
Rumah Keluarga Maheswara
Agam dan Cassandra berdiri di depan rumah Keluarga Maheswara. Agam menarik nafas panjangnya. Rumahnya sudah terlihat ramai. Beberapa orang keluar masuk membawa bunga dan kue. Begitupun barang lainnya. Rumah itu tampak indah dengan tenda dan dekorasi bunga-bunga. Menandakan si empunya rumah sedang mengadakan sebuah acara besar.
"Seharusnya kau tidak ikut," ucap Agam.
Cassandra memegang tangan Agam. Membuat laki-laki tampan dengan wajah arogan itu terkejut dibuatnya.
"Apa-apaan?" tanya Agam.
"Aku ikut denganmu. Kemanapun," jawab Cassandra.
Agam memijat kepalanya dengan tangan kanannya. Hari ini hari terburuk dalam hidupnya.
"Bagaimana ini?" Agam bingung. Seharusnya hari ini dia menikah justru dia membawa istri pulang ke rumahnya.
"Lepaskan tanganku! Kau tahu aku tidak suka padamu?" ujar Agam.
"Sekarang harus suka. Kita sudah menikah," jawab Cassandra.
Agam membuang nafas gusarnya.
"Kau tahu aku arogankan? Kau mau aku menghinamu setiap saat?" tanya Agam.
"Aku sudah terbiasa. Suamikukan memang begitu. Aku harus ikhlas menerima kekuranganmu," jawab Cassandra.
"Apa kekuranganku?" tanya Agam.
"Iya," jawab Cassandra.
"Aku sudah terlahir kaya. Wajar kalau aku arogan. Beda denganmu miskin," sahut Agam.
Cassandra pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan Agam.
"Kau dengar aku tidak?" tanya Agam.
"Aku tidak dengar. Tadi kau bicara apa?" tanya Cassandra balik.
Agam mendengus kesal menatap Cassandra. Mau tak mau melangkah sambil dipegang tangannya oleh Cassandra. Mereka masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum," sapa Cassandra. Sedangkan Agam hanya diam. Wajahnya tampak masam harus masuk ke dalam rumah bersama Cassandra.
"Agam!" Kedua orangtuanya memanggil. Mereka sudah menunggu sejak semalam. Mereka pikir Agam ketiduran di tempat temannya.
__ADS_1
"Papa, Mama," sahut Agam. Wajahnya tampak bingung. Bagaimana dia menjelaskan pada mereka berdua.
Emma dan Renaldi menatap tajam tangan putranya yang digenggam Cassandra.
"Agam apa-apaan ini?" tanya Emma. Heran anaknya bisa memegang tangan wanita di sampingnya.
"Iya, siapa dia?" tambah Renaldi tampak marah.
Agam menarik nafas panjangnya. Dia terpaksa harus menjelaskan siapa Cassandra untuknya.
"Pa, Ma, aku dan Cassandra baru saja menikah," jawab Agam. Berat harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi wanita yang dinikahinya wanita miskin. Keluarganya sangat anti dengan orang miskin. Khususnya Agam sendiri. Dia harus menjil4t ludah basi yang sudah dia keluarkan dan menelannya kembali.
"Apa?" Mereka berdua terkejut mendengarnya. Putranya sudah menikah tanpa sepengetahuannya.
"Agam kau gila? Menikahi wanita yang pernah dibawa adikmu?" tanya Emma. Suaranya berapi-api. Tak habis pikir bagaimana Agam mau menikahi wanita seperti Cassandra.
"Papa susah pikir kamu gila. Bisa-bisanya menikahi wanita yang jelas-jelas sudah kita tolak?" tambah Renaldi murka.
Mereka berdua tak terima Agam menikahi wanita miskin itu.
"Maafkan aku Pa, Ma, semua terjadi begitu saja," jawab Agam.
"Kau sendiri yang menolak wanita ini untuk jadi calon istri adikmu. Karena dia tidak akan bisa mengimbangi adikmu! Sekarang kau malah menikahinya. Dimana kehormatan keluarga kita Agam?" ucap Emma bersikeras menentang pernikahan Agam dan Cassandra.
"Iya, apa kau ingin menjil4t ludahmu sendiri Agam?" tambah Renaldi.
"Aku minta maaf Pa, Ma," ucap Agam. Dia sendiri tidak tahu harus menjelaskan bagaimana lagi. Orangtuanya terlanjur marah besar.
Cassandra memegang erat tangan Agam. Meski laki-laki tampan itu sempat menyebalkan sebelumnya. Tapi dia suaminya sekarang.
"Apa tidak ada wanita lain? Kau lebih nekad dari Zafran adikmu. Kau malah menikahi wanita yang sudah kita buang!" ujar Emma.
"Wanita ini hanya akan memalukan keluarga kita. Kau tahu akibat menikahi wanita ini?" pekik Renaldi.
Agam mengangguk paham. Dia terkena kemarahan papinya dan maminya. Mereka kecewa dengan keputusan Asam.
"Kau, berani sekali menggoda anakku. Setelah kau tidak berhasil menikahi adiknya sekarang kau menikahi kakaknya. Bagaimana caramu menaklukkan kedua putraku? Kau menyerahkan keperawananmu agar putraku tergoda?" ujar Emma. Dia heran bagaimana bisa wanita miskin si depannya berhasil menaklukkan kedua putranya. Bahkan seorang Agam yang tidak suka wanita berhijab. Agam orang pertama yang begitu menentang pernikahan Zafran dan Cassandra. Bahkan dia secara langsung menemui wanita itu untuk meninggalkan adiknya.
"Ma, itu tidak benar. Cassandra tidak melakukan itu," sanggah Agam. Ini pertama kali Agam membela Cassandra di depan keluarganya. Padahal sebelumnya dia bermulut pedas dan menuduh wanita berhijab itu dengan seenak jidatnya.
"Oh, sekarang kau membelanya Agam? Apa dia sudah menyihirmu sampai kau mau berada di sisinya dan menjadi suaminya?" sahut Emma.
"Iya Agam, kau seperti orang yang lupa ingatan. Papa tidak menyangka wanita miskin ini bisa bersanding denganmu," tambah Renaldi.
__ADS_1
"Pa, Ma, Cassandra tidak menyihirku. Kami hanya terjebak di tempat yang sama dan warga memaksa kami untuk menikah," jawab Agam.
"Ha ha ha." Emma tertawa kecewa.
"Kau digrebek warga? Apa yang sudah kau lakukan dengannya Agam?" tanya Renaldi sangat marah. Harga diri keluarganya seakan diinjak-injak.
"Kami dituduh berzina di dalam mobil, Pa, Ma," jawab Agam.
"Apa?" Mereka berdua kembali terkejut.
Emma geleng-geleng. Bagaimana peristiwa itu bisa terjadi. Padahal dia tahu persis anaknya pergi untuk kumpul dengan teman-temannya.
"Bagaimana bisa kau dan wanita ini dituduh berzina? Semalam kau kemana saja Agam?" tanya Renaldi.
Agam pun menceritakan duduk perkaranya. Apa yang terjadi semalam sampai dia terpaksa menikahi Cassandra.
"Pasti wanita miskin ini sudah menjebakmu. Dia tidak berhasil mendapatkan Zafran. Makanya dia ingin mendapatkanmu," ucap Emma sambil menunjuk ke arah Cassandra.
"Maaf Tante, aku tidak pernah memiliki rencana seperti itu. Satu minggu lagi aku akan menikah dengan Fahri. Justru karena kejadian ini pernikahanku dan Fahri harus dibatalkan," sahut Cassandra membela diri. Dia tidak pernah berniat menggoda Agam apalagi berusaha mendapatkannya. Justru dia tidak suka dengan sikap Agam yang arogan.
Agam menoleh ke arah Cassandra. Ternyata wanita berhijab itu juga akan menikah.
"Kau pikir aku bodoh. Agam pewaris keluarga ini. Pemimpin di perusahaan. Kau tahu persis seperti apa dia. Makanya kau rela meninggalkan calon suamimu demi bersanding dengan putraku," ucap Emma.
"Lagi pula wanita sepertimu sudah biasa melakukan itukan. Kamu ingin jadi istri orang kaya," tambah Renaldi.
Agam merasa tidak enak mendengar perkataan kedua orangtuanya pada Cassandra. Padahal dulu dia juga seperti itu pada wanita berhijab itu.
"Aku tidak butuh semua itu. Aku tidak ingin seperti ini tapi semua terjadi begitu saja. Semua sudah qodarullah. Tidak seperti yang Tante dan Om katakan. Aku sudah terbiasa hidup dalam kesederhanaan. Karena kebahagiaan tidak selalu diukur dengan uang dan kedudukan. Seperti yang kalian katakan," sahut Cassandra.
Emma mengepalkan tangannya. Dia benar-benar murka melihat wanita di depannya. Tangannya melayang di udara. Hendak menampar Cassandra tapi tangan Agam menghentikannya.
"Agam!" pekik Emma.
"Sudah Ma! Jangan merendahkan dirimu hanya untuk menyiksanya!" sahut Agam.
Emma mengurungkan niatnya untuk menampar Cassandra. Sedangkan Agam melepaskan tangan ibunya.
"Pagi ini kau akan menikah dengan Elena dari Keluarga Darmaga. Mau ditaruh dimana muka Papa dan Mama kalau pernikahan ini sampai batal?" pekik Emma.
Agam menundukkan kepalanya. Dia benar-benar merasa bersalah. Biasanya dia sangat arogan dan percaya diri. Sekarang nyalinya tenggelam ke dalam tak berani muncul di permukaan.
"Ceraikan dia Agam! Hari ini juga. Dan nikahi Elena!" titah Renaldi. Dia tak sudi memiliki menantu sepertinya. Mau ditaruh dimana kehormatan keluarganya kalau putranya menikahi Cassandra.
__ADS_1
Deg ...
Perkataan ayahnya membuat Agam terkejut. Apakah dia harus menceraikan Cassandra dan menikahi Elena sesuai apa yang sudah direncanakan sebelumnya? Atau tetap mempertahankan pernikahannya dengan Cassandra dengan segala resiko yang akan didapatkannya.