
Najma melakukan aktivitas mengajarnya seperti biasa. Sekarang ini sedang jam istirahat. Najma memutuskan untuk makan siang di kantin sekolah, ia tidak membawa bekal seperti biasanya, tadi pagi pun ia tak sempat sarapan karena buru-buru. Hari ini ia bangun kesiangan, itu karena tadi malam Bayu membuatnya terpaksa begadang. Pemuda itu nampak nya ingin segera menghamilinya agar perjanjian di antara mereka segera berakhir.
“Eh. Tumben Bu Najma makan siang di kantin.” Tegur Yoga siswanya. Najma tersenyum kecil.
“Kebetulan ibu tidak bawa bekal,” sahut Najma.
“Aku boleh makan satu meja bareng ibu enggak?” tanya Yoga penuh harap, sesuatu yang membanggakan untuknya bisa makan satu meja bareng guru secantik Najma yang punya banyak idola.
“Boleh. Lagi pula ibu enggak nyaman juga makan sendirian.” Yoga hampir saja bersorak kegirangan jika saja Aldi dan teman-temannya yang lain tidak ikut nimbrung.
“Bu kalo Yoga boleh makan satu meja sama ibu berati kami juga boleh dong,” ucap Aldi mewakili teman-temannya yang lain. Najma tidak punya jawaban lain selain mengiyakan, lagi pula memang tempat duduk di kantin ini bangkunya dibuat memanjang.
Alhasil Najma yang semula merasa kesepian merasa terhibur dengan tingkah kocak murid-muridnya, ia pun tak sungkan tertawa. Di tengah keceriaan itu ada salah satu siswa yang membatin, kutunggu jandamu Bu. Saking dibuat terpesonanya ia pada kecantikan gurunya.
*****
Bayu masih mengantar Najma pergi ke mana pun seperti biasanya meski ia kini berstatus sebagai suami wanita itu. Bayu kini menjemput Najma pulang mengajar, wanita itu ternyata sudah menunggunya lumayan lama memang Bayu tadi sempat terjebak macet.
“Bayu kamu bisa masak tidak?” pertanyaan Najma membuat alis tebal Bayu hampir menyatu. Dari kecil ia terbiasa mandiri, memasak bukan perkara besar untuk Bayu.
“Bisa.” Bayu menyahut singkat, matanya kini melirik Najma yang duduk disebelah-Nya tak sengaja menangkap belahan dada Najma yang terlihat menantang. Bayu mengalihkan pandangannya, ia berusaha fokus menyetir.
“Ajari aku bagaimana caranya memasak Bayu.” Bayu berdehem, apa ia tidak salah dengar dengan permintaan Najma. Wanita yang ia ketahui tidak pernah menyentuh peralatan dapur tiba-tiba minta diajari cara memasak.
“Kamu bisa minta ajari dengan juru masak di rumah. Kenapa mesti minta ajari denganku?” Najma mencebik, raut wajah wanita itu terlihat kesal.
“Mbaknya pasti tidak mau mengajari, dia takut dimarahi Mas Pram. Kamu kan tahu kalau Mas Pram tidak pernah memperbolehkan aku menyentuh pekerjaan rumah tangga.”
Disini Bayu menilai Pram sebagai pria yang aneh, jika kebanyakan suami akan senang melihat istrinya jago memasak dan rajin mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Pram malah melarang Najma untuk melakukan itu. Okey, mungkin sedikit wajar jika sebelum menikah Najma tidak bisa memasak. Tapi kini Najma dan Pram itu sudah sepuluh tahun menikah, harusnya Pram mendidik Najma untuk menjadi istri yang baik.
“Aku tidak mau mengambil resiko jika manusia labil itu memarahiku,” ucap Bayu menyindir. Setelah ia terjebak dalam pernikahan anehnya bersama Najma, ia rasa sikap ramah yang ditunjukkan pasangan aneh Najma dan Pram kepada semua orang hanyalah kepalsuan.
“Tidak akan. Mas Pram juga jarang ada di rumah. Dia sibuk kerja, ayolah Bayu ajari aku memasak. Kamu tahu alasan aku belajar memasak untuk siapa? aku belajar masak untuk calon anakku nanti,” ucap Najma dengan mata berbinar, tangan wanita itu mengelus perut ratanya seolah di dalam sana ada seorang bayi.
__ADS_1
*****
Bayu akhirnya mau juga mengajari Najma memasak. Rencananya Bayu akan mengajari Najma membuat masakan rumahan sederhana yang pasti semua Ibu rumah tangga bisa melakukannya. Sayur bening, itu masakan yang paling sederhana dan begitu mudah membuatnya. Mulai dari bumbu dan bahan-bahannya.
"Aku bantu kamu memotong sayurnya," ujar Bayu. Ia menuntun tangan wanita itu untuk memotong sayuran secara benar setelah melihat Najma nampak kikuk saat memegang pisau tajam.
“Apa ini sudah benar?" tanya Najma memastikan sayur-sayuran yang dipotongnya sesuai ukuran.
"Ini sudah lumayan. Aku akan mencuci sayurnya kamu potong bawangnya dulu." Sebenarnya Bayu tak yakin Najma bisa memotong bawang itu. Benar saja apa yang dipikirkannya tak lama kemudian Najma meringis, telunjuknya teriris pisau hingga berdarah.
Bayu menghampiri istri manjanya itu, dengan tanpa sungkan Bayu memasukkan telunjuk Najma ke mulutnya darahnya seketika berdesir aneh. Begitu pun dengan Najma. Ia mendongkak untuk menatap wajah Bayu karena pemuda itu lebih tinggi darinya.
"Ekhm...." keduanya terkejut melihat kehadiran tiba-tiba Pram. Najma nampak salah tingkah ditatap tajam oleh Pram. Ia merasa seperti istri yang sedang kepergok selingkuh, tapi selingkuh macam apa. Kedua pria yang bersamanya kini sama-sama suaminya. Meski pun secara agama ia bercerai dengan Pram, tapi ia tidak punya akta cerai secara hukum dari pria itu.
"Kalian sedang apa?" tanya Pram dengan memendam cemburu.
"Aku sedang belajar memasak tadi." Jawaban yang keluar dari mulut Najma membuat Pram geram, ia meraih tangan wanita itu dan menemukan luka di telunjuk Najma.
"Berapa kali aku bilang jangan pernah menyentuh dapur! ini telunjukmu luka!" Pram bersuara keras. Bayu sampai menahan napasnya.
"Luka kecil jika diremehkan bisa berakibat fatal."
"Kamu terlalu berlebihan ini hanya tergores pisau." Najma mengelus lengan Pram agar emosi pria itu tetap terkendali.
"Kamu bilang aku berlebihan. Kamu tidak tahu aku begitu mengkhawatirkan kamu. Jangan melakukan pekerjaan rumah aku tidak suka kamu melakukannya. Kamu harus ingat itu baik-baik!" Tekan Pram.
"Tapi aku ingin bisa masak. Jika kamu tidak ingin melihatku terluka carikan seorang guru masak yang handal untukku, jangan biarkan aku belajar memasak sendiri dengan cara sembunyi-sembunyi seperti ini."
"Aku lebih suka melihatmu ke Mal atau pergi ke salon untuk perawatan. Aku tidak keberatan jika kamu menghabiskan seluruh uang yang kuberikan. Kecuali melakukan pekerjaan rumah aku sungguh tidak menyukainya."
"Dia hanya memasak. Lagi pula itu bukan pekerjaan yang memerlukan tenaga besar. Apa yang salah dengan yang dilakukan Najma?” Bayu akhirnya buka suara. Najma terlihat menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan Bayu.
"Diam! Kamu tidak usah ikut campur." Pram membentak Bayu, ia dengan kasar menarik tangan Najma meninggalkan dapur. Bayu menghela napas, gerah ia melihat kelakuan pasangan itu.
__ADS_1
Kemarin Pram dengan kasar memarahi, bahkan sampai mendorong Najma hingga jatuh. Hari ini melihat Najma terluka sedikit, Pram bertingkah seolah luka kecil di jari Najma itu bisa membuatnya mati. Najma juga seperti terlihat tidak ambil pusing dengan apa yang terjadi kemarin. Wanita itu memang sudah terbiasa dengan segala tingkah Pram.
*****
Pram akan pergi keluar kota. Sebelum berangkat ia menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk memeluk dan mencium wanitanya. Tak lupa dengan pesan-pesan beruntunnya yang melarang Najma untuk melakukan ini dan itu.
"Baik-baik di rumah." Pram kembali mengecup bibir Najma.
"Dan jangan lupa tetap jaga hatimu untukku." Najma mengangguk.
"Dari tadi mengangguk terus. Kamu nanti ingin dibawakan oleh-oleh apa?"
"Aku hanya ingin kamu cepat pulang," ucap Najma, meski dirinya sudah dapat menebak waktu seminggu yang tercepat untuk Pram kembali ke rumah.
"Itu pasti. Aku tidak akan lama hanya seminggu." Pram berjanji. Najma lalu mengantar keberangkatan Pram sampai pintu depan. Pria itu akan diantar oleh Bayu ke bandara. Sebelum berpisah mereka masih menyempatkan diri untuk berciuman.
Kini di dalam mobil hanya ada Bayu dan Pram. Suasana kecanggungan menyelimuti dua laki-laki beda usia itu. Bayu merasa tidak enak, terlebih Pram yang beberapa hari ini memendam kesal dengannya. Bayu mengerti, Pram cemburu melihat kedekatannya dengan Najma.
"Aku harap kamu tidak jatuh cinta pada Najma," ucap Pram tegas, seolah tak menginginkan ada yang membantahnya. Bayu berdecih. Jatuh cinta dengan Najma wanita itu tidak masuk list istri idamannya. Cerewet, manja dan tidak bisa memasak.
"Saya sudah memiliki gadis yang saya cintai," sahut Bayu, teringat dengan pacarnya Elsa yang selalu ia hubungi meski hanya lewat telepon, video call serta pesan singkat.
"Baguslah. Cintai gadis itu dengan sepenuh hatimu. Jangan kamu cintai wanita milik lelaki lain." Pram menyeringai melihat ekspresi Bayu yang nampak tersinggung dengan ucapannya barusan. Tentu saja Bayu tersinggung, Pram seolah menyindir kalau dirinya ini perebut istri orang.
"Dan nanti setelah Najma sudah hamil kamu harus pergi. Aku akan memberikan bayaranmu,” ucap Pram lagi. Urat leher Bayu tegang saat Pram mengucapkan kalimat itu.
"Meski pun saya tidak menginginkan ini semua, tapi anak itu tetap darah daging saya. Bolehkan jika sesekali saya mengunjunginya." Bayu saat ini merinding membayangkan kalau Najma mengandung benihnya dan ia akan punya anak.
"Tidak. Anak itu milikku dan Najma. Kamu tidak boleh menampakkan wajahmu di depannya. Apa lagi sampai datang mengaku sebagai Ayah biologisnya. Aku akan memberimu bayaran mahal. Kamu seumur hidup tidak boleh menemuinya. Kamu harus melupakannya, anggap kamu tidak pernah memiliki anak dengan Najma."
Sekejam itukah Pram hingga tidak memperbolehkan seorang Ayah menemui anaknya sendiri. Sekeras apa pun hati Bayu, ia tidak mungkin melupakan darah dagingnya, walau ia tidak pernah menginginkan anak dari seorang wanita yang tidak dicintainya.
"Tapi kenapa saya tidak boleh menemuinya?" tanya Bayu, perasaannya campur aduk membayangkan kalau dirinya tidak akan pernah bisa melihat darah dagingnya bersama Najma.
__ADS_1
"Aku hanya ingin dia mengenal aku sebagai Ayahnya." Tekan Pram dengan sorot mata penuh ancaman, ia tidak main-main dengan ucapannya. Pram tidak ingin jika anak Najma nanti tahu kalau ia bukan ayah kandungnya, jalinan rumah tangga mereka pasti tidak akan harmonis.