
"Elena ..." Zafran bingung. Wajahnya tampak bersalah.
"Elena kenapa?" tanya Emma penasaran.
"Elena hamil, Ma," jawab Zafran. Dia menundukkan kepalanya. Entah apa tanggapan ibunya setelah mendengar jawaban darinya.
"Hamil?" Emma terkejut. Ekspresi di wajahnya kebingungan.
"Iya Ma, aku hamil," jawab Elena. Suaranya pelan. Sama seperti Zafran dia ragu menatap wajah ibu mertuanya.
"Kalian bercanda?" tanya Emma tidak percaya. Dia tahu persis Elena dan Zafran belum lama ini menikah. Belum genap satu bulan. Tidak mungkin hamil.
"Gak Ma, apa yang dikatakan Elena benar," jawab Zafran. Tidak ada lagi yang perlu ditutupi lagi lambat laun perut Elena juga akan membesar.
"Tidak mungkin!" tolak Emma tidak percaya. Kepalanya menggeleng.
"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya Ma," jawab Zafran. Ekspresi di wajahnya berubah dingin.
"Kalian baru menikah beberapa minggu ini. Gak mungkin secepat itu Elena hamil," sahut Emma.
Zafran dan Elena terdiam. Mereka merasa bersalah. Tidak tahu harus menjelaskan seperti apa agar Emma mengerti.
"Zafran!" ucap Emma. Dia menatap tajam putranya.
"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya Ma," sahut Zafran. Dia tahu hal ini akan terjadi. Ibunya pasti tidak percaya. Biar bagaimanapun mereka baru menikah.
"Bagaimana bisa Elena hamil? Kalian tidak sedang berbohong padaku?" tanya Emma. Sampai detik ini dia belum percaya. Ada keraguan besar yang menuntut jawaban pasti.
"Tidak Ma, Elena hamil," jawab Zafran.
Emma terdiam. Dia memikirkan semua itu.
"Elena hamil anak siapa Zafran?" tanya Emma. Dia tahu Zafran dan Elena tidak saling mencintai. Untuk itu dia harus tahu siapa ayah dari bayinya Elena.
Zafran dan Elena terdiam. Mereka bingung menjawabnya.
"Zafran! Jawab Mama!" titah Emma. Dia menatap tajam ke depannya.
"Elena hamil anakku Ma," jawab Zafran. Tidak mungkin dia bisa mengelak lagi.
"Kau bercanda Zafran? Mama tahu kau dan Elena tidak saling mencintai. Bagaimana mungkin Elena hamil?" sahut Emma.
"Aku sudah menghamili Elena, Ma," jawab Zafran.
"Apa?" Emma bingung. Bagaimana disambar petir mendengarnya.
"Kau menghamili Elena gimana Zafran?" tanya Emma.
"Aku dan Elena sudah tidur bersama sebelum kami menikah Ma," jawab Zafran. Dia tidak berani menatap wajah ibunya.
"Zafran, kau bohongkan?" tanya Emma. Dia tahu anaknya selama ini dikenal anak yang baik dan selalu menuruti perintah orangtuanya. Tidak mungkin melakukan itu.
__ADS_1
"Aku mengatakan apa yang sebenarnya Ma," jawab Zafran. Dia sudah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya dan Elena.
"Zafran, kau mempermalukan keluargamu," ucap Emma.
"Maafkan aku Ma," sahut Zafran. Dia tahu ibunya akan marah padanya.
Emma menarik nafas panjangnya. Dia benar-benar tak habis pikir bagaimana Zafran menghamili Elena sebelum menikah.
"Maafkan aku Ma," ucap Zafran.
Emma terdiam. Lalu dia meninggalkan ruangan itu.
"Zafran, Mamamu pasti marah," ucap Elena.
Zafran hanya diam saja. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Untuk saat ini Zafran membiarkan Mamanya untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.
"Zafran, apa kau akan meninggalkanku? Atau kau ingin aku mengugurkan kandunganku?" tanya Elena.
Zafran menoleh ke arah Elena. Dia memperhatikan wajahnya yang tampak bingung.
"Aku akan meninggalkanmu ...," ucap Zafran.
Elena terkejut mendengar jawaban Zafran.
"Tapi Zafran, aku ..." Baru dia ingin melanjutkan ucapannya Zafran memotong pembicaraannya, "Aku akan meninggalkanmu jika kau mengugurkan kandunganmu."
Elena tercengang dengan apa yang dikatakan Zafran padanya.
"Bagaimana kalau ini bukan anakmu?" tanya Elena.
"Aku yakin itu anakku," jawab Zafran.
Elena terdiam. Laki-laki tampan di depannya sudah yakin anak di dalam kandungan Elena anaknya.
Sementara itu, Emma pulang ke rumah Keluarga Maheswara. Dia tampak dingin. Melangkahkan kakinya ke lantai atas. Di kepalanya dipenuhi beban. Membuat wanita paruh baya itu tidak mampu melangkah dengan baik. Hampir saja terjatuh. Untungnya Renaldi menangkap tubuhnya.
"Ma, ada apa?" tanya Renaldi.
"Zafran, Pa," jawab Emma.
"Zafran kenapa Ma?" tanya Renaldi penasaran.
"Zafran ..." Emma kesulitan menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kita duduk dulu ya Ma?" ucap Renaldi.
"Iya Pa," jawab Emma.
Mereka berdua pindah ke ruang tengah. Duduk sambil mengobrol.
"Ma, Zafran kenapa?" tanya Renaldi.
__ADS_1
"Zafran sudah menghamili Elena, Pa," jawab Emma.
"Terus apa masalahnya? Mereka kan memang suami istri," sahut Renaldi. Wajar kalau Zafran menghamili istrinya.
"Bukan itu Pa, tapi Zafran menghamili Elena sebelum menikah," jawab Emma. Dia tidak tega memberitahu kabar ini pada suaminya.
"Apa?" Renaldi terkejut mendengarnya.
"Papa terkejutkan? Mama juga Pa. Mama hampir tak percaya. Tapi ini benar," jawab Emma.
"Bagaimana bisa Ma? Zafran dan Elena tidak memiliki hubungan sebelumnya," sahut Renaldi.
"Mama gak tahu yang jelas Zafran sudah menghamili Elena," ucap Emma.
"Padahal Agam yang memiliki hubungan dengan Elena, kenapa jadi Zafran yang tidur dengan Elena?" ucap Renaldi.
Emma terdiam. Dia juga memikirkan hal itu.
"Terus kita harus bagaimana?" tanya Emma.
Renaldi terdiam. Dia memikirkan sesuatu.
"Pa!" ucap Emma.
"Apa itu anaknya Zafran? Mama yakin?" tanya Renaldi. Dia meragukan kehamilan Elena.
"Mama gak tahu Pa, yang jelas Zafran bilang dia yang menghamili Elena," jawab Emma.
"Papa khawatir Elena sudah tidur dengan pria lain sebelum menikah dengan Zafran. Tapi Zafran yang kena getahnya," sahut Renaldi. Dia jadi mencurigai Elena. Zafran anak yang polos. Tidak mungkin menghamili Elena tanpa ada hubungan pasti.
"Masa sih Pa? Apa mungkin hamil anaknya Agam?" tanya Emma.
"Jangan ngarang Ma! Agam tidak pernah menyentuh Elena meskipun dia menyukai Elena. Agam bukan laki-laki seperti itu. Papa sangat mengenalnya," jawab Renaldi. Jangankan menghamili anak orang, Agam hampir tidak pernah keluar luar kecuali kerja dan ada urusan penting. Pacaran dengan Elena pun di rumah atau jalan-jalan di Mall. Tidak pernah lebih dari itu.
"Terus siapa dong Pa?" tanya Emma.
"Apa Elena punya hubungan lain?" jawab Renaldi.
"Maksud Papa, Elena wanita liar?" tanya Emma. Dia sudah sering menjumpai wanita liar yang tidur dengan berbagai laki-laki setiap malamnya.
"Papa belum bisa berspekulasi lebih jauh. Tapi kita harus mencari tahu siapa ayah dari bayi itu," jawab Renaldi.
Emma mengangguk.
"Kenapa anak-anak kita gak ada yang bener Pa? Agam nikahin wanita miskin dan sekarang Zafran menikahi wanita yang hamil entah dengan siapa," ucap Emma.
Renaldi terdiam. Dia pun berpikir seperti itu. Padahal kedua anaknya di sekolahkan tinggi-tinggi tapi justru mengecewakan mereka berdua.
"Masalah di perusahaan belum selesai sekarang ditambah masalah ini," ucap Emma.
"Iya Ma, masalah kita jadi bertambah. Aku tidak tahu bagaimana menutup aib keluarga kita," sahut Renaldi.
__ADS_1
Emma terdiam. Benar kata suaminya masalah semakin menggunung.