
Elena terdiam. Kalau sampai ada yang tahu tentang kehamilannya bisa jadi masalah besar. Apalagi dia dan Zafran baru saja menikah.
"Gimana ini? Haruskah aku bicara dengan Zafran soal kehamilanku?" gumam Elena. Dia ragu Zafran akan mau menerima kehamilannya.
"Untuk sementara waktu aku harus sembunyikan kehamilanku dari Zafran," ucap Elena. Dia tidak ingin Zafran tahu soal kehamilannya.
"Anak ini anak Ken atau laki-laki itu? Gimana caranya aku tahu?" ujar Elena bingung. Siapa yang sudah menanamkan benih di rahimnya. Ken atau laki-laki lain. Dua orang itu yang pernah tidur dengannya. Sedangkan Agam tidak pernah menyentuhnya sekalipun. Tidak mungkin dia ayah dari janinnya.
Elena mencuci mukanya. Kemudian dia meninggalkan toilet. Dia terkejut melihat Zafran ada di dalam kamarnya.
"Kau beli apa?" tanya Elena. Zafran memegang plastik putih di tangannya.
"Tes pack," jawab Zafran.
"Apa?" Elena terkejut bukan main. Dia baru saja mengetahui kehamilannya. Meskipun belum cek ke dokter. Tapi dia yakin sedang hamil gara-gara belum datang bulan.
"Iya, aku bawa tes pack," jawab Zafran lalu melemparkan plastik putih itu ke atas ranjang.
Pluuuk ...
Plastik putih itu tergeletak di atas ranjang.
"Untuk apa kau beli tes pack?" tanya Elena. Dia takut Zafran sudah tahu kehamilannya.
Zafran duduk di atas ranjang lalu berbaring karena lelah.
"Tadi tertukar di kafe," jawab Zafran.
"Maksudnya?" tanya Elena. Dia bingung dengan pernyataan Zafran.
"Tadi aku duduk di kafe. Plastikku tertukar dengan punya orang lain," jawab Zafran.
Elena langsung bernafas lega. Zafran tidak mencurigainya. Tes pack itu bisa dipastikan bukan milik Zafran.
"Oh, apa kau berniat mengembalikannya?" tanya Elena.
"Tidak, lagi pula untuk apa?" jawab Zafran.
"Gak apa-apa sih," jawab Elena. Dia berpikir untuk memakai tes pack itu.
"Tadi kau muntah-muntah terus kenapa?" tanya Zafran.
Deg
Elena terkejut mendengar ucapan Zafran. Jantungnya berdebar tak karuan. Dia bingung mengatakan yang sebenarnya. Kehamilannya rahasia yang harus disembunyikan.
"Eee ... tidak kenapa-napa," jawab Elena. Wajahnya tampak kebingungan.
"Apa kau sakit?" tanya Zafran. Sebenarnya dia juga tidak peduli. Hanya saja Elena harus baik-baik saja. Kalau tidak keluarganya akan marah padanya.
__ADS_1
"Tidak, hanya lelah dan gak enak makan," jawab Elena.
"Oh, kalau begitu beristirahatlah!" titah Zafran.
Elena mengangguk. Dia pura-pura berbaring satu ranjang dengan Zafran. Laki-laki itu membelakanginya. Begitupun Elena yang membelakangi Zafran.
"Aku harus tes pack biar jelas," batin Elena. Untuk saat ini dia harus membuktikan kehamilannya.
Tak lama Zafran tertidur. Elena bangun dan mengambil tespek itu kemudian masuk ke dalam toilet. Dia melakukan tes untuk kehamilannya. Dalam waktu beberapa menit sudah terlihat tanda kalau Elena hamil. Tanda dua garis memperlihatkan tanda kehamilannya.
"Aku hamil beneran," ucap Elena. Sekarang dia terjebak dalam masalah besar. Hamil tapi tidak tahu siapa ayah dari anaknya.
***
Khanza dan Monika pulang ke rumah. Mereka beristirahat di atas ranjang. Keduanya tampak lelah tiga hari ini sudah berdiam diri di rumah sakit. Khanza bangun dari atas ranjang. Dia ingin melihat wajahnya. Tadi belum sempat. Khanza menghampiri cermin dan melihat wajahnya.
"Aaaa!" Monika terkejut melihat wajahnya buruk rupa.
"Kenapa Khanza?" tanya Monika. Sebenarnya dia sudah tahu wajah Khanza seperti apa tapi tidak ingin membuatnya bersedih.
"Wajahku Bu, wajahku jelek," jawab Khanza.
"Kita bisa oplas nanti," sahut Monika. Dia menjawab dengan enteng.
"Tapi Bu, besokkan hari pernikahanku?" sanggah Khanza. Dia tidak mungkin menikah dengan wajah seperti itu. Jika oplaspun butuh waktu yang lama.
"Iya ya," sahut Monika. Dia lupa besok anaknya menikah.
Monika terdiam. Benar kata Khanza, tidak mungkin dia menikah dengan wajah seperti itu. Pasti akan memalukan.
"Bu! Aku gak mau kelihatan jelek. Apalagi di depan Fahri," ucap Khanza. Dia menyentuh pipinya yang ada bekas jahitannya.
"Nanti kita pikirkan!" jawab Monika. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa untuk saat ini tapi dia harus mencari jalan keluar. Agak putrinya bisa menikah dengan Fahri.
"Pokoknya harus Bu! Aku ingin Fahri hanya melihatku saja," ucap Khanza.
"Iya, Fahri memang hanya untukmu," sahut Monika.
Mereka berdua pun tersenyum bersama.
***
Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu datang juga. Hari ini Fahri dan Khanza akan menikah di Gedung Luxury. Gedung itu begitu megah dan mewah setelah didekorasi sedemikian rupa. Berbagai bunga, tanaman, lampu dan aksesoris lainnya mempercantik pemandangan yang ada. Terlihat tamu undangan dari keluarga, sahabat, rekan bisnis dan kenalan datang ke acara besar itu. Orangtua Fahri duduk menunggu proses ijab qobul akan diselenggarakan. Ayahnya Fahri bernama Hendra Hardian dan ibunya bernama Sari Rohimah. Mereka tampak tegang menunggu anaknya akan menjadi pengantin.
Tak hanya ayah dan ibunya Fahri. Tapi Abdul dan Monika juga sudah hadir di tempat itu. Mereka menunggu proses ijab qobul itu.
"Bu, bagaimana? Wajahku tidak kelihatan jelekkan?" tanya Khanza. Dia mengenakan cadar karena terpaksa. Semua itu demi menutupi wajahnya yang cacat karena bekas jahitan.
"Gak, jangan dibuka sampai malam nanti. Kalau perlu cari alasan sampai kita punya uang untuk oplas," sahut Monika.
__ADS_1
"Iya, paham. Pokoknya aku akan jadi Nyonya Fahri," ucap Khanza.
"Iya, ibu bosan hidup susah," sahut Monika.
Mereka berusaha mengakali wajah Khanza yang jelek dengan cadar yang menutupi wajahnya.
"Bu, apa Cassandra dan suaminya akan datang?" tanya Khanza.
"Pasti, mereka miskin tempat seperti ini tentu jadi tempat makan untuk mereka," jawab Monika.
"Aku ingin mempermalukannya," ucap Khanza.
"Iya, pasti seru kalau kita mempermalukannya di depan banyak orang," tambah Monika.
Mereka tidak pernah jera untuk menyakiti Cassandra. Tak puas dengan mengambil calon suaminya. Sekarang ingin mempermalukannya.
Ijab qobul itu pun dilakukan. Fahri duduk satu meja dengan penghulu dan dua orang saksi. penghulu dan Fahri saling bersalaman dan menatap.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Fahri Hardian bin Hendra Hardian dengan ananda Khanza Amelia binti Yusman Gunawan dengan mas kawin mas seberat 50 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Khanza Amelia binti Yusman Gunawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," sahut Fahri dengan lantang.
"Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah." Mereka semua di ruangan itu ikut bersyukur atas kelancaran ijab qobul itu.
Setelah itu Fahri dan Khanza pindah ke pelaminan. Fahri tampak acuh. Pernikahan hanya keinginan orangtuanya. Tadinya kalau Cassandra yang menjadi istrinya setidaknya dia mendapatkan wanita cantik untuk memanaskan ranjang. Sekarang dia harus menikahi Khanza yang biasa saja. Fahri makin malas.
"Fahri, gak mau cium keningku?" tanya Khanza.
"Aku gak sudi ya mencium keningmu. Jangan mimpi!" jawab Fahri.
"Iiih! Fahri kenapa sih? Dia kok ketus," batin Khanza. Fahri sekarang sangat berbeda dari Fahri yang sebelumnya.
Fahri hanya diam. Bahkan malas menatap Khanza.
"Kalau bukan karena kau kaya mana mau aku begini. Nyesel deh," batin Khanza. Dia mengalami tamu-tamu undangan dengan rasa jengkel dan kesal gara-gara Fahri acuh dan ketus padanya.
Di sisi lain Agam dan Cassandra baru datang. Mereka berdua masuk ke dalam gedung. Agam mengenakan pakai yang dipinjamnya dari Harry. Pakaian itu sederhana tapi pantas untuk ke undangan. Batik dan bawahannya celana bahan. Sedangkan Cassandra gamis panjang.
"Sayang, apa kau yakin datang ke pesta pernikahan Khanza dan Fahri?" tanya Agam.
"Yakin, Khanza masih saudaraku," jawab Cassandra.
"Tapi mulutnya lebih pedas dari cabai," sahut Agam.
Cassandra hanya tersenyum tipis. Mereka berdua masuk ke dalam. Banyak tamu undangan yang datang. Sebagian besar pebisnis.
__ADS_1
"Agam!" Suara seseorang memanggil Agam.