
"Ingin apa?" tanya Elena. Dia bangun dan menatap wajah Zafran.
"Aku ingin kau tahu pernikahan ini hanya status. Kau dan aku sama-sama tidak saling mencintai. Setelah satu tahun kita akan bercerai," jawab Zafran.
"Tenang saja, aku juga berpikir sama sepertimu. Pernikahan ini hanya status. Cintaku hanya untuk Agam. Dan saat dia kembali seperti dulu aku akan menikah dengannya," sahut Elena.
"Baiklah, kita sepakat!" tegas Zafran. Dia mengulurkan tangannya.
"Sepakat!" Elena mengulurkan tangannya. Mereka berdua bersalaman.
"Kau tidurlah duluan! Aku masih harus mengerjakan pekerjaan yang Agam tinggalkan," ucap Zafran.
"Oke," jawab Elena. Dia kembali berbaring seperti semula.
Zafran terdiam. Dia merasa terlalu keras pada Cassandra. Kemarahannya kemarin sudah melukai hati wanita cantik itu.
"Lebih baik besok aku minta pada Cassandra," batin Zafran. Dia belum pernah semarah itu pada Cassandra. Biasanya dia hanya marah biasa. Tapi kemarin dia benar-benar lepas kendali dan menghina wanita berhijab itu.
"Maafkan aku Cassandra. Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Aku tidak bisa menerima pernikahanmu dan kakakku," batin Zafran. Seharusnya dialah yang menikahi Cassandra bukannya malah kakaknya. Zafran benar-benar marah pada Agam yang justru mengambil calon pengantinnya.
***
Suara adzan berkumandang. Cassandra bangun seperti biasanya setiap kali panggilan sholat itu terdengar di telinganya. Dia melihat sekeliling. Cassandra ingat sekarang tinggal di kontrakan bersama Agam. Laki-laki arogan yang menghinanya. Justru menjadi suaminya.
"Agam," ucap Cassandra. Dia menoleh ke samping. Agam masih tidur sambil memeluk tubuhnya.
Cassandra tersenyum. Dia memperhatikan wajah tampan Agam yang sedang tertidur.
"Kalau gak lagi ngomel dan ngoceh gini ganteng juga," ucap Cassandra. Tak bisa dipungkiri Agam memang memiliki paras yang rupawan dan tubuh yang kekar.
Cassandra menyentuh pipinya. Membuat Agam terbangun. Di depannya seorang wanita cantik berambut panjang. Agam mendekati Cassandra dan mencium bibirnya. Cassandra terkejut. Awalnya kaku dan ingin melepas ciuman dari Agam tapi justru dia nyaman dan membalasnya.
"Agam," ucap Cassandra.
"Maaf Cassandra, aku ..." Agam tidak tahu kenapa tadi mencium Cassandra. Mungkin karena situasi dan kondisi.
"Untuk apa minta maaf, akukan istrimu," jawab Cassandra.
"Astaga, aku ingat kau istriku. Sebaiknya aku mandi," sahut Agam tampak gugup. Dia melepaskan pelukannya. Bangun dan masuk ke dapur.
Cassandra tersenyum. Dia tidak menyangka Agam yang arogan dan sok itu polos dan pemalu.
"Cassandra! Handuk!" teriak Agam.
"Iya!" jawab Cassandra. Dia bangun. Mengambil handuk miliknya dan memberikan pada Agam.
"Kenapa handuk pink? Aku cowok," keluh Agam.
__ADS_1
"Gak ada lagi Agam, itupun handukku," sahut Cassandra.
Mau tak mau Agam memakai handuk Cassandra. Dia menatap handuk di tangannya. Harum tubuh istrinya. Agam menciumi handuk itu beberapa kali.
"Aku sudah gila," guman Agam. Bagaimana bisa dia menciumi handuk milik Cassandra.
Agam keluar dari toilet. Dia melihat Cassandra sedang merapikan tikar yang semalam digunakan untuk tidur bersama.
"Cassandra, aku tidak punya baju ganti. Apa kau punya baju untukku?" tanya Agam.
Cassandra terdiam. Dia memikirkan sesuatu.
"Ada tapi warnanya belum tentu hitam," jawab Cassandra.
"Maksudnya?" tanya Agam.
Beberapa menit kemudian. Agam mengenakan celana cargo milik Cassandra dan kaos lebar berwarna kuning.
"Apa tidak ada baju selain ini?" tanya Agam.
"Ada, cuma warna pink dan ungu," jawab Cassandra.
"Ini saja. Dari pada aku memakai baju pink atau ungu. Seperti anak perempuan manis," sahut Agam.
Cassandra tersenyum. Dia sudah membayangkan seperti apa Agam kalau mengenakan baju pink atau ungu.
"Kuningnya seperti si cantik yang berenang di sungai," gumam Agam.
"Aku mau mandi dulu nanti kita sholat bareng ya?" ucap Cassandra.
Agam terdiam. Tidak mengiyakan ataupun menolak.
Cassandra mandi di toilet. Barulah dia mengenakan pakaiannya sedangkan Agam duduk di teras sambil terdiam.
"Agam ayo sholat!" ajak Cassandra. Dia melihat Agam masih diam di teras. Tatapan matanya menengadah ke langit.
"Agam," ucap Cassandra. Dia duduk di samping Agam dan memegang tangannya.
"Ada apa?" tanya Cassandra.
"Aku tidak punya apapun Cassandra. Bahkan untuk sekedar makan saja aku masih minta padamu. Apa kau yakin hidup bersamaku?" tanya Agam. Dia menoleh ke arah Cassandra.
"Yakin," jawab Cassandra.
"Kenapa?" tanya Agam.
"Karena kita sudah menikah. Berarti kita harus melewati suka dan duka bersama," jawab Cassandra.
__ADS_1
Agam mendekati wajah cantik Cassandra lalu menciumnya.
"Aku akan berusaha untuk mencari kerja. Kita akan tinggal di tempat yang lebih baik dan makan makanan yang enak," ucap Agam.
Cassandra mengangguk. Tak terasa air matanya jatuh di pipinya.
Cup
Agam mencium kening Cassandra. Dia sekarang tahu kenapa dulu Zafran begitu ingin menikahi Cassandra. Wanita cantik itu memang pantas untuk diperjuangkan.
Mereka berdua sholat subuh bersama. Agam masih kaku saat menjadi imam. Dia sudah lama tak pernah sholat meskipun dulu rajin sholat saat kakeknya masih hidup.
Pukul 07.00 pagi Agam dan Cassandra berjalan bersama di tepi jalan. Agam memegang tangan Cassandra. Mereka berdua tersenyum sambil melangkahkan kaki ke depan.
"Kau akan ke sekolah?" tanya Agam.
"Iya, kemarin aku belum bolos. Hari ini jangan sampai bolos lagi," jawab Cassandra.
"Mau ku antar sampai depan sekolah?" tanya Agam.
"Tidak usah, lagi pula dekat dari sini," jawab Cassandra.
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya!" ucap Agam.
Cassandra mengangguk.
Tiba-tiba Agam mencium keningnya. Dan mengelus pipinya.
"Assalamu'alaikum," sapa Agam.
"Wa'alaikumsallam," sahut Cassandra. Dia memperhatikan Agam yang mulai menjauh. Laki-laki yang dulu kaya itu mau hidup miskin bersamanya.
Cassandra tersenyum. Kemudian dia pergi ke sekolah tempatnya mengajar. SD Nusa Bangsa tempat Cassandra mengajar selama dua tahun ini. Dia masih menjadi guru honorer. Rencananya tahun depan mengikuti tes pengangkatan pegawai negeri.
Cassandra mengucapkan basmalah memasuki SD Nusa Bangsa. Dia berjalan di koridor kelas. Cassandra bertemu dengan beberapa guru yang juga baru berangkat. Anehnya mereka tampak sinis dan menjauhi Cassandra. Beberapa tampilan ifeel padanya. Ada juga yang mendadak dingin saat Cassandra menyapanya.
"Mereka kenapa ya?" batin Cassandra. Dia tidak tahu kenapa mereka seperti itu padanya.
Cassandra berjalan menuju ruangan guru. Dia berjalan sambil memikirkan orang-orang yang menjauhinya.
"Cassandra!" panggil Safira yang berjalan menghampiri Cassandra.
"Safira!" sahut Cassandra.
"Langsung ke ruangan kepala sekolah ya?" ujar Safira.
"Untuk apa?" tanya Cassandra.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Tapi kepala sekolah menyuruhku memanggilmu untuk segera ke ruangannya," jawab Safira. Dia menyampaikan pesan dari kepala sekolah.
Cassandra terdiam. Dia penasaran kenapa kepala sekolah menyuruhnya untuk datang ke ruangannya. Apa ada hal penting yang akan dibicarakan dengannya.