Istri Sampah Kini Berlian

Istri Sampah Kini Berlian
Milikku Yang Terjaga


__ADS_3

"Agam," ucap Cassandra.


"Apa?" tanya Agam.


"Apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Cassandra.


Agam mendekati Cassandra. Dia meraba pipinya.


"Boleh, tanya apa saja juga boleh. Kita sudah menjadi suami istri jadi tidak ada rahasia lagi," jawab Agam.


"Sebelum kau tidak menyukaiku karena aku miskin. Apa sekarang kau masih tidak suka padaku?" tanya Cassandra. Jantungnya berdebar saat Agam berada sedekat itu dengannya.


Agam mendekati wajah Cassandra dan menciumnya.


"Kalau aku tidak suka mana mungkin aku menciummu," jawab Agam. Dia menyentuh bibir merah muda itu. Cassandra begitu cantik. Agam saja yang selama ini tidak menyadarinya. Dia terlalu fokus pada statusnya yang miskin.


"Tapi aku miskin," sanggah Cassandra.


"Aku juga miskin. Jadi kita cocok," sahut Agam.


Cassandra meraba pipi Agam. Laki-laki itu dari dulu memang tampan. Gayanya yang arogan membuatnya terlihat lebih tampan dan cold.


"Aku mau jadi milikmu selamanya," bisik Cassandra.


Agam tersenyum. Dia membaca doa lalu mendekati Cassandra. Malam itu begitu indah. Seperti langit yang penuh bintang dan bulan yang terang. Tempat seadanya itu jadi tempat penyatuan cinta yang mulai tumbuh. Meskipun hanya dengan alas seadanya tapi cinta sudah membuat suasana jauh lebih indah.


Gema-gema cinta mengudara seperti nyanyian merdu. Agam meluapkan semua hasrat didadanya yang membara. Kini dia sang pemilik kehormatan yang begitu terjaga. Agam merasa sangat beruntung bisa menikmati indahnya surga dunia. Sungguh tidak merugi memiliki istri yang sholeha. Agam benar-benar puas begitupun sebaliknya Cassandra. Kesucian sudah menjadi milik suaminya. Malam itu jadi malam yang berpahala untuk mereka karena mereka sepasang suami istri halal.


Agam dan Cassandra berbaring di tikar setelah lelah menjalani malam indahnya. Hampir dua jam mereka menghabiskan waktu yang hanya mereka yang tahu.


Agam memeluk Cassandra yang berbaring satu selimut dengannya.


"Sayang," bisik Agam.


Cassandra tersenyum malu-malu mendengar Agam memanggilnya sayang. Untuk seorang arogan dan ketus seperti Agam sangat aneh dia mengatakan itu padanya tapi terdengar manis.


"Sayang, makasih ya," ucap Agam. Dia benar-benar puas sebagai laki-laki yang mendapatkan haknya. Agam seorang perjaka tentu dia menginginkan seorang per4wan. Dan Cassandra benar-benar masih terjaga. Suci sampai Agam yang memetik bunganya.


Cassandra mengangguk. Dia masih malu. Meskipun hatinya sangat senang. Tidak pernah terpikirkan akan sedekat dan seromantis itu dengan Agam. Laki-laki yang arogan dan dingin itu ternyata begitu lembut dan hangat. Dan Cassandra merasakannya dengan jelas.


"Sayang, apa kau sakit?" tanya Agam. Khawatir istrinya sakit.


"Tidak, sayang," jawab Cassandra.


"Ada yang harus kau tahu," ucap Agam.


Cassandra berbalik. Dia penasaran dengan apa yang akan dikatakan Agam padanya.


"Apa?" tanya Cassandra.


Agam memegang pipi Cassandra.


"Jangan kaget kalau nanti perutmu blendung!" ucap Agam.


"Blendung kenapa? Aku tidak sedang sakit perut," jawab Cassandra. Dia belum berpikir terlalu jauh.


Agam tersenyum mendengar jawaban istrinya.


"Bukan blendung karena sakit perut tapi karena ada buah cinta kita," sahut Agam.


Cassandra tampak malu. Dia dan Agam punya anak. Benarkah? Apa ini mimpi?


"Bilang pada semua orang kalau itu anaknya Agam Maheswara!" tambah Agam.


"Agam," sahut Cassandra. Dia memeluk Agam. Laki-laki yang tampak buruk di depannya ternyata sangat baik. Mungkin mereka hanya belum saling mengenal dekat.

__ADS_1


"Ayo tidur sayang! Besok aku harus mendapatkan pekerjaan agar aku bisa menafkahimu," ucap Agam.


Cassandra mengangguk.


Mereka berdua pun tidur bersama satu selimut berdua. Meski sederhana tapi mereka bisa menerima satu sama lain dan apa adanya. Cinta itu dibangun bukan didapatkan saja.


Pukul 4 pagi Agam dan Cassandra sholat subuh bersama. Mereka juga melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Agam mengingat-ingat kembali apa yang dulu diajarkan kakeknya. Masih ada sebagian ingatan yang tersisa tinggal dibantu Cassandra untuk meluruskannya.


"Alhamdulillah," ucap keduanya selesai melantunkan ayat suci Al Qur'an.


Mereka duduk berdua bersantai sambil menunggu matahari terbit.


"Seperti harus mengerjakan sesuatu yang lebih penting dulu," ucap Agam.


"Sesuatu yang penting?" Cassandra bingung.


Agam mendekati Cassandra. Dia meraba rambut panjangnya yang harum.


"Sayang," ucap Agam.


Cassandra tersenyum. Sudah paham maksud suaminya.


Mereka kembali mengulang indahnya cinta semalam. Meski waktunya singkat tapi begitu menikmati setiap detiknya.


Beberapa menit berlalu keduanya sudah rapi mengenakan baju kerjanya. Meskipun hanya pakaian sederhana.


"Nanti aku minta baju bekas bapak buat ganti," ucap Cassandra.


"Jangan! Aku tidak ingin dua makhluk ghaib itu menyakitimu," sahut Agam.


"Makhluk ghaib?" ucap Cassandra.


"Iya, dedemit dan wewe gombel," jawab Agam.


"Sayang, gak boleh begitu! Biar bagaimanapun mereka ciptaan Allah," ucap Cassandra.


Agam mengelus kepala Cassandra.


"Allah memang tidak salah mempertemukanku denganmu dan menjadikanmu jodohku," ucap Agam.


"Kau wanita yang baik dan sholeha. Aku beruntung memilikimu Cassandra," tambah Agam.


"Agam, aku juga beruntung memilikimu sebagai imamku," jawab Cassandra.


Agam langsung memeluk Cassandra.


Setelah itu mereka pergi untuk bekerja. Cassandra pergi ke agen milik pamannya Safira sedangkan Agam mencari pekerjaan yang lebih baik dari kemarin.


Cassandra berjalan kaki untuk menghemat uanganya. Tadi dia dan Agam hanya makan sepotong roti dan air putih untuk sarapan. Dia harus bisa mengatur uang dengan baik. Meskipun uangnya hanya sedikit.


"Cassandra!" panggil Safira.


"Safira!" sahut Cassandra.


Safira menghampiri Cassandra. Dia membawa sebuah goodie bag berwarna hijau di tangannya.


"Ini untukmu! Tadi ibuku merebus banyak ubi dan jagung. Aku pikir ingin membaginya denganmu," ucap Safira sambil memberikan goodie bag itu pada Cassandra.


"Makasih Safira," sahut Cassandra. Safira memang sahabat yang baik. Selalu ada untuknya. Bahkan seperti saudaranya sendiri.


"Ayo pamanku sudah menunggu!" ajak Safira.


Cassandra mengangguk.


Mereka berdua pergi ke agen sembako milik paman Safira. Agen itu bernama Agen Sejahtera. Di sana banyak barang-barang kebutuhan sehari-hari yang dijual. Dari sabun, minyak, gula, beras, telur, snack dan lainnya. Banyak dan beragam. Agen yang cukup besar. Banyak toko-toko kecil mengambil barang dari tempat itu.

__ADS_1


"Nah Cassandra, ini Paman Husein pemilik agen ini!" Safira memperkenalkan pamannya pada Cassandra. Husein Al Mahdi pemilik agen sembako itu. Orangnya tinggi dan mengenakan kacamata.


"Cassandra Paman, senang bertemu denganmu," ucap Cassandra.


"Paman juga senang bertemu denganmu," sahut Paman Husein.


"Paman, katanya ada lowongan kerja disinikan?" tanya Safira.


"Iya, bagian kasir dan penata barang," jawab Paman Husein.


"Paman, bagaimana kalau Cassandra bekerja menjadi kasir disini?" tanya Safira.


Paman Husein memperhatikan Cassandra. Dari penampilannya meyakinkan. Dia terlihat bisa dipercaya.


"Boleh, tapi gajinya hanya 2 juta. Bagaimana?" tanya Paman Husein.


"Cassandra, bagaimana?" tambah Safira.


"Iya, aku mau Paman," jawab Cassandra.


"Alhamdulillah," sahut Safira.


"Kalau begitu kau sudah bisa bekerja mulai sekarang!" ucap Paman Husein.


Cassandra mengangguk. Dia tersenyum tipis. Senang sudah mendapatkan pekerjaan.


Paman Husein menjelaskan semua pekerjaan yang akan dikerjakan Cassandra. Wanita cantik itu mendengar dengan seksama.


Beberapa saat kemudian Safira menghampiri Cassandra setelah selesai.


"Cassandra, aku pulang dulu ya?" ucap Safira.


"Iya, hati-hati di jalan!" jawab Cassandra.


Safira mengangguk.


"Makasih ya Safira," ucap Cassandra.


"Iya sama-sama. Yang semangat ya kerjanya!" sahut Safira.


Cassandra mengangguk.


Safira meninggalkan tempat itu. Dia bisa bernafas lega sahabatnya sudah mendapatkan pekerjaan.


Sementara itu, Agam masih berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dia benar-benar kesulitan mendapatkan kerja. Tapi semangat di hatinya membara. Dia ingin menafkahi istrinya. Apalagi kalau nanti Cassandra hamil. Mereka harus memiliki tempat tinggal dan kehidupan yang layak.


Agam melihat sebuah bengkel kecil yang sepi. Kecintaannya pada dunia otomotif tidak pernah berubah. Agam ingin coba melamar di tempat itu meskipun sepi. Mungkin dia bisa mengembangkan bakatnya di tempat itu.


"Assalamu'alaikum," sapa Agam.


Tidak ada suara yang menjawab. Agam heran bengkel itu sepi bahkan terlihat tak berpenghuni. Bagaimana orang mau singgah. Apalagi tempatnya berantakan, tidak tertata dengan rapi dan kotor.


Agam mendekat dan masuk ke dalam bengkel. Si empunya tidur di kursi tunggu. Posisinya tengkurep. Wajahnya tidak terlihat. Karena membelakangi cahaya.


"Permisi!" ucap Agam.


Laki-laki mengenakan baju teknisi itu tidak menyahut. Dia tetap tidur.


"Permisi!" panggil Agam.


Orang itu masih diam. Sampai Agam menepuk kakinya perlahan.


"Apaan sih?" bentak orang itu. Dia bangun dan membalikkan posisinya. Menatap Agam yang berdiri di depannya.


"Kau!" keduanya terkejut saat saling menatap.

__ADS_1


__ADS_2