Istri Sampah Kini Berlian

Istri Sampah Kini Berlian
Ditinggalkan


__ADS_3

"Kenapa wajahmu Khanza?" tanya Fahri. Dia melihat wajah Khanza buruk rupa. Tidak cantik seperti sebelumnya.


"Wajahku ..." Khanza mencari cadar yang tadi terjatuh di bawah.


"Ini!" Cassandra memberikan cadar milik Khanza padanya.


"Gak usah sok baik." Wanita buruk rupa itu bukannya berterima kasih malah mengambil dengan kasar dan berkata pedas padanya. Padahal niatan Cassandra baik ingin menolongnya.


Khanza bergegas menutup kembali wajahnya dengan cadar itu.


"Fahri, wajahku akan kembali seperti semula. Ini hanya kecelakaan kecil," ucap Khanza. Dia bangun dan menghampiri Fahri.


"Oh jadi kau menggunakan cadar itu untuk menutup wajah menjijikanmu itu?" sahut Fahri. Dia tidak menyangka wanita seperti Khanza sampai hati berbohong padanya. Bahkan menutupi wajah jeleknya hanya untuk menikah dengannya.


"Fahri, dengarkan penjelasanku dulu! Aku mengalami kecelakaan. Itu semua karena Cassandra," ucap Khanza.


"Kau pikir aku bodoh, aku menyesal menikahi wanita jelek sepertimu. Dasar pembohong!" sahut Fahri. Dia tidak ingin memiliki istri dengan wajah buruk rupa.


"Fahri! Aku bisa operasi plastik. Wajahku pasti akan kembali cantik," ucap Khanza. Dia memegang lengan Fahri agar tidak meninggalkan tempat itu. Namun sayangnya Fahri melepaskan tangan Khanza dari lengannya.


"Aku tidak sudi memiliki istri penipu sepertimu!" tegas Fahri. Kemudian dia meninggalkan tempat itu.


"Fahri!" teriak Khanza.


"Huh! Penipu!"


"Pembohong!"


Sorak orang-orang yang ada di ruangan itu. Mereka tidak habis pikir Bagaimana seorang wanita menipu pasangannya dengan menggunakan cadar.


"Khanza, ada apa?" tanya Monika. Dia menghampiri Khanza yang berada di tengah kerumunan massa.


"Anakmu sudah menipu anakku," jawab Sari. Dia tidak terima anaknya ditipu oleh anak dari Monika.


"Menipu bagaimana besan? Anakku anak yang baik," sahut Monika.


"Anakmu berwajah jelek. Dan kalian tidak memberitahu kami. Kau sengaja biar anakmu laku?" sanggah Sari. Orang tua mana yang ingin menikahkan anaknya dengan seorang buruk rupa.


"Itu tidak benar besan. Anakku hanya mengalami kecelakaan kecil. Nanti setelah operasi plastik wajahnya akan kembali cantik," sahut Monika berusaha menjelaskan pada pesannya tentang kondisi yang sekarang dialami Khanza.


"Oh jadi kau sengaja menikahkan anakmu dengan anakku biar bisa membiayainya operasi plastik?" ucap Sari. Dari awal dia sudah tidak suka dengan Monika. Tapi suaminya Keke untuk menjodohkan Fahri dengan Cassandra. Meskipun ujung-ujungnya mereka kecewa.


"Besan, tidak seperti itu. Fahri dan Khanza kan sudah suami istri. Wajarkan kalau Khanza melakukan perawatan untuk mempercantik dirinya. Semua ini demi Fahri," sahut Monika.

__ADS_1


"Kau dan keluargamu sama saja. Dulu Cassandra yang menipu kami. Padahal undangan sudah disebar. Sekarang kau dan putrimu itu. Kalian semua pembohong!" ucap Sari. Dia benar-benar marah dengan apa yang sudah terjadi. Merasa sudah ditipu berkali-kali oleh keluarga Pak Abdul.


"Besan dengarkan aku dulu! Semua ini gak benar," sahut Monika berusaha untuk menghentikan kemarahan besannya.


"Ayo Ma! Papa juga kecewa. Sudah dua kali dibohongi keluarga Pak Abdul," ucap Hendra.


"Iya Pak, jangan sampai kita berurusan lagi dengan mereka!" sahut Sari.


Cassandra dan Agam hanya terdiam mereka tidak ingin ikut campur urusan keluarga Fahri dan Monika.


"Pak Hendra, anak kita sudah menikah. Aku rasa semua ini bisa dibicarakan baik-baik," ucap Abdul berusaha menahan besarnya untuk meninggalkan acara itu.


"Pak Abdul, aku dan keluargaku kecewa. Kalian sudah membohongi kami. Sebaiknya kau tahu diri. Sudah miskin malah menipu orang," sahut Hendra. Kemudian dia meninggalkan tempat itu bersama istrinya. Sedangkan Abdul terdiam di tempat. Dia benar-benar malu atas perbuatan istri dan anaknya. Ini kedua kalinya dia dipermalukan di depan umum. Pertama saat penggerebekan Cassandra dan Agam dan sekarang pernikahan Khanza yang bermasalah.


"Mas, jelaskan pada keluarga Hardian! Mereka tidak bisa meninggalkan keluarga kita begitu saja," ucap Monika menghampiri Abdul.


"Mereka benar, kita sudah mengecewakan," sahut Abdul. Lalu dia berjalan meninggalkan keramaian.


"Mas!" Monika berusaha berteriak tapi suaminya tidak menggubris. Laki-laki paruh baya itu tetap berjalan meninggalkan gedung itu.


Bergegas Cassandra berjalan mengikuti ayahnya disusul oleh Agam. Dia tahu hati ayahnya saat ini sedang terpuruk. Bagaimana Tidak sudah dua kali gagal merayakan pernikahan anaknya. Laki-laki paruh baya itu merasa tidak pantas menjadi seorang ayah dan orang tua untuk anak-anaknya.


"Bapak!" panggil Cassandra. Dia berjalan dengan cepat untuk menyusul ayahnya yang berjalan di tepi jalan.


"Pak!" Cassandra menyusul Abdul dan memegang tangannya.


"Apa lagi Nak?" tanya Abdul


"Maafin Cassandra ya Pak," jawab Cassandra. Dia tahu apa yang saat ini dirasakan ayahnya.


"Untuk apa minta maaf? Kau tidak salah Nak," sahut Abdul. Dia menghentikan langkahnya lalu membelai wajah putrinya.


"Tapi aku sudah mengecewakan bapak. Dulu pernikahanku dan Fahri batal sekarang pernikahan Khanza ..." Cassandra tak tega mengungkapkannya.


"Semua itu bukan salahmu. Tapi takdir. Apapun yang di dunia ini tidak luput dari suratan takdirnya," sahut Abdul.


Mata Cassandra berkaca-kaca. Dia benar-benar kasihan pada ayahnya. Cassandra sudah biasa dipermalukan tapi dia tidak terima ketika ayahnya harus dipermalukan juga.


Abdul memeluk Cassandra begitupun sebaliknya. Pelukan itu bisa mengobati rasa sakit yang dirasakan keduanya.


Beberapa saat kemudian ...


Bruuug ...

__ADS_1


Khanza berbaring di atas ranjang kamarnya. Dia sudah lelah seharian marah-marah dan kesal pada semua orang termasuk pada ibunya.


"Kau sudah lelah?" tanya Monika yang masuk ke dalam kamar anaknya.


"Aku tidak tahu lagi Bu. Pernikahanku digantung seperti ini. Fahri kabur begitu saja setelah melihat wajahku yang jelek ini," jawab Khanza. Dia menyesal kenapa tadi wajahnya yang buruk rupa tidak di make up saja ataupun menggunakan cara lain agar bisa tertutup. Malah mengikuti saran ibunya untuk mengenakan cadar.


"Itu semua karena kesalahanmu. Seharusnya kemarin kita tidak perlu mengundang Cassandra," sahut Monika. Dia jadi menyalahkan putrinya sendiri atas apa yang terjadi.


"Kok ibu nyalahin aku sih? Ibu juga setuju saat aku minta mengundang Cassandra," ucap Khanza. Tak terima disalahkan ibunya. Dia merasa semua ini bukan karena dirinya.


"Oke-oke, kita berdua salah. Tapi gara-gara semua ini. Rencana kita berantakan. Uang gak didapat malah malah malu yang kita dapatkan," sahut Monika.


"Iya Bu, aku malu banget. Semua orang mengejekku buruk rupa. Tetangga kita juga bilang begitu," jawab Khanza.


"Semua ini karena Cassandra. Dia itu pembawa sial dalam hidup kita," ucap Monika.


Khanza terdiam. Tangannya mengepal. Dia sangat membenci Cassandra.


***


Malam itu Cassandra duduk di teras kontrakan sambil melihat ke atas langit yang mulai gelap. Dari dalam agama membawa dua cangkir coklat hangat yang dibuatnya untuk mereka berdua. Dia duduk bersama Cassandra sambil melihat ke atas langit.


"Apa kau masih memikirkan yang tadi?" tanya Agam.


"Iya, aku mengkhawatirkan bapak," jawab Cassandra.


Agam memberikan coklat hangat pada istrinya.


"Minum dulu selagi hangat. Biar pikiranmu jauh lebih happy," ucap Agam.


Cassandra mengangguk. Dia dan aga menekuk coklat hangat itu bersama. Laki-laki Tampan itu membawa termos air panas dari bengkel agar bisa meneduh coklat panas bersama istrinya.


"Enak?" tanya Agam.


"Enak," jawab Cassandra usai menekuk coklat hangat itu.


"Ku rasa bapak butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Insya Allah besok atau lusa beliau akan kembali pulih," ucap Agam.


Cassandra tersenyum. Kemudian Agam menyandarkan kepalanya di bahunya dan menegang tangannya.


"Besok sore aku ingin menemui Tuan Andrian. Doakan ya sayang semoga rejeki untuk kita," ucap Agam.


Cassandra mengangguk. Tanpa diminta pun dia akan selalu mendoakan suaminya di setiap doa-doanya. Baik itu usai salat fardhu maupun salat sunnah.

__ADS_1


Agam membopong Cassandra masuk ke dalam rumah. Malam itu menjadi malam indah untuk mereka berdua merajut kasih sayang dan cinta. Apalagi keduanya ingin segera memiliki keturunan. Hal seperti ini dibutuhkan untuk pasangan pengantin baru seperti mereka.


__ADS_2