
Benar seperti apa yang dipikirkan Najma kemarin. Pram pasti datang ke rumah orang tuanya untuk menjemputnya pulang. Tapi Najma dengan tegas menolak, ia tidak mau membuat anaknya dalam bahaya jika ia harus kembali tinggal bersama Pram.
"Pulang saja sana sendiri. Aku tidak mau ikut denganmu. Sebaiknya kamu urus saja Ibumu dan wanita gila itu. Bukankah dulu kamu ingin menikahinya sebaiknya sekarang kamu nikahi dia dan lupakan aku!" Ucap Najma tajam.
"Tidak. Aku tidak akan pergi sebelum kamu ikut denganku." Pria itu tetap bersikeras mempertahankan wanita yang dicintainya. Najma terlihat mulai kehabisan akal untuk membuat Pram pergi dari kediaman orang tuanya.
Ada alasan tersendiri mengapa Pram baru datang setelah tiga hari Najma pergi meninggalkan rumah. Pram menyadari keadaan sekarang sangatlah sensitif. Apa lagi disini orang tua Najma begitu mendukung perpisahan mereka. Salah sedikit saja, mungkin ia dan Najma akan berpisah untuk selamanya.
"Untuk apa? Aku tidak ingin lagi melanjutkan hubungan ini. Semuanya sudah berantakan, lebih baik kita akhiri saja sebelum semuanya berujung pada penyesalan yang teramat jauh," kata Najma. Pram nampak frustrasi.
"Aku tidak mau mengakhiri hubungan ini. Kamu tahu sendiri aku tidak bisa hidup tanpa mu. Aku mencintai kamu Najma. Aku mohon kembalilah padaku." Najma nampak membuang muka.
Ia enggan untuk menatap wajah Pram yang sedang memohon padanya. Najma takut jika ia menatap mata pria itu maka dirinya akan luluh. Bagaimana pun rasa sakit yang sudah pria itu berikan untuknya, disudut hatinya yang paling dalam Najma masih menyimpan rasa untuk pria itu. Walau ia sudah berusaha menghapusnya, namun semuanya terasa begitu sulit.
Apa lagi jika kenangan indah di masa lalu yang pernah terjadi di antara mereka menghampirinya. Sebelum ia merasakan sakit yang seperti sekarang ini. Ia pernah bahagia bersama Pram, pria itu dulu selalu membuatnya tersenyum.
"Aku tidak bisa kembali padamu selama kamu masih berhubungan dengan Ibu tirimu itu. Jika kamu tidak bisa hidup tanpa aku, lebih baik kamu mati saja!" Ucapan Najma terdengar begitu kejam di telinga Pram, wanita itu menyuruh dirinya mati.
"Kamu tidak mencintai aku lagi?" Tanya Pram, napas pria itu memburu. Matanya menatap tajam wanita yang dicintainya, sementara Najma sendiri masih berusaha bertahan agar dirinya tidak goyah.
"Kamu bisa pikirkan sendiri," ucap Najma ambigu. Namun tetap berhasil membuat hati Pram hancur, perlahan-lahan hatinya mulai berteriak kalau ia sebaiknya menyerah saja.
Namun egonya balas berteriak kalau ia harus mempertahankan wanita yang dicintainya, dalam keadaan bimbang seperti ini apa yang harus Pram lakukan. Apakah ia harus menuruti apa yang dibisikkan oleh hati kecilnya, atau kah ia harus menuruti egonya yang lebih mendominasi.
*****
Waktu enam bulan merupakan waktu yang begitu sebentar untuk Najma, namun begitu lama untuk Bayu. Selama enam bulan itu pula Bayu selalu bolak-balik ke Jakarta setiap dua minggu sekali untuk menemuinya anaknya.
Akela tumbuh menjadi bayi yang semakin lucu saja. Risma yang awalnya menolak kehadiran Akela perlahan mulai menerima anak itu. Bahkan kini ia sangat menyayanginya, hari ini Akela genap berusia enam bulan.
Dan Najma harus menepati janjinya pada Bayu. Berkunjung ke kampung halaman Bayu bertemu dan orang tua lelaki itu. Sesungguhnya ia tidak siap bertemu dengan mereka, ia masih belum menemukan kata-kata yang pas untuk menjawab setiap pertanyaan orang tua Bayu nantinya.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Najma, mereka akhirnya berangkat dengan diantar oleh supir pribadi keluarga Najma. Kedua anak manusia itu memilih untuk tidak saling bicara.
Najma membiarkan Akela dijaga oleh Bayu. Sementara dirinya memilih untuk tidur. Sepertinya mereka masih lama baru tiba di tempat tujuan, wajah Akela yang imut membuat Bayu setiap saat selalu merindukannya.
Apa lagi Akela sekarang sudah mulai bisa berceloteh dan tertawa jika diajak bercanda. Andai saja mereka bisa selalu bersama selamanya.
__ADS_1
*****
Bayu membangunkan Najma saat mereka sudah sampai di tempat tujuan. Wajah Najma terlihat bingung ketika Bayu membangunkannya.
"Kita sudah sampai," ucap Bayu, seolah mengerti dengan tatapan Najma.
"Akela biar aku yang gendong." Bayu menahan Najma yang ingin mengambil Akela, bayi mungil itu kini tengah terlelap damai. Menempuh perjalanan yang cukup jauh beruntungnya Akela tidak rewel jika tidak bisa pusing kepala Bayu.
Bayu meminta tolong pada supir yang mengantar mereka untuk membawa barang-barang Najma masuk ke rumahnya. Najma yang masih mengantuk berjalan dengan sempoyong, karena cemas berlebih tadi malam ia tidak dapat tidur semalaman.
"Keluargaku sekarang sedang tidak berada di rumah, mereka ke desa sebelah menghadiri acara keluarga," kata Bayu, lelaki itu langsung mengajak Najma ke kamarnya. Ia lebih dulu membaringkan Akela, bayi lucu yang membuat gemas.
"Istirahatlah, maaf kamarnya sempit." Najma hanya mengangguk, tanpa pikir panjang ia langsung berbaring di ranjang untuk kembali melanjutkan tidurnya.
Bayu membuka jendela supaya udara segar bisa masuk, ia juga menyalakan kipas angin supaya mereka tidak kepanasan. Bayu tiba-tiba teringat dengan barang keramat milik Najma yang ia curi, astaga ia harus menyembunyikan benda itu, bisa mampus kalau sampai ketahuan Najma.
*****
Tidur Najma terganggu karena tangisan anaknya, ia pikir Akela lapar jadi Najma menyusui bayinya. Namun rupanya Akela bukan ingin menyusu, ia tetap menangis. Najma melirik Bayu yang kini sedang bermain gadget.
"Bayu bisa kamu gantikan popoknya Akela? aku mengantuk. Sekalian kamu bujuk dia supaya berhenti menangis." Bayu menghela napas, tanpa protes ia melakukan apa yang diminta Najma. Lagi pula jika bukan sekarang kapan lagi ia bisa mengurus Akela.
"Bagaimana kalau kita menonton film kartun, Akela suka kartun bukan? Papa juga suka kartun," ujar Bayu, ia mengajak Akela keluar kamar meninggalkan Najma yang masih larut dalam dunia mimpinya.
Yuda dan Gilang memutuskan untuk pulang lebih dulu, mereka mengernyit melihat pintu rumah terbuka. Keduanya kompak berpikir kalau saat ini Bayu sudah pulang, entah untuk apa Bayu sering bolak-balik ke Jakarta mereka tidak tahu.
"Kaya ada suara anak kecil," kata Gilang ketika masuk ke dalam rumah. Yuda mengedikkan bahunya.
"Bang Bayu itu anak siapa?" Tanya Gilang, saat melihat Bayu main dengan anak kecil. Setahunya selama ini Bayu tidak suka dengan anak kecil, Bayu pernah mengatakan alasannya. Kata Bayu anak kecil itu, cerewet, cengeng, dan manja.
"Anak Abang," sahut Bayu santai. Yuda mencibir.
"Sejak kapan kamu jadi laki-laki halu? istri saja tidak punya sok-sokan ngaku punya anak," kata Yuda, ia mencoba mengingat setahunya tetangga mereka tidak ada yang punya anak bayi. Lalu anak siapa sekarang yang sedang bersama Bayu. Wah jangan-jangan Bayu jadi penculik lagi, batin Yuda.
"Terserah jika tidak percaya. Akela kamu anak Papakan Nak. Kamu lucu, sini kamu Papa cium." Bayu dengan gemas mencium pipi gembil Akela, bayi berwajah cantik itu tertawa lucu.
"Mana Emak tu bocah?" Tanya Yuda terheran-heran dengan perubahan Bayu, saudara kembarnya itu terlihat seperti seorang Bapak yang begitu menyayangi anaknya.
__ADS_1
"Ada di kamar," sahut Bayu.
Yuda langsung pergi menuju kamar Bayu, ia ingin memastikan kebenaran ucapan saudara kembarnya itu. Ketika masuk ke kamar Bayu. Yuda terpaku melihat sesosok wanita yang baru saja terbangun dari tidurnya. Wanita itu menoleh dan tersenyum ke arahnya, senyumannya yang begitu manis membuat Yuda terpesona.
"Bayu, Akela mana?" Najma tidak menyadari kalau orang yang berdiri di depannya ini bukanlah Bayu.
"Bayu kalau ditanya itu jawab. Akela mana? Apa keluargamu sudah pulang?" Setelah wanita itu bicara dengan suara yang agak tinggi, barulah Yuda tersadar.
"Aku bukan Bayu." Najma tersentak, suara lelaki yang berbicara dengannya terdengar berbeda dengan suara Bayu biasanya.
Dilain tempat Bayu seolah baru tersadar, oh astaga. Apakah Yuda saat ini di kamarnya? Yuda si playboy itu pasti saat ini tengah cengengesan melihat wanita cantik.
"Gilang, kamu jaga dede bayinya sebentar. Abang mau ke kamar dulu," kata Bayu, yang langsung diiyakan oleh Gilang. Ia sangat senang dengan kehadiran Akela, apa lagi ia memang suka dengan anak bayi.
Najma kini dibuat terheran-heran melihat penampakan di depannya, Bayu ada dua. "Siapa Bayu yang asli?" Tanya Najma, ekspresi wajahnya kini seperti orang linglung.
"Aku," ucap Bayu. Najma menatap ke arah lelaki itu.
"Bayu kamu punya kembaran?"
"Ya, dia Yuda adik kembarku," kata Bayu. Najma nampak frustrasi. Ia sudah tiga tahun lebih mengenal Bayu, tapi lelaki itu tidak pernah bercerita padanya kalau dia punya saudara kembar. Astaga, mana mereka kembar identik lagi Najma sampai terkecoh dibuatnya.
*****
Najma gugup setengah mati ketika berhadapan dengan orang tua Bayu, terlebih Wardi Bapaknya Bayu menatapnya dengan tajam. Namun ketika menatap wajah Ningsih. Najma nampak tak asing dengan wajah keibuan itu. Najma rasa ia pernah mengenal wanita itu. Najma mencari file masa lalunya mengenai wanita paruh baya yang nampak tak asing di matanya.
“Maafkan aku. Waktu itu aku hanya menuruti kemauan mantan suamiku. Aku tidak bermaksud menjebak Bayu dalam hubungan rumit antara aku dan pria itu,” ujar Najma, kepalanya menunduk dalam.
“Lalu sekarang bagaimana hubunganmu dan Bayu? Kalian sudah punya anak.” Suara Wardi begitu berat, jika saja Wardi membentaknya mungkin Najma akan pingsan.
“Jika Najma mau, aku ingin pernikahan ini terus berlanjut,” kata Bayu. Ningsih mengelus dada melihat Bayu begitu memuja wanita yang dinikahinya. Hal itu wajar terjadi. Najma sangat cantik, lelaki mana yang tak terpikat.
“Bagaimana denganmu?” Ningsih bertanya pada Najma yang terus menunduk.
“Tidak bisa. Selain karena perbedaan usia kami yang terlalu jauh. Kurasa aku masih sangat mencintai mantan suamiku.” Najma berucap jujur, sekuat apa pun ia mencoba dan terus berusaha melupakan Pram yang ada hatinya terus berteriak mengatakan kalau hanya Pram seorang pemilik hati dan cintanya.
“Dengarkan itu Bayu. Dia tidak mencintaimu, jangan berharap terlalu banyak. Ingat pesan Bapak!” ucap Wardi penuh penekanan. Wajah Bayu semakin sendu.
__ADS_1
Sebenarnya Bayu berharap orang tuanya mendukung pernikahannya dengan Najma tetap berlanjut. Tapi orang tuanya seolah tak peduli, mereka tetap ingin Bayu kembali dengan mantan kekasihnya.