Istri Titipan

Istri Titipan
Bab 4


__ADS_3

Hari pertama Najma pergi mengajar dirinya masih baik-baik saja, ia tidak menunjukkan gelagat apa pun. Najma memang tidak ada rencana untuk bertemu dengan Pram, setidaknya dalam waktu dekat ini. 


“Bu Najma belum pulang?” tanya salah satu rekan kerjanya, melihat Najma masih berkutat di mejanya memeriksa hasil tugas yang ia berikan pada siswanya tadi.


“Setelah selesai memeriksa tugas ini akan pulang. Saya malas kalau harus dibawa pulang ke rumah,” ucap Najma. Ayahnya tadi pagi mengatakan malam ini akan ada makan malam bisnis di rumahnya.


“Saya pulang duluan ya. Hati-hati loh Bu. Tau sendiri kan sekolah kita ini bagaimana,” ucap rekannya menakuti-nakuti. Najma mengedikkan bahunya, memang tersiar rumor kalau sekolah tempatnya mengajar sering mengalami kejadian astral.


Najma kembali fokus dengan kertas-kertas di depannya. Mengerjakan ini semua lebih baik, ketimbang hanya berdiam diri di rumah dan membuatnya selalu ke pikiran dengan rumah tangganya yang berantakan.


*****


“Dandanlah yang cantik sayang. Rekan-rekan bisnis Ayahmu malam ini banyak yang masih muda. Siapa tahu ada yang tertarik denganmu,,” ucap Risma, ia berharap Najma segera melupakan Pram.


“Aku sudah menikah Ma.” Najma protes, Risma seolah menganggapnya perawan tua yang tidak bisa mencari jodoh sendiri sehingga harus dicarikan oleh orang tuanya.


“Heleh.... Pram itu tidak bisa membahagiakanmu. Mama tidak mau tahu, malam ini kamu tidak boleh terlihat kucel di depan rekan bisnis Papamu.” Najma memutar bola matanya jengkel, sejak kapan ia pernah tampil kucel di depan orang banyak. Meski pun Najma tidak berdandan, ia akan tetap terlihat cantik.


Makan malam bisnis. Dimana pembicaraan yang dibahas tidak jauh-jauh dari bisnis. Najma beberapa kali membuang napas kasar, ia benar-benar bosan terlebih ada seorang pria yang terang-terangan menatapnya penuh minat. Namanya Ricardo, pria berdarah Eropa dengan wajahnya yang rupawan. Jika Najma belum punya suami, mungkin dirinya akan tertarik dengan pria itu.


“Putri anda Mr?” tanya Ricardo pada Bagas, ayah Najma. Bagas menyadari ketertarikan Ricardo pada putrinya. Bagaimana tidak Najma memiliki mata bulat yang sangat menawan, dibingkai dengan bulu matanya yang lentik. Ditambah wajah cantiknya yang mampu menipu seseorang sehingga tidak dapat menebak berapa usia yang sesungguhnya.


“Iya, ini Najma putri kami satu-satunya,” sahut Risma melihat Bagas yang belum menjawab pertanyaan Ricardo.


“Well, saya baru tahu kalau anda memiliki seorang putri yang sangat cantik. Apakah anda keberatan jika aku berkenalan dengan putri anda Mrs?” tanya Ricardo pada Risma, matanya menatap lekat Najma. Ia ingin berkenalan lebih jauh dengan wanita itu.


“Aku sudah punya suami,” ucap Najma. Membuat pria bernama Ricardo itu terkejut mendengar pengakuannya. Ricardo tidak menyangka kalau Najma yang memiliki penampilan layaknya seorang gadis ternyata sudah bersuami.


*****


Najma melangkah dengan anggun menuju kelas tempatnya mengajar. Ketika tiba di kelas dirinya disambut riuh oleh para siswanya. Tentu saja, Najma merupakan salah satu guru idola, selain cantik dia juga ramah pada para siswanya. Najma tidak pernah membeda-bedakan, mau siswanya anak orang kaya hingga orang biasa-biasa saja. Najma tidak pernah pilih kasih.


Najma memegang mata pelajaran ekonomi, ia selalu mengajari para muridnya dengan sabar sampai mereka benar-benar mengerti. “Akhirnya Ibu masuk juga ke kelas kami. Kemarin itu waktu ibu tidak hadir, mata pelajaran ekonomi digantikan sama Pak Dayat yang killer itu,” celutuk salah satu siswanya.


“Benar Bu. Udah tua, jelek, suka marah-marah lagi.” Yoga si ketua kelas membenarkan, ia termasuk murid yang ngefans berat sama Bu guru cantiknya itu.


Inilah yang paling Najma sukai, melihat canda tawa para siswanya sedikit mampu menghapus kesedihan di hatinya, ia jadi teringat dengan masa mudanya dulu.

__ADS_1


“Sudah. Kalian tidak boleh seperti itu sama orang tua. Bagaimana pun dia itu tetap guru yang harus kalian hargai. Sekarang keluarkan buku kalian kita mulai pelajarannya,” ucap Najma.


Matanya saat ini menyapu seisi kelas, Najma selalu memastikan kalau tidak ada muridnya yang nampak lesu dan tidak bersemangat. Apa lagi ini jam terakhir, dimana biasanya para murid sangat sulit untuk berkonsentrasi.


Setengah jam Najma fokus mengajar, layar ponselnya tiba-tiba menyala, tertera nama ibu mertuanya di sana. Ia keluar sebentar untuk mengangkat telepon dari Ibu mertuanya.


"Dasar istri tidak berbakti! tiga hari Pram dirawat di rumah sakit kamu sama sekali tidak menjenguknya. Bahkan sampai hari ini kamu tidak pulang-pulang ke rumah!" Najma sedikit menjauhkan telepon itu dari telinganya. Baru mengangkat telepon ia langsung menerima kalimat pedas dari mertuanya.


"Ibu."


"Setelah selesai mengajar kamu harus pulang. Nanti supir akan menjemputmu!" Selalu begitu, Ibu mertuanya tidak pernah berbicara lembut dengannya.


"Baik Ibu," ucap Najma lirih, ia memang ingin melihat keadaan Pram. Selama ini ia tidak memiliki kesempatan untuk Najma bertemu Pram.


Jam belajar mengajar sudah habis. Para siswa yang merasa suntuk bersorak dengan girang saat mendengar bel tanda pulang berbunyi. Najma menatapnya sambil geleng-geleng kepala, kelakuan anak-anak SMA ada-ada saja.


"Pelajaran hari ini berakhir. Sampai jumpa besok. Jangan lupa belajar dan kerjakan PR kalian." ujar Najma, si guru cantik idola para siswa, bahkan di antara mereka ada mengkhayal seandainya guru mereka itu masih gadis pasti mereka akan berlomba untuk merebut hatinya.


Setelah membereskan barang-barangnya Najma segera meninggalkan area sekolah. Ternyata Bayu sudah menunggunya, “Bayu jalankan mobilnya agak cepat ya,” ujar Najma, ia ingin segera melihat kondisi Pram.


“Baik Bu,” ucap Bayu, sebagai bawahan ia selalu mematuhi apa yang dikatakan oleh Najma.


"Datang juga akhirnya kamu. Cepat hampiri Pram sana!" Najma mengurut dadanya, baru saja ia menginjakkan kakinya memasuki rumah ia langsung kena semprot Ibu mertuanya.


Najma menuju kamarnya dan Pram, ia melihat suaminya sedang istirahat. Najma menyentuh wajah suaminya yang terlihat pucat. Sudah lama ia tidak memperhatikan wajah Pram ketika tidur seperti ini.


Merasa tidurnya terganggu Pram membuka matanya, ia tak mempercayai penglihatannya. Najma istrinya kini berada didekat-Nya, tersenyum sambil mengusap wajahnya.


"Najma. Benarkah ini kamu?" Pram melihat wanita itu mengangguk, ia langsung memeluk istrinya dengan penuh kerinduan.


"Maafkan aku sayang. Maaf karena selama ini aku mengabaikanmu. Kumohon jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu." Najma mengangguk, ia membalas pelukan hangat suaminya, tanpa mereka sadari ada yang memperhatikan mereka dengan tatapan sinis.


“Kamu baik-baik saja kan?” tanya Najma, ia khawatir melihat wajah Pram yang nampak pucat. Najma melepaskan pelukannya, demi bisa melihat wajah orang yang dicintainya


“Aku baik-baik saja selama kamu masih di sisiku. Jangan pernah tinggalkan aku lagi,” ucap Pram, semenjak pandangan pertama ia memang sudah tergila-gila pada wanita yang kini menjadi istrinya itu.


*****

__ADS_1


Pram memaksa untuk bertemu orang tua Najma, ia meyakinkan kalau dirinya tidak apa-apa. Pram tidak mau jika masalah ini semakin berlarut-larut, ia ingin berbaikan dengan mertuanya. Kini mereka berdua sudah berada di kediaman orang tua Najma, kedatangan Pram tentu saja ditolak oleh orang tua Najma.


"Untuk apa kamu kesini lagi? lebih baik kamu ceraikan anak saya! kamu hanya membuatnya menderita saja," kata Ibu Najma, ia murka Melihat Najma pulang ke rumah dengan membawa Pram.


"Mama," ucap Najma.


"Diam Najma! Mama tidak rela kamu kembali dengan Pram. Dia itu mandul, dia tidak bisa memberikan kamu anak. Kamu tidak akan hidup bahagia jika kembali dengannya."


"Benar Najma. Papa sudah tua. Papa ingin menggendong cucu Papa sendiri, kamu anak kami satu-satunya hanya kamu yang bisa memberikan kami cucu untuk menjadi penerus keluarga kita nanti."


"Kami bisa memiliki anak angkat. Aku bahagia hidup bersama Pram," ucap Najma membela suaminya yang dari tadi terus-terusan dipojokkan.


"Aku sadar dengan kekurangan yang aku miliki, tapi aku dan Najma saling mencintai. Jadi bisakah kalian merestui kembali pernikahan kami?" Pram akhirnya angkat bicara.


"Jawabannya kami tidak merestui pernikahan kalian lagi. Najma jika kamu memilih untuk melanjutkan pernikahanmu bersama Pram jangan pernah injakkan kakimu lagi ke rumah ini!" kata Ayah Najma penuh penekanan. Najma langsung terlihat pucat. Pram menatap istrinya dengan khawatir, selama ini Najma sangat dekat dengan ayahnya.


"Maafkan aku Ma, Pa. Aku tetap memilih untuk melanjutkan pernikahanku bersama Pram, aku mencintainya," ucap Najma sambil menangis, ini terlalu berat baginya harus memilih antara orang tua dan suaminya, tapi cinta yang ia miliki telah membutakan semuanya.


Ia rela menghabiskan seluruh sisa hidupnya bersama Pram, meski pun nanti ia tidak akan pernah merasakan bagaimana mengandung dan melahirkan anaknya sendiri. Itu konsekuensinya jika tetap memilih hidup bersama Pram, dan Najma menerima semuanya atas dasar rasa cinta di hatinya.


*****


Pernikahan mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya, Pram kembali bersikap mesra. Percintaan mereka yang semula datar-datar saja menjadi lebih menggairahkan. Najma merasa ia seperti menjadi pengantin baru kembali. Pram sekarang jadi lebih memanjakan dan perhatian padanya.


"Hari ini mau jalan-jalan?" tanya Pram, mengingat ini minggu dan Najma tidak mengajar.


"Tidak, aku ingin di rumah saja," ucap Najma, mereka berdua kini tengah menonton televisi di ruang keluarga.


Tiba-tiba sebuah iklan di televisi yang menayangkan seorang Ibu hamil membuat wajah Najma berubah murung, wanita itu menatap perutnya. Pram menyadari perubahan istrinya, pria itu mengusap kepala istrinya dengan lembut.


"Maafkan aku." Najma mengerjap, ia menatap Pram mencerna permintaan maaf Pram.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku mencintaimu," ucap Najma, mengecup mesra bibir suaminya. Ia tidak mau membuat Pram merasa bersalah.


"Aku tahu kalau kamu sangat ingin hamil," ujar Pram. Wanita mana yang tidak menginginkan anak dari rahimnya sendiri.


"Sudahlah. Bukankah kita berdua sudah berjanji untuk tidak membahas ini. Lagi pula kita nanti akan mengadopsi anak angkat," kata Najma.

__ADS_1


"Semua salahku, jika kamu ingin meninggalkan aku tak mengapa." Pram berucap pasrah, sadar jika ia meminta Najma tinggal dengannya wanita itu tak akan bahagia.


"Mas kamu tidak salah apa pun. Lagi pula semua orang tidak ada yang menginginkan dirinya mandul." Najma segera menenggelamkan diri ke dalam pelukan suaminya, sungguh ia tak ingin membahas masalah anak yang mungkin akan melukai hati suaminya.


__ADS_2