
Najma dan keluarganya sedang berkumpul di rumah keluarga Bayu. Kedua keluarga itu nampak sangat akrab. Mereka berbicara tentang banyak hal. Gilang adiknya Bayu asik bermain dengan Akela.
“Kenapa aku tiba-tiba merasa gerah,” ujar Damar. Matanya melirik ke arah Bayu dan Najma yang dari tadi tidak saling bicara. Mereka hanya berinteraksi dengan putri mereka saja.
“Hei kalian! Kenapa kalian tidak menikah saja lagi? Apalagi yang ditunggu? Bukankah kalian sudah punya anak.” Kalimat itu ditujukan Damar pada Bayu dan Najma.
Najma dan Bayu langsung kikuk dibuatnya, terlebih semua mata memandang ke arah mereka. “Bapak setuju kalau kamu menikahi Najma,” ucap Wardi, Ayahnya Bayu.
“A-aku... Tergantung Najma Pak, kalau dia mau hari ini aku pun siap menikahinya,” ujar Bayu, menatap Najma yang nampak serba salah.
“Najma apalagi yang kamu harapkan. Bayu begitu mencintaimu, mulai buka hatimu untuknya nak. Papa yakin dia bisa membuatmu bahagia. Usia tidak menjadi faktor penghalang dalam suatu hubungan.” Bagas ikut memberi nasehat, ia sepenuhnya mendukung jika Najma memilih untuk menikah kembali dengan Bayu. Apalagi di antara kedua sudah ada anak.
__ADS_1
*****
Semilir angin sore yang sejuk, membelai wajah cantik Najma. Setelah mengumpulkan tekadnnya wanita itu putuskan untuk mengunjungi makam Pram, pria yang begitu dicintainya sampai membuat ia kehilangan akal dan lupa segalanya.
Najma sadari, Pram tidak pernah pergi meninggalkannya. Nama pria itu masih terlukis dengan indah di hatinya. Pram menepati janji, untuk menua bersamanya. Jantung yang kini berdetak di dadanya milik Pram. Jangan heran jika ia tak bisa lupa akan pria itu.
“Aku sudah mengikhlaskan kepergianmu. Semoga kau damai di alam sana. Aku disini akan hidup dengan bahagia seperti keinginanmu.” Najma menghentikan ucapannya sebentar untuk menghapus air mata yang meleleh di pipinya.
Najma menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan secara perlahan. Ia seolah sedang berusaha menegarkan hatinya. Kelopak bunga yang indah, Najma taburkan di atas makam berharap. Ia telah merelakan sepenuhnya kepergian Pram, ia akan jalani hidupnya dengan bahagia meski tanpa pria itu disisinya.
*****
__ADS_1
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Najma dan Bayu pergi makan malam berdua. Mereka ingin membahas mengenai rencana pernikahan. Najma setuju untuk dinikahi oleh Bayu, lelaki yang sudah dengan tulus mencintainya. Memang saat ini nama Bayu belum ada mengisi hatinya, tapi Najma berjanji akan mencintai Bayu sebagai suaminya nanti.
“Aku tidak ingin memaksamu, jika kamu belum siap tak mengapa aku harus menunggumu lagi,” ujar Bayu.
Najma menggeleng pelan, ia meraih tangan Bayu yang terasa dingin dan menggenggamnya erat. Ditatapnya lekat wajah ayah dari anaknya itu. Wajah dengan tatapan mata yang teduh.
“Aku putuskan untuk kita segera menikah, tidak ada keterpaksaan. Aku akan belajar mencintaimu. Aku akan menjalankan peranku sebagai seorang istri yang baik untukmu nanti,” ucap Najma dengan tanpa keraguan. Bayu tersenyum kecil, lelaki itu bangkit dari tempat duduknya. Ia mendekati Najma, meraih dagu wanita cantik itu.
Tatapan mereka saling beradu, satu hal yang menarik minat Bayu dari wajah cantik Najma yang terukir sempurna. Bibir indahnya yang dipoles dengan lipstik berwarna merah, begitu mengundang untuk dicicipi.
Bayu mendaratkan kecupannya di bibir merah itu, Bayu melumatnya dengan sangat lembut seolah ia ingin menyalurkan perasaannya melewati ciuman ini.
__ADS_1