Istri Titipan

Istri Titipan
Bab 5


__ADS_3

Najma menatap suaminya yang baru saja pulang kerja. Pram tersenyum melihat Najma memperhatikannya. Najma terlihat menggoda dengan gaun tidur seksi yang dikenakannya malam ini.


"Mas kapan kita akan pergi ke panti asuhan mengadopsi anak?" Pram mengernyit, saat ini Najma nampak gugup ia khawatir kalau Pram akan bersedih lagi.


"Kenapa bertanya hal itu?"


"Aku iri mendengar cerita dari teman-temanku tentang keseruan mereka mengurus bayi, terbangun saat tengah malam untuk menggantikan popok atau memberikan susu untuk bayinya." Pram menangkup wajah wanita itu dengan tangannya.


"Mengadopsi bayi di panti asuhan itu tidak semudah yang kamu bayangkan. Kita harus mengurus banyak hal sebelum mendapat bayi yang kita inginkan."


"Aku tahu, tapi aku sangat ingin memiliki bayi. Jika kamu tidak ada waktu untuk menemani, aku ke panti asuhan aku akan pergi sendiri." Najma meninggalkan suaminya, mulai merajuk, ia berbaring di tempat tidur menutup kepalanya dengan bantal.


"Najma." Pram memanggil istrinya, dengan pelan mengambil bantal yang digunakan Najma untuk menutup kepalanya.


"Apa lagi?" sahut Najma ketus. Pram terlihat menghela napas berat.


"Sebenarnya aku hanya menginginkan anak dari rahimmu. Aku tidak mau memiliki anak angkat."


"Tapi kamu sendiri tahu, kalau kita tidak bisa memiliki anak kandung!"


"Kamu menikah dengan pria lain. Aku akan menceraikanmu." Ucapan Pram bagai petir menyambar, menghancurkan hati Najma. Pram ingin menceraikannya.


"Kamu ingin menceraikan aku, kenapa? aku tidak mau bercerai denganmu!" Najma bangun dari tidurnya menatap Pram dengan marah.


"Kita bercerai hanya untuk sementara Najma. Kamu menikah dengan pria lain, setelah kamu hamil, kamu bercerai dengannya. Dan kita bisa melanjutkan pernikahan kita."


"Apa maksud kamu!" Najma berteriak marah, ia melempar wajah suaminya dengan bantal yang ada di tempat tidur mereka. Pram dengan mudah mengusulkan ide itu seolah dirinya tak punya perasaan.


"Hanya ini satu-satunya cara agar kamu bisa memiliki anak kandung. Kamu nanti juga akan bisa merasakan bagaimana rasanya hamil dan melahirkan seperti yang kamu inginkan."


"Itu ide gila aku tidak mau!"


"Najma!" Bentak Pram, membuat tangis Najma langsung pecah, ia paling tidak bisa dibentak. Pram merasa sangat bersalah kembali membuat wanita itu menangis, ia langsung memeluk istrinya.


"Najma ini semua kulakukan demi kamu dan masa depan hubungan kita. Kamu menikah untuk sementara dengan pria lain," bujuk Pram, meski ide ini terdengar gila.

__ADS_1


“Tidak! Kenapa harus seperti ini? kamu masih punya harapan untuk punya anak Mas. Kita coba pengobatan tradisional, bukankah metode seperti itu banyak yang berhasil.” Najma mencoba membuka jalan pikiran Pram.


“Lebih banyak yang berujung pada kegagalan ketimbang berhasil. Bagaimana jika usaha keras itu hanya sia-sia. Sama saja dengan memiliki harapan semu. Kamu menikahlah dengan pria lain, supaya kamu bisa memiliki keturunan,” ucap Pram walau sebenarnya sakit.


"Tapi bagaimana dengan kamu? memang kamu rela aku menikah dengan pria lain?"


"Aku sudah memikirkan ini baik-baik, tidak usah kamu pikirkan aku." Pram yang pencemburu sudah memikirkan rencananya ini dengan matang. Meski nanti ia harus menguatkan hatinya saat Najma disentuh oleh pria lain.


"Tapi Mas." Najma menatap Pram tepat di manik matanya, berharap pria itu segera tersadar dari kebodohannya.


"Ayolah Najma kita hanya bercerai untuk sementara waktu. Ketika kita rujuk tidak akan ada yang berubah. Aku akan tetap mencintai kamu, dan untuk anakmu nanti aku akan menyayangi dan menganggapnya seperti anakku sendiri."


Najma menangis terisak, sungguh ia tidak mau melakukan ide gila dari Pram meskipun ini terdengar menguntungkan baginya. Najma tidak dapat membayangkan, jika tubuhnya dijamah oleh pria yang tidak mencintainya secara tidak langsung ia hanya jadi pemuas nafsu.


*****


Pram menatap Bayu yang sedang membersihkan mobilnya. Pemuda itu sudah dua tahun lamanya bekerja pada keluarganya. Atau lebih tepatnya Bayu, Pram pekerjaan khusus untuk mengantar jemput Najma, karena Pram tidak ingin istrinya bepergian dengan menyetir sendiri.


"Bayu hari ini kamu antar Ibu seperti biasa. Selesai mengajar antarkan Ibu ke kantor Bapak," ujar Pram.


Sepanjang perjalanan pikiran Pram berkecamuk, tadi malam ia sudah berhasil membujuk Najma agar mau bercerai dengannya sementara dan menikah dengan pria lain sampai kemudian Najma hamil.


Yang menjadi pikiran Pram saat ini adalah tentang siapa pria yang mau menikahi Najma secara kontrak. Pram nanti akan membayar pria itu, tapi ia tidak bisa sembarang pilih. Najma begitu cantik, bukan tidak mungkin pria yang nanti menikahi Najma akan jatuh cinta pada wanita itu.


Di hatinya Pram yakin kalau Najma tidak akan mengkhianati cintanya. Dia sudah mengenal Najma sejak zaman putih abu-abu. Najma dulu adik tingkatnya. Pada saat Pram selesai kuliah ia memutuskan untuk menikahi Najma, meski pada saat itu kuliah Najma masih belum selesai.


Pram menghentikan mobilnya secara mendadak, beruntung jalanan sedang sepi, jika tidak mungkin akan terjadi tabrakan. Satu nama terlintas di kepalanya. Bayu pemuda kampung itu. Bayu masih muda, tidak mungkin jika ia mencintai Najma yang jauh lebih tua darinya.


Lagi pula pemuda kampung seperti Bayu pasti tidak akan menolak jika ia beri bayaran mahal hanya untuk menghamili seorang wanita. Apa lagi wanita itu cantik seperti Najma.  Baiklah, Ia bisa meminta Bayu untuk menikahi Najma, dan memberi bayaran untuk pemuda itu.


Jika seandainya Bayu menolak, ia bisa menggunakan kekuasaannya untuk mengancam pemuda itu. Pram menyeringai licik, ia kembali melajukan mobilnya dengan pelan.


Ia akan langsung membicarakan hal ini nanti, dan sesegera mungkin mengurus perceraiannya dengan Najma.


*****

__ADS_1


Bayu sangat bingung ketika Pram memintanya untuk masuk ke ruang kerja pria itu. “Duduklah Bayu.” Pram menunjuk kursi di depannya, dengan ragu Bayu mendudukkan pantatnya disitu.


“Ada apa Bapak memanggil saya?” tanya Bayu nampak kikuk. Pram berdehem, ia menilai penampilan Bayu. Pemuda itu cukup tampan untuk ukuran orang desa. 


Pram menebak di usianya yang masih sangat muda. Bayu pasti belum memiliki pengalaman bersama wanita. Apa lagi penampilan pemuda itu tampak polos. Pram jadi tidak ragu memilih Bayu sebagai laki-laki yang akan menikahi Najma.


“Aku ingin menawarkan kerja sama yang bagus untukmu,” ucap Pram. Bayu mengernyit dalam.


“Tenang saja. Pekerjaannya sangat mudah dan aku akan memberikan kamu bayaran mahal.” Tawaran dari Pram justru membingungkan Bayu, apa yang bisa ia lakukan sehingga Pram berani membayarnya mahal.


“Pekerjaan apa itu pak?” Pram tersenyum miring mendengar pertanyaan Bayu.


“Menikahlah dengan istriku dan buat dia hamil.” Ucapan Pram membuat mata Bayu membulat. Apa Pram tidak waras atau pria itu kehilangan akal karena pengaruh minuman beralkohol.


“Ini bukan pernikahan nyata Bayu. Bisa dibilang aku hanya menitipkan istriku padamu sampai kamu berhasil membuatnya hamil, setelah itu kalian akan bercerai,” ucap Pram melihat Bayu nampak shock dengan ucapannya barusan.


“Saya tidak mau melakukan itu.” Bayu menolak tawaran Pram tanpa berpikir panjang. Apa yang ditawarkan Pram sama saja dengan membeli harga dirinya sebagai laki-laki.


Raut wajah Pram yang semula ramah, berubah saat mendapat penolakan dari Bayu. “Ayolah Bayu ini tawaran bagus dengan pekerjaan yang sangat mudah.”


“Saya tidak bisa menerima pekerjaan ini. Bapak cari saja orang lain.” Pram menggeram marah, ia menggebrak meja hingga membuat Bayu memejamkan matanya sesaat.


“Kamu tidak bisa menolak Bayu. Keluargamu akan jadi taruhannya jika kamu tidak ingin bekerja sama denganku. Kamu pastinya tidak ingin melihat keluargamu hancur,” ucap Pram dengan arogan, menunjukkan di sini kalau ia sangat berkuasa.


*****


Najma penasaran ketika Pram mengatakan kalau ia sudah menemukan lelaki yang mau menikahinya. Pram akan membicarakan hal penting ini di ruang kerjanya. Najma mengernyit dalam saat melihat kehadiran Bayu, ia menatap Pram penuh tanya.


“Najma.... jadi Bayulah laki-laki yang akan menikah denganmu.” Najma melotot shock, bibirnya bergetar. Ia tak percaya jika Pram memilih Bayu untuk jadi suami sementaranya, ia dua belas tahun lebih tua dari pemuda culun itu.


“A-apa Mas. T-tapi.... Bayu itu kan Cuma supir. Kenapa kamu memilih dia untuk jadi ayah anakku?” Najma tidak pernah membayangkan kalau Bayulah orang yang dipilih Pram untuk menanamkan benih di rahimnya.


“Kamu keberatan jika harus menikah dengan Bayu? sayang, ini justru bagus. Dengan Bayu yang hanya orang biasa-biasa saja kerja sama ini akan menjadi lebih mudah,” ucap Pram meyakinkan Najma. Wanita itu menelan ludah, ia mendapati Bayu yang kini menatapnya dengan mata berkobar amarah.


Dari tatapan matanya kini. Bayu terlihat sangat membencinya. Najma merinding, selama dua tahun ia mengenal Bayu, belum pernah ia mendapat tatapan sadis seperti itu dari Bayu.

__ADS_1


__ADS_2