
"Sayang, besok ikut aku ya?" ucap Agam yang memeluk Cassandra.
"Ikut kemana?" tanya Cassandra.
"Rahasia," jawab Agam.
Cassandra mengerucutkan bibirnya justru Agam malah menciumnya.
"Sayang," ucap Cassandra.
"Habis bibirmu lucu dan mungil," jawab Agam. Dulu dia membenci Cassandra. Sekarang dia cinta mati padanya. Gak bisa jauh dari wanita cantik itu.
Cassandra tersenyum manis mendengarnya.
"Laper gak?" tanya Agam.
Cassandra mengangguk.
"Makan yuk sayang! Aku bawa makanan enak untuk istriku tercinta," ucap Agam.
Cassandra mengangguk.
Mereka berdua pun pindah ke ruang depan. Makan bersama di sana. Agam membeli berbagai makanan untuk Cassandra. Dia ingin istrinya bisa menikmati makanan yang mahal.
"Enak?" tanya Agam.
Cassandra mengangguk. Akhir-akhir ini Agam memberikan dia banyak kejutan dan kebahagiaan.
"Tapi lebih enak masakan istriku. Meski sederhana tapi nikmatnya sampai ke ubun-ubun," ucap Agam.
"Terimakasih atas pujiannya sayang," sahut Cassandra.
Agam mengangguk.
Mereka berdua menyantap habis makanan itu. Sebagian dibagikan tetangga. Cassandra selalu seperti itu bila dia memiliki rejeki yang lebih meskipun itu berupa makanan.
"Gimana pekerjaanmu di kantor sayang?" tanya Cassandra.
"Alhamdulillah baik, aku dan Heri akan memajukan perusahaan dengan baik," jawab Agam.
"Amin," jawab Cassandra. Dia tahu suaminya pebisnis hebat. Dia pasti bisa memajukan perusahaan itu.
"Kemarilah!" Agam meminta Cassandra duduk di sampingnya.
Cassandra mengangguk. Dia duduk di samping Agam dan menyandarkan kepalanya di bahu Agam.
"Bagaimana kabar Bapakmu sayang?" tanya Agam.
"Alhamdulillah baik, tapi ..." Cassandra sedikit murung.
"Tapi kenapa?" tanya Agam sambil memegang tangan Cassandra.
"Ibu dan Khanza pergi dari rumah meninggalkan Bapak," jawab Cassandra. Kini bapaknya sendirian. Monika dan Khanza meninggalkannya.
__ADS_1
"Kok bisa?" tanya Agam heran. Kenapa ibu dan adik tiri Cassandra meninggalkan ayahnya.
"Bapak terlilit hutang bank. Kemarin waktu operasi ibu dan Khanza ternyata Bapak pinjam uang ke bank," jawab Cassandra. Sebenarnya dia tidak enak membicarakan masalah keluarga pada Agam tapi dia juga tidak bisa menyimpannya sendirian.
"Oh pantes mereka pergi. Mereka kan matre," ucap Agam. Dia tahu seperti apa ibu tiri Cassandra dan adik tirinya.
Cassandra mengangguk.
"Nanti aku yang akan bayar utang bapakmu," ucap Agam. Ayah Cassandra ayah Agam juga. Ketika mereka menikah mereka tidak hanya menikahi pasangannya tapi menikahi keluarganya juga.
"Beneran sayang?" tanya Cassandra tampak kegirangan mendengarnya.
"Iya bidadariku," jawab Agam sambil mencolek dagu Cassandra.
"Makasih sayang," sahut Cassandra sambil memeluk Agam dengan erat.
Agam mengangguk. Dia hanya ingin membahagiakan istrinya itu saja. Wanita yang menerimanya apa adanya. Tidak peduli dia punya uang atau tidak. Mereka berjuang bersama sampai nasib baik menghampirinya.
"Nanti Bapak biar tinggal bersama kita ya?" ucap Agam.
"Boleh?" tanya Cassandra.
Agam mengangguk.
"Tapi kontrakan kita kecil sayang," ucap Cassandra. Kalau bapaknya ikut tinggal pasti tidak nyaman untuk mereka berdua dan bapaknya.
"Nanti kau akan tahu," jawab Agam. Dia belum ingin memberi tahu suprisenya dengan jelas. Biar besok Cassandra melihatnya sendiri.
Cassandra mengangguk.
***
"Bu, kita jadi bertemu orang yang akan mengurus keperluanku operasi di luar negri?" tanya Khanza sambil mengambil tas cangklong di atas meja.
"Jadilah, makanya ayo kita berangkat sekarang!" ajak Monika. Dia dan anaknya ingin bertemu seorang yang akan mengantarkan mereka ke luar negeri untuk operasi wajah.
"Asyik, aku gak sabar wajahku cantik lagi," ucap Khanza. Gara-gara wajahnya jelek Dia belum bisa mendekati laki-laki manapun. Padahal dia mau menggunakan wajahnya untuk mengikat para laki-laki dan menguras hartanya.
"Iya dong, setelah itu kita cari Om-om kaya," jawab Monika.
"Kok Om, Bu?" tanya Khanza heran. Berarti laki-laki tua yang dimaksud oleh ibunya.
"Kalau laki-laki tua banyak duitnya, cepet mati lagi," jawab Monika. Dia tidak peduli masalah usia yang penting bisa mendapatkan uang untuk menumpang hidup dan bertahan hidup.
Khanza mengangguk paham. Dia tidak peduli pasangannya nanti yang penting dia bisa memiliki banyak uang dan berbelanja sesuka hatinya.
"Bu, apa uangnya cukup?" tanya Khanza. Biaya untuk operasi wajah pasti tidaklah murah apalagi mereka harus pergi ke luar negeri.
"Cukuplah, ibu sudah mengambil semua uang simpanan ayah bodohmu itu," jawab Monika. Dia sudah mengambil semua uang yang dimiliki Abdul tanpa sepengetahuannya.
"Ibu memang pintar," sahut Khanza. Dia dan ibunya memang sama-sama licik dan jahat, tidak peduli dengan Nasib orang lain yang penting mereka untung.
Mereka berdua meninggalkan apartemen yang disewanya. Keduanya pergi ke sebuah restoran untuk bertemu dengan orang yang ingin mengantarkan mereka ke luar negeri dan mengurus segala sesuatunya di sana.
__ADS_1
"Bagaimana?" Laki-laki berambut pirang itu bertanya pada Monica dan Khansa mengenai rincian biaya yang ada di atas kertas yang diberikan padanya.
"Mahal sekali ya?" jawab Monika. Dia tidak menyangka biaya operasi di luar negeri sangat mahal bahkan hampir menguras sebagian besar uang simpanannya.
"Itu udah murah loh. Mumpung diskon, selain itu dijamin cantik lagi," sahutnya. Dia berusaha meyakinkan ibu dan anak itu agar tertarik dengan tawarannya.
Monica dan Khansa terdiam mereka berdua bisik-bisik untuk mempertimbangkan keputusan mereka Apakah mengambil tawaran dari orang itu atau tidak.
"Gimana ini Mi?" tanya Khanza bingung.
"Mahal, tapi kita butuh," jawab Monika. Mereka tidak memiliki kenalan yang bisa mengantarkan ke luar negeri apalagi mereka tidak pandai berbahasa Inggris.
"Terus?" tanya Khanza menanyakan keputusan ibunya. Karena semua keputusan selalu diputuskan oleh ibunya.
"Ambil aja, dari pada sama orang yang kemarin lebih mahal," jawab Monika. Sebelum ini mereka juga sempat mencari-cari orang yang bisa mengantarkan Mereka pergi ke luar negeri untuk operasi tapi harganya mahal-mahal lebih mahal dari orang ini.
Khanza mengangguk. Dia hanya mengikuti apa yang ibunya putuskan.
"Oke, kami tertarik," jawab Monika pada laki-laki itu.
"Kalau gitu ibu harus transfer 70 persen uangnya dimuka baru sisanya setelah semuanya beres," ucapnya.
Monika terdiam dia memikirkan syarat yang diajukan laki-laki.
"Bu, gimana?" tanya Khanza.
Monika hanya mengangguk. Kemudian dia menyepakati syarat yang diajukan laki-laki itu dan tanda tangan di atas kertas putih.
"Transfer sekarang ya? Karena aku harus setor dulu ke sana," ucapnya.
Monika mengangguk.
Setelah itu laki-laki tersebut meninggalkan tempat itu.
"Mi, sebentar lagi aku cantik," ucap Khanza.
"Iya dong," jawab Monika.
"Kalau gitu buruan transfer Mi!" ucap Khanza. Dia sudah tidak sabar untuk kembali cantik seperti sedia kala.
Monika mengangguk. Dia langsung melakukan transfer ke nomor rekening laki-laki Itu.
"Uangnya sudah masuk sebagian, tinggal nunggu semuanya lalu kabur," ucap laki-laki itu sambil berjalan keluar dari restoran. Dia tersenyum licik.
***
Renaldi pergi ke salah satu rumah temannya yang akan pergi ke luar negeri. Dia ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya sebelum sahabatnya itu pindah. Dulu mereka sama-sama rekan bisnis itu sebabnya Renaldi menyempatkan waktu untuk bersilaturahmi ke rumahnya.
" Memang kenapa rumahmu dijual Ton?" tanya Renaldi yang duduk di sofa seberang laki-laki bernama Anton.
" Aku ingin tinggal di luar negeri bersama istri dan anakku. Di sana Aku sudah memiliki bisnis yang lebih besar dari bisnisku di sini," jawab Anton.
Renaldi mengangguk paham.
__ADS_1
"Memang siapa yang membeli rumahmu?" tanya Renaldi penasaran. Rumah sebesar itu pasti yang membeli orang kaya ataupun kaum konglomerat yang memiliki banyak usaha.