Istri Sampah Kini Berlian

Istri Sampah Kini Berlian
Usaha Tidak Mengkhianati Hasil


__ADS_3

"Agam!" ucapnya. Dia sangat mengenal laki-laki yang ada di depannya. Mereka pernah berteman saat masih badung dulu. Semasa SMA, Agam merupakan ketua geng saat mereka masih bersama.


"Harry!" sahut Agam. Dia tidak menyangka laki-laki di depannya itu sahabat lamanya. Meskipun wajahnya sedikit berubah dewasa tapi masih ada kemiripan dengan masa lalu. Karena Harry masih seperti dulu. Tinggi dan kekar.


Mereka langsung akrab dan berbaur. Bersalaman menggunakan salam khusus persahabatan yang dulu sering dilakukan. Salam adu jotos.


"Sudah lama tidak bertemu denganmu Agam. Ku lihat wajahmu diberbagai majalah bisnis," ucap Harry.


"Iya Harry, aku sibuk. Sampai tidak memiliki waktu untuk nongkrong ataupun bertemu denganmu," jawab Agam.


Harry memperhatikan penampilan Agam yang sudah berubah. Dulu Agam keren, berkelas dan semua barang yang dikenakannya branded. Tapi Agam yang di depannya tampak sederhana. Seperti satu kelas strata sosial dengannya.


"Agam, penampilanmu?" ujar Harry.


Agam melihat ke bawah. Memperhatikan penampilannya yang sekarang.


"Aku tahu pasti kau heran melihatku mengenakan baju inikan?" tanya Agam.


"Iya, aku tahu seperti apa keluargamu. Kau berasal dari keluarga terpandang. Mana mungkin berpenampilan seperti itu. Apa kau sedang melakukan sosial ekperimen?" jawab Harry.


Agam duduk di samping Harry. Dia membuang nafas gusarnya.


"Ini hidupku yang sekarang Harry," jawab Agam.


"Gak mungkin! Perusahaan keluargamu berkembang pesat. Tidak ada kabar kebangkrutannya. Mana mungkin kau jatuh miskin," sahut Harry. Dia tidak percaya kalau Agam jatuh miskin. Perusahaan yang dipimpin Agam sangat berkembang pesat dan sangat maju. Mustahil bangkrut dalam hitungan hari. Lagi pula tidak ada satupun media massa memberikan perusahaan itu bangkrut atau terlilit hutang.


"Aku serius," jawab Agam.


"Apa?" Harry terkejutnya. Bagaimana bisa Agam miskin? Harry bingung.


"Aku menikahi seorang wanita miskin. Itu sebabnya aku dicoret dari daftar ahli waris keluarga. Dan diusir dari rumah," jawab Agam.


"Astaga, ngenes amat nasibmu Gam," sahut Harry. Dia sih udah biasa hidup susah karena memang berasal dari keluarga yang sederhana. Sedangkan Agam berasal dari keluarga konglomerat, keluarga terpandang di Jakarta.


"Begitulah, tapi aku justru menemukan cinta sejatiku. Seorang wanita yang baik dan sholeha," ucap Agam.


"Alhamdulillah, berarti dia jodohmu Gam. Kau harus memperjuangkannya! Jangan menyerah karena sekarang kau miskin! Aku yakin kau akan jadi orang yang sukses dikemudian hari," sahut Harry.


"Amin," jawab Agam. Dia tersenyum. Bebannya mulai berkurang. Dia merasa hidupnya yang sekarang lebih baik.


"Oya, kenapa kau mengunjungi gubukku?" tanya Harry.


"Aku ingin bekerja disini. Apa kau mau buka lowongan kerja untukku?" tanya Agam.


"Kau tidak salah Gam? Aku tahu kau seorang CEO dari perusahaan besar. Apalah artinya tempat ini untukmu?" jawab Harry.


"Tidak, aku benar-benar ingin bekerja disini. Lagi pula sekarang aku bukan CEO. Aku hanya orang yang sedang mencari pekerjaan untuk menafkahi keluarga kecilku," sahut Agam. Tidak masalah kerja dimana asalkan dia bisa bekerja dengan baik dan hasilnya halal.


"Tapi upah disini kecil. Bahkan aku belum tentu mampu membayarmu dengan layak," ucap Harry.


"Untuk makanku setiap hari saja pendapatan disini belum bisa mencukupi kebutuhanku. Apalagi kau ingin menggantungkan hidup keluargamu di sini. Lebih baik kau cari tempat lain," tambah Harry. Dia tidak ingin Agam menyesal.


"Harry, aku akan berusaha disini. Berikan aku kesempatan!" pinta Agam.

__ADS_1


Harry terdiam. Bukannya dia tidak mau tapi dia kasihan melihat sahabatnya harus bekerja di tempat itu.


"Baiklah, tapi kau coba dulu beberapa hari. Kalau dirasa kurang bagus untukmu, kau bisa pergi dan mencari pekerjaan yang lebih baik lagi," jawab Harry. Tidak ada salahnya memberi kesempatan pada Agam. Toh Harry juga tidak bisa menjalankan bengkel ayahnya dengan baik. Dia tidak mengetahui banyak hal. Mungkin dengan adanya Agam bisa memajukan tempat itu.


"Iya, terimakasih Harry," sahut Agam.


Harry mengangguk.


Agam pun mulai membersihkan tempat itu dan merapikan barang-barang yang ada.


"Gam, gak usah capek-capek! Itu bukan pekerjaanmu!" seru Harry. Dia hanya duduk bersantai. Malas melakukan apapun. Menunggu pengunjung datang. Biasanya cuma tidur, main handphone atau makan camilan. Terkadang cuma bengong.


"Kalau tempatnya berantakan dan kotor, orang lain akan malas berkunjung. Hal pertama yang penting dalam bisnis adalah kenyamanan. Barulah pelayanan," jawab Agam. Dia sudah biasa berbisnis jadi tahu mana yang harus dilakukan.


"Baiklah, kau lebih tahu dariku," sahut Harry.


Agam tersenyum. Dia kembali membersihkan dan menata semua barang dengan baik. Bahkan membuat susunan yang mempermudah untuk mencari barang yang dibutuhkan.


"Gam, kau membuatku gak enak hati. Padahal kau dulu Bosku di sekolah," ucap Harry. Mau tak mau dia bangun dan membantu Agam. Dia tahu seperti apa Agam dulu. Mana pernah mau piket. Bersentuhan dengan sapupun hampir tidak pernah. Sekarang dia harus berkecimpung dengan semua barang yang dibencinya. Bahkan dia tidak mengeluh.


"Pasti wanita itu sangat spesial sampai kau seperti ini untuk memperjuangkannya," ucap Harry. Dia memindahkan barang ke tempat yang sudah dirapikan Agam.


"Tentu, dia seperti bidadari yang menyentuh hatimu yang keras dan dingin. Memberitaku kehangatan dan cinta," jawab Agam. Dia terdiam memikirkan malam indah semalam. Agam tersenyum-senyum.


"Jangan berpikir jorok sendirian! Transfer padaku juga!" pinta Harry.


"Kau belum menikahkan?" tanya Agam.


"Gak punya dana untuk ngempaninnya. Kau tahukan wanita sekarang matre," jawab Harry.


"Tapi itu tidak berlaku untuk istriku Cassandra. Dia menerima dompet kosongku. Bahkan mau hidup susah denganku tanpa syarat," ucap Agam. Dia beruntung bertemu wanita langka seperti Cassandra. Sudah cantik, sholeha, baik dan menerima Agam apa adanya.


"Alhamdulillah kalau kau bertemu wanita seperti itu. Semoga nular Gam. Biar dompet kosongku tidak jantungan tiap kali bertemu cewek cantik," sahut Harry.


Agam menepuk bahu Harry dan tersenyum.


"Kalau begitu kita harus giat bekerja. Mungkin besok atau lusa tempat ini akan ramai dan maju," ucap Agam.


Harry mengangguk.


Mereka berdua terus merapikan semua barang dan membersihkan setiap bagian sampai benar-benar bersih, rapi dan enak dipandang mata.


"Alhamdulillah, ini tempak kita mengais rejeki Har," ucap Agam. Dia berdiri menatap bengkel di depannya.


Harry terdiam. Dia tidak menggubris apa yang dikatakan Agam.


"Kau kenapa?" tanya Agam.


"Aku merasa berada di tempat lain. Bukan di bengkelku Gam," jawab Harry.


Agam memperhatikan kembali bemgkel di depannya.


"Benar juga, tempat ini seperti tempat baru yang lebih layak untuk disebut bengkel. Bukan tempat penampungan rongsokan seperti tadi," sahut Agam.

__ADS_1


Mereka berdua tertawa senang. Tempat itu sudah siap beroperasi dengan baik.


Beberapa saat kemudian ada satu orang yang mobilnya mogok tak jauh dari bengkel tempat Agam dan Harry bekerja. Orang itu datang ke bengkel. Menghampiri Agam dan Harry.


"Permisi!"


"Iya Pak," sahut Agam.


"Apa ini bengkel mobil ya?"


"Bengkel motor, tapi mobil juga bisa cuma sparepart-nya tidak lengkap. Hanya saja kita bisa menyiapkan sparepart yang dibutuhkan dari toko penjual sparepart mobil," jawab Harry.


"Ya sudah, kalau begitu bapak minta tolong. Mobil bapak mogok, bisakah anak muda memperbaikinya?" tanyanya.


"Insya Allah bisa Pak," jawab Agam. Dia perancang mobil. Tentu tahu bagian-bagian mobil. Dan cara memperbaikinya.


Laki-laki paruh baya itu menyerahkan mobilnya pada kedua anak muda itu. Bergegas Agam dan Harry memeriksa kondisi mobil. Kemudian mulai memperbaikinya. Harry memperhatikan Agam yang begitu teliti dan tahu satu demi satu bagian dari mesin mobil tersebut. Dia juga cepat mengetahui dimana kerusakannya.


"Harry ganti akinya!" titah Agam.


Harry mengangguk. Segera dia mengambil aki yang ada di bengkelnya lalu memberikan pada Agam. Laki-laki tampan itu segera menggantikan aki lama dengan aki batu. Dia juga memperbaiki yang lainnya dan mengganti sparepart setelah berkonsultasi dengan pemilik mobil.


Setelah itu Harry melakukan tes drive mengelilingi tempat itu. Dirasa sudah oke barulah diberikan pada pemiliknya.


"Terimakasih ya anak muda," ucapnya.


"Iya Pak," jawab Agam dan Harry.


Bapak itu membayar sejumlah uang untuk biaya perbaikan dan sparepart yang dipakai. Kemudian meninggalkan tempat itu.


"Alhamdulillah, penglaris Gam. Kau memang pembawa rejeki untuk tempat ini," ucap Harry.


"Alhamdulillah, rejeki itu datang dari Allah, aku hanya perantara," sahut Agam.


Harry mengangguk.


Tak lama ada motor yang datang. Agam dan Harry kembali bekerja. Sampai semuanya selesai.


Pukul 5 sore


Bengkel ditutup. Agam pamitan lalu meninggalkan tempat itu. Dia senang hari ini mendapatkan uang meskipun tak sebanyak uangnya dulu. Tapi cukup untuk makan bersama istrinya. Agam berjalan sambil tersenyum puas. Uang di tangannya benar-benar hasil kerja kerasnya.


"Sayang!" panggil seseorang dengan suara lembut menyejukkan hati.


Agam langsung menoleh. Cassandra terlihat di ujung jalan menghampirinya. Wanita itu terlihat cantik dan anggun.


Agam berjalan dengan cepat menghampiri Cassandra.


"Sayang!" sahut Agam.


Mereka bertemu disatu titik. Kedua memancarkan cinta yang membara.


Agam maju ke depan lalu mengangkat tubuh Cassandra ke dadanya.

__ADS_1


"Agam," ucap Cassandra. Dia menatap wajah suaminya.


__ADS_2