Istri Titipan

Istri Titipan
Bab 37


__ADS_3

Setelah mendapat penolakan dari Najma, Bayu terlihat murung seharian ia lebih banyak diam. Hal itu tak luput dari perhatian Bapaknya, baru kali ini Wardi melihat Bayu patah hati.


"Sudahlah Bayu, cinta tidak bisa dipaksakan. Kalau pun kalian memang jodoh, sesulit apa pun pasti akan ada jalan untuk bersatu," ucap Wardi, sambil menepuk bahu anak tertuanya itu.


"Iya Pak aku tahu, tapi apakah salah jika aku mencintainya?" Bayu memendam kesal di hatinya, keluarganya tidak ada yang mendukung ia bersama Najma.


Malahan setelah ia berpisah dengan Najma, orang tua Bayu meminta agar Bayu segera menikah dengan mantan pacarnya dulu.


"Cintamu akan salah jika kamu memaksakan kehendak, dia tidak mencintaimu. Sadarlah Bayu, buka matamu Najma tidak akan pernah bisa mencintaimu. Sebaiknya kamu turuti saran Bapak." Bayu menghela napas, wajah lelaki muda itu nampak sangat gusar.


"Aku ingin anakku," ucap Bayu, iya. Salah satu alasan kuat Bayu tidak mau bercerai dengan Najma karena anaknya, selain dari ia yang telah jatuh cinta pada wanita itu.


"Jangan bodoh Bayu, kamu ingin membuat wanita itu gila karena kamu mengambil anaknya. Ingat tujuan kalian menikah dulu untuk apa, dia hanya menginginkan keturunan darimu," ucap Wardi sarkas, Bayu langsung teringat dengan perjanjian waktu itu.


Seharusnya sudah lama ia bercerai dengan Najma, hanya saja ia selama ini selalu menunda perceraian mereka. Dan kini Bayu sepertinya tidak akan bisa menghindar lagi.


*****


Keluarga Bayu bisa dibilang sebagai keluarga yang harmonis, mereka selalu ada waktu untuk kumpul keluarga. Seperti malam ini, keluarga Bayu tengah berbincang hangat membahas kejadian yang dialami siang tadi.


Akela kini sedang main dengan Gilang, kedua bocah itu asik dengan dunia mereka sendiri. Menjadi anak kecil memang menyenangkan, anak kecil tidak akan memiliki masalah serumit orang dewasa.


"Kak nanti dede bayinya diajak main kesini lagi ya," ucap Gilang, karena besok Najma sudah pulang. Padahal ia masih belum puas main dengan keponakan lucunya.

__ADS_1


"Itu pasti, dede bayi pasti akan main kesini lagi," ujar Najma, Bayu sudah setuju mereka bercerai, meski pun sebelumnya Bayu sudah menawar dengan berbagai macam alasan.


Jujur Najma memang kasihan dengan Akela, tapi mau bagaimana lagi ia juga tidak bisa hidup bersama dengan Bayu. Lelaki itu masih muda sementara di luaran sana banyak perempuan cantik dan tentunya begitu menggoda, Bayu bisa saja terpikat pada perempuan itu.


Najma tidak mau hidup berumah tangga yang bertujuan untuk mendapatkan ketenangan justru membuat ia tersiksa karena pasangan hidupnya nanti mabuk mencari kesenangan di luar rumah. Umurnya selalu bertambah, tidak selamanya ia bisa terlihat cantik.


Saat ia sudah mulai menua, Bayu tentunya akan berpaling darinya. Saat ia nanti berusia empat puluh tahun, Bayu pada saat itu baru menginjak usia dua puluh delapan.


Bayu pasti akan malu memiliki istri tua sepertinya, Najma yakin saat ia menginjak usia empat puluh tahun maka perubahan pada wajahnya akan terlihat belum lagi rambut putih yang pastinya akan tumbuh di kepalanya.


"Najma, sering-seringlah mengajak Akela main kesini. Kami pasti akan sangat merindukannya," ujar Ningsih, ia baru saja senang dapat bertemu dengan cucu pertamanya tapi sebentar lagi jarak akan kembali membuat ia dan cucunya berjauhan.


"Iya Mbak, doakan agar Akela selalu sehat," ucap Najma, ia akan membuat Akela tetap dekat dengan keluarga Bayu.


Menjadi orang tua tunggal adalah keputusan yang dipilih Najma, meski selama ini ia hidup dengan kedua orang tua lengkap yang selalu melimpahi ia dengan kasih sayang. Terlebih kasih sayang dari sang Ayah, tapi Najma berjanji akan merawat putrinya dengan baik dan selalu memastikan kebahagiaan putrinya.


*****


“Apa kabar mantan? Sepertinya nasibmu selama ini kurang bagus.” Endah mencibir, senyum penuh keangkuhan terukir di bibirnya yang kini dipoles dengan warna lipstik merah darah.


“Kamu apa kan Pram selama ini?” Seno menatap Endah dengan nyalang.


“Kamu bertanya aku apa kan dia? Dari si Pram masih bayi aku yang merawatnya, jadi terserah aku mau apa kan dia." Endah sama sekali tak terpengaruh dengan tatapan tajam mantan suaminya. Seno selama mereka menikah pria itu sering kali memukulinya, ia selalu dijadikan pelampiasan amarah Seno.

__ADS_1


“Kamu menjadikan dia alat untuk balas dendam denganku?” Desis Seno, Endah berdecak.


“Kalau iya memang kenapa? Kamu itu sudah banyak membuat luka dalam hidupku! Kamu pikir aku mau merawat Pram secara cuma-cuma. Aku menjadikan dia bonekaku agar bisa kuperalat untuk membalaskan rasa sakit hatiku padamu,” desis Endah. 


Dulu sewaktu berpacaran dengan Seno, Endah tak tahu kalau Seno sebenarnya sudah beristri ketika sudah mengetahui kalau Seno sudah punya istri dan sebentar lagi akan punya anak, Endah mengakhiri hubungannya dengan Seno. Namun malang, ia hamil akibat hubungan terlarang yang terjadi di antara ia dan Seno yang memaksanya mau tak mau meminta pertanggungjawaban pria itu, meski harus menjadi istri kedua.


Perlakuan Seno setelah menikah pun berubah pria itu sering main tangan tak peduli ia pada saat itu tengah hamil. Endah beranggapan kalau perubahan Seno terjadi lantaran dihasut oleh istri pertama pria itu karena Seno waktu itu lebih banyak menghabiskan waktu dengan istri pertamanya ketimbang Endah. Padahal sebelum menikah Seno pria yang lembut.


Sakit hati sering diperlakukan kasar, Endah berpikir untuk menemui Wulandari istri pertama Seno. Wulandari yang waktu itu baru saja melahirkan Pram shock dilabrak oleh istri mudanya Seno, ia sakit hati dikhianati oleh pria yang dicintainya. Karena hidup menanggung derita, perlahan fisik Wulandari melemah, ia jatuh sakit dan tak kunjung sembuh.


Pram pun diambil oleh Endah dengan paksa, Seno waktu itu justru membela istri mudanya. Seno menjadikan alasan sakitnya Wulandari sebagai pembenaran atas perbuatan Endah mengambil Pram yang waktu itu masih bayi untuk dirawat oleh istri mudanya. Wulandari yang semakin sakit hati akhirnya menghembuskan napas terakhirnya beberapa hari setelah Pram diambil darinya.


Endah pikir setelah kematian Wulandari, ia bisa seutuhnya memiliki Seno. Namun ternyata ia salah, Seno makin menjadi memukulinya, tak hanya itu Seno juga sering mabuk-mabukan dan main perempuan.


“Tak seharusnya kamu memperalat Pram!” Seno nampak frustrasi dibenci oleh anaknya Sendiri.


“Siapa suruh kamu meninggalkan Pram denganku demi bisa bersenang-senang dengan duniamu. Padahal kamu sendiri tahu Pram bukan anak kandungku! Kamu tahu? Awalnya aku memang menyayangi Pram tapi semua berubah semenjak kecelakaan yang menimpa Putri.” Sekilas wajah Endah terlihat sedih mengingat putrinya yang meninggal.


“Putri? Dimana dia sekarang?” Endah mendengus saat Pram menanyakan anak mereka.


“Putri sudah meninggal karena menyelamatkan Pram! Semenjak itu aku mulai menghancurkannya.” Endah tersenyum sinis, dulu ia berniat membuat hidup Pram sehancur-hancurnya. Rencananya itu berhasil melihat betapa bejatnya kelakuan Pram dulu, namun sayang rencananya itu gagal setelah Pram mengenal Najma dan Pram berubah drastis. Hanya satu didikannya yang tetap bertahan, Pram selalu menuruti apa katanya.


Tanpa diketahui oleh Seno dan Endah, Pram menguping pembicaraan mereka dari tadi. Hatinya miris sekali, orang yang paling ia hormati ternyata seperti itu. Selama ini ia tulus menyayangi wanita yang ia kira sebagai ibu yang sudah melahirkannya.

__ADS_1


Masalah Putri adiknya, dialah dulu penyemangat Pram untuk sembuh dari penyakit mentalnya. Pram begitu menyayangi Putri, ia selalu marah setiap kali ada menyakiti adik kesayangan itu. Meninggalkan Putri membuat Pram mengalami depresi apa lagi Putri meninggal karena menyelamatkannya, terlebih Endah selama setahun sempat berubah menjadi dingin.


Dengan lesu Pram meninggalkan kediaman Endah, ia membawa kakinya melangkah ke satu tujuan. Pram ingin ke makam adiknya yang sudah lama tidak ia kunjungi.


__ADS_2