
Najma menatap rumah orang tuanya dari dalam mobil, ia merindukan mereka. Tapi ia takut untuk menyapa atau sekedar bertatap muka, orang tuanya marah atas pilihannya kali ini. Bagaimana nanti ia menjelaskan tentang kehamilannya yang sebentar lagi akan terjadi, orang tuanya sudah mengetahui kondisi Pram. Andai ia tidak menuruti permintaan Pram hingga menambah masalahnya menjadi semakin rumit.
Najma memijit pelipisnya, haruskah ia mengakhiri kegilaan ini sebelum semuanya terlambat? Tak mengapa jika ia tidak memiliki anak. Najma merasa berdosa telah mengecewakan orang tuanya.
"Berapa lama lagi kita harus disini?" Suara Bayu mengagetkan Najma yang tengah melamun, ia melirik sekilas ke arah Bayu yang berada disebelah-Nya.
"Kita pulang," sahut Najma dingin.
"Jika aku boleh tau, kenapa selama beberapa bulan ini kamu tidak pernah lagi menginap di rumah orang tuamu?" Najma menyorot Bayu dengan tajam, ia kesal dengan Bayu yang terlalu ingin tahu tentang masalahnya.
"Tidak usah bertanya. Sebaiknya kamu jalankan mobilnya. Aku ingin segera istirahat." Bayu menghela napas melihat Najma yang bersikap ketus padanya. Dalam perjalanan pulang mereka tidak saling bicara. Bayu hanya diam sesekali melirik Najma yang sepertinya mulai mengantuk.
Ketika mereka sampai di rumah wanita itu sudah tertidur dengan nyenyak. Bayu membangunkan Najma seperti biasa karena ini bukan untuk pertama kalinya Najma tertidur di mobil, tapi tidak ada tanda-tanda kalau wanita itu akan segera bangun dari tidur nyenyaknya.
Bayu akhirnya memilih untuk memperhatikan wajah wanita itu, ia berpikir kenapa Pram bisa begitu mencintai Najma sedangkan tidak ada yang spesial dari wanita ini selain dari kecantikan yang dimilikinya. Dan Bayu bukan tipe laki-laki yang mencintai seorang wanita hanya karena fisiknya. Bayu lebih suka dengan gadis desa yang tidak tahu berdandan dan memiliki sifat lemah lembut.
"Najma, bangun." Ia kembali mencoba membangunkan wanita itu, usahanya berhasil mata wanita itu perlahan terbuka.
"Kita sudah sampai," ujar Bayu. Najma mengangguk kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul. Bayu keluar lebih dulu untuk membukakan pintu mobil untuk wanita itu.
"Bayu bisa kamu keluar lagi untuk membelikan obat sakit kepala," kata Najma.
"Kamu sakit?" Bayu menatap Najma dengan khawatir, ia meletakan punggung tangannya di dahi wanita itu terasa hangat saat kulitnya bersentuhan.
"Aku merasa sedikit pusing."
"Sebaiknya kamu langsung istirahat, aku akan keluar membeli obatnya," kata Bayu. Najma mengangguk ia menatap kekhawatiran yang terpancar di mata Bayu. Padahal selama ini Bayu dikenal sebagai orang yang cuek.
*****
Pram menikmati secangkir kopi di sebuah cafe, di luar sedang hujan. Ia yang kebetulan duduk di samping jendela menatap rintik hujan yang berjatuhan ke tanah. Ingatannya melayang pada kejadian belasan tahun silam.
Pram yang waktu itu memakai seragam putih abu-abu terus mengumpat kesal dengan turunnya hujan sementara Ibunya belum datang juga menjemputnya. Ia berteduh di halte sekolah. Pram benar-benar benci dengan hujan. Hingga tatapannya tertuju pada seorang gadis memakai seragam yang sama seperti dirinya.
Gadis itu mengulurkan tangannya, tersenyum tipis saat tetesan air hujan mengenai telapak tangannya. Matanya terlihat bersinar, ia terlihat begitu mengagumi setiap tetesan air hujan yang jatuh.
Sudah lebih dari setengah jam, hujan bukannya berhenti malah semakin mengguyur bumi dengan deras. Pram masih belum mengalihkan tatapannya dari gadis itu. Bahkan ia enggan untuk berkedip, ia seolah takut jika nanti ia berkedip maka gadis itu akan hilang dari pandangannya.
Gadis itu mulai memeluk tubuhnya. Pram mengernyit, seperti gadis itu mulai kedinginan. Pram melepaskan jaketnya, ia mendekati gadis itu tanpa bicara menutupi tubuh gadis itu dengan jaketnya.
__ADS_1
Gadis yang tidak Pram ketahui namanya itu nampak terkejut dengan tindakan Pram yang tiba-tiba. Ia menatap Pram dengan sedikit takut saat menyadari kalau lelaki ini Kakak kelasnya.
"Sepertinya kamu kedinginan pakai saja jaketku," ucap Pram dengan lembut, dengan berani mencubit pipi gadis itu yang terlihat memerah sehingga membuatnya gemas.
"Siapa namamu?" Gadis itu menggigit bibirnya, ia terlihat ragu untuk menyebut namanya. Gadis itu memilih untuknya memainkan jari-jarinya yang terasa dingin. Ia sangat terkejut ketika Pram menggenggam kedua tangannya.
"Siapa namamu?" tanya Pram dengan sedikit salah tingkah karena pertanyaan pertamanya tadi tidak mendapat jawaban. Bibir gadis itu terlihat bergerak ia sepertinya ingin bicara namun masih enggan mengeluarkan suaranya.
"Najma," ucapnya kemudian. Pram tersenyum lebar ia menatap wajah gadis yang telah menawan hatinya itu, semenjak itu Pram berhenti membenci hujan. Karena hujan telah mengenalkan ia pada seseorang yang kemudian menjadi cintanya.
Pram meringis mengingat pertemuan pertamanya dan Najma. Ia kembali menyeruput kopinya. Rasa pahit dan manis menyatu dengan lidahnya saat meminum cairan berwarna hitam itu. Pram begitu menyukai kopi sementara Najma tidak menyukai minuman itu sehingga stok kopi tidak pernah tersedia di dapur Pram. Najma akan cerewet jika melihat Pram minum kopi.
"Pram...."
Deg.....
Pram menegang mendengar suara itu, ia mendongkak menatap siapa yang menyebut namanya. Jantungnya berdetak kencang melihat orang yang paling tidak ingin ia temui. Orang itu melayangkan tatapan penuh kerinduan padanya.
"Apa kabar kamu nak?" Pram mendengus.
Orang itu masih menganggap ia anak rupanya, "saya harus pergi," kata Pram dengan acuh berniat untuk pergi dari tempatnya, tapi orang itu menahannya agar ia tetap di tempat.
"Aku merasa kalau aku sudah tidak memiliki Ayah." Pria itu menghela napas lelah, menatap Pram dengan putus asa. Semua salahnya sehingga ia harus dibenci oleh anak kandungnya sendiri.
"Bagaimana kabar Ibumu?" Ia memilih untuk menanyakan mantan istrinya. Pram berdecih sinis.
"Ibu baik, hari tuanya begitu bahagia. Hidup Ibu digelimangi banyak harta, dia masih cantik seperti saat kamu meninggalkannya. Sekarang Ibu memiliki banyak teman tidak seperti saat bersamamu dimana pada saat itu Ibu hanya dijadikan bahan hinaan."
Pram menatap pria di depannya dengan rendah, tidak ada lagi sosok pria gagah yang dulu sering ia lihat. Yang ada kini hanya sosok pria tua dengan banyak keriput di wajahnya, serta tatapan mata yang menunjukkan kesedihan.
"Ayah sudah tua," ujar pria itu.
"Aku tahu." Pram segera memotong ucapan Ayahnya. Pria itu menatapnya dengan sorot kecewa melihat reaksi dingin yang ia berikan.
"Ayah ingin berbicara penting denganmu nak."
"Pasti itu tidak terlalu penting untukku. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk berbicara dengan pria tua sepertimu."
"Tunggu, jangan pergi dulu nak. Ayah ingin bicara mengenai hubungan antara kamu dan Ibumu." Tatapan pria tua itu terlihat memohon agar Pram bersedia mendengar penjelasannya. Ia menghela napas lega saat Pram memilih untuk tetap di tempatnya.
__ADS_1
"Mungkin ini terlalu berat untukmu nak tapi inilah faktanya. Sebenarnya kamu itu bukan anak kandung Ibumu."
Mata Pram seketika membulat, ia bukan anak kandung Ibunya. Tidak mungkin, selama ini wanita itu selalu menyayangi dirinya dengan sepenuh hati. Wanita itu juga yang merawatnya dari ia masih bayi. Membesarkannya dengan susah payah walau pada saat itu ia memiliki suami yang kasar dan suka bermain perempuan.
"Berarti kamu juga bukan Ayahku," kata Pram, hatinya masih tidak percaya dengan ucapan pria itu.
"Tidak. Kamu anak kandungku, tapi wanita itu bukan Ibu kandungmu. Kamu hanya anak tirinya."
"Berhenti menjelek-jelekkan dia. Aku tahu kamu dari dulu selalu ingin membuat Ibu menderita. Kini kamu mengatakan dia bukan Ibu kandungku, apa maksud dari kamu mengatakan hal itu!" Ucap Pram dengan tajam. Hatinya yang sudah lama membenci Ayahnya semakin panas mendengar cerita bohong dari pria itu.
Jika Endah bukan Ibunya, bagaimana mungkin wanita itu masih merawatnya dengan kasih sayang. Sementara dulu Ayahnya selalu memukul Ibunya. Bahkan sampai rela mengorbankan tubuhnya sendiri asal Ayahnya tidak menumpahkan amarah pada Pram yang dulunya merupakan anak bandel.
Pram masih ingat ketika dirinya dulu kedapatan bolos, Ayahnya dipanggil untuk menghadap gurunya ke sekolah. Ayahnya marah besar ketika pulang ke rumah ia melempar Pram menggunakan pisau, pada saat itu Ibunya yang melihat kejadian langsung memeluk Pram sehingga pisau itu mengenai punggung Ibunya. Jadi rasanya tidak mungkin jika wanita itu bukan Ibu kandungnya.
*****
Bayu hendak tidur setelah bercinta dengan Najma, namun suara wanita itu mengganggunya. “Bayu kamu bisa keluar carikan kelapa muda untukku?”
“Ini sudah larut malam,” sahut Bayu.
“Tapi aku pengen banget Bayu. Please, carikan ya.” Bayu menghela napas panjang. Susah kalau dekat dengan wanita yang banyak mau kaya Najma ini.
“Besok saja.” Najma berdecak kesal, ia menarik tangan Bayu dan menggoyangkannya seperti anak kecil yang minta mainan baru pada ayahnya.
“Bayu .... aku maunya sekarang. Kamu Carikan.” Bayu nampak jengkel dengan rengekan Najma, ia bukan Pram yang tahan dengan wanita cerewet seperti Najma.
“Iya, aku akan carikan,” ucap Bayu, ia beranjak untuk memakai bajunya. Jika orang lain yang meminta Bayu tidak akan menurutinya. Bagaimana pun juga ia masih bekerja untuk wanita itu.
"Sekalian aku juga mau jagung bakar," ucap Najma lagi. Bayu memejamkan matanya menahan rasa kesal yang menggelegak, ingin ia tenggelamkan saja wanita ini.
"Apa lagi selain itu?" nada bicara Bayu terdengar ketus, pemuda yang selalu menjaga image sopannya itu sebelum menikah dengan Najma kini menunjukkan sifat aslinya. Bayu tidak suka disuruh-suruh.
"Itu saja Bayu," ucap Najma dengan wajah tertekuk cemberut, sikap yang ditunjukkan Bayu membuatnya makan hati, entah sejak kapan perasaan Najma jadi sensitif seperti ini. Tanpa diminta air mata jatuh ke pipinya yang putih.
Ketika berbalik, Bayu terkejut mendapati Najma menangis. "Kamu kenapa?" tanya Bayu, ia hendak menghapus air mata di pipi Najma, namun wanita itu dengan cepat menepis tangannya.
"Aku tidak apa-apa." Najma menyahut dengan suara serak. Bayu yang memang sejatinya bukanlah orang yang peka tentu tidak menyelidiki terlalu jauh penyebab tangisan Najma.
Tanpa repot-repot meminta Najma untuk menghapus air matanya, Bayu segera keluar untuk mencari apa yang diminta wanita manja itu barusan.
__ADS_1