Istri Sampah Kini Berlian

Istri Sampah Kini Berlian
Bab 21


__ADS_3

Cassandra dan ibu-ibu di dalam agen sembako itu keluar dari dalam. Mereka melihat Apa yang sedang menjadi bahan kerumunan orang-orang itu. Ternyata terjadi kecelakaan yang menimpa Monika dan Khansa. Monica terlihat terluka parah daripada Khansa. Kaki Monika terluka sedangkan Khanza terluka pada pipinya bagian kiri. Terlihat darah mengucur di pipi kiri wanita manja itu.


"Ibu, Khanza!" Cassandra bergegas menghampiri mereka berdua. Keduanya tidak begitu memperhatikan Cassandra, mereka panik dengan luka yang terdapat pada tubuhnya.


Cassandra segera meminta tolong pada orang-orang yang ada di tempat itu agar membawa ibu dan adik tirinya pergi ke rumah sakit. Untungnya masih banyak yang peduli mereka bergegas mengantarkan Cassandra untuk pergi ke rumah sakit bersama ibu dan adik tirinya.


Di ruangan UGD ibu dan adik tirinya ditangani dokter dan perawat. Sedangkan Cassandra menunggu di luar ruangan. Dia menelpon Husein untuk memberitahu di mana keberadaannya.


["Assalamualaikum."]


["Wa'alaikumsallam."]


["Paman, maaf. Aku harus mengantarkan ibu dan adik tiriku ke rumah sakit."]


["Gak papa, tadi Paman sudah tahu dari warga di sini."]


["Terimakasih Paman."]


["Iya, kau tenang saja. Semoga ibu dan adik tirimu baik-baik saja."]


["Amin, terimakasih Paman."]


["Iya, sama-sama."]


Pembicaraan itupun diakhiri. Cassandra duduk di kursi tunggu sambil menunggu kelanjutan dari pemeriksaan dan penanganan di ruang UGD. Tak lama Abdul datang ke rumah sakit itu. Dia menghampiri Cassandra yang terlihat menunggu.


"Cassandra!" ucap Abdul.


"Bapak!" sahut Cassandra. Dia menoleh ke arah ayahnya yang datang. Wanita berhijab itu bergegas mencium tangan ayahnya.


"Bagaimana keadaan ibu dan adikmu?" tanya Abdul.


"Aku belum tahu Pak, ibu dan Khanza sedang ditangani Dokter," jawab Cassandra.

__ADS_1


"Semoga mereka baik-baik saja," ucap Abdul. Dia berharap istri dan anaknya akan baik-baik saja. Abdul sampai pulang dari pekerjaannya untuk melihat kondisi istri dan anaknya.


"Amin," jawab Cassandra.


Mereka berdua menunggu sampai perawat keluar dari ruangan UGD. Perawat meminta Abdul untuk masuk ke dalam berbicara dengan dokter. Sedangkan Cassandra menunggu di luar. Dia terus berdoa untuk ibu dan adiknya meskipun mereka sudah dzolim padanya.


"Ya Allah berikan kesembuhan dan kesehatan untuk ibu dan adikku," ucap Cassandra. Hatinya selalu tulus dan baik pada siapapun tidak terkecuali pada mereka yang sudah menyakiti hatinya. Dia terus berdoa dan berdzikir untuk mereka.


Sampai Abdul keluar dari ruang UGD dan menghampiri Cassandra.


"Bagaimana Pak?" tanya Cassandra. Dia ingin tahu keadaan ibu dan adiknya. Dari tadi Cassandra terus berdoa dan berharap agar mereka baik-baik saja.


"Ibumu dan Khanza harus dioperasi. Luka mereka cukup parah. Terutama ibumu," jawab Abdul. Wajahnya terlihat murung dan bersedih. Kenyataan sudah membawa kabar duka untuknya dan keluarganya. Istri dan anaknya mengalami cedera yang cukup parah. Dokter menyarankan untuk operasi pada mereka berdua.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un," sahut Cassandra. Dia tidak menyangka hal buruk akan menimpa ibu dan adiknya sampai sejauh itu. Padahal tadi mereka baik-baik saja. Hanya hitungan menit merubah keadaan. Itulah kekuasaan Allah.


Beberapa saat kemudian Monika dan Khanza di bawah ke ruangan operasi. Cassandra dan Abdul menunggu mereka di luar. Keduanya sama-sama khawatir dan gelisah. Cassandra tak hentinya berdoa untuk kesembuhan ibu dan adiknya. Sedangkan Abdul sedang memikirkan biaya rumah sakit. Dia tahu biaya rumah sakit untuk operasi keduanya tidaklah sedikit. Apalagi harus bersamaan.


"Iya Pak," jawab Cassandra.


Abdul meninggalkan tempat itu. Dia harus mencari dana untuk biaya operasi keduanya. Sedangkan Cassandra masih setia menunggu mereka selesai operasi.


Abdul pulang ke rumah. Dia menghitung seluruh uangnya. Semua tabungannya sudah digunakan untuk biaya resepsi pernikahan Fahri dan Khanza. Dia dan besa menanggung biaya resepsi berdua. Untuk itu tabungan Abdul habis total. Dia sudah tidak memiliki uang lagi selain uang untuk kebutuhan 1 bulan ke depan.


"Bagaimana ini aku tidak punya uang?" ucap Abdul. Dia bingung bagaimana membayar sisa tunggakan di rumah sakit. Tadi saja dia sudah membayar sebagian besar dp-nya.


Abdul melangkahkan kaki keluar dari rumahnya. Tidak ada pilihan lagi selain berhutang ke bank ataupun rentenir. Tapi sebelum itu dia menghubungi teman-temannya siapa tahu ada yang mau meminjamkan uang.


["Maaf Dul, aku gak punya duit segitu. Kalau lima ratus ada."]


Semua teman-temannya mengatakan kata maaf, beberapa dari mereka hanya bisa memberikan sedikit pinjaman. Mau tidak mau Abdul harus berpikir keras dan mencari sisa tunggakannya. Abdul meninggalkan rumahnya dia pergi ke bank membawa sertifikat rumah. Untungnya masih siang, bank masih buka dan memberikan pelayanan.


Abdul meminjam uang ke bank dengan jaminan sertifikat rumahnya karena hanya itu harta satu-satunya yang dia miliki. Meski prosesnya tidak bisa selesai selama 1 hari tapi dia bisa meminta keringanan waktu pada pihak rumah sakit sampai uangnya ditransfer oleh pihak bank.

__ADS_1


Setelah itu Abdul kembali ke rumah sakit. Istri dan anaknya sudah pindah ke ruangan lain. Ruangan rawat inap.


"Assalamualaikum," sapa Abdul. Dia masuk ke dalam ruangan menghampiri Cassandra yang menunggu ibu dan adiknya yang menangis histeris.


"Wa'alaikumsallam," sahut Cassandra.


"Bapak! Kakiku kenapa?" ujar Monika. Dia menangis tersedu-sedu karena kakinya harus di gips. Apalagi saat digerakkan terasa sakit.


"Iya Pak, wajahku juga diperban. Aku takut wajahku kenapa-kenapa," tambah Khanza. Mereka berdua kompak menangis dan merengek.


Abdul menghampiri mereka berdua dan berdiri di antara ranjang keduanya.


"Bu, Khanza, tadi kalian menjalani proses operasi semua itu demi kebaikan kalian," ucap Abdul.


"Gak, gak mungkin!" Mereka berdua kompak mengelak.


"Iya Bu, Khanza, kecelakaan tadi sudah mengakibatkan cidera pada kaki ibu dan wajahmu Dek," tambah Cassandra. Dia coba menjelaskan keadaan ibu dan adiknya. Karena keduanya tidak terima atas operasi yang sudah dilakukan.


"Tidak! Tidak mungkin! Wajah cantikku! Hiks!" Khanza kembali mengelak dan merengek. Dia memegang pipi kirinya dan ingin melepas perban yang menempel. Untung saja Abdul segera menghalanginya dan menghentikan niatnya.


"Jangan Nak! Nanti jahitannya terlepas," ujar Abdul. Dia tahu akan berbahaya jika perbannya dilepas sekarang. Dokter sendiri yang nanti akan melepas perban itu setelah lukanya sudah mengering.


"Aku gak mau diperban! Mukaku tidak kenapa-napa!" pekik Khanza. Dia berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan ayahnya.


"Khanza! Dengarkan bapak Nak, pipi kirimu terluka. Itu sebabnya harus dijahit dan diperban," jelas Abdul. Entah bagaimana caranya agar anaknya bisa memahami keadaannya saat ini dan tidak melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya sendiri.


"Apa? Mukaku dijahit Pak?" Khanza terkejut. Bagaimana bisa lukanya pipi kirinya sampai harus dijahit. Padahal dia sangat memuja kecantikannya.


"Iya, pipi kirimu dijahit," jawab Abdul.


"No!" Khanza tidak terima. Tidak mungkin terjadi sesuatu pada wajahnya. Wanita itu berusaha untuk melepaskan tangannya dan menarik perbannya Untung saja Abdul lekas menangkapnya dan berusaha untuk menenangkannya.


"Diamlah! Dengarkan bapak! Yang terpenting kau sehat dulu Nak, jangan pikirkan yang lain!" Abdul berusaha untuk menasehati Khanza. Meskipun anaknya itu berusaha untuk melawan dan terus merengek. Begitupun dengan istrinya yang marah-marah karena kakinya tidak bisa digerakkan.

__ADS_1


__ADS_2