
Pram memilih untuk menemui Bagas lebih dulu sebelum ia bertemu dengan Najma, biar bagaimana pun jika ia kembali dengan Najma ia harus mendapat restu dari Bagas.
"Bagaimana kabarmu Pram?" tanya Bagas mereka bertemu disalah satu Cafe terkenal.
"Aku baik, bagaimana dengan Najma?" Bagas memperhatikan keseluruhan penampilan Pram, nampak nya Pram sudah banyak merubah sifatnya seperti janji Pram dahulu, pria itu sudah tidak terlihat angkuh dan arogan lagi.
"Najma baik Pram," sahut Bagas. Bahkan setelah Pram menjauh, Najma menjadi anak yang penurut pada orang tuanya, dia tidak pernah membangkang lagi.
Perubahan Najma tentu sangat disukai oleh orang tuanya, bahkan orang tuanya berharap Najma tidak menikah lagi karena takut perhatian Najma pada mereka akan berubah atau bahkan tidak peduli seperti saat bersama Pram dulu.
"Sudah bolehkah aku menemui Najma?" tanya Pram ragu, raut wajah Bagas terlihat tegang sesaat.
"Belum waktunya Pram, sabarlah dulu. Saat ini Najma tidak dekat dengan siapa pun, kamu tidak perlu khawatir dia akan jatuh hati pada pria lain. Najma masih setia menantimu" Bagas menjaga ekspresinya agar tetap tenang, ia tidak mau Pram curiga padanya.
"Apa aku belum cukup baik? Ini sudah dua tahun, jika pun Papa belum bisa mengizinkan aku menikahi Najma kembali maka izinkan aku untuk bertemu dengannya." Tatapan Pram nampak memohon, selama ini ia tersiksa tidak bisa bertemu dengan Najma.
"Begini Pram aku ingin Najma berkonsentrasi mengurus bisnis kami dulu, aku tidak mau saat kamu kembali Najma tiba-tiba mengatakan tidak mau mengurus bisnis yang sudah dengan susah payah aku bangun karena dia lebih memilih menjadi istri yang menuruti setiap ucapanmu seperti dulu."
"Begitukah? Jadi, Papa menganggapku membawa pengaruh yang buruk untuk Najma?"
"Bukan seperti itu maksudku. Papa mohon mengertilah Pram, Najma itu anakku satu-satunya. Kelak jika memang sudah saatnya Papa akan izinkan kamu kembali bersama Najma. Sekarang bukan saat yang tepat." Bagas melembutkan nada bicaranya, setelah semua kejadian buruk yang dialami ia sangat sulit untuk melepas Najma kembali.
Melihat Bagas nampak putus asa, Pram tak tega untuk memaksa, ia memahami kekhawatiran pria itu. "Baiklah aku tidak akan menemui Najma sekarang, tapi jika aku tahu Najma tengah dekat dengan pria lain maka aku akan menemuinya meski pun tanpa persetujuanmu," ucap Pram tajam.
*****
Jam sepuluh malam, Najma baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Wanita itu menghela napas lelah, padahal tadi pagi ia berjanji untuk mengajak putri kecilnya jalan-jalan. Sejujurnya jika bisa memilih, Najma ingin terus di rumah mengurus putrinya saja. Namun ia tidak punya pilihan ketika orang tuanya meminta agar ia terjun ke dunia bisnis yang orang tuanya bangun selama ini.
__ADS_1
"Maafkan Mama nak." Najma membatin, ia mengambil tasnya bersiap untuk pulang ke rumah.
"Hei, anak manja ayo pulang! aku sudah tidak sabar untuk segera berbaring di kasur empukku." Damar menarik tangan Najma yang dirasanya sangat lamban. Jika tidak kasihan dengan Najma maka Damar tidak akan bekerja, Damar lebih memilih untuk bersenang-senang menghabiskan harta warisan orang tuanya yang meninggal saat ia masih duduk di bangku perkuliahan dulu.
Atas permintaan Risma yang notabenenya Kakak mendiang Ayahnya, Damar kini tinggal bersama mereka. Damar tak menolak karena setelah orang tuanya meninggal ia sendirian.
Ketika hendak memasuki lift Najma menghentikan langkahnya, dadanya kembali terasa nyeri dan ia kesusahan untuk mengambil napas karena sesak. "Kamu kenapa?" tanya Damar melihat wajah sepupunya yang berubah pucat.
"Dadaku tiba-tiba terasa nyeri." Damar menarik napas panjang, ia memapah sepupunya itu.
"Akhir-akhir ini kamu sering mengeluh sakit, kenapa tidak coba periksakan kesehatanmu ke dokter?" Najma menggeleng, sudah cukup waktu kecil ia sering berada di rumah sakit yang membosankan.
"Aku baik-baik saja, rasa nyeri ini akan hilang nanti," ujar Najma. Damar kesal dengan sifat keras kepala sepupunya itu.
"Aku akan ceritakan ini pada Papa."
*****
Najma hari ini akhirnya bisa menepati janjinya untuk mengajak anaknya jalan-jalan, tak muluk-muluk Akela hanya minta ditemani ke taman bunga dan membuat gelembung sabun. Najma sangat antusias mendandani anaknya menjadi selucu mungkin, mereka kompak memakai dress berwarna coklat dengan motif polkadot.
"Mama, Acela pengen es clim...." Akela merengek dengan Najma kala melihat seorang anak kecil lewat di depannya sambil menjilati es krim di tangannya.
"Akela mau es krim? Sebentar ya Mama carikan. Kamu duduk disini jangan ke mana-mana oke."
"Oke, Mama...." sahut Akela sambil menganggukkan kepalanya. Najma mengecup kening Akela sebelum meninggalkan bocah lucu itu. Najma melangkah dengan terburu-buru, ia tidak ingin meninggalkan anaknya terlalu lama. Tak jauh dari sini Najma tadi ada melihat penjual es krim.
Setelah ditinggal Najma, Akela duduk sendirian sambil memainkan alat gelembung sabun miliknya. Bocah lucu itu bertingkah menggemaskan dengan berusaha menangkap gelembung sabun yang dibuatnya sendiri.
__ADS_1
Diam-diam seorang pria yang mengintip mereka dari tadi menghampiri Akela yang duduk sendirian. "Hallo, anak manis!" sapa pria itu, Akela menatapnya dengan heran karena pria itu nampak asing di matanya.
"Kamu sama siapa disini?" tangan besar pria itu mengusap kepala Akela dengan sayang.
"Sama Mama." Pria itu tersenyum, ia membungkuk untuk mencium wajah menggemaskan Akela.
"Berikan ini untuk Mamamu." Pria itu memberikan sebuket bunga mawar biru, dengan ekspresi kebingungan Akela tetap menerima bunga itu. Tanpa berkata apa pun lagi pria itu lalu pergi.
Ketika Najma kembali, ia keheranan melihat Akela sedang memeluk buket bunga mawar yang sangat besar. "Akela siapa yang kasih kamu bunga?" Najma mengambil bunga itu dari tangan anaknya kemudian memberikan es krim rasa strawberry yang tadi ia beli.
"Tadi dikasih sama Om."
"Siapa? Kamu kenal?" Akela menggeleng, ia sekarang asik menikmati es krim miliknya.
Najma menatap bunga itu, ia mengernyit saat menemukan secarik kertas, disitu tertulis inisial P.A, Najma berpikir keras siapa kiranya orang yang ia kenal memiliki inisial P.A
Pram Aditama
Najma terkesiap, Pram ada disini. "Akela, yang tadi kasih kamu bunga pergi ke mana?"
"Ke sana!" Akela menunjuk arah ke mana Pram tadi pergi. Najma bergegas mencari Pram, ia yakin pria itu masih ada disekitaran sini. Pram pasti mengikutinya tadi. Mata Najma mulai berkaca-kaca.
"Mas Pram! Aku tahu kamu masih disini, keluarlah!" di tempatnya kini Pram sendiri berusaha untuk tidak menampakkan diri dan berlari untuk memeluk Najma, ia sudah berjanji untuk tidak menemui wanita itu sementara ini.
"Mas Pram aku mohon jangan bersembunyi. Ini sudah dua tahun, waktu yang sangat lama aku menunggumu." Tubuh Najma meluruh, ia bersimpuh di atas rumput yang hijau, perlahan tangisannya pecah.
Akela yang tak mengerti dengan apa yang terjadi, menghampiri ibunya yang kini menangis. Tangan mungilnya mengusap air mata di wajah Najma. "Mama kenapa nangis?" Najma semakin merasa sedih saat melihat wajah polos anaknya, ia mendekap tubuh mungil itu. Selama ini Akela lah penyemangat hidupnya.
__ADS_1
"Maafkan aku." Di tempat persembunyiannya batin Pram meringis melihat wanita yang ia cintai menangis karenanya. Tak henti batinnya memohon maaf karena sudah membuat air mata Najma jatuh karena menangisinya.