
Di ufuk timur, sang Surya memancarkan sinarnya dengan megah menyambut hari. Pram dengan satu keyakinan pasti. Memutuskan untuk berdamai dengan semua masa lalunya. Iya, Pram telah membujuk hatinya untuk bisa mengikhlaskan semuanya. Ia telah memaafkan ayahnya, serta Endah Ibu tirinya tanpa mereka harus meminta.
Hari ini, setelah Pram menemui mereka. Pram dikejutkan dengan sebuah cerita, jika Endah dan Seno selama setengah tahun ini ternyata kembali menjalin hubungan. Bahkan kedua orang tua itu berencana untuk menikah kembali.
“Terima kasih sudah memaafkan Ayah....” ucap Seno penuh haru, mata tuanya berkaca menatap sang putra yang kini telah menjelma menjadi pria dewasa. Sosok lelaki kecil yang dahulu tak pernah mendapat belaian kasih darinya.
“Ibu juga minta maaf. Pram bisakah kamu menjadi anak Ibu kembali?” pinta Endah, menatap putra tirinya dengan binar mata penuh harap. Setelah Pram menjauhinya, Endah begitu menyesali semuanya. Dari Pram masih bayi dialah yang merawatnya, mana mungkin jika rasa sayang sebagai seorang ibu tak tumbuh di dadanya.
Pram menghela napas panjang, bola matanya bergerak mengamati ekspresi Seno dan Endah secara bergantian. Ia sepenuhnya telah yakin untuk memaafkan mereka dan berdamai dengan masa lalunya tanpa terkecuali. Pram hanya ingin menjalani hidup dengan tenang.
“Aku sudah sepenuhnya merelakan semuanya. Sekarang sudah tidak ada lagi dendam, yang aku harapkan kita menjadi keluarga kembali. Menjalani hidup dengan damai tanpa mengungkit masa lalu yang kelam,” ujar Pram, ekspresi wajahnya nampak tenang. Pram merasa dadanya kosong tiada beban karena telah berhasil mengikhlaskan semuanya.
“Iya, kita akan menjadi keluarga kembali. Ayah akan segera menikahi Ibumu kembali,” ucap Seno. Pria itu bangkit dari tempat duduknya, ia memeluk Pram anak lelakinya. Endah pun menyusul melakukan hal yang sama, mereka saling berpelukan. Ketiganya telah sepakat untuk tidak mengungkit masa lalu dan hanya merencanakan kebahagiaan dimasa depan.
*****
Tak habis pikir, takdir dengan gampangnya dapat memainkan seseorang dengan sesukanya. Bayu tak tahu harus berkata seperti apa untuk menggambarkan isi hatinya, serta menjelaskan pada dunia tentang apa yang terjadi pada hidupnya kini.
Matanya nanar menatap gundukan tanah basah yang dipenuhi oleh bunga mawar yang masih segar. Satu persatu pelayat mulai meninggalkan pemakaman, tersisa dirinya yang masih terdiam merenungi semuanya.
Bayu masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri ketika menatap nama yang tertulis di nisan itu. Pram Aditama, pria itu kini telah tiada. Pram meninggal karena kecelakaan tunggal yang dialaminya tadi malam, sewaktu ingin ke rumah sakit mengunjungi Najma.
Bayu menebak, Pram mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan tidak dapat berkonsentrasi saat mendengar kabar kalau keadaan Najma semakin memburuk. Mirisnya Pram baru saja berbahagia dengan kedua orang tuanya. Takdir begitu kejam merenggut semuanya.
__ADS_1
Bayu merasa, rasanya terhadap Najma tiada arti jika dibandingkan dengan Pram, bahkan disaat-saat terakhir hidupnya Pram masih sempat menyebut nama Najma, wanita yang teramat sangat dicintainya.
Bayu membungkuk menyentuh pelan nisan yang bertuliskan nama Pram Aditama itu. “Damailah di sana. Aku akan menjaga dia yang teramat kamu cintai,” ucap Bayu dengan mata memerah menahan tangis. Dadanya berdenyut nyeri, seolah ada sembilu yang menyayat-nyayat hatinya.
Bayu memang merasa iri dengan Pram karena pria itulah pemilik hati Najma sebenarnya, wanita yang Bayu cintai. Namun, Bayu juga tidak pernah berpikir jika Pram akan pergi dengan cara seperti ini.
*****
Silaunya cahaya menusuk pandangan Najma saat wanita cantik itu pertama kali membuka matanya. Beberapa kali ia mengerjap untuk menyesuaikan pandangannya dengan sekitar. Ketika semuanya jelas, Najma dapat melihat orang-orang yang menyayanginya.
Najma mengernyit dalam ketika tidak menemukan orang yang paling ingin dilihatnya. “Pram dimana?” tanyanya.
Bagas mendekati putrinya, mengusap pipi Najma yang nampak pucat dan tirus. “Kamu harus banyak istirahat sayang,” ucapnya, membuat kepala Najma dipenuhi tanda tanya.
“Pram ada di sini. Dia tidak berada jauh denganmu. Sekarang istirahatlah lagi biar kondisimu cepat pulih.” Bagas berusaha mengunci air matanya agar tak meleleh, pria itu tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi Najma saat tahu jika Pram pria yang teramat dicintainya sudah berbeda dunia dengannya.
“Benar kata Ayahmu. Pram tidak berada jauh disini.” Seno Ayah Pram ikut menimpali, meski bisa dikatakan hanya hitungan jari bertatap muka. Najma masih dapat mengingat dengan jelas kalau pria yang tadi berbicara dengannya itu Seno. Ayahnya Pram.
Sosok Endah, wanita yang dulu berlakon sebagai mertua jahat kini nampak berbeda ekspresi wajahnya. Tatapan mata Endah nampak sayu, mana tatapan matanya yang sinis dulu?
Najma juga menemukan Bayu, wajah lelaki itu nampak lesu. Tatapan Bayu tertuju padanya, lewat pancaran matanya yang redup. Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan olehnya, namun hal itu terkunci di mulutnya yang tertutup rapat. Seolah dia memang enggan bercerita.
*****
__ADS_1
Najma semakin dibuat heran dengan tidak munculnya Pram selama hampir tiga pekan ini. Kondisi kesehatan Najma mulai pulih, ia sudah diizinkan pulang. Meski harus tetap rutin memeriksakan kesehatannya.
Najma sudah tidak tahan menanggung rasa rindunya terhadap Pram. Ia pun memutuskan untuk mendesak Risma menceritakan semuanya. Najma rasa ia bisa gila jika Pram pergi lagi dari hidupnya.
“Ma, katakan dimana Pram berada?” Risma nampak gugup saat mendapat pertanyaan yang sudah beberapa puluh kali dilontarkan oleh Najma.
“Jangan katakan lagi, jika Pram tak pernah menjauhiku. Aku hanya ingin bertemu dengan Pram. Jika dia pergi lagi aku bisa gila! Pram segalanya untukku!” Najma berteriak frustrasi, Risma semakin tak yakin jika harus mengatakan Pram sebenarnya sudah tiada.
“Mama jawab! jangan diam!” Teriakan Najma frustrasi Najma mengudang perhatian Bagas, pria tua itu buru-buru menghampiri istri dan putrinya yang menangis putus asa.
Risma menatap Bagas, lewat matanya ia seolah meminta pendapat bagaimana caranya menenangkan putri mereka. “Najma. Jangan menangis nak. Pram tidak meninggalkanmu,” ucap Bagas, memeluk tubuh Najma yang bergetar karena Isak tangisnya.
“Jangan mengatakan itu lagi! Yang aku mau hanya bertemu dengan Pram! Dimana dia? Jangan bilang Papa meminta Pram untuk pergi meninggalkan aku lagi!”
“Najma Syakira, belajarlah untuk mengikhlaskan kepergian Pram.” Najma mengusap air matanya dengan kasar saat mendengar kalimat yang diucapkan Risma barusan.
“Maksud Mama apa?” Najma menatap Risma tajam, ia begitu menuntut jawaban atas ucapan Ibunya barusan.
“Pram sudah meninggal, dia mengalami kecelakaan. Jantung yang kini berdetak di dadamu itu miliknya. Sebab itu Mama selalu mengatakan jika Pram tidak pernah meninggalkanmu.” Ucapan Risma membuat Najma shock, ia diam terpaku selama beberapa menit sebelum akhirnya menjerit histeris.
“Tidak mungkin! Pram pasti masih hidup! Mama pembohong!” Bagas mendekap putrinya yang mengamuk. Sudah ia duga jika Najma akan seperti ini jika tahu kebenarannya.
“Yang dikatakan Mama benar Najma. Pram memang sudah meninggal.” Kalimat yang diucapkan Bagas semakin membuat Najma semakin histeris, ia meraung seakan lupa diri. Dengan fakta meninggalnya Pram, Najma merasa dunianya runtuh. Ia telah kehilangan semua tentang cinta dan angannya bersama Pram.
__ADS_1