Istri Titipan

Istri Titipan
Bab 15


__ADS_3

Memang benar Risma sakit karena merindukan putrinya, terbukti saat Najma kembali  keadaannya  dengan cepat membaik. Namun keadaan itu berbanding terbalik dengan Najma, yang mana sering mengalami pusing, mual dan muntah karena kehamilannya.


"Kamu sakit?"  tanya Risma menatap wajah Najma yang nampak pucat, anaknya itu juga selama di rumah banyak menghabiskan waktu di tempat tidur.


"Tidak," sahut Najma, ia merapatkan selimut yang membungkus tubuhnya. Selama hamil ia memiliki kebiasaan baru, yaitu selalu bergelung dengan selimut meski pun cuaca sedang panas.


"Mama akan minta Papa untuk memanggil Dokter," ucap Risma, ia tak puas dengan jawaban Najma barusan.


"Jangan!" Najma seketika panik, ia tidak dapat membayangkan bagaimana respon orang tuanya


"Kenapa? lagi pula hanya untuk periksa kesehatan kamu." Sebagai ibu, Risma tahun kalau putrinya menyembunyikan sesuatu.


"Mama aku bilang jangan. Aku baik-baik saja.”


“Jangan menyembunyikan sesuatu dari Mama,” ucap Risma, ia keluar dari kamar Najma untuk menemui suaminya. Di usia yang sudah tidak lagi muda mereka masih terlihat romantis yang membuat siapa pun akan iri.


“Pa, seperti Najma kurang sehat. Bisa panggilkan dokter kemari? aku khawatir dengan keadaannya.” Bagas nampak menghela napas panjang, apa pun yang berkaitan dengan putri kesayangannya itu, ia pasti akan berikan yang terbaik.


“Baiklah,” ucap Bagas singkat, namun dari sorot matanya menunjukkan kekhawatiran yang dalam.


*****


Najma beringsut, memeluk lututnya sendiri, ia takut saat dokter yang memeriksa kondisinya barusan pergi. Matilah ia, orang tuanya pasti akan melontarkan pertanyaan macam-macam.


“Anak siapa itu?” suara ibunya terdengar tajam menusuk telinganya. Najma tidak memiliki keberanian untuk mengangkat wajahnya.


“Jawab anak siapa yang kamu kandung!” mata Najma mulai terasa panas, ia takut menghadapi kemarahan ibunya. Sementara Bagas ayahnya berusaha untuk tenang.


“Najma bicaralah,” Bagas akhirnya buka suara, ia masih nampak menjaga emosinya tidak seperti istrinya yang meledak-ledak.


“Ini bayiku dengan P...Pram, Pa,” Najma terbata saat menyebut nama Pram, pria yang bukan ayah bayi di kandungannya.


“Jangan bohong. Pram itu mandul, mana mungkin dia bisa menghamilimu. Jawab yang jujur anak siapa yang kamu kandung!” ucap Risma dengan suara keras, merasa terpojokkan Najma mulai menangis, air matanya yang mampu membuat orang tuanya luluh dan tidak akan tega menghakiminya.


“Najma jawablah yang jujur. Papa tidak akan marah.” Melihat air mata di wajah putri kesayangannya hati Bagas sebagai seorang ayah terasa sakit, ia memeluk tubuh Najma yang bergetar karena tangisannya.


“Maaf Pa,” ucap Najma sambil terisak, ia tahu betul bagaimana cara agar Bagas tidak memarahinya.

__ADS_1


“Iya, sekarang bicaralah. Anak siapa yang kamu kandung?”


“I-ini.... A-aku mengandung anak Bayu.” Hawa di ruangan itu seketika membeku. Wajah Risma sebagai ibu nampak pias, ia tahu siapa Bayu. Dia hanyalah seorang supir pribadi Najma.


“Kamu selingkuh dari Pram?” perasaan Bagas jadi tak karuan setelah mendengar jawaban yang terlontar dari mulut anaknya.


Najma menggeleng pelan, “Aku bercerai dengan Pram, lalu menikah dengan Bayu atas permintaan Pram.” Risma merasa kepalanya akan pecah, pandangannya berputar, ia sangat shock mengetahui putrinya kesayangannya melakukan hal itu.


“Mamaa....!” Najma menjerit melihat tubuh ibunya ambruk, takut dan perasaan bersalah menghantuinya. Menyesalkah ia dengan mudah menuruti apa kata Pram?


*****


Pram dibuat resah, sudah tiga hari Najma belum juga datang menemuinya. Pasti orang tua Najma yang sudah melarang wanita itu untuk pulang. Akhirnya Pram memutuskan untuk menjemput langsung Najma di rumah orang tuanya.


Pram telah tiba di kediaman orang tua Najma. Rumah mewah bertingkat tiga itu nampak sepi seperti biasa setiap kali ia berkunjung. Orang tua Najma yang sering sibuk memang jarang sekali berada di rumah. Pram sedikit lega setidaknya ia dapat dengan mudah mengajak wanita itu ikut dengannya pulang kalau orang tuanya tidak ada, ia tidak perlu harus berdebat dengan orang tua wanita itu.


Ternyata dugaannya salah, ketika baru saja menginjakkan kakinya masuk ke dalam rumah besar itu, kedatangannya disambut oleh Ayah Najma. Bagas menatap remeh kedatangan Pram. Dulu pria itu memang menantu idaman melihat betapa bahagianya Najma saat bersama Pram, tapi kini Bagas begitu menyesal telah mengizinkan putrinya menikah dengan pria itu.


"Ingin menjemput Najma?" Pertanyaan itu dilontarkan dengan datar dan ekspresi dingin. Pram menelan ludah, ia rupanya benar-benar sudah tidak disukai oleh Ayah dari wanitanya.


Pram mengangguk kaku sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan Bagas, pria tua itu tersenyum sinis. "Untuk apa kamu menjemputnya? Bukankah dia sudah bukan istrimu lagi. Kamu tidak berhak atas apa pun terhadap dirinya." Pram mulai gelisah mendengar kalimat penuh penekanan itu. Apakah pria di depannya sudah tahu perbuatannya yang telah ia tutup rapat?


"Aku tidak akan pergi dari sini jika Najma tidak ikut bersamaku,"  ucap Pram keras kepala, baginya Najma itu miliknya. Tidak ada siapa pun yang boleh memisahkan mereka termasuk Bagas ayah Najma.


"Jangan lancang kamu! Najma anakku!"


"Aku akan tetap membawanya pergi walau tanpa seizinmu." Untuk pertama kalinya Pram berucap kurang ajar pada ayah Najma. Naik pitam Bagas menampar wajah Pram yang menyeringai seperti bajingan.


Pram meludah, mengusap darah yang mengalir disudut bibirnya. ”Aku akan tetap membawa Najma pergi,” desis Pram. Tanpa mempedulikan Bagas, Pram berteriak-teriak memanggil Najma ia mencari wanita itu dengan frustrasi di rumah besar layaknya istana ini. 


Pram mencengkeram kerah baju mantan Ayah mertuanya itu. Setelah tidak menemukan dimana keberadaan wanita yang dicarinya. "Dimana Najma?" Bagas berdecih.


"Mati pun aku tidak akan mengatakan dimana anakku berada." Pram melepas cengkeramannya. Jika saja pria ini bukan Ayah dari wanita yang ia cintai maka sudah dihabisinya saat ini juga.


Percayalah semenjak ia mengenal Najma dan meyakini perasaan yang dimilikinya sebagai cinta. Pram sudah banyak membuat orang celaka termasuk sepupu laki-laki Najma yang dulu ia cemburui karena sangat dekat dengan wanita itu, sampai saat ini sepupu Najma itu masih belum bisa berjalan akibat perbuatannya dan Pram sama sekali tidak merasa bersalah atau pun menyesali perbuatannya.


*****

__ADS_1


Bagas sudah berunding dengan istrinya Risma, kalau mereka akan mengasingkan Najma untuk sementara waktu. Mereka tak ingin Najma yang saat ini buta karena cinta, nekat kembali bersama Pram pria yang seolah tidak memiliki prinsip itu.


Di depan banyak orang, Pram akan terlihat tegas dan berwibawa tak terlihat seperti lelaki plin-plan. Semua yang melihatnya pasti yakni kalau dia sosok lelaki idaman. Namun jika berhadapan dengan ibunya, Pram akan bertingkah seperti anak ayam. Najma yang katanya ia cintai pun, tega ia lukai hatinya jika sudah berhubungan dengan ibunya.


“Papa dan Mama tidak akan mengizinkanmu kembali dengan Pram.” Ucapan ayahnya membuat tubuh Najma menegang.


“Tidak! Papa dan Mama tidak bisa melarangku. Pram itu hidupku. Aku akan tetap bersamanya meski kalian tidak merestui!'


“Buka matamu Najma! Pram itu bukan pria yang baik untukmu!” Bagas sungguh merasa miris dengan putrinya Najma yang begitu menggilai Pram, seolah tidak ada lelaki lain di dunia ini.


“Dia yang terbaik untukku! Aku bahagia hidup bersamanya!” Najma bersuara lebih keras dari ayahnya.


“Jika dia yang terbaik untukmu dan bisa membuatmu bahagia. Kenapa selama ini kamu banyak menangis?” ucap Bagas sarkas, Najma terlihat mengatur napasnya. Tatapan matanya berubah seolah menerawang ke masa lalu.


“Papa tidak mengerti apa pun tentang perasaanku!” kalimat yang mengatakan orang yang paling susah dinasihati adalah orang yang sedang jatuh cinta, dan ya. Hal itulah yang sekarang terjadi pada Najma.


“Demi pria tidak bertanggung jawab itu, kamu tega mengecewakan perasaan Mama dan Papa,” ujar Risma, ia menatap putri semata wayangnya itu dengan sorot kecewa.


“Ini semua juga karena kalian! Jika saja kalian waktu itu tidak egois dan mementingkan karier kalian, aku juga tidak akan mungkin terperosok  dalam bersama Pram!” Najma mengingatkan apa yang membuatnya lebih memilih Pram ketimbang orang tuanya.


“Kami bekerja keras juga untuk dirimu. Selama ini kami selalu memanjakan kamu. Hidupmu tidak pernah kekurangan selama menjadi anak kami. Coba sebutkan apa permintaanmu yang pernah kami tolak? Kami selalu memenuhi apa yang kamu inginkan,” ucap Risma, suara sudah tidak sekencang tadi saat bicara.


Mata Najma berkaca-kaca, ia benci jika teringat dulu saat orang tuanya lebih memilih pekerjaan ketimbang menemaninya jalan-jalan. Mereka selalu sibuk. “Kalian tahu kenapa selama ini aku selalu bersikap manja dan merengek meminta sesuatu pada kalian? Sebenarnya yang aku inginkan bukan barang-barang mewah itu. Aku meminta itu sebagai pancingan berharap kalian akan perhatian padaku seperti saat aku masih sangat kecil.”


“Terkadang saat aku kesepian, aku selalu berharap usaha yang kalian jalankan bangkrut. Aku lebih suka hidup sederhana, tapi kalian selalu ada saat aku butuh kan. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Pram, dia menarikku dari rasa kesepian itu dan memberikan aku kasih sayang dan perhatian lebih. Aku tidak bisa menjauh darinya, hikss....” Najma menangis terisak, Bagas dan Risma pun akhirnya kehabisan kata-kata untuk menasihatinya.


Saat Najma beranjak remaja suami istri itu berada dipuncak kejayaan mereka. Mereka yang semula hanya fokus memberikan perhatiannya pada Najma mulai terlena pada kesuksesan mereka. Waktu itu mereka beranggapan, dengan memenuhi segala permintaan Najma itu cukup menggantikan waktu dimana mereka tak bisa selalu ada disisi Najma, dan menunjukkan betapa besar kasih sayang mereka pada putri semata wayangnya itu.


*****


Berkat bantuan orang bayarannya, Bagas berhasil menemukan keberadaan Bayu. Melihat tampangnya saja, Bagas sudah dapat menebak kalau usia Bayu tak lebih dari dua puluh tahun.


“Kamukah yang menanam benih di rahim putriku?” kalimat itu tidak terdengar seperti pertanyaan. Bayu gentar juga mendapat tatapan tajam dari Bagas.


“Berapa Pram membayarmu? Hingga kamu mau menikahi Najma!”


“Saya tidak menerima bayaran apa pun. Menikahi Najma juga karena Pram mengancam saya....” sahut Bayu, namun tak disangka ia mendapat tamparan keras di wajahnya.

__ADS_1


“Aku tidak mau tahu alasanmu. Kamu harus bertanggung jawab atas kehamilan Najma. Aku ingin kamu jaga Najma dan kandungannya sampai saat dia melahirkan nanti,” ucap Bagas tajam, ia tak ingin mendapat bantahan dari Bayu.


Biar bagaimanapun Bayu menikah dengan Najma, Bayu harus tetap memenuhi tanggung jawabnya. Setidaknya menjaga Najma agar tak kembali pada Pram, kedudukan Bayu sebagai ayah dari bayi dikandungnya mungkin bisa membuat Najma sedikit menurut dengan Bayu. Begitu pikir Bagas.


__ADS_2