Istri Titipan

Istri Titipan
Bab 28


__ADS_3

Siang ini Najma tengah asik bersantai di depan televisi, menonton acara talkshow favoritnya. Tangannya sesekali mengusap perutnya, ketika si jabang bayi menendang. Najma sudah tahu jenis kelamin calon bayinya, dari hasil USG bayi yang di kandungnya perempuan.


Najma makin tak sabar untuk segera berjumpa dengan bayinya, kelak akan ia dandani anak perempuannya agar terlihat semakin imut. Najma berkhayal, ia dan anaknya nanti akan memakai pakaian serta aksesoris yang sama. Putrinya terlahir mewarisi garis kecantikannya dan akan menjadi rebutan seperti dirinya dulu.


Khayalan indahnya pecah saat ada suara ribut-ribut di depan, seorang asistennya tergopoh-gopoh menghampiri. “Bu ada perempuan ngamuk-ngamuk di luar. Dia mau ketemu sama Ibu.” Najma mengernyit dalam.


“Siapa?” Tanyanya.


“Saya tidak kenal Bu, belum pernah lihat wajahnya. Apa sebaiknya diusir saja? takutnya kalau Ibu diapa-apain,” ucap asisten rumah tangga Najma.


“Aku akan temui dia,” ujar Najma, ia penasaran siapa orang yang berani datang mengamuk ke rumahnya selain Endah ibu Pram.


Najma tercengang melihat pemandangan yang tersuguh di depan matanya, seorang wanita muda tengah meronta tangannya dipegangi oleh dua orang keamanan di rumah ini. Wanita muda itu semakin beringas saat melihat kehadiran Najma.


“Kamu wanita keparat! Kenapa kamu tidak mati saja? Gara-gara kamu aku tidak bisa memiliki Pram!” wanita muda itu Adila. Najma mengingatnya, dia menantu pilihan Endah yang waktu itu hendak Pram nikahi menjadi istri kedua.


“Cih! Kamu sedang hamil rupanya. Anak siapa itu? Aku yakin bayi yang kamu kandung bukan anak Pram, dasar wanita murahan!” ucap Adila lantang, dadanya kini naik turun. Ia kesal Pram terus-menerus menolaknya, selama ini segala cara sudah ia lakukan untuk menggoda Pram, namun hasilnya nihil.


“Aku sungguh kasihan melihatmu mengejar-ngejarnya pria beristri yang bahkan jijik terhadapmu. Apa kamu tidak bisa mencari pria lain lagi hingga kamu terus-terusan mengemis cinta pada suamiku?” ucap Najma ia berusaha tenang menghadapi keadaan terbalik ini. Seharusnya ialah yang marah pada Adila bukan malah sebaliknya.


“Kurang ajar! Beraninya kamu bicara seperti itu padaku!” Adila memberontak semakin kuat, ia berhasil melepaskan diri dari pria yang tadi menahan tubuhnya. Dengan beringas ia menyerang Najma, lengan mulus wanita itu berhasil Adila lukai dengan kukunya yang runcing.


Adila bernafsu sekali ingin menghabisi Najma, wanita lemah seperti Najma tidak pantas bersanding dengan Pram pria pujaannya. Keamanan segera menyeret Adila menjauhi nyonya besar mereka.


“Bawa perempuan ini keluar dari rumahku! Jangankan biarkan dia kembali ke rumah ini lagi,” ucap Najma, meringis menahan rasa perih di lengannya. Kuku Adila cukup dalam menggores kulitnya.


“Lepaskan aku! Bajingan kalian!” Adila memaki, namun dua keamanan di rumah ini tidak membiarkan perempuan liar itu melukai nyonya mereka lagi.


Najma saat ini merasa sangat tertekan. Demi tuhan wanita itu masih muda, usianya baru belasan tahun. Tentunya dia bisa mencari pria selain Pram yang jelas-jelas tidak mencintainya. Sungguh Najma tidak dapat membayangkan jika seadainya dulu ia jadi dimadu pasti hidupnya akan sengsara dibuat wanita itu.


“Ibu tidak apa-apa?” tanya asistennya, melihat wajah sang majikan nampak pucat.


“Bisa bawa aku ke kamar? Aku lemas sekali,” ucap Najma lirih, ia sangat shock dengan kejadian barusan.


*****


Najma memutar bola matanya melihat Pram baru saja pulang kerja, padahal saat ini sudah jam sepuluh malam. Selalu seperti itu, Pram tidak pernah merubah sifatnya yang gila kerja.


"Mas Pram kesini! coba kamu lihat lenganku." Najma memanggil Pram, ia berniat untuk mengadu.


"Memang lengan kamu kenapa?" Najma mendengus, ia menunjukkan lengannya yang terluka.


"Ini habis dicakar perempuan cabe-cabean yang dulu ingin kamu nikah,” ucap Najma kesal.


"Tapi kamu tidak apa-apa, ‘kan?" tanya Pram cemas, ia khawatir kalau luka itu akan infeksi nantinya.


"Kamu tidak lihat lenganku luka? kamu bilang ingin menjaga aku. Tapi buktinya apa! kamu itu memang tidak becus jadi laki-laki. Selama menikah denganmu, kamu lebih banyak memberikan aku luka ketimbang kebahagiaan." Najma mengamati ekspresi Pram, ia sengaja berkata seperti itu untuk menguji Pram. Apakah pria itu akan marah jika ia rendahkan harga dirinya?


"Kenapa? kamu tidak terima dengan ucapanku, terserah. Tapi memang kenyataannya kamu seperti itu, sekarang ini aku baru sadar betapa aku dulu begitu bodoh menerima begitu saja semua perlakuanmu padaku," ucap Najma lagi. Konyolkah jika Pram berpikir saat ini Najma tengah dirasuki sesuatu, pasalnya wanita itu semakin hari makin berani melawannya.

__ADS_1


"Aku minta maaf. Kamu tidak perlu marah-marah nanti perutmu keram lagi seperti kemarin," ujar Pram, ia memilih mengalah. Jika ditanggapi, pasti ujung-ujungnya mereka bertengkar


"Lalu setelah meminta maaf kamu akan apa? kamu memang selalu membuat aku kesal, malam ini aku tidak mau tidur denganmu! Sekarang keluar dari kamarku!” Najma melempar wajah Pram dengan bantal, bukannya membalas perlakuan kasar Najma barusan. Pram melangkah mendekati wanita itu untuk mengecup keningnya.


“Baiklah aku tidak akan tidur di sini. Sekarang kamu tidur, ini sudah larut malam. Jangan begadang,” ucap Pram lembut, meski kini suasana hatinya kacau memikirkan Adila berani melukai Najma.


Pram keluar dari kamarnya menuruti kemauan Najma, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membentak atau pun berbicara kasar pada wanita itu.


*****


Kebisaan Yuda ketika masuk ke kamar Bayu, ia tidak pernah mengetuk pintu, seperti kali ini ia langsung menyelonong masuk seperti seorang maling. Yuda melihat Bayu tengah asik menatap layar ponselnya, tapi kemudian ia mengernyit melihat memar disudut bibir Bayu.


"Bibirmu kenapa?" tanya Yuda, dengan tampang kepo.


"Tidak apa-apa," sahut Bayu cuek, ia masih asik chattingan tanpa mempedulikan kehadiran Yuda.


"Kalo orang mengatakan tidak apa-apa, pasti ada sesuatu. Kamu habis ditampar Bapak ya Bayu? Sudahlah tidak usah mengelak. Kita ini saudara kembar, kamu tidak bisa membohongiku." Tebak Yuda tepat pada sasaran.


"Kalau sudah tau, tidak usah bertanya," ucap Bayu ketus. Yuda mendengus saat ini Yuda sedang berpikir jika nanti Bayu berkeluarga pasti Kakak kembarnya itu akan galak mewarisi sifat Bapak mereka.


"Kamu buat masalah apa Bayu, sampai ditampar Bapak?"


"Tidak usah banyak tanya, sudah pergi sana." Yuda mencibir, melihat Bayu yang nampak risau. Tapi bukannya pergi Yuda malah berbaring santai di tempat tidur Bayu, ia membiarkan Kakak kembarnya itu kembali asik dengan ponselnya. Yuda menatap Bayu dengan geli, saat dilihatnya Bayu tengah senyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya.


Jadi sebenarnya Bayu sedang chatting dengan Najma, namanya orang lagi kasmaran ya bawaaannya berbunga-bunga. Jadi begini isi chat mereka.


From Najma : Bayu kamu apa kabar? lama tidak bertemu, aku jadi kangen.


From Bayu : Aku baik, kamu bagaimana? Jika aku tidak salah kandunganmu sebentar lagi sudah menginjak bulan kesembilan bukan?


Bayu menunggu balasan dari Najma dengan perasaan berdebar-debar, mana wanita itu lama lagi membalas pesannya.


From Najma : Selagi aku masih bernafas, aku selalu menganggap kalau diriku baik-baik saja, meski hari yang aku lalui selalu kurang menyenangkan. Kamu tahu sendirilah bagaimana si Pram. Semakin hari ia semakin posesif saja.


Bayu dapat menangkap kekesalan Najma, wajah Bayu seketika berubah masam. Jika Pram seposesif itu, kecil kemungkinan untuk Bayu bisa memiliki Najma.


From Bayu : Dia sepertinya sangat mencintaimu.


From Najma : Pram dari awal memang sudah tergila-gila padaku. Astaga aku hampir lupa mengatakan hal ini padamu, dari hasil USG bulan lalu bayi yang aku kandung perempuan.


From Bayu : Benarkah? Bolehkan aku memberikan nama untuknya? Aku mohon Najma!


Bayu menunggu balasan dari Najma penuh harap, ia sangat senang bayi yang dikandung Najma perempuan seperti yang ia inginkan. Bayu pun sebenarnya sudah lama menyiapkan nama untuk calon bayinya.


From Najma : Tentu boleh Bayu, kamu Ayah biologisnya. Ngomong-ngomong, kamu ingin memberikan dia nama siapa?


From Bayu : Akela Saskia.


From Najma : Akela Saskia, nama yang bagus. Sudah dulu Bayu, chatannya bisa dilanjutkan nanti.

__ADS_1


Bayu tersenyum lebar, saat Najma mengirimkan foto hasil USG-nya bulan lalu. Hingga ia baru tersadar kalau Yuda masih berada di kamarnya. Tawa Yuda langsung pecah saat tatapan Bayu menyorot ke arahnya.


Rasa malu dan kesal bercampur menjadi satu, saat Bayu menyadari Yuda memperhatikannya dari tadi. Melihat Yuda tertawa terpingkal. Bayu mengambil guling dengan memukulkannya ke Yuda.


Yuda pun tak mau kalah ia mengambil bantal, balas memukuli Bayu. Alhasil mereka jadi saling pukul-pukulan, seperti apa yang mereka lakukan sewaktu masih kecil dulu ketika bertengkar.


"Kalian berisik!" Suara anak kecil yang tiba-tiba menghentikan aksi pukul-pukulan mereka. Untung saja mereka hanya pukul-pukulan pakai bantal guling jika tidak mungkin keadaan keduanya sudah babak belur.


Gilang adik Bayu yang paling bungsu, tengah menatap mereka dengan kesal. Bagaimana tidak kesal, kamarnya bersebelahan dengan kamar Bayu ia sedang belajar. Suara ribut dari kamar Bayu, begitu mengganggu konsentrasi belajarnya.


"Yuda yang mulai duluan," ucap Bayu sambil menunjuk Yuda.


"Enak saja kamu menyalahkan aku, yang mulai duluan itu Bayu Lang," kata Yuda tak terima jika dirinya disalahkan. Gilang memutar bola matanya kesal.


"Kalian ini sudah besar masih saja seperti kucing dengan anjing. Berhenti ribut-ribut kalau tidak aku akan laporkan kalian dengan Bapak! Apa salah dan dosaku hingga punya Abang menyebalkan seperti kalian." Gerutu Gilang, disertai ancaman yang membuat dua saudara kembar itu kicep.


"Heleh tidak usah mengancam segala, dasar bocah, pergi sana! Huss...." ucap Yuda pada Gilang, seolah dirinya kini sedang mengusir seekor kucing nakal.


"Aku juga akan pergi, memang siapa yang mau berlama-lama di kamar bang Bayu yang berantakan seperti kapal pecah ini. Nuansa kamar khas seorang bujang lapuk, awas kalau kalian ribut." Usai mengatai-ngatai Bayu sebagai bujang lapuk Gilang dengan tanpa beban melenggang pergi meninggalkan kamar Bayu.


Bayu berdecak kesal, bujang lapuk kata Gilang. Tidak tahu saja anak itu, sebentar lagi ia akan jadi seorang Bapak. Bayu melirik ke arah Yuda yang masih berada di kamarnya.


"Ngapain kamu disini? Pergi sana!” Kata Bayu.


"Huh, aku juga akan pergi dari kamar ini. Mana betah aku berlama-lama di kamar seorang bujang lapuk, nanti aku bisa ketularan," ucap Yuda sinis, ia langsung ngacir meninggalkan Bayu sebelum ia diterkam oleh saudaranya yang sebentar lagi akan berubah menjadi singa.


*****


Pagi ini Pram terlihat segar, tentu saja tadi malam ia tidur dengan nyenyak tanpa Najma bangunkan seperti biasa. Hari ini Pram meluangkan waktunya untuk menemani Najma belanja keperluan bayinya, wanita itu sebentar lagi akan melahirkan.


Pram menghela napas panjang ketika masuk ke kamar Najma mendapati wanita itu masih bergelung nyaman dengan selimut tebalnya. “Bangun sayang,” ucap Pram lembut, ia menarik selimut yang membungkus tubuh Najma. Wanita itu menggeliat, perlahan mata bulatnya terbuka sempurna.


“Masih ngantuk,” ucap Najma dengan suara manjanya yang terbiasa menyapa pendengaran Pram.


“Hari ini kita mau belanja keperluan dede bayi. Jangan tidur lagi hey....” Pram mengelus perut buncit Najma, ia mengernyit saat melihat bagian dada Najma nampak basah dibalik gaun tidurnya Najma tidak memakai bra sehingga Pram dapat melihat jelas apa yang tersembunyi dibalik gaun itu.


“Dada kamu basah,” ujar Pram. Najma tersenyum hambar.


“Asinya sudah keluar,” ucap Najma. Ekspresi wajah Pram seketika berubah cemas. Pria itu mengelus pipi wanita yang dicintainya dengan lembut.


“Aku khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan saat kamu melahirkan nanti.” Najma meraih tangan Pram yang membelai pipinya, ia mengecup punggung tangan itu.


“Aku akan baik-baik saja. Kamu jangan cemas berlebihan, yang terpenting saat aku melahirkan nanti. Aku ingin kamu menemaniku,” ucap Najma sendu. Sebenarnya ia pun takut menghadapi persalinannya nanti.


“Itu pasti, aku akan menjaga kalian.” Janji Pram pada Najma.


Najma memeluk Pram, ia menyembunyikan wajahnya di leher pria itu. Pram yang dulu ia anggap sebagai monster menakutkan di awal perkenalan mereka kini justru dicintainya setengah mati. Bahkan Najma rasa ia tidak bisa lepas dari jerat pesona yang dimiliki Pram.


“Aku mencintaimu,” ucap Najma, meyakinkan kalau tidak ada yang bisa menggeser kedudukan Pram dihatinya.

__ADS_1


“Aku lebih mencintaimu. Kamu itu napasku, perasaan ini tidak pernah berubah bahkan seiring waktu aku semakin mencintaimu.” Pram mendaratkan kecupan mesra di kening Najma. Jantungnya berdetak untuk wanita ini. Sekian tahun bersama Pram tidak pernah melirik wanita lain, ia merawat cintanya dengan baik seperti janji yang dahulu pernah ia ucapkan pada Najma.


__ADS_2