Istri Sampah Kini Berlian

Istri Sampah Kini Berlian
Sultan Dadakan


__ADS_3

"Sebentar lagi orangnya akan datang. Nanti kau akan tahu," jawab Anton. Dia merasa lebih baik Renaldi bertemu langsung dengan orang yang akan membeli rumahnya.


Renaldi menganggukkan kepalanya.


Mereka kembali mengobrol seperti sebelumnya sambil menunggu kedatangan orang yang membeli rumah itu.


"Assalamualaikum!" ucap Agam dan Cassandra.


"Wa'alaikumsallam!" sahut Anton dan Renaldi. Mereka berdua melirik ke arah pintu. Dua orang baru saja datang. Renaldi terbelalak menatap dua orang yang berdiri tak jauh darinya.


"Nak Agam, akhirnya kau datang juga. Mari masuk!" ajak Anton.


Renaldi masih tercengang dengan kedatangan putranya.


"Iya Pak Anton!" jawab Agam. Dia mengajak Cassandra duduk di sofa bersamanya.


"Agam!" ucap Renaldi. Dia tidak tahu untuk urusan apa anak dan menantunya datang ke rumah itu.


"Papa!" ucap Agam. Mereka berdua saling menatap sesaat.


"Renaldi, kau kenal anak muda di depanmu kan?" tanya Anton.


Renaldi menganggukkan kepalanya. Sudah pasti kenal. Laki-laki muda itu anaknya.


"Agam putramu yang membeli rumahku," ucap Anton. Dia sengaja belum memberitahu Renaldi agar dia tahu secara langsung saat bertemu Agam.


"Apa?" Renaldi terkejut bukan main. Putranya yang sudah membeli rumah besar itu.


"Iya Pa, aku membeli rumah ini untuk tempat tinggalku dan Cassandra," jawab Agam menjelaskan. Dia tahu Papanya pasti tidak percaya kalau dia yang membeli rumah itu.


"Tidak mungkin! Dari mana kau punya uang membeli rumah ini Agam?" ucap Renaldi.


"Agam sudah membayarnya. Rumah ini resmi menjadi miliknya," jawab Anton menjelaskan pada Renaldi.


"Anton, kau tidak sedang bercandakan?" tanya Renaldi. Dia masih saja belum percaya.


"Tidak, rumahku sudah ku jual pada anakmu," jawab Anton.


Renaldi terdiam. Dia merasa seperti mimpi. Agam bisa membeli rumah dengan harga milyaran. Padahal dia sudah membekukan semua fasilitas yang pernah Renaldi berikan padanya.


"Gimana Nak Agam?" tanya Anton sambil menemani Agam dan Cassandra jalan-jalan mengelilingi rumahnya itu.


"Aku suka. Iyakan sayang?" tanya Agam pada istrinya.


"Iya sayang, alhamdulillah," jawab Cassandra. Baginya ini sudah lebih dari cukup. Tinggal di kontrakan saja sudah membuatnya bahagia apalagi di rumah besar itu. Seakan dia mendapatkan kebahagiaan yang berlipat ganda.


"Kalau gitu hari ini serah terima rumah ini ya secara langsung karena besok aku akan pergi ke luar negeri menyusul anak dan istriku," ucap Anton.


Agam menganggukkan kepalanya.


Serah terima secara hukum sudah dilakukannya sejak lama. Tapi sekarang serah terima secara langsung dan perpisahan Anton pada pemilik rumahnya.

__ADS_1


"Semoga rumah ini membawa berkah untuk Nak Agam dan Nak Cassandra," ucap Anton.


"Amin," jawab Agam dan Cassandra.


Anton menjabat tangan Agam begitupun sebaliknya. Mereka tersenyum bersama dan saling menatap.


"Selamat ya Nak Agam! Aku titipkan rumah ini padamu," ucap Anton.


"Iya Pak Anton, terimakasih," sahut Agam.


Anton berpamitan. Kemudian dia meninggalkan tempat itu. Tinggal dua orang yang masih memandangi rumah besar itu. Tangan Agam tak sedikitpun lepas dari tangan Cassandra.


"Kau suka sayang?" tanya Agam lagi.


"Alhamdulillah, dimanapun asal bersamamu. Insya Allah suka," jawab Cassandra.


Agam mendekat. Dia menatap wajah cantik Cassandra lalu menciumnya.


"Aku juga, dimanapun asal ada Cassandra. Aku akan ikut," jawab Agam.


Cassandra memeluk Agam. Laki-laki arogan itu sudah berubah jadi laki-laki hangat dan penuh cinta.


"I Love You," bisik Agam lalu membopong Cassandra.


"I Love You Too," sahut Cassandra.


Agam tersenyum manis mendengarnya. Dia berjalan menuju lantai atas sambil membopong istrinya.


"Kita mau kemana sayang?" tanya Cassandra.


"Kamar kita? ..." Cassandra ingin melanjutkan kata-katanya, tapi Agam sudah mengunci mulutnya dengan ciuman manis.


Pintu kamar dibuka pelan. Agam membaringkan istrinya di atas ranjang. Dia memandangi wajah istrinya dengan tatapan penuh cinta.


"Sayang, aku ingin selalu bersamamu. Karena aku bahagia saat kau dalam hidupku," ucap Agam.


Cassandra mengangguk. Kedua netranya berkaca-kaca menatap wajah tampan Agam.


Cup


Agam mencium kening Cassandra dengan lembut.


Siang yang penuh warna untuk dua insan yang sedang jatuh cinta. Tak ada lembar yang tersisa. Tak ada batas yang menghalangi. Semua menyatu dan menutup seperti sebuah botol yang menjadi satu bagian. Mereka menikmati kebebasan dan kebersamaan dalam cinta yang suci.


"Apa Pa? Agam beli rumah baru?" Emma terkejut bukan main mendengarnya. Agam yang diusir dari rumahnya kini berubah menjadi milyader dadakan.


"Iya Ma, aku juga tidak tahu kalau tadi tidak main ke rumah Anton," jawab Renaldi.


"Rumah Antonkan lumayan bagus Pa, berarti Agam punya uang banyak dong," ucap Emma. Tidak mungkin Agam bisa membeli rumah besar kalau dia tidak memiliki uang.


"Sepertinya, tapi aku tidak tahu dari mana Agam punya uang sebanyak itu," jawab Renaldi. Tadi dia langsung pulang dan tak sempat bertanya apapun pada anaknya ataupun menyapanya.

__ADS_1


"Apa Agam jadi pengusaha Pa?" tanya Emma.


"Gak tahu, tapi uang dari mana untuk modalnya?" jawab Renaldi. Dia ingat betul saat mengusir Agam dari rumahnya, anaknya itu tidak membawa uang sepeserpun apalagi barang.


"Iya juga Pa, lagi pula Agamkan belum lama keluar dari rumah kita. Masa langsung punya rumah baru Pa," ucap Emma. Dia tak habis pikir dari mana anaknya mendapatkan uang banyak padahal belum lama ini keluar dari rumahnya.


"Itulah yang membuatku penasaran. Dari mana anak itu mendapatkan uang," sahut Renaldi. Wajahnya tampak murung dan memikirkan sesuatu.


"Apa Agam punya bisnis haram?" tanya Emma.


"Bisnis haram gimana?" jawab Renaldi. Dia penasaran dengan apa yang dikatakan istrinya.


"Itu Pa jualan narkoba. Macam mafia gitu. Duitnya kan kenceng," sahut Emma. Justru dia menuduh putranya berbuat yang tidak tidak sampai dia bisa membeli rumah besar.


"Masa sih Ma, Agam anak baik-baik. Dari dulu berprestasi dan lempeng-lempeng aja," jawab Renaldi. Tidak ada yang aneh dari anaknya. Dari dulu Agam selalu menjadi anak yang membanggakan dan tidak pernah melakukan hal-hal negatif. Apalagi yang melanggar hukum.


"Iya juga sih Pa. Agam tidak mungkin melakukan itu," sahut Emma. Apa yang dikatakan suaminya memang benar. Mana mungkin Agam melakukan hal yang salah seperti itu.


"Tidak mungkinkan Agam mendapatkan lotre atau berjudi?" ucap Renaldi yang masih penasaran.


"Gak tahu Pa, banyak kemungkinan," jawab Emma.


"Iya juga Ma, yang jelas Agam sudah berubah lebih baik secara finansial," ucap Renaldi.


Emma menganggukkan kepalanya.


"Pa, aku masih penasaran. Dari mana Agam dapat uang sebanyak itu," ucap Emma.


"Iya Ma, seperti mimpi dan dongeng," sahut Renaldi.


"Aku jadi penasaran. Masa iya Agam udah sukses?" ucap Emma. Entah kenapa sebelum melihatnya sendiri dia belum percaya.


"Bisa jadi Mi, dia saja mampu membeli rumahnya Anton," jawab Renaldi.


"Kalau gitu percuma dong rencana kita memisahkan Agam dan Cassandra. Agam akan semakin kuat mempertahankan Cassandra," ucap Emma.


Renaldi terdiam. Dia juga bingung memikirkan ucapan istrinya.


"Agam tidak akan pernah kembali ke rumah kita Pa," ucap Emma.


"Kau benar. Aku pikir Agam akan menyerah dan balik ke rumah kita," sahut Renaldi.


"Padahal ponakanku sudah setuju ke sini Pa," jawab Emma.


Renaldi terdiam. Dia juga bingung bagaimana mengembalikan Agam pada keluarganya.


"Apa ada orang yang memberikan kedudukan pada Agam?" ucap Renaldi.


"Maksud Papa, Agam mendapatkan jabatan yang tinggi?" tanya Emma.


Renaldi menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Itu benar, Agam memang mendapatkan jabatan yang tinggi," ucap Zafran masuk ke dalam ruang tamu.


Seketika dua orang itu terkejut mendengar apa yang dikatakan Zafran.


__ADS_2