Istri Sampah Kini Berlian

Istri Sampah Kini Berlian
Rejekiku Rejekimu


__ADS_3

Agam dan Cassandra makan berdua romantis. Agam sengaja mematikan lampu dan hanya menyalakan lilin agar terlihat seperti sedang dinner romantis di restoran.


"Sayang, kau suka?" tanya Agam.


"Iya, seperti sedang dinner berdua," jawab Cassandra. Bukan kemewahan tapi kesederhanaan penuh makna yang dibutuhkan keduanya.


"Bagaimana dengan makanannya?" tanya Agam.


"Enak, aku belum pernah makan-makanan seperti ini," jawab Cassandra. Ini pengalaman pertamanya makan makanan mewah dari restoran. Bukan tidak mampu membelinya tapi gajinya akan habis dalam hitungan menit kalau dia memaksakan diri makan di restoran hanya untuk sekedar gengsi atau penasaran.


"Insya Allah ke depan aku akan sering mengajakmu makan makanan seperti ini," sahut Agam.


Cassandra mengangguk. Matanya berkaca-kaca. Agam laki-laki sombong dan ketus itu kini romantis dan penyayang.


Agam membelai wajah cantik di depannya. Wajah itu penuh dengan cinta dan kasih sayang. Hatinya begitu lembut membuat Agam yang keras menjadi luluh dan takluk padanya.


"Aku ingin melihatmu tersenyum untukku dan untukmu," ucap Agam.


Cassandra mengangguk. Bibirnya melengkung indah seperti bulan sabit. Merekah bagaikan bunga yang bermekaran. Membuat Agam begitu senang melihatnya. Dia mendekati Cassandra dan menciumnya.


"Terimakasih atas semua yang sudah kau berikan untukku, bidadariku," ucap Agam.


"Iya, Agam," sahut Cassandra. Lalu memeluk suaminya. Hangat dan begitu nyaman.


"Peluk aku sebanyak yang kau inginkan. Karena aku juga ingin memelukmu sebanyak-banyaknya," jawab Agam.


Cassandra tersenyum. Pernikahannya dengan Agam awalnya seperti ujian untuk mereka berdua tapi justru itu hadiah terindah dari Allah SWT.


"Agam, aku masih lapar," ucap Cassandra.


"Kalau gitu kita makan lagi sayang," sahut Agam.


Cassandra mengangguk.


Mereka berdua kembali makan. Agam dan Cassandra suap-suapan. Makan malam sepasang kekasih halal itu begitu romantis dan menyenangkan di atas karpet seadanya dan lilin yang menerangi ruangan itu.


Malamnya Agam dan Cassandra mengobrol sebelum tidur. Cassandra bersandar di bahu kekar Agam. Bahu berotot yang berisi. Tampak mantap saat kepala Cassandra bersandar di bahunya.

__ADS_1


"Sayang, Tuan Andrian memintaku untuk memimpin perusahaannya," ucap Agam.


"Alhamdulillah, benarkah sayang?" sahut Cassandra. Seperti sebuah mimpi yang diijabah Allah subhanallahu wa ta'ala. Padahal doa Cassandra begitu sederhana. Agar rejeki suaminya dimudahkan dan dilancarkan tapi Allah punya rencana yang indah bagi hambaNya yang bersabar dan bertawakal.


"Iya, kapanpun aku boleh langsung memimpin. Itu sebabnya besok aku akan bicara dengan Harry dulu," jawab Agam.


"Bicara dengan Harry untuk resign?" tanya Cassandra.


"Bukan, tapi untuk mengajaknya bekerja bersamaku di perusahaan milik Tuan Andrian," jawab Agam.


"Alhamdulillah, niat yang mulia sayang. Biar bagaimanapun Harry sudah baik padamu," sahut Cassandra.


Agam mengangguk. Dia mencium kening Cassandra.


"Semua ini karenamu sayang. Kau sudah mengajarkanku tentang kehidupan. Dimana keihklasan dan kesabaran membuatku berada diposisi ini," ucap Agam.


Cassandra mengangguk lalu memeluk Agam.


"Kok cuma dipeluk," ucap Agam.


Agam mendekat. Malam ini dia ingin melukis cinta yang penuh warna dengan istrinya. Menghabiskan malam penuh keinginan dan kemesraan. Hingga sang malam begitu iri dengan dua insan yang sedang dimabuk asmara.


***


Zafran duduk di sofa bersama keluarganya. Ada Elena, Emna, dan Renaldi. Mereka bersantai setelah makan malam bersama. Zafran tampak sibuk dengan handphone di tangannya. Dia membuka beberapa media sosial yang sedang trend untuk sekedar hiburan.


"Zafran, gimana dengan masalah perusahaan kita?" tanya Renaldi.


"Aku sedang mencari cara mengatasinya Pa," jawab Zafran. Dia tampak malas membahas masalah bisnis dan perusahaan.


"Jangan lama-lama mencari jalan keluarnya! Perusahaan kita bisa bangkrut," sahut Renaldi.


"Aku juga sedang menyeleksi orang yang akan menggantikan Kak Agam mendesain gambarnya," ucap Zafran.


"Maksudmu kau akan mencari orang baru?" tanya Renaldi. Selama ini Agam merangkap sebagai pimpinan sekaligus orang yang mendesain setiap mobil ataupun motor yang akan diproduksi pabriknya.


"Iya, Papakan tahu aku tidak bisa mendesain gambar seperti Kak Agam," jawab Zafran. Menggambar bukan bidangnya apalagi desain sebuah mobil atau motor yang akan diproduksi.

__ADS_1


"Tapi kalau kita tidak bisa mendapatkan orang yang tepat semuanya akan semakin kacau. Kau tahukan banyak barang produksi yang dikembalikan ke pabrik karena tidak bisa memenuhi keinginan pasar," sahut Renaldi. Sepanjang sejarah sudah banyak produksi motor atau mobil yang gagal di pasaran. Renaldi khawatir untuk itu.


"Aku pasti bisa menemukan orang berbakat Pa. Memang cuma kak Agam doang," ucap Zafran ketus. Dia makin tidak menyukai kakaknya karena Agam memiliki banyak kelebihan.


"Oke, Papa berusaha percaya padamu dan menyerahkan masalah ini sepenuhnya padamu," sahut Renaldi.


Zafran langsung terdiam. Seolah dia anak bawang yang tidak mengerti apapun dan tidak bisa melebihi kemampuan kakaknya.


"Bagaimana dengan pemegang saham?" tanya Renaldi.


"Mereka sudah menarik sahamnya. Sekarang tim kita sedang mencari penanaman saham baru," jawab Zafran. Keputusan ini terpaksa dia lakukan. Tidak mungkin dia menahan para pemegang saham. Sedangkan mereka meminta kenaikan keuntungan jika tetap bertahan.


"Berarti saham kita tinggal 50%?" tanya Renaldi.


"Begitulah Pa, sekarang kita butuh modal lebih besar untuk produksi besar-besaran," jawab Zafran.


Renaldi terdiam. Sedangkan Emma dan Elena sibuk melihat online shop. Mereka sama sekali tidak mendengarkan apa yang dibicarakan keduanya.


"Papa lihat Perusahaan FA Group cukup besar. Perusahaan itu memiliki banyak cabang. Bagaimana kalau kau menawarkan kerjasama dengan perusahaan itu?" ujar Renaldi. Dia berusaha membantu anaknya mencari solusi.


"Perusahaan FA Group? Bukannya itu perusahaan pesaing ya Pa?" tanya Zafran. Seingatnya Perusahaan FA Group juga memiliki bisnis yang sama dengan perusahaan keluarganya.


"Iya, tapi seingat Papa pemilik perusahaan itu sangat akrab dengan Agam. Kita bisa gunakan nama baik Agam untuk menjalin kerjasama dengan Perusahaan FA Group," jawab Renaldi. Beberapa kali dia memergoki Agam nongrong dengan pemilik Perusahaan FA Group. Sampai Renaldi berpikir Agam memiliki kedekatan emosional dengan pemilik perusahaan itu.


"Maksud Papa, aku harus mengemis ke sana dengan nama kak Agam?" tanya Zafran dengan bahasa kasarnya.


"Bukan seperti itu. Tapi gunakan nama Agam untuk mendekati pimpinan perusahaan itu," jawab Renaldi.


Zafran terdiam sesaat. Sebenarnya dia malas harus hidup dalam bayang-bayang kakaknya. Apalagi soal bisnis. Seakan dia tidak ada gunanya.


"Zafran, masalah perusahaan bukan masalah pribadi. Jadi jangan disamakan. Kau harus mendulukan masalah keuanganmu dari pada gengsimu," ujar Renaldi lalu mengambil kopi di atas meja dan meneguknya.


"Aku pikir-pikir dulu Pa," jawab Zafran tampak malas. Kalau ada solusi lain dia memilih solusi selain yang ada hubungannya dengan Agam.


Tiba-tiba Elena mual. Dia tak bisa menahannya. Wanita cantik itu langsung bangun dari sofa dan menghampiri wastafel di ruangan itu. Beberapa kali muntah di wastafel. Renaldi dan Emma memperhatikan menantunya. Matanya menelisik ke arah Elena.


"Zafran, Elena sakit?" tanya Emma.

__ADS_1


__ADS_2