Istri Titipan

Istri Titipan
Bab 46


__ADS_3

Isak tangis dari seorang balita memecah sunyinya malam di sebuah rumah, seorang lelaki terpaksa membuka matanya yang terasa berat. Setiap malam tangis si bocah kecil tidak pernah absen mengganggu tidurnya.


“Akela, kamu haus ya?” Bayu mengusap air mata yang membasahi wajah imut putrinya, lelaki itu beranjak dari tempat tidur membuatkan susu untuk anaknya.


Bayu mendudukkan Akela di pangkuannya, selama enam bulan ini ia menjalani peran sebagai ayah yang baik untuk putrinya. Najma yang tidak bisa menerima kematian Pram mengalami depresi berat, sehingga harus menjalani perawatan mental.


Bayu dengan kesadaran diri, meminta pada orang tua Najma agar dirinya saja yang merawat Akela dan orang tua Bayu pun setuju dengan keputusan Bayu tersebut.


“Sekarang tidur lagi,” ucap Bayu lembut, membantu putrinya untuk segera berbaring kembali.


Akela menatap Bayu dengan binar penuh cinta, andai ia bisa merangkai kata. Mungkin akan ada sederet kalimat panjang yang ia ucapkan untuk menggambarkan rasa cinta dan terima kasihnya kepada sang ayah.


“Tidurlah yang nyenyak sayang.” Bayu mengecup kening anaknya, lelaki itu kembali berbaring sambil memeluk tubuh mungil sang putri. Makhluk kecil yang begitu Bayu sayangi.


*****


Di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan nuansa putih, seorang wanita duduk dengan tatapan mata kosong. Wanita itu seolah tak memiliki gairah untuk melanjutkan hidupnya. Sesekali ia tertawa, dan terkadang juga menangis tanpa sebab.


Sepasang suami istri yang sudah berumur memasuki ruangan dimana wanita itu berada. Mereka adalah Risma dan Bagas. Sepasang suami istri yang sedang terluka batinnya melihat keadaan sang putri kesayangan seperti ini.

__ADS_1


“Najma....” Risma mendekat, mengusap kepala Najma dengan penuh kasih. Tak pernah ia bayangkan jika putrinya akan seperti ini hanya karena kehilangan seorang lelaki yang dianggap begitu penting dalam hidupnya.


“Sembuhlah Nak, jangan seperti ini. Mama mohon, bangkitlah dari ke terpuruk kan mu.” Mata tuanya nampak berkaca, sebentar lagi mungkin air matanya akan mengalir seperti anak sungai.


“Kamu tidak kasihan dengan Akela, dia butuh kasih sayangmu sebagai Ibunya,” ucap Risma, ia merangkum wajah Najma dengan telapak tangannya. Memaksa agar Najma mau menatap matanya.


“Najma, Pram bukanlah segalanya. Masih banyak orang-orang yang menyayangimu.” Najma masih tak merespons, wanita itu masih mengunci rapat mulutnya dengan tatapan kosong.


Bagas terlihat lelah dengan semua ini, pria itu mengambil handphonenya. Bagas berniat menunjukkan video Akela kemarin, sewaktu Bagas dan Risma menjenguknya. Akela menangis menanyakan sang Mama yang tidak pernah lagi dilihatnya semenjak enam bulan lalu.


Setelah ditunjukkan video itu, Najma mulai memperlihatkan respon nya. Bola matanya bergerak, mencermati video singkat itu.


Najma seperti menemukan titik cahaya setelah enam bulan lamanya tenggelam dalam kelamnya kesedihan. Air matanya meleleh, bibirnya yang terkatup mulai bergerak menyebut satu kata. “Anakku.” Disertai Isak tangis yang menyayat hati.


*****


“Akela jangan lari-larian nanti kamu jatuh nak,” ucap Bayu dengan nada khawatir, putri kecilnya begitu lincah ketika bermain membuat Bayu kadang kewalahan sendiri ketika menjaganya.


“Tidak jatuh Papaa....” sahutnya, seolah tidak peduli dengan kecemasan Bayu.

__ADS_1


Benar saja apa yang dikhawatirkan Bayu, tidak lama setelah itu terdengar suara jeritan tangis dari bocah kesayangannya. Bocah cantik itu jatuh tersungkur. Bayu lekas menghampiri putrinya, membujuk agar bocah itu segera menghentikan tangisannya.


“Apa Papa bilang. Ini akibatnya jika tidak menurut.” Bayu mengusap air mata yang membasahi wajah mungil Akela.


Dan Tanpa pernah Bayu pikirkan, sesosok wanita cantik yang teramat dikaguminya berjalan dengan terburu-buru ke arahnya. Dia adalah Najma yang sudah mampu keluar dari depresinya.


“Dia kenapa?” ucap Najma khawatir. Bayu masih dibuat kaku dengan keterpanaannya.


“Akela, anak Mama.” Najma menghujani wajah anaknya dengan kecupan penuh rasa rindu, ia mengambil alih tubuh mungil Akela dari Bayu. Betapa sayang ia dengan bocah cantik itu.


“Najma. Kamu....” ucapan Bayu langsung dipotong oleh Najma.


“Aku sudah sembuh Bayu.”


Bayu mengangguk kaku, ia menatap Akela yang nampak tenang dalam dekapan Najma. Akela juga sepertinya rindu dengan Najma.


“Terima kasih sudah merawat Akela selama aku sakit,” ucap Najma tulus, setelah terdiam cukup lama. Bayu menghela napas panjang. Ucapan terima kasih Najma barusan terasa aneh di telinganya.


“Tidak perlu berterima kasih. Akela juga anakku, sudah kewajibanku untuk merawatnya,” kata Bayu. Mata lelaki itu memancarkan sinar cinta yang teramat tulus ketika ia menatap Najma. Bisakah sekali ia berjuang untuk memiliki wanita itu seutuhnya.

__ADS_1


__ADS_2