
"Iya, dari mana kau tahu Zafran?" tanya Elena. Dia memang tidak tahu seperti apa wajah laki-laki itu. Tapi dia masih ingat saat duduk di bar yang sama. Mereka duduk bersampingan meskipun Elena tidak memperhatikannya sampai dia mabuk.
Zafran langsung terdiam. Dia memegang kepala bagian sampingnya dengan kedua tangannya.
"Zafran, kenapa?" tanya Elena. Dia heran kenapa laki-laki itu tampak kacau.
"Laki-laki itu aku, Elena," jawab Zafran. Dia mengakui laki-laki yang dimaksud Elena itu dirinya sendiri. Saat malam tahun baru dia memang sedang patah hati karena hubungannya dan Cassandra pupus. Dia tidak bisa memperjuangkan hubungannya karena Zafran takut kehilangan semua fasilitas dari keluarganya.
"Apa?" Elena terkejut. Wajahnya terlihat kebingungan.
"Aku laki-laki yang sudah tidur denganmu di malam tahun baru," jawab Zafran.
Elena terdiam. Kepalanya geleng-geleng. Dia tidak percaya.
"Malam itu aku patah hati dan mabuk sepertimu. Kita mabuk sampai malam dan check in di hotel. Kita melakukan yang seharusnya tidak dilakukan," ucap Zafran.
"Jadi laki-laki itu kau Zafran?" tanya Elena memastikan.
"Iya, kemungkinan bayi yang kau kandung itu anakku," jawab Zafran.
Elena terdiam. Padahal niatnya menikah dengan Agam dan berujung menikah dengan Zafran yang kemungkinan ayah dari bayi yang dikandungnya.
Mereka berdua sama-sama terdiam. Tidak ada yang berkata satu kata pun.
***
Pagi itu hari libur. Agam ingin mengajak Cassandra jalan-jalan. Sekalian bersilaturahmi ke rumah Harry. Agam memegang tangan Cassandra menandakan dia sang pemilik wanita berhijab itu. Langkah kaki keduanya semakin ringan dan senyuman mengembang di wajah keduanya.
"Sayang, kita mau kemana?" tanya Cassandra.
"Mau mengajak istriku bersenang-senang," jawab Agam. Dari pertama menikah sampai sekarang mereka belum sempat bersenang-senang meskipun melakukan hal yang sederhana.
"Bersenang-senang kemana?" tanya Cassandra.
"Kau mau pergi ke taman bunga atau taman hiburan?" tanya Agam. Kedua tempat itu sudah lama tidak pernah dikunjunginya. Agam kurang suka bunga ataupun hal-hal yang berhubungan dengan permainan seperti yang ada di taman hiburan. Hanya saja dia harus menyenangkan istrinya. Hal yang tidak disukainya pun tidak masalah dilakukan olehnya.
"Taman bunga sepertinya lebih menyenangkan. Kita bisa melihat pemandangan yang indah," jawab Cassandra. Taman bunga tempat romantis untuk sepasang suami istri sepertinya.
"Baiklah, kita ke taman bunga sayang," sahut Agam.
Cassandra mengangguk.
Agam memesan taksi online. Hanya hitungan menit taksi itu sudah datang dan berhenti di depan keduanya.
"Sayang, kenapa naik taksi? Naik bus lebih murah," ucap Cassandra. Dia sudah terbiasa hidup serba berhemat.
"Hari ini akukan ingin menyenangkanmu jadi aku harus membuatmu nyaman selama seharian ini," jawab Agam.
__ADS_1
"Terimakasih sayang," ucap Cassandra.
Agam mengangguk. Dia mengelus kepala Cassandra dan menatap wajah cantiknya.
"Ayo sayang!" ajak Agam.
Cassandra mengangguk.
Mereka berdua naik taksi online pergi ke taman bunga. Sepanjang jalan tangan Agam tak lepas dari tangan Cassandra. Dia tidak ingin jauh darinya sampai menyandarkan kepala Cassandra di bahunya.
Sampai di taman bunga, Agam dan Cassandra berkeliling. Mereka begitu senang melihat berbagai macam bunga dan air mancur di tempat itu.
"Sayang, kau suka?" tanya Agam.
"Suka banget, apalagi pergi bersamamu," jawab Cassandra. Baginya, bisa bersama Agam itu sudah lebih dari cukup. Dia tidak ingin muluk-muluk.
Agam dan Cassandra duduk di bawah pohon yang penuh rerumputan. Udara masih sejuk dan sinar matahari hangat kuku. Cassandra bersandar di bahu suaminya. Sedangkan Agam merangkul istrinya.
"Sayang, terimakasih sudah menerimaku apa adanya," ucap Agam.
Cassandra mengangguk.
"Aku beruntung memilikimu. Bersamamu sudah mengajariku arti cinta sejati. Dimana mencintai seseorang dari kekurangannya terlebih dahulu. Iti sangat berharga bagiku," ucap Agam.
"Aku juga beruntung jadi istrimu. Karena kau mau belajar dan berusaha. Aku sangat menghargai semua yang sudah kau lakukan untukku," sahut Cassandra.
Agam memeriksa sekeliling. Dirasa sepi dia mencium Cassandra.
"I Love You Too," jawab Cassandra.
Setelah bersantai menikmati pagi hari bersama di taman bunga, mereka berdua pergi ke rumah Harry. Agam dan Cassandra menyempatkan beli buah tangan terlebih dahulu. Mereka membeli kue dan buah. Di sana kedua memilih kue-kue yang akan dibelinya.
"Sayang, kue brownies dan kue lapis sepertinya enak," ucap Agam.
"Boleh, bolu gulung juga enak," sahut Cassandra.
Agam mengangguk. Dia mengambil kue-kue yang disarankan istrinya dan diinginkannya.
"Agam!" Suara terdengar memanggil laki-laki tampan itu.
Agam dan Cassandra menoleh ke arah orang yang memanggilnya.
"Mami!" sahut Agam.
"Apa kau dan wanita miskin ini punya uang untuk membeli kue-kue disini?" tanya Emma. Dia sengaja membeli kue-kue untuk dibawa ke rumah sakit. Dia dan suaminya ingin menjenguk Elena.
"Alhamdulillah Mi," jawab Agam.
__ADS_1
Emma tampak cemberut. Dia merasa kesal dan marah dengan putranya yang memilih wanita miskin itu untuk jadi istrinya.
"Mami kasihan kalau kau tidak bisa membayar kue-kue itu. Apalagi harganya lumayan mahal," ucap Emma.
"Insya Allah aku bisa membayarnya, Mami mau juga ku bayarkan?" tanya Agam.
"Gak usah, Mami gak butuh belas kasihmu," jawab Emma.
Agam dan Cassandra mengangguk. Mereka berdua berusaha menerima dengan ikhlas perlakuan Emma padanya.
"Kau masih miskin?" tanya Emma.
"Alhamdulillah, sudah ada kemajuan Mi," jawab Agam.
"Paling kau tinggal di kontrakan tiga petak. Iyakan?" ujar Emma. Dia sudah tahu pasti Agam menderita menikahi Cassandra. Dia tidak punya apapun bahkan ijazahnya ditahan keluarganya.
"Iya Mi, dengan tinggal di kontrakan membuat hubungan kita semakin romantis dan harmonis," jawab Agam.
Emma mengepalkan tangannya. Entah setan apa yang merasuki Agam sampai tergila-gila pada Cassandra.
"Agam, aku heran kau bisa betah dengan wanita miskin itu," ujar Emma.
"Karena Cassandra permata hati yang berharga. Dia wanita yang menerima Agam apa adanya. Meskipun Agam tidak memiliki apapun," sahut Agam. Ketika kau ingin memiliki wanita yang tulus mencintai maka carilah wanita yang mau dan bersedia hidup dari nol denganmu. Menapaki tangga demi tangga. Selalu memberimu support dan doanya. Karena kalau kau sudah diatas wanita mana yang tidak mau. Satu banding seribu mencari wanita yang tulus padamu. Tapi percayalah ada wanita seperti itu.
Emna meninggalkan mereka berdua. Dia malas berdebat dengan Agam.
"Sayang terimakasih," ucap Cassandra.
"Terimakasih untuk apa?" tanya Agam.
"Untuk semua cinta dan kasih sayangmu pada wanita miskin ini," jawab Cassandra.
Agam mengangguk. Lalu mencium kening Cassandra.
"Sayang," ucap Cassandra.
"Sepi," jawab Agam.
Cassandra malu-malu kucing. Begitu romantis suaminya. Selain baik dan penyayang.
Mereka berdua pun kembali memilih-milih kue-kue dan buah-buahan segar. Setelah itu menghampiri kasir. Terlihat Emma kebingungan di depan kasir. Dia tampak memeriksa tas miliknya.
"Totalnya berapa Mbak?" tanya Emma.
"Semuanya 5 juta Nyonya," jawabnya.
Emma kebingungan lagi. Dia terlihat sibuk memeriksa tas miliknya lagi.
__ADS_1
"Pakai ini saja Mbak!" Agam menghampiri mereka dan memberikan black card miliknya pada kasir.
"Black card?" batin Emma terkejut melihat Agam memiliki black card. Kartu yang hanya dimiliki orang-orang kaya. Matanya terbelalak melihat putranya yang dia usir bisa memiliki kartu itu. Padahal Emma dan suaminya sudah menarik semua fasilitas.