Istri Sampah Kini Berlian

Istri Sampah Kini Berlian
Diusir Dari Rumah


__ADS_3

"Aku hanya bosan menunggumu mengobrol. Mau tak mau memakan makanan ini," jawab Agam.


"Benarkah?" tanya Cassandra. Matanya menyelidik.


"Kau tahukan aku ini kaya. Mana mungkin mau makan makanan ini dengan sukarela," jawab Agam.


"Oke-oke, aku anggap itu benar," sahut Cassandra. Dia menghampiri ibu pemilik kedai itu. Hendak membayar nasi uduk yang dimakannya dan Agam.


"Berapa Bu?" tanya Cassandra.


"Semuanya enam puluh ribu," jawabnya.


Cassandra merogoh koceknya. Dia terkejut tidak ada uang sedikitpun disana.


"Loh, bukannya semalam ada uang seratus ribu ya?" batin Cassandra heran. Uang seratus ribu miliknya hilang.


Cassandra terdiam. Bagaimana dia harus membayar makanan yang tadi dimakannya dan Agam?


"Neng!" panggilnya.


"Sebentar ya Bu?" sahut Cassandra.


Ibu pemilik kedai mengangguk.


Cassandra menghampiri Agam yang duduk menunggunya.


"Agam, kau punya uang?" tanya Cassandra.


"Aku tidak punya uang seperakpun. Kau tahukan aku diusir dari rumah. Hanya baju di badan ini yang masih bisa ku bawa pergi," jawab Agam. Dia benar-benar gembel tidak punya uang ataupun barang apapun.


"Aduh, gimana ini?" batin Cassandra. Uangnya ada di rumah. Uang di sakunya hilang.


"Memang kau tidak punya uang?" tanya Agam.


"Punya, tapi uangku hilang," jawab Cassandra. Mungkin uangnya hilang saat penggerebekan tadi atau jatuh di tempat lain.


"Kau tidak bawa dompet atau tas?" tanya Agam.


"Kalau aku bawa semua itu untuk apa aku tidur satu mobil denganmu dan digrebek warga?" jawab Cassandra.


Agam terdiam.


"Kalau begini bagaimana aku membayarnya?" tanya Cassandra.


"Aku punya ide," jawab Agam.


"Ide apa?" tanya Cassandra.


Beberapa saat kemudian ...


Cassandra mencuci piring sedangkan Agam merapikan piring-piring yang sudah bersih.


"Ini idenya?" ucap Cassandra.


"Iya, aku sering melihat ini di film. Cara yang paling tepat kalau tidak bisa bayar," sahut Agam.


Cassandra memutar bola mata malasnya.


"Cepatlah cuci piringnya! Aku mulai bosan," ucap Agam.


"Kau mengeluh terus Agam. Bantulah istrimu ini," sahut Cassandra.


"Tadi kau bilang istri?" tanya Agam.


"Iya, aku istrimu kan?" sahut Cassandra.


Agam langsung diam. Dia terlihat dingin dan memalingkan wajahnya.


"Agam!" ucap Cassandra.

__ADS_1


Agam tetap fokus mengerjakan pekerjaannya. Sedangkan Cassandra menyelesaikan piring terakhir. Kemudian dia menghampiri Agam.


"Tuan Agam yang terhormat marah?" tanya Cassandra.


"Aku lupa kalau sekarang aku punya istri yang miskin," jawab Agam.


Cassandra merapikan piring-piring yang baru selesai dicucinya.


"Kau menyesal?" tanya Cassandra.


Agam diam. Dia ingat hari ini harusnya dia menikah dengan Elena.


"Kalau kau ingin pergi silahkan! Aku tidak ingin memaksa. Sebelum semuanya terlambat," tambah Cassandra.


Agam terdiam. Dia menoleh ke arah Cassandra. Kemudian meninggalkan tempat itu.


"Agam!" panggil Cassandra. Dia menoleh ke arah Agam. Laki-laki tampan itu meninggalkan tempat itu. Dia terus berjalan entah kemana.


"Mungkin Agam pergi. Lagi pula dia memang terpaksa menikahku," ucap Cassandra.


Wanita berhijab itu meneruskan pekerjaannya. Dia menyapu dan merapikan semuanya. Barulah pamit pulang.


Di tempat yang berbeda, Agam pergi ke Gedung Metamorfosa. Tempat acara pernikahannya dan Elena diadakan. Agam tahu hari ini seharusnya dia dan Elena menikah.


"Elena," ucap Agam. Dia masuk ke dalam gedung itu. Terlihat sangat ramai. Tadinya Agam tidak diperbolehkan masuk. Setelah menunjukkan identitasnya baru diperbolehkan masuk ke dalam.


Agam melihat acara akad nikah sudah dimulai. Dia terkejut saat melihat orang yang duduk di samping Elena.


"Zafran," ucap Agam. Ternyata adiknya menjadi pengantin pengganti. Agam terdiam. Dia benar-benar sudah kehilangan Elena. Bahkan wanita yang dicintainya itu menikah dengan adiknya sendiri.


"Sah?"


"Sah."


Agam terdiam. Tidak ada harapan lagi untuk bersama Elena. Dia benar-benar kehilangan wanita yang dicintainya.


"Agam!" Elena melihat Agam berdiri diantara para tamu undangan. Matanya yang sembab menghampiri Agam yang masih diam di tempat.


Plaaak ...


Elena menampar Agam dengan keras. Dia kecewa, kesal dan marah pada Agam.


"Elena," ucap Agam. Pipinya memerah. Dia menatap Elena dengan intens.


"Kau tega meninggalkanku Agam! Kau menikahi wanita lain dihari pernikahan kita!" pekik Elena. Matanya berkaca-kaca.


"Maafkan aku Elena," sahut Agam.


"Maaf? Kau puas sudah menghancurkan hatiku?" sahut Elena.


Agam terdiam. Dia memang merasa bersalah.


"Kau janji akan menikahiku. Tapi nyatanya kau menikahi wanita lain. Kau pengkhianat Agam!" ucap Elena.


Agam memilih diam membiarkan Elena memakinya.


"Aku malu Agam, aku sakit hati dan aku benci padamu!" pekik Elena.


Agam mengangguk. Itu benar. Kalau dia diposisi Elena sudah pasti bersikap seperti itu.


"Untuk apa kau datang ke sini lagi Agam?" seorang laki-laki paruh baya menghampiri Agam. Dia Hariz Darmaga. Ayah dari Elena.


"Maaf Om," jawab Agam.


"Kau sudah membuat putriku menangis dan patah hati. Kau sudah menghancurkan impiannya. Lebih baik kau pergi dari sini!" ucap Hariz.


"Baik Om," sahut Agam.


Emma dan Renaldi hanya diam. Mereka benar-benar malu pada keluarga Darmaga sudah membuat mereka kecewa. Sampai terpaksa menyuruh Zafran sebagai pengganti Agam.

__ADS_1


"Elena maafkan aku. Semoga kau bahagia," ucap Agam.


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu Agam. Kau brengsek!" sahut Elena. Dia masih mencintai Agam tapi hatinya benar-benar sakit.


Agam meninggalkan tempat itu. Kini dia sudah kehilangan semuanya.


Sementara itu, Cassandra berjalan menuju rumahnya. Beberapa tetangga di sekitar rumahnya menatapnya sinis dan menggosipkannya. Apalagi saat dia lewat mereka mengolok-oloknya seperti seorang pezina. Cassandra hanya membalas dengan sapaan dan senyuman ramahnya tak peduli orang berkata apa.


"Sabar, Insya Allah aku bisa melewati semuanya," batin Cassandra. Dia berjalan menuju rumahnya di ujung jalan.


Cassandra melihat rumahnya sepi. Sandal ayahnya tidak ada di teras. Biasanya kalau ada di rumah pasti sandalnya tertata rapi di teras.


"Apa bapak pergi lagi?" ucap Cassandra. Ayahnya seorang pemasok beras dari bandar ke agen-agen beras. Ayahnya rutin keliling ke berbagai kota. Jarang ada di rumah.


Cassandra mengetuk pintu rumahnya.


Tok! Tok! Tok!


Pintu rumah terbuka. Monika terlihat judes menatap ke arahnya.


"Assalamu'alaikum," sapa Cassandra.


"Wa'alaikumsallam," sahut Monika.


"Ngapain kau kembali ke rumahku?" tanya Monika.


"Aku mau mengambil barang-barangku Tante," jawab Cassandra.


"Nih barangmu!" Khanza datang dari dalam membawa tas besar dan melemparnya ke teras dengan kencang.


Bruuug ...


Tas itu tergeletak di lantai. Bergegas Cassandra mengambilnya.


"Jangan datang ke sini lagi! Kau sudah membuat keluargamu malu," ucap Monika.


"Tapi aku ingin bertemu bapak dulu Tante, bolehkah aku tinggal beberapa hari saja?" sahut Cassandra.


"Rumah ini sudah tidak menerimamu lagi. Apalagi bapakmu, dia sudah sangat kecewa atas perbuatanmu yang menjijikan itu," jawab Monika.


"Tante, ku mohon izinkan aku tinggal sampai bapak pulang!" pinta Cassandra.


"Dasar bodoh! Kau dengar ibuku bicara gak sih?" pekik Khanza geram. Dia maju hendak menampar pipi Cassandra. Namun terkejut saat suara besar menghentikan laju tangannya.


"Siapa kau berani menampar istriku?" pekik Agam.


Khanza menoleh ke arah Agam. Laki-laki bertato di lehernya itu muncul. Nyali Khanza jadi ciut. Dia menurunkan tangannya lagi.


"Kalian ini tidak tahu diri, sudah jelas ini rumah Cassandra. Tapi kalian memperlakukannya seperti orang asing," ucap Agam.


"Kau ikut campur urusanku ya?" sahut Monika.


"Aku suaminya Cassandra. Sudah pasti tak terima istriku diperlakukan kasar olehmu dan anakmu!" pekik Agam. Dia mendekat. Mengambil tas di tangan Cassandra dan merangkul wanita berhijab itu.


"Mulai hari ini kita tinggalkan tempat ini sayang! Mereka tidak pantas kau layani. Lebih baik kau layani aku yang jelas-jelas suamimu," ucap Agam.


Cassandra menoleh ke arah Agam. Laki-laki tampan itu benar-benar terlihat keren dimatanya untuk saat ini.


"Ya sudah pergilah! Paling kalian akan menggembel di luar sana!" titah Monika.


"Iya, kami juga gak peduli," tambah Khanza.


"Bagus, tidak ada lagi yang menghalangi Khanza menikahi Fahri," batin Monika.


"Ayo sayang kita pergi!" ajak Agam.


Cassandra mengangguk.


Mereka berdua berjalan meninggalkan teras. Di depan pagar mereka berpapasan dengan Fahri yang baru turun dari mobil.

__ADS_1


"Cassandra!" Fahri menatap Cassandra yang dirangkul seorang laki-laki tampan yang memiliki tato di lehernya.


__ADS_2