan tersenyum tipis.
"Mi, salam untuk Papa ya!" ucap Agam.
Emma tak menggubris. Dia meninggalkan tempat itu membawa barang belanjaan di keranjang karena lumayan banyak.
Sementara itu, Agam membayar barang belanjaannya. Kemudian dia dan Cassandra pergi ke rumah Harry. Sahabat Agam itu tinggal di rumah sederhana bersama kedua orangtuanya dan adik-adiknya yang masih sekolah. Ayahnya bernama Bagus Tejo dan ibunya bernama Lina Marlina. Dia memiliki dua adik yang bernama Sisil Retnowati yang masih duduk di bangku perkuliahan dan Fuad Bawazier yang duduk di bangku SMA. Kedatangan Agam dan Cassandra disambut dengan hangat oleh keluarga Harry. Mereka mengobrol santai di ruang tamu.
"Beginilah gubuk kami Nak Agam," ucap Bagus.
"Alhamdulillah, ini tempat yang nyaman dan hangat Pak Bagus," sahut Agam. Baginya, rumah tidak harus mewah dan megah tapi hangat dan penuh cinta bersama keluarganya.
"Iya Nak, rumah kami memang sederhana tapi Alhamdulillah kami bahagia dan selalu bersama," jawab Bagus.
"Iyalah Pak, kebersamaan itu lebih berharga dari apapun," tambah Harry.
Agam hanya mengangguk. Apa yang dikatakan Harry memang benar. Dia jadi teringat keluarganya. Hal seperti ini sangat jarang. Hanya harta dan harta yang kerap jadi pembahasan keluarga.
"Nak Agam, masih ingat bapak dan ibukan?" tanya Bagus.
__ADS_1
"Masih Pak, dulu saya pernah bertemu bapak dan ibu saat pengambilan raport dan kelulusan Harry," jawab Agam.
"Alhamdulillah, kalau Nak Agam masih ingat," sahut Bagus.
Agam dan Cassandra tersenyum ramah pada keluarga Harry. Sudah seperti keluarga sendiri.
"Padahal sudah lama tidak bertemu ya Nak, kau dan Harry juga kuliah di tempat yang berbeda," ucap Lina.
"Iya Bu, tapi saya ingat waktu kita foto bersama," jawab Agam.
"Aku juga masih inget. Waktu itu bapak lupa bawa bunga mawar untukku," sahut Harry.
"Yaelah kak, masa cowok mesti dapat bunga mawar," sanggah Sisil.
"Tapikan hari spesial," sahut Harry.
Mereka tertawa bahagia bersama. Kemudian mereka makan bersama lesehan di karpet. Agam dan Cassandra duduk berdekatan. Mereka menikmati makanan khas Sunda. Dengan nasi liwet, sambal pete, ikan asin, tahu tempe goreng, ayam goreng dan tumis kangkung.
"Nak Agam, lauk pauknya hanya ini. Ndak papakan?" ucap Bagus. Dia tahu Agam anak orang berada. Berbeda dengan keluarganya yang sederhana.
"Alhamdulillah Pak, ini sudah lebih dari cukup. Saya dan istri justru berterimakasih atas jamuannya," jawab Agam.
"Sama-sama Nak," sahut Bagus.
"Santai Pak! Agam sekarang udah jinak sama orang miskin," canda Harry. Dia tahu dulu Agam arogan dan paling tidak suka orang miskin. Meskipun dia masih mau berteman dengan Harry karena satu frekuensi.
"Harry, tidak boleh begitu," sahut Bagus.
"Alhamdulillah, itulah mengapa pentingnya memiliki istri yang soleha. Hidup kita jauh lebih bahagia dan memiliki tujuan yang pasti," sahut Bagas.
"Iya Pak," jawab Agam. Lalu dia tersenyum pada Cassandra dan menatap wajah cantiknya. Dia beruntung memiliki Cassandra. Hidupnya kini jauh lebih bahagia dan memiliki tujuan yang pasti. Menunju surgaNya Allah.
"Ayo Pak kita makan!" ajak Lina.
"Eh iya, jadi lupa nawarin Nak Agam makan. Malah sibuk ngobrol," sahut Bagas.
"Bapak keasyikan sih," jawab Sisil.
Mereka tertawa bersama. Begitu hangat suasana di ruangan itu sampai mereka makan pun tetap terasa kehangatan dan kekeluargaan. Sehingga makanan sederhana itu dinikmati dengan penuh kenikmatan.
Setelah makan, Agam dan Harry mengobrol berdua di teras. Sedangkan Cassandra belajar menjahit bersama Lina dan Sisil. Kedepan dia ingin memiliki usaha yang bisa dikerjakan di rumah agar bisa mengurus keluarga dan membantu perekonomian keluarga. Atau sekedar meluangkan hobi dan kesibukan.
"Begini caranya!" Lina mengajari Cassandra menjahit. Begitupun Sisil yang membantu menerangkan cara menggambar pola dan menggambar desain bajunya.
Cassandra mendengarkan dan memperhatikan setiap ilmu yang didapatkan. Dia ingin bisa berkarya dan tetap mengutamakan keluarganya.
Di teras, Agam dan Harry berbicara empat mata.
"Harry, mulai besok aku ingin mengundurkan diri dari bengkel," ucap Agam.
__ADS_1
"Mengundurkan diri Gam?" Harry terkejut. Padahal tadi dia dan Agam membicarakan masa depan bengkel dan kemajuan bengkel yang mulai terasa.
"Iya," jawab Agam.
"Apa kau sudah memiliki pekerjaan yang lebih baik Gam? Aku tahu di bengkelku penghasilanmu kecil jika dibandingkan gajimu sebelumnya," ucap Harry. Dia tahu bengkelnya kecil tidak mungkin bisa membuat hidup Agam seperti dulu lagi.
"Aku memang sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik Har, gajinya jauh lebih banyak," sahut Agam.
"Kalau begitu sebagai sahabat aku hanya bisa mengikhlaskanmu pergi. Aku tahu kau membutuhkan pekerjaan itu untukmu dan Cassandra. Untuk keluarga kecilmu nanti," ucap Harry. Dia tidak bisa menahan Agam untuk tinggal dan bekerja di bengkel miliknya. Agam harus realistis dan memikirkan masa depan keluarganya.
"Makasih Harry, kau memang sahabatku. Tapi aku tidak ingin sendirian," sahut Agam.
"Maksudnya?" tanya Harry penasaran.
"Aku ingin bekerja di tempat itu bersamamu Harry," jawab Agam. Dia ingin Harry juga merasakan kebahagiaan yang sama dengannya.
"Beneran Gam?" tanya Harry. Selama ini dia kesulitan mendapatkan pekerjaan. Makanya memilih meneruskan bengkel milik ayahnya. Meskipun sepi dan jarang menghasilkan uang untuk pemasukan keluarga.
"Iya Har, kita akan bekerja di sana," jawab Agam.
"Alhamdulillah, terimakasih Gam. Kau memang sahabat yang baik. Kau mau mengajakku bekerja bersamamu," sahut Harry.
Agam mengangguk. Dia senang Harry mau ikut bersamanya.
"Terus bengkelmu gimana?" tanya Agam.
"Ada bapak dan Fuad. Insya Allah bengkel baik-baik aja. Aku ingin memiliki masa depan lebih baik. Untuk membantu keluarga dan modal nikah Gam," jawab Harry.
Agam mengangguk sambil menepuk bahu Harry dengan pelan.
Di tempat yang berbeda, Emma pergi ke rumah sakit. Dia baru saja mengantarkan kue-kue yang dibelinya ke acara sahabatnya. Barulah pergi ke rumah sakit karena Zafran memberi kabar kalau Elena dirawat.
Emma melangkahkan kakinya menuju ruang rawat inap. Perlahan dia membuka pintu ruangan dimana Elena dirawat.
Ceklek ...
Emma masuk ke dalam ruangan itu. Terlihat Zafran sedang menemani Elena yang berbaring di atas ranjang.
"Elena, kau baik-baik saja?" tanya Emma.
"Iya Ma, aku baik-baik saja," jawab Elena.
Emma duduk di seberang Zafran. Dia memperhatikan wajah anaknya yang tampak kusut.
"Syukurlah kalau begitu, Mama senang mendengarnya," sahut Emma.
Elena mengangguk dan tersenyum.
"Zafran, Elena sakit apa?" tanya Emma.
__ADS_1
Deg ...
Mereka berdua sama-sama terkejut dengan pertanyaan dari Emma. Wajahnya tampak tegang menatap wanita paruh baya itu.