
"Kenapa kau melihatku seperti melihat hantu?" tanya Agam melihat mata cantik di depannya melebar dan tajam.
"Kau ngapain ada disini?" tanya Cassandra.
"Hei! Kau bukannya berterima kasih aku mau hidup denganmu. Padahal aku tidak pernah hidup susah apalagi harus berpasangan dengan wanita miskin sepertimu," jawab Agam marah-marah.
Cassandra malah tertawa kecil melihat kemarahan Agam.
"Kau mentertawakanku?" tanya Agam.
"Iya," jawab Cassandra.
"Kenapa?" tanya Agam.
"Karena kau sudah miskin saja masih sombong," jawab Cassandra.
Agam memikirkan kata-kata Cassandra.
"Dengarkan aku! kemanapun aku pergi akan tetap terhormat tidak sepertimu," ucap Agam.
Cassandra memutar bola mata malasnya. Dia terus berjalan ke depan.
"Kau mau kemana?" tanya Agam.
"Pulang ke rumah," jawab Cassandra. Dia harus mengambil pakaian dan barang-barang yang dia miliki.
"Rumah jelekmu itu?" tanya Agam.
"Iya, memang kenapa?" tanya Cassandra balik.
"Tidak ada apa rumah lebih bagus dari rumah itu? Memang keluargamu tidak bekerja supaya bisa hidup lebih nyaman?" tanya Agam.
Cassandra tersenyum. Dia tahu Agam belum pernah hidup susah. Dia tidak tahu betapa sulitnya mendapatkan uang untuk orang miskin sepertinya.
"Agam, aku dan ayahku bekerja siang dan malam. Tapi rejeki Allah yang mengatur besar kecilnya untuk hambaNya," sahut Cassandra.
Agam diam mendengarkan.
"Kita tidak bisa menakar sendiri rejeki kita. Kalau bisa sudah pasti semua orang minta rejekinya paling banyak. Lalu siapa yang akan bekerja kalau semua orang menjadi orang kaya?" tambah Cassandra.
Agam terdiam. Membayangkan kalau semua orang menjadi kaya raya. Tentu tidak ada yang mau jadi supir, pembantu rumah tangga, OB, pelayan restoran, tukang sampah, sekuriti dan sebagainya.
"Adanya orang miskin di dunia ini untuk menyeimbangkan kehidupan. Orang kaya butuh orang miskin untuk membantunya mengerjakan semua pekerjaannya sedangkan orang miskin butuh orang kaya untuk mencukupi kebutuhannya. Seimbangkan?" ujar Cassandra. Dia berusaha menjelaskan dengan hal yang mudah.
Agam mengangguk. Benar juga yang dikatakan Cassandra. Orang kaya tidak bisa hidup tanpa orang miskin sebaliknya orang miskin tidak bisa hidup tanpa orang kaya.
"Kalau begitu aku membutuhkanmu sebagai orang miskin Nona," ucap Agam.
Cassandra tersenyum tipis.
Kruucuk ... kruucuk ... kruucuk ...
Terdengar suara perut Agam memanggil-manggil.
__ADS_1
"Itu suara perutmu?" tanya Cassandra.
"Bukan, mungkin suara angin," jawab Agam gengsi.
"Sarapan dulu di sana mau?" tanya Cassandra sambil menunjuk ke arah seberang.
Agam menoleh ke arah yang ditunjukkan Cassandra.
"Makan di pinggir jalan?" tanya Agam. Dia tercengang melihat tempat kumuh itu.
"Iya, disana ada nasi uduk. Cocok untuk sarapan pagi," jawab Cassandra.
"Hei, perutku sultan. Mana bisa makan-makanan murahan," sahut Agam.
Cassandra malas berdebat. Agam akan menyombongkan dirinya terus menerus. Dia menarik tangan laki-laki tampan itu. Menyeberang bersamanya.
"Aku biasa makan roti dengan selai khusus dan segelas susu. Masa makan di pinggir jalan. Nasi lagi!" keluh Agam sepanjang jalan.
Cassandra tidak mau mendengar keluhan suami manjanya. Dia menghampiri tukang nasi uduk dan duduk bersama Agam.
"Diam disini Tuan Agam yang terhormat! aku pesankan sarapan untukmu. Aku tidak ingin kau kelaparan apalagi sampai pingsan," ucap Cassandra.
"Aku tidak akan makan nasi uduk. Makanan apa coba? Biasanya aku makan di tempat yang ekslusif. Setidaknya di restoran," keluh Agam terus ngomel.
Cassandra membuang nafas gusarnya. Tidak mau menggubris ucapan Agam. Dia memesan dua piring nasi uduk lengkap dengan telor balado dan jengkol. Lalu membawa dua piring ke meja tempat Agam duduk.
"Ini apa-apaan? Aku tidak makan karbohidrat sebanyak ini," ucap Agam.
"Makan saja! Yang penting gak sakit maag dan penyakit berat lainnya," sahut Cassandra. Dia duduk di sebelah Agam.
"Oke, aku makan dua-duanya kalau kau gak mau," jawab Cassandra. Dia mengambil sendok dan mulai makan nasi uduk.
Agam terdiam. Dia gengsi harus makan nasi uduk di pinggir jalan. Lebih baik nahan lapar. Dia memperhatikan saat Cassandra makan. Wanita berhijab itu makan dengan lahap tanpa mengeluh enak atau tidaknya. Bahkan dia menghabiskan makanan itu tanpa sisa.
"Makanannya belum tentu enak. Tapi kau menghabiskannya," ucap Agam.
"Makan bukan soal enak atau tidak. Tapi bersyukur itu lebih baik," jawab Cassandra.
"Bersyukur?" sahut Agam.
"Iya, Tuan Agam yang terhormat tahukan banyak orang kesulitan mencari uang bahkan banyak orang yang kelaparan. Sebagian diantaranya meninggal dan ada yang rela menghalalkan segala cara untuk bisa makan sesuap nasi," jawab Cassandra.
Agam terdiam. Dari tadi dia mendengar wejangan dari wanita berhijab itu.
"Tuan Agam yang terhormat tidak mau makan nasinya?" tanya Cassandra.
"Tidak, aku tidak mungkin makan murahan," jawab Agam.
Cassandra memutar bola mata malasnya.
"Cassandra!" panggil seorang wanita berhijab. Dia Safira Tania. Teman sejawat Cassandra di sekolah.
Cassandra menoleh ke arah Safira yang berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
"Safira!" sahut Cassandra. Dia langsung bangun dan menghampirinya. Mereka mengobrol di tepi kedai makan nasi uduk itu.
"Aduh, perutku lapar," batin Agam. Di rumah mana pernah dia merasa lapar. Semuanya ada dan tersedia dengan lengkap. Terkadang Agam jarang sarapan di rumah lebih memilih di kafe atau restoran.
Agam memperhatikan nasi uduk di depannya. Harum daun salam, sereh, dan kunyit. Di tambah santan yang membuat nasi uduk itu tampak berkilauan. Lauk-pauk seperti tempe orek, mie goreng, balado kentang dan balado telur menghiasi diatasnya. Membuat nasi uduk itu tampak lebih menggoda.
"Makan aku Mas! Pasrah nih," ucap nasi uduk.
"Mumpung lagi seksi puaskan aku Mas," tambah nasi uduk.
"Sialan! Nasi uduk ini kenapa lebih genit dari istriku?" gumam Agam memperhatikan nasi uduk di depannya.
Sementara itu, Cassandra mengobrol dengan Safira. Mereka membicarakan soal nikah paksa antara Agam dan Cassandra.
"Jadi berita itu benar?" tanya Safira.
"Iya," jawab Cassandra.
"Termasuk soal kau dan Agam di dalam mobil ..." Safira tidak enak mengatakannya.
"Aku dan Agam memang berada di dalam mobil tapi kita tidak melakukan apapun Safira," sahut Cassandra. Dia tahu berita tentang penggrebekan dan nikah paksa di balai warga pasti menyebar kemanapun.
"Aku percaya padamu Cassandra, semua ini pasti fitnah. Sabar ya?" ucap Safira sambil menepuk lengan Cassandra pelan.
Cassandra mengangguk. Matanya berkaca-kaca.
"Semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu Cassandra," tambah Safira.
"Amin," sahut Cassandra.
"Lalu rencana pernikahanmu dengan Fahri gimana?" tanya Safira.
"Aku tidak tahu. Sekarang aku sudah menjadi istrinya Agam. Aku sudah mengikhlaskan semuanya," jawab Cassandra. Dia menundukkan kepalanya. Air matanya terjatuh di pipinya.
Safira memegang tangan Cassandra. Dia menghapus air mata sahabatnya.
"Allah menyayangimu dengan memberikan ujian ini padamu. Semoga kau bisa melewatinya dengan baik. Insya Allah kebahagiaan menantimu," ucap Safira.
"Amin, terimakasih Safira," sahut Cassandra.
Safira mengangguk.
Mereka berdua berpelukan sebagai sahabat. Safira sahabat dekat Cassandra. Dia tahu banyak hal tentang wanita berhijab itu. Mereka sekolah bersama dari SMP sampai kuliah dan bekerja di sekolah yang sama.
"Kalau gitu aku pulang dulu, assalamu'alaikum," ucap Safira.
"Wa'alaikumsallam," sahut Cassandra.
Safira tersenyum. Lalu meninggalkan tempat itu.
Cassandra kembali menghampiri Agam yang sedang makan nasi uduk suapan terakhir.
"Tuan Agam yang terhormat kau makan tiga piring?" tanya Cassandra.
__ADS_1
Agam terkejut. Dia menoleh ke arah Cassandra. Wajahnya tampak bingung harus menjawab apa. Dia memang sudah habis tiga piring.