Istri Sampah Kini Berlian

Istri Sampah Kini Berlian
Cemburu Dengan Kemampuannya


__ADS_3

Cassandra bangun lebih pagi. Dia membeli nasi uduk dan beberapa gorengan untuk suaminya. Sebelum berangkat kerja Cassandra dan Agam sarapan bersama meski dengan lauk pauk sederhana. Agam juga sudah terbiasa makan seadanya. Apa yang terjadi padanya selama ini membuat dia membuka mata dan hatinya. Kesombongan tidak akan terus-menerus ada di atas karena kelak kesombongan itu akan jatuh seperti buah kelapa yang terjun bebas dari pohonnya. Meski berada di atas dia akan jatuh ke bawah juga.


"Pagi sayang!" Cassandra sudah menyiapkan semuanya di ruang depan. Dia menyapa Agam yang baru saja bangun setelah tidur usai salat subuh. Akan bekerja di bengkel tenaganya sangat dibutuhkan untuk bisa bekerja seharian. Itu sebabnya Cassandra membiarkan suaminya tidur lebih banyak untuk menyiapkan tenaganya.


"Pagi!" sahut Agam. Melihat Cassandra seperti melihat bunga yang baru saja mekar dan mewangi. Membuat Agam ingin mencium aromanya dan memetik bunga indah itu. Dia bangun dan menghampiri istrinya. Tak lain ingin mencium pipi kemerahannya.


"Kalau setiap pagi begini bagaimana aku bisa tahan seharian tanpamu," ucap Agam. Kata-kata romantis itu mewarnai pagi harinya.


"Benarkah? Tapi kalau aku terus berada di dekatmu bagaimana kau kerja sayang?" tanya Cassandra.


Agam memeluk Cassandra dari belakang.


"Baiklah, asal kau selalu ada di sisiku setiap aku ada di rumah itu sudah cukup," jawab Agam.


Cassandra mengangguk. Dia memang ingin selalu ada di sisi Agam.


"Sarapan dulu ya sayang!" ajak Cassandra.


Agam mengangguk.


Mereka berdua meninggalkan ruang tengah dan masuk ke ruang depan. Duduk bersama menikmati sarapan seadanya dengan nasi uduk dan beberapa gorengan. Bagi Agam sekarang makanan itu menjadi makanan favoritnya. Dia sudah belajar banyak hal untuk bisa menyesuaikan dirinya hidup seperti saat ini.


"Alhamdulillah, enak sayang apalagi makan bersama orang tercinta," ucap Agam.


"Alhamdulillah," sahut Cassandra.


"Hari ini pekerjaan numpuk di bengkel. Kemarin sore banyak yang naruh motor di bengkel," ucap Agam. Semenjak dia ada di bengkel itu banyak orang yang mempercayakan motornya untuk diperbaiki oleh Agam. Tangan dinginnya berhasil membuat banyak orang kagum dan ingin mendapatkan pelayanan darinya.


"Alhamdulillah, rejeki dari Allah," sahut Cassandra.


Agam mencolek dagu Cassandra.


"Semua ini karena doa-doa darimu. Kau sudah membuat Agam sang arogan berusaha untuk bekerja keras dan membuktikan diri dengan tanganku sendiri," ucap Agam.

__ADS_1


Cassandra mengangguk dan tersenyum. Doa-doa selalu diucapkan setiap kali selesai sholat. Agar Allah mempermudah dan melancarkan segala sesuatu yang saat ini dilakukan suaminya.


"Aku berangkat dulu ya sayang?" ucap Agam.


"Sekarang?" tanya Cassandra. Biasanya Agam berangkat agak siangan.


"Iya, memang kenapa? Mau Abang di rumah pagi ini?" tanya Agam sambil mengedipkan matanya.


"Gak juga, Abangkan harus kerja," sahut Cassandra.


Agam tersenyum lalu mencium Cassandra. Barulah dia berangkat kerja. Cassandra berangkat lebih siang karena hari ini Pak Husein ada acara keluarga jadi agen sembakonya buka di siang hari.


Di tempat yang berbeda Zafran sudah kembali bekerja di perusahaan. Dia harus mengadakan meeting pagi bersama beberapa jajaran stafnya. Meeting kali ini sedikit berbeda karena mereka membahas beberapa pemegang saham yang mundur.


"Gimana Bos? Para pemegang saham ricuh. Mereka ingin menarik sahamnya kembali."


"Sebagian minta jaminan keuntungan jika sahamnya tetap ada di perusahaan kita."


"Ada juga yang ingin mengambil sebagian sahamnya."


"Kalau begini terus perusahaan kita bisa merugi."


"Iya mana produksi kita menurun drastis."


"Permintaan konsumen juga semakin berkurang."


"Mereka sudah terlanjur menyukai sampel yang akan diluncurkan perusahaan kita. Tapi nyatanya justru tidak pernah terlaksana sampai saat ini."


Zafran terdiam. Dia bukan kakaknya yang bisa membuat desain mobil ataupun motor yang diinginkan customer. Apalagi dia tidak memiliki basic di bidang mekanik ataupun otomotif.


"Kalau begitu kita akan cari orang-orang yang memiliki bakat di bidangnya untuk meneruskan pekerjaan yang sudah ditinggalkan kakakku."


"Bagaimana kalau sampai gagal?"

__ADS_1


"Di negeri ini begitu banyak orang tidak mungkin tidak ada orang seperti kakakku," jawab Zafran.


"Tapi pemegang saham sudah terlanjur kecewa mereka sudah tidak ingin bernegosiasi lagi dengan perusahaan kita."


"Ya sudah kita ikuti kemauan para pemegang saham. Dan cari penanam saham baru!"


"Baiklah Bos!" Semua petinggi perusahaan akhirnya terpaksa mengikuti keputusan yang sudah diputuskan oleh Zafran sebagai pimpinannya. Meskipun mereka semua tidak begitu yakin apakah bisa seperti sebelumnya jika mengikuti saran dari Zafran.


Laki-laki muda itu keluar dari ruang meeting. Wajahnya tampak sedikit masam. Dia bukan marah karena masalah meeting. Tapi karena kredibilitasnya diragukan semua petinggi perusahaan. Seakan kakaknya hebat sedangkan dia tidak ada apa-apanya. Zafran Jadi iri dengan kakaknya sendiri yang sudah memajukan perusahaan itu.


"Apa sih hebatnya Agam? Aku pasti Bisa memimpin perusahaan jauh lebih baik darinya," batin Zafran. Dia merasa jauh lebih baik dari kakaknya. Mereka saja yang belum memberinya kesempatan. Zafran jadi males dibanding-bandingkan dengan kakaknya yang memiliki kemampuan di atasnya.


Zafran masuk ke dalam ruang CEO. Dia sempat menutup pintu dengan kencang. Dan duduk di kursinya dengan perasaan yang benar-benar tidak enak.


"Aku harus mencari orang-orang yang memang bisa mengatasi masalah ini dengan baik. Pasti banyak bakat-bakat di luar sana yang bisa menggantikan Agam. Dan aku bisa mengendalikan mereka untuk membuat perusahaan ini lebih baik," ucap Zafran.


Aga memang memiliki kemampuan yang lebih darinya sejak masih kecil. Hal itu sempat membuat Zafran merasa tidak percaya diri jika membahas masalah bisnis dengan kakaknya.


Dan sekarang dia justru harus memimpin perusahaan.


Restoran Venezuela


Elena duduk satu meja dengan Ken. Mereka sudah lama tidak pernah bertemu apalagi makan bersama. Semenjak Elena memilih Agam, dan harus kehilangan Elena dan membiarkan Elena bersama sahabatnya sendiri.


"Elena, aku senang kau mau mengajakku bertemu lagi," ucap Ken. Hal semacam ini sangat jarang dilakukan Elena kepadanya setelah mereka mengakhiri hubungannya. Padahal kan masih mencintai Elena.


"Ada yang ingin ku bicarakan Ken?" tanya Elena. Wajahnya tampak serius menatap laki-laki yang ada di depannya. Dia ingin menyampaikan sesuatu padanya. Semua itu untuk mengetahui apakah Ken ayah dari bayi yang dikandungnya atau bukan.


"Apa?" tanya Ken antusias untuk tahu apa yang ingin dibicarakan mereka berdua.


"Kau masih ingat malam pertama kita?" tanya Elena. Ken laki-laki yang sudah merenggut kegadisannya. Itu sebabnya dia ingin bertanya terlebih dahulu padanya.


"Ingat, kenapa? Apa kau ingin mengulangnya denganku?" tanya Ken. Obrolan itu begitu menarik untuknya. Ken masih ingat seberapa cantiknya Elena saat ada di dalam dekapannya.

__ADS_1


"Bukan itu yang ku inginkan," jawab Elena. Wajahnya masih sama dingin dan datar.


"Lalu apa?" tanya Ken. Dia penasaran.


__ADS_2