
"Ini semua karena dia Pak! Dia pembawa sial!" celetuk Monika. Dia justru menuduh Cassandra pembawa sial padahal semua karena kesombongannya.
"Iya, gara-gara aku harus mengantarkan undangan untuknya semua ini terjadi," tambah Khanza.
"Bu, Khanza, semuanya sudah qodarullah. Aku tidak berbuat apapun pada kalian. Justru aku membantu membawa kalian ke rumah sakit," sahut Cassandra. Ibu dan adiknya justru menuduhnya. Mereka sama sekali tidak tahu diri.
"Bu,Khanza, benar kata Cassandra. Semua sudah qodarullah. Seharusnya kalian banyak-banyak beristighfar dan bersyukur masih bisa selamat," sahut Abdul.
Mereka cemberut dan memalingkan wajahnya.
Sedangkan Abdul menghampiri Cassandra yang berdiri tak jauh darinya.
"Nak, maafkan perkataan ibu dan adikmu. Mereka sedang ditimpa musibah jadi tidak bisa mengontrol emosinya," ucap Abdul.
"Iya Pak, aku mengerti, semoga ibu dan Khanza cepat sembuh," jawab Cassandra.
"Amin." Abdul jadi tidak enak hati. Padahal Cassandra sudah membantu Monika dan Khanza tapi mereka justru marah-marah padanya.
"Terimakasih atas bantuanmu ya Nak," ucap Abdul.
"Iya Pak," jawab Cassandra.
Abdul menepuk bahu Cassandra pelan dan tersenyum padanya.
"Kamu memang anak baik," ucap Abdul.
Cassandra tersenyum manis. Sudah beberapa hari ini tidak bertemu ayahnya. Dia rindu padanya.
"Kita bicara di luar ya?" ucap Abdul.
Cassandra mengangguk.
Mereka berdua keluar dari ruangan itu. Duduk di kursi yang berada di lorong ruangan rawat inap.
"Bagaimana kabar suamimu Nak?" tanya Abdul. Dia ingin tahu keadaan rumah tangga anaknya. Abdul tahu pernikahan mereka serba dadakan.
"Alhamdulillah baik Pak," jawab Cassandra.
"Kalian tinggal dimana Nak?" tanya Abdul.
"Kami tinggal di kontrakan Pak," jawab Cassandra.
Abdul menarik nafas panjangnya. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk anaknya.
__ADS_1
"Memang pekerjaan suamimu apa, Nak?" tanya Abdul. Seingatnya Agam memiliki mobil dan penampilannya saat menikah juga sangat bagus. Kemungkinan besar dia orang berada.
"Suamiku jadi montir di bengkel Pak," jawab Cassandra.
"Apa? Montir?" Abdul terkejut mendengarnya.
"Iya Pak," jawab Cassandra.
"Bukannya suamimu punya mobil dan ..." Abdul tidak enak mengatakannya. Tapi dia penasaran bagaimana bisa menantunya seorang montir di bengkel.
Cassandra pun menceritakan apa yang sudah terjadi padanya dan Agam pada ayahnya.
"Ya Allah, semoga kau dan Agam bisa melewati semuanya Nak," ucap Abdul.
"Amin," sahut Cassandra.
"Bapak baru tahu kalau Agam ternyata hari itu juga akan menikah. Berarti kalian memang tidak sengaja berada di dalam mobil itu ya Nak?" ujar Abdul. Kemarin dia terbawa suasana dan emosi. Abdul tidak mendengarkan dulu penjelasan anaknya.
"Iya Pak, tapi semua itu sudah qodarullah. Aku dan Agam sudah bisa menerimanya dengan ikhlas," jawab Cassandra. Justru karena pernikahan itu Cassandra menemukan jati diri Agam yang sebenarnya.
"Alhamdulillah, Allah akan memberikan kebahagiaan untuk hambaNya yang sabar dan ikhlas Nak," sahut Abdul.
"Amin, terimakasih Pak," ucap Cassandra.
Abdul mengangguk. Dia merasa bersalah. Putrinya tidak pernah berubah. Masih seperti dulu. Selalu sabar dan ikhlas menerima apapun yang sudah ditakdirkan untuknya. Termasuk saat rencana pernikahannya dengan Zafran gagal. Cassandra tidak putus asa.
"Sebenarnya aku sudah dikeluarkan dari sekolah," jawab Cassandra. Wajahnya tampak sendu. Bukan karena dipecat tapi sedih harus kehilangan pekerjaan yang begitu dicintainya. Dari kecil dia selalu bermimpi ingin menjadi guru.
"Apa karena gosip itu?" tanya Abdul. Berita Cassandra dan Agam berzina sontar terdengar sampai kemana-mana. Mungkin sampai sekolah juga.
"Iya Pak," jawab Cassandra.
"Semoga Allah memberikan gantinya yang lebih baik. Maafkan bapak tidak bisa membantumu di saat seperti ini," ujar Abdul.
"Amin, gak papa Pak. Sekarang aku sudah bekerja di agen sembako milik Paman Husein," jawab Cassandra.
"Alhamdulillah," jawab Abdul.
Mereka mengobrol layaknya ayah dan anak. Saling mengsupport dan mendoakan.
Di tempat yang berbeda Agam dan Harry sedang melayani banyak pengunjung bengkel yang ingin mengservis motor dan mobilnya. Kedatangan Agam di bengkel itu memberi warna tersendiri. Apalagi Agam mahir memperbaiki. Dia memang orang yang menciptakan mobil-mobil dan motor itu. Bukan hal sulit untuknya ketika ada kerusakan.
"Gam, padahal hari kedua tapi pengunjung sudah lumayan. Coba sebulan begini aku bisa cepet kawin Gam," ucap Harry.
__ADS_1
"Memang kau bekerja untuk menikah?" tanya Agam sambil memperbaiki motor di depannya.
"Gak juga, sebagian untuk bantu-bantu orangtuaku," jawab Harry.
"Kalau begitu kau harus lebih bersemangat. Ada dua tanggungan," ucap Agam.
"Siap Bos!" sahut Harry. Dia tahu dari dulu Agam memang pandai dalam hal mesin. Dia sering disebut mekaniknya sekolah. Motor atau mobil siapapun bisa diperbaikinya.
"Gak bakal Lo dari dulu sampai sekarang tetep. Pinter di mesin," ucap Harry.
"Alhamdulillah, aku hanya melakukan apa yang ku suka," jawab Agam.
Harry tersenyum. Dia mengerjakan pekerjaannya. Terkadang tanya Agam untuk hal-hal yang dia tidak tahu. Meski baru beberapa yang berkunjung tapi sudah lumayan untuk bengkel kecil sepertinya.
Beberapa jam berlalu Agam dan Harry beristirahat. Mereka minum dan makan camilan yang dibawa Harry dari rumahnya. Bugis dan kue bolu.
"Har, boleh aku minta sebagian untuk dibawa pulang?" tanya Agam.
"Boleh, bawa aja semua sisanya," jawab Harry.
"Alhamdulillah, makasih ya," ucap Agam.
"Iya, pasti untuk istrimu?" tanya Harry.
Agam mengangguk. Dia memang teringat Cassandra tiap kali makan. Apakah istrinya sudah makan dengan baik atau belum? Sekarang dia punya tanggung jawab pada istrinya.
"Lo hebat Gam, dulu badung tapi sekarang suami sayang istri," ucap Harry.
"Istri yang gimana dulu? Aku begini karena istriku wanita sholeha. Kalau istriku badung sudah pasti gak jauh beda dariku," sahut Agam. Perubahan yang sekarang ada pada dirinya karena kebaikan dan ketulusan Cassandra. Kecantikan hatinya sudah meluluhkan hatinya.
"Iya juga sih, kalau gitu Gue juga mau nyari istri sholeha biar kaya Lo Gam, adem liatnya," jawab Harry.
Agam hanya tersenyum. Tak punya harta banyak asalkan punya perhiasan dunia istri sholeha sudah cukup baginya.
***
Elena masuk ke dalam toilet. Dia merasa tidak enak badan. Padahal dia tidak kemanapun. Hanya Zafran yang keluar dari hotel. Elena mendekati wastafel. Dia muntah-muntah di tempat itu beberapa kali. Lalu mencuci mukanya. Perutnya sangat mual dan wajahnya pucat.
"Aku kenapa ya? Mual banget. Bawaannya pengen muntah terus," gumam Elena.
Wanita cantik itu mengingat tanggal haidnya.
"Apa aku hamil?" batin Elena. Dia ingat sudah dua kali berhubungan dengan laki-laki. Pertama dengan Ken dan yang kedua dengan laki-laki yang tidak dikenal.
__ADS_1
"Jangan-jangan aku hamil?" ucap Elena. Dia menduga dirinya sedang mengandung. Dari gejala dan tanggal terakhir haid.
"Tapi ini anak siapa?" ujar Elena. Bingung anak siapa yang dikandungnya jika dia benar-benar hamil.