
Bayu menatap foto balita yang ada di ruang keluarga, balita itu sangat cantik dan imut. Bayu sungguh gemas melihatnya, garis wajah balita itu mengingat Bayu pada seseorang. Najma, ya wajahnya mirip dengan Najma. Foto ini, pasti Najma saat masih kecil.
Jika nanti anaknya mewarisi gen Najma, pasti dia nanti akan seimut balita yang ada di foto ini. “Bayu...!” seruan dari arah dapur, memaksa Bayu untuk berhenti memandangi foto itu. Segera Bayu menghampiri sang pemilik suara.
“Aku kepingin jeruk, kamu petikan dong.” Najma menunjuk buah jeruk yang bergelantungan di atas pohon tepat di belakang dapur. Pohonnya tidak terlalu tinggi, diraih menggunakan tangan pun buahnya dengan mudah dapat diambil.
“Ini masih pagi. Kamu sudah mau makan yang asam-asam,” ujar Bayu.
“Ini anakmu yang minta Bayu,” ucap Najma dengan ekspresi cemberut. Kalau sudah berhubungan dengan anaknya, Bayu mana mampu menolak, ia pun segera mengambil buah jeruk yang diminta Najma.
"Hari ini kamu tidak kerja?" tanya Najma melihat Bayu nampak santai.
"Aku hari ini libur." Najma mengangguk mengerti, ia menikmati rasa asam buah jeruk yang menggoyang lidahnya.
"Kemarin aku habis jalan-jalan tidak jauh dari sini aku menemukan tempat yang bagus untuk foto," ujar Bayu.
"Lalu." Najma menanggapi dengan acuh.
"Aku ingin mengajakmu berfoto di tempat itu." Bayu dengan ragu mengutarakan niatnya.
Najma menghela napas, tanpa dijelaskan secara panjang lebar ia tahu tempat yang dimaksud Bayu. Dan yah tempat itu memang bagus untuk dijadikan latar belakang foto. “Baiklah. Kuharap hasil fotonya nanti bagus,” ujar Najma. Sedikitnya ia tahu kalau Bayu hobi dengan fotografi.
*****
Bayu menggenggam tangan Najma menuntun wanita itu agar mengikuti langkahnya. Ia tersenyum kecil merasakan betapa lembut tangan Najma yang berada di genggamannya. Bayu bahkan khawatir kalau tangannya yang kasar akan melukai telapak tangan wanita itu.
"Aku bisa tebak. Tempat yang kamu maksud pasti padang ilalang yang ada di belakang kebun itu kan," kata Najma, membuka pembicaraan lebih dulu.
"Ya kamu benar, sepertinya kamu tahu betul lokasi di sekitar sini."
Najma mengedikkan bahunya, "waktu kecilkan aku tinggal disini, tentunya aku tahu tentang daerah sini."
"Kalau boleh, bisakah kamu ceritakan sedikit tentang kehidupanmu padaku." Najma terlihat menghela napas berat. Ia rasa membagi sedikit cerita kehidupannya pada Bayu tidak masalah.
"Kamu tahu Bayu dari kecil aku kesepian. Aku tidak punya Kakak atau Adik yang bisa kuajak main. Aku memang punya banyak teman, tapi aku tahu kalau mereka tak tulus berteman denganku." Meski kalimat itu diucapkan dengan santai. Namun Bayu dapat menangkap kesedihan dari raut wajah Najma yang berusaha disembunyikannya.
"Lalu bagaimana persahabatanmu dengan Jihan?"
"Jihan pengecualian. Dia satu-satunya sahabat yang ada saat aku terpuruk. Tapi satu hal yang tidak aku suka darinya, aku kesal setiap kali dia menjelekkan Pram. Padahal dia sendiri tau kalau Pram pria yang begitu aku cintai, akuu......" Bayu memotong ucapan Najma
"Seberapa berarti Pram untukmu?" Napas Najma rasanya tercekat, sementara Bayu berusaha untuk tidak mengumpat. Entah ia merasa begitu kesal saat Najma menyebut Pram, untuk Bayu Najma itu istrinya tak pantas jika Najma membahas pria lain.
"Dia segalanya untukku." Najma menggigit bibir bawahnya, melihat Bayu yang kini membuang muka. Ekspresi lelaki itu terlihat berbeda dari tadi. Bayu seperti memendam sesuatu.
"Jika seandainya kamu dihadapkan pada sebuah pilihan sulit, antara memilih Pram dan bayi yang ada di kandunganmu, siapa yang akan kamu pilih?" tanya Bayu tanpa menatap Najma. Wanita itu lama terdiam mencerna perkataan Bayu.
__ADS_1
"Aku sudah lama menginginkan kehadiran seorang anak dalam hidupku. Bayi ini dia berarti untukku, aku menunggu kehadirannya bertahun-tahun dalam penantian yang begitu menyakitkan." Najma teringat penantiannya dulu. Orang-orang menganggap dirinya lah yang bermasalah. Karena ia dan Pram yang sudah sepuluh tahun berumah tangga tetapi belum juga memiliki keturunan. Cemoohan yang terlontar dari mereka teramat menyakitkan baginya.
"Katakan saja mana yang lebih berarti untukmu, Pram atau bayi itu." Desak Bayu dengan tak sabaran menunggu jawaban yang keluar dari mulut Najma. Wanita itu meringis merasakan Bayu semakin menggenggam erat tangannya.
"Aku tidak dapat memilih, keduanya sama-sama berarti dalam hidupku." Bisakah Bayu melayangkan protesnya pada Najma. Bayu ingin wanita itu melupakan Pram dan tak pernah menganggap pria itu berarti untuknya.
Napas Bayu kini mulai tak beraturan, rahangnya mengeras seiring dengan rasa panas yang semakin bergejolak di dadanya. Mungkin inilah yang dinamakan gairah cinta dimasa muda, Bayu tidak dapat mengontrol perasaannya dengan baik. Tapi benarkah perasaan yang ada di hatinya ini adalah cinta, ataukah ini hanya rasa kekagumannya semata.
"Kita sudah sampai. Bisakah kamu lepaskan tanganku. Kamu menggenggam tanganku terlalu erat, rasanya sakit." Suara Najma menyadarkan Bayu dari lamunannya. Ia segera melepaskan genggaman tangannya. Bayu dapat melihat tangan Najma yang memerah.
"Ada apa sih dengan bocah ini?" batin Najma menggerutu, melihat Bayu yang sudah tidak semangat seperti mengajaknya kesini tadi.
"Bayu katanya tadi mengajakku kesini untuk foto, tapi kenapa sekarang kamu malah mendiamiku." Bayu melirik ke arah Najma sekilas. Kemudian mengalihkan perhatiannya pada kamera yang ia bawa.
"Bayu, kamu kenapa?" Najma terkejut ketika ia ingin menyentuh tangan Bayu lelaki itu menepisnya. Ia semakin bingung melihat mood Bayu yang berubah drastis.
"Aku ingin pulang!" Najma menghentakkan kakinya kesal. Sebelum ia pergi Bayu lebih dahulu mencekal lengannya.
"Maaf," ucap Bayu kemudian.
"Kita bisa mulai untuk mengambil gambar." Najma menahan untuk tidak memutar bola matanya melihat Bayu yang dengan cepat kembali menjadi ramah padanya.
"Huh.... dasar brondong labil!" Umpat Najma dalam hati.
Najma berusaha mengikuti maunya Bayu, yang meminta ia untuk bergaya sesuai keinginan lelaki itu. Harus Najma akui kualitas gambar dirinya yang diambil Bayu cukup bagus untuk seseorang yang bukan fotografer profesional. Mereka menghabiskan waktu dengan saling bercanda dan tertawa sejenak melupakan permasalahan yang ada.
*****
Setelah berada di rumah Bayu memeriksa kameranya. Melihat foto-foto Najma yang ia ambil tadi. Bayu akan mencetak beberapa foto untuk ia simpan sebagai kenang-kenangan.
"Bayu pijat kan kakiku!" Najma dengan enteng meletakan kakinya di paha Bayu.
"What the hell, biasanya seorang suami yang minta dipijitkan tapi kenapa keadaan berbanding terbalik dengan diriku sekarang," batin Bayu.
"Kakiku pegal Bayu sehabis jalan jauh tadi." Najma mengatakan alasannya melihat Bayu yang nampak keberatan melakukan permintaannya. Bayu mendengus jengkel melihat Najma yang dengan seenaknya main perintah.
Meski kesal Bayu tetap menuruti permintaan wanita itu. "Aduh, kamu ini memijit apa sih Bayu, tidak ada rasanya!" Protes Najma, sifat cerewet wanita itu kini mulai kambuh.
"Itu handphonemu bunyi." Bayu mengambil ponselnya, kemudian mematikannya.
"Kenapa tidak diangkat? bukankah itu dari pacarmu." Najma sempat melihat sekilas nama yang tertera di layar ponsel Bayu tadi. Bayu mengedikkan bahunya acuh.
"Apa ada masalah dalam hubungan kalian?" tanya Najma dengan rasa penasaran yang teramat sangat.
"Kurang lebihnya seperti itu."
__ADS_1
"Kamu bisa berbagi masalah denganku. Soal cinta aku lebih berpengalaman darimu. Apa yang menyebabkan masalah dalam hubungan kalian? apakah ada kehadiran orang ketiga atau ada hal lain?" Najma bertanya layaknya seorang Dokter cinta yang benar-benar mengerti permasalahan itu. Sedangkan kehidupan cintanya sendiri terkesan mengenaskan.
"Ya, masalah dalam hubunganku memang karena hadirnya orang ketiga, dan orang ketiga itu adalah kamu sendiri." Sayangnya kalimat itu hanya mampu Bayu ucapkan dalam hati.
Najma berdecak melihat Bayu yang bukannya menanggapi ucapannya malah melamun. "heh Bayu!" Najma melempar ikat rambutnya ke wajah Bayu. Pasalnya Bayu tidak lagi memijitkan kakinya tapi kini berganti jadi mengusap-usap pahanya.
Bayu tersentak, ia terkejut menyadari dimana kini tangannya berada. "Kamu kenapa sih Bayu? akhir-akhir tingkahmu itu aneh."
"Ini terjadi gara-gara kamu," sahut Bayu ketus, meninggalkan Najma yang kini keheranan dengan tingkahnya yang menurut Najma sangat aneh.
*****
Bayu terbelalak saat membuka mata mendapati Najma mencumbu tubuhnya, wanita seksi itu membuka pakaian yang melekat di tubuhnya dengan gerakan erotis. Najma tersenyum menggoda, jemarinya yang lentik menyusuri dada bidang Bayu.
Bukit kembar wanita itu terlihat naik turun mengikuti napasnya yang memburu. Sebagai lelaki normal adik kecil Bayu berontak, ia menarik tubuh Najma dan menghempasnya ke tempat tidur.
Najma yang sudah polos memudahkan Bayu untuk memulai penyatuan. Bayu menggerang merasakan sempitnya milik wanita itu. Bayu memacu gerakannya makin cepat, sampai akhirnya....
Brukkk....
Bayu terjatuh dari ranjang. Sial, ia mimpi basah. Baju merasa tubuhnya lengket karena keringat, terlebih bagian bawahnya. Bayu mendapati Najma yang dimimpikannya, tengah tidur dengan nyenyak.
Bayu dibuat menelan ludah, melihat selimut yang dikenakan Najma tersingkap. Najma yang mengenakan gaun tidur seksi, membuat gairah Bayu bangkit. Bagaimana pun ia pernah merasakan tubuh indah wanita itu. Nafsu Bayu makin bergejolak, persetan jika Najma marah padanya Bayu ingin kembali merasakan tubuh wanita itu.
Bayu menaiki tubuh Najma, dengan cepat merobek gaun tidurnya. Najma langsung terbangun dari tidurnya. “Bayu kamu mau apa?” bukannya menjawab Bayu justru membungkam mulut wanita itu dengan bibirnya. Najma berusaha melepaskan diri, namun Bayu yang memiliki tenaga lebih besar darinya pemberontakan Najma seolah tak ada arti.
“Jangan Bayu. Aku lagi hamil, aku takut bayinya kenapa-napa.” Najma mengiba pada Bayu. Mengingat cara laki-laki itu saat menggaulinya, Najma tak yakin kandungannya akan baik-baik saja.
“Aku tidak akan menyakiti kalian,” ucap Bayu dengan suara serak, nafsu sudah mengalahkan akal pikirannya. Yang ia inginkan hanya mereguk kepuasan dari tubuh Najma. Kobaran gairah menyala di matanya, Najma yang tak ingin terjadi sesuatu jika terus melawan, akhirnya memilih pasrah. Ia membiarkan laki-laki itu menikmati tubuhnya.
Melihat Najma terlihat pasrah, Bayu membuktikan ucapannya. Ia menyentuh Najma dengan lembut dan penuh perasaan untuk pertama kali, Bayu tidak ingin hanya dirinya yang puas di sini. Bayu juga ingin Najma menikmati persetubuhan mereka, sebab ada perasaan lain di hati Bayu yang tak menginginkan Najma terluka.
*****
“Apa yang sudah aku lakukan?” Bayu mengacak rambutnya frustrasi saat mengingat kejadian tadi malam. Najma pasti akan marah padanya,
Bayu saat ini menunggu Najma membuka matanya, tanda kemerahan nampak di leher wanita itu. Semua karena perbuatan Bayu sendiri, ketika kelopak mata Najma bergerak, Bayu menahan napasnya.
“Bayu.” Suara merdu wanita itu menyapanya, senyum tipis menghiasi bibir indahnya. Bayu diserang oleh rasa penyesalan.
“Maafkan aku, tadi malam aku tidak bermaksud....” Najma menyentuh lengan Bayu yang nampak bergetar, lelaki muda itu rupanya takut menghadapi kemarahannya.
“Soal semalam lupakan saja. Lagi pula salahku juga. Kamu laki-laki normal dan memiliki nafsu. Bodohnya aku memintamu untuk menemaniku tidur. Aku tidak marah denganmu,” ujar Najma, tadi malam Bayu tidak menyakitinya.
Bayu memperlakukannya dengan sangat lembut layaknya barang mahal yang mudah pecah. Najma tak menampik kalau dirinya menikmati perlakuan Bayu semalam. Ia dibuat melayang oleh sentuhan lelaki muda yang berstatus sebagai calon ayah dari anaknya itu.
__ADS_1
Saat tatapan mereka saling bertabrakan, Bayu merasa dadanya bergetar hebat. Sesuatu yang aneh menjalari sarafnya. Bayu tak mengerti perasaan apa ini. Ada rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya menyentuh relung terdalam hatinya. Rasa ingin melindungi dan menjadikan wanita itu miliknya seutuhnya.