
Pram ke rumah mertuanya, menyusul Najma. Kedatangannya disambut dengan tidak baik, ia dapat melihat dengan jelas wajah murka Ibu mertuanya. Wanita itu dulu memang tidak menyetujui jika Najma menikah dengannya.
"Mau apa kesini lagi?" Risma Ibu Najma menatap Pram dengan sinis, pria itu bukanlah menantu idamannya. Meski sudah sepuluh tahun pernikahan Najma dengan Pram dirinya tetap tidak menyukai pria pilihan putrinya itu.
"Aku ingin menemui Najma, Ma," ucap Pram, ia kini nampak kacau.
"Eh, dasar menantu tidak tahu diri! Setelah kamu menyakiti anak saya dan ingin menikah lagi. Kamu dengan tidak tahu malu datang kemari. Pergi sana, saya tidak sudi melihat mantu kurang ajar seperti kamu!"
"Aku mohon Ma. Aku ingin menemui Najma. Bagaimana pun Najma tetap istriku."
"Ada apa ini ribut-ribut!" Keduanya kompak menatap ke asal suara.
"Papa aku mohon izinkan aku menemui Najma," kata Pram. Bagas, pria yang ia kenali sebagai Ayah yang begitu menyayangi putrinya itu kini nampak murka dengannya.
"Sebaiknya kamu ceraikan Najma. Kamu dulu berjanji akan membahagiakan anakku, tapi kamu malah dengan kurang ajar ingin menikah lagi! "
"Tapi, pernikahan itu terjadi bukan karena kehendakku."
"Dasarnya kamu saja yang tidak tegas. Kamu dan Ibumu selama ini sudah menginjak-injak harga diri anakku. Ingat Pram, Najma anak kami satu-satunya, jika pernikahan Najma dan kamu terus berlanjut maka keturunan kami akan terputus. Jika tahu akan seperti ini, maka dari awal aku tidak akan membiarkan kamu menikahi Najma."
Pram terdiam, yang dikatakan Ayah Najma benar adanya. Seperti inikah perasaan Najma saat ia dan Ibunya dulu menghinanya,, mengatakan kalau Najma mandul dan tidak bisa memberikan keturunan untuknya.
*****
Najma dikunci orang tuanya di dalam kamar ketika Pram datang untuk bertemu dengannya, ia kini menangis meratapi nasib pernikahannya yang berada diambang kehancuran. Najma menghapus air matanya saat teringat sesuatu, ia membawa ponsel ia bisa menggunakan itu untuk menghubungi suaminya.
Pada bunyi panggilan kedua teleponnya langsung diangkat. Pram yang dalam perjalanan pulang begitu gembira mendapat telepon dari istrinya. Ia langsung mengangkat telepon itu, tanpa peduli kalau ia sekarang sedang berkendara.
"Mas kamu dimana?"
__ADS_1
"Aku dalam perjalanan pulang," sahut Pram diujung telepon, mendengar suara serak Najma ia bisa menebak kalau wanita itu habis menangis.
"Kamu tadi ribut dengan Papa?" Pram menghela napas berat.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuat keributan. Dan maaf karena aku tidak bisa menemuimu." Pram berucap lirih.
"Mas...." Najma mencicit pelan.
"Maaf Najma. Maaf karena aku sudah menyakitimu. Maafkan aku." Mata Pram kini memerah menahan tangis, pikirannya yang kacau membuatnya tidak fokus berkendara. Hingga ia hampir saja bertabrakan dengan truk. Pram banting setir hingga mobil yang dikendarainya menabrak pembatas jalan.
Bunyi benturan benda keras mengagetkan Najma, "Mas..." Najma memanggil suaminya, ia mendengar suara keributan dari ujung telepon tak lama setelah itu sambungan telepon terputus.
Pram yang menabrak pembatas jalan langsung menjadi kerumunan, mereka berbondong-bondong untuk melihat keadaan pengemudi mobil mewah yang kini tengah tak sadarkan diri.
*****
Setelah mendengar penjelasan dari kepolisian. Endah langsung menuju rumah sakit yang dimaksud. Sesampainya di rumah sakit, dengan panik Endah bertanya dimana Pram dirawat. Ia berpikir kalau Pram mengalami luka yang serius atau lebih parahnya Pram kini tengah kritis.
Setelah memasuki kamar rawat anaknya dan mendengar penjelasan dari Dokter yang menangani Pram. Endah akhirnya mampu bernafas lega. Untungnya kecelakaan yang dialami Pram tidak parah, hanya luka-luka ringan yang tidak membahayakan.
Pram pingsan karena shock serta benturan yang terjadi di kepalanya. Endah menatap wajah anaknya. Tergambar dengan jelas wajah lelah Pram, selama ini ia selalu memaksakan kehendaknya tanpa peduli dengan perasaan anaknya.
Di lain tempat. Najma yang kini sedang dikurung di kamarnya terus memohon agar ia diizinkan keluar. Najma begitu terkejut saat mendapat telepon kalau suaminya mengalami kecelakaan, walau sudah menjelaskan hal itu pada orang tuanya tetap saja mereka mengurung Najma.
Mereka begitu sakit hati saat mengetahui perlakuan Pram selama ini, jika tahu seperti itu mereka sudah dari dulu turun tangan untuk memutus cerai pernikahan Najma. Anak yang dari kecil mereka sayangi, lalu setelah dewasa ada seorang pria yang datang mengambilnya dari mereka.
Walau berat hati mereka menyetujui putri mereka untuk diambil menjadi seorang istri, dengan statusnya itu tentu Najma sudah tidak bisa lagi seperti dulu. Mereka berharap Pram bisa menjaga Najma, namun fakta yang terjadi malah sebaliknya.
Risma kini mengantarkan makan malam ke kamar Najma, dilihatnya wajah Najma yang nampak sembab dan bengkak, "Mama izinkan aku menemui suamiku," kata Najma.
__ADS_1
"Alaah, sudahlah Najma jangan tangisi pria itu. Ingat saat kamu sakit dia tidak peduli denganmu. Syukur dia mengalami kecelakaan. Yah semoga saja merenggut nyawanya sekalian, biar tahu rasa Ibunya yang sombong itu."
"Mama, jangan mendoakan suamiku seperti itu."
"Biar saja, kalau dia mati kamu tidak repot mesti mengurus surat cerai segala. Jadi janda lebih bagus ketimbang punya suami seperti dia. Kalau nanti ada pria yang suka sama kamu dan lebih baik ya menikah lagi," ucap Risma dengan enteng.
"Aku hanya ingin suamiku. Aku tidak menginginkan pria lain."
"Terus saja sepeti itu Najma. Bodoh karena cinta. Papa akan buat kalian bercerai. Papa tidak rela kamu diperlakukan semena-mena oleh laki-laki bajingan itu," ucap Bagas, ia ke kamar Najma untuk melihat kondisi anaknya itu.
"Aku hanya mencintai suamiku." Najma kukuh dengan pendiriannya.
"Kamu ini, buta karena cinta. Buka matamu Najma lihat apa yang sudah Pram lakukan denganmu, dia pria tidak bertanggung jawab!" Ucap Bagas dengan suara tinggi. Najma langsung memeluk Ibunya dan menangis. Risma mengusap punggung anaknya menenangkan, lewat isyarat matanya meminta suaminya untuk keluar kamar.
*****
Setelah beberapa hari Najma merasa bosan hanya berdiam diri di rumah, ia rindu dengan aktivitas mengajar para muridnya di sekolah. Menjadi guru memang impian Najma dari kecil, ia suka berbagi pengetahuannya pada orang lain.
Najma putuskan untuk mengatakan ini pada ayahnya. Bagas kini sedang duduk santai membaca koran sambil menikmati secangkir teh. Momen yang pas untuk bercerita. Najma duduk di dekatnya ayahnya tanpa rasa canggung, ia dari kecil memang lebih dekat dengan ayahnya ketimbang ibunya
“Papa aku bosan hanya berdiam diri di rumah. Besok, boleh aku kembali mengajar lagi ke sekolah?” mata tua Bagas memicing, ia curiga itu hanya alasan Najma supaya mudah bertemu dengan Pram.
“Ini hanya akal-akalanmu saja supaya bisa bertemu dengan laki-laki brengsek itu 'kan?” Najma mendesah, ia tadi sama sekali tidak ke pikiran ke situ.
“Berhentilah menjadi pengajar, mulai sekarang sebaiknya kamu fokus meneruskan bisnis Papa. Kalau bukan kamu yang mengurusnya siapa lagi,” ucap Bagas. Najma menggelengkan kepalanya, bisnis milik Papanya merupakan bisnis besar yang terdiri dari perhotelan dan industri dunia hiburan. Najma merasa ia tidak sanggup jika harus meneruskannya.
“Aku lebih suka jadi pengajar. Ayolah Pa, aku sangat bosan hanya berdiam diri di rumah.” Najma memasang wajah memelas. Sebagai orang tua yang menyayangi anaknya Bagas tak tega jika menolak keinginan Najma. Apalagi putri kesayangannya itu baru saja mengalami hal buruk dalam pernikahannya.
“Baiklah. Tapi ingat, jangan coba-coba untuk menemui Pram kembali,” tekan Bagas. Meski usia Najma sudah menginjak tiga puluh dua tahun, ia masih menganggap Najma sebagai putri kecilnya yang perlu dilindungi dari anak-anak nakal suka mengganggunya. Memang benar adanya, kalau kasih orang tua itu sepanjang zaman.
__ADS_1