
Sesuatu yang langka menyambut Bayu pagi ini. Najma bangun tidur mendahuluinya. Wanita itu juga membuatkan teh hangat beserta roti selai kacang kesukaan Bayu.
Wajah Bayu berubah kecut ketika meminum teh buatan Najma. Rasanya manis kelewatan, berapa banyak gula yang wanita itu masukan? jika ia minum teh buatan Najma setiap hari bisa-bisa ia terkena diabetes.
"Bayu bisa aku minta satu hal?" Bayu mendengus pantas saja sikap Najma hari ini berubah, ternyata ada maunya.
"Memang kamu ingin apa dariku?" ditatap Bayu Najma tersenyum manis.
"Bisakah kamu berhenti merokok? aku tidak suka melihatmu setiap hari menghirup asap. Merokok juga tidak bagus untuk kesehatan Bayu, tidak hanya untukmu tapi juga orang yang berada di dekatmu saat kamu merokok. Apa lagi sekarang aku sedang hamil Bayu. Kamu tidak kasian pada calon bayi kita?" Najma menyampaikan keluh kesahnya, saat merokok Bayu memang tidak tahu aturan.
"Sebenarnya susah untuk berhenti, tapi demi kamu akan kuusahakan." Sahut Bayu sekenanya, ia bisa dikatakan sebagai perokok berat.
"Aku tidak mau tahu. Pokoknya kamu harus berhenti dari kebiasaan merokokmu," kata Najma, ia paling benci laki-laki perokok dan kini ia malah dapat suami perokok.
"Baiklah aku akan berhenti merokok dalam waktu dekat. Setelah aku pulang kerja kamu mau aku bawakan apa?" tanya Bayu, sengaja mengalihkan pembicaraan. Najma mendengus, cerdas juga si Bayu tidak mau mencari keributan dengannya.
"Lipstikku habis Bayu, bisakah kamu belikan yang baru untukku?" Najma menatap Bayu penuh harap. Lipstiknya memang sudah habis dan ia menunggu Bayu membelikan lipstik baru untuknya.
"Lipstik! tidak bisakah kamu meminta hal lain." Bayu setengah menjerit, mendengar satu kata yang begitu horor di telinganya. Najma meminta untuk dibelikan lipstik yang mengharuskan dirinya mengunjungi tempat dimana benda itu dijual.
"Kenapa Bayu? kamu keberatan membelikan aku lipstik." Najma menyelidiki ekspresi Bayu.
"Tidak. Setelah pulang kerja aku akan carikan benda yang kamu minta. Kemungkinan nanti aku pulang sedikit lama dari biasa untuk mencari benda itu," kata Bayu memilih untuk menuruti keinginan wanita itu.
"Tak mengapa Bayu. Kamu tahukan lipstik seperti apa yang aku pakai."
"Yah aku tahu. Aku pernah melihat merek lipstik yang kamu pakai," ujar Bayu, ia menyesal menanyakan wanita itu menginginkan apa. Jika ujung-ujungnya ia disuruh membeli lipstik.
*****
Bayu melakukan pekerjaannya seperti biasa, melayani pembeli dan menata barang-barang di toko. Gaji di sini memang tidak setinggi bayarannya saat menjadi supir pribadi Najma dulu, tapi itu lebih baik ketimbang hanya menghabiskan waktu dengan berdiam diri sampai menunggu Najma melahirkan.
“Bayu siapa wanita yang ada di wallpaper handphonemu itu?” tanya Andra teman satu kerjaan Bayu.
“Istriku.” Bayu menyahut dengan santai, lelaki mana yang tak bangga jika memiliki istri secantik Najma begitu pula dengan Bayu meski awalnya ia menganggap pernikahannya dengan Najma sebagai musibah. Tapi setelah dijalani, ternyata tidaklah terlalu buruk.
“Serius kamu Bayu? Cantik itu. Tapi kalau dia memang benar istrimu, kamu hebat juga. Cuma kerja jadi pegawai toko berhasil dapat istri secantik itu. Kamu pakai pelet ya?” Bayu mendengus, memang ia lelaki macam apa di zaman sekarang ini masih percaya dengan hal begituan.
Meski pun wajahnya tidak bisa dikatakan ganteng banget, Bayu memiliki wajah yang cukup menarik. Dengan wajah begini pun, Bayu berhasil mengikat dua wanita sekaligus. Pertama Elsa, gadis manis yang berstatus sebagai pacarnya, kedua Najma. Wanita yang hanya menginginkan benihnya.
“Gila kamu! Mana mungkin lah aku pakai pelet,” sahut Bayu kesal. Andra terkekeh melihat ekspresi jengkel di wajah Bayu.
“Yah.... siapa tahu. Habis istrimu cantiknya kebangetan. Kenalkan aku dengan istrimu dong,” ujar Andra. Wajarlah kalau dia tidak percaya, selama ini Bayu tidak pernah bercerita tentang kehidupannya. Saat tahu Bayu punya istri, tentu Andra kaget apa lagi istrinya Bayu sangat cantik.
__ADS_1
“Aku tidak akan mengenalkan istriku pada laki-laki berotak mesum sepertimu,” sahut Bayu ketus. Andra mencebik kesal, mereka pun tidak saling bicara lagi. Karena sudah waktunya toko tutup, mereka sibuk merapikan barang-barang yang ada di toko.
"Sampai bertemu kembali esok hari Bayu," ucap Andra yang Bayu tanggapi dengan gumaman, ia masih kesal dengan Andra. Bayu langsung memacu motornya membelah jalanan yang cukup ramai oleh lalu lalang kendaraan.
Ia akan lebih dahulu mencari pesanan Najma, dalam hati Bayu menggerutu ketika mengunjungi tempat yang menjual pesanan Najma. Seorang Pramuniaga cantik menyapanya dengan ramah.
"Ada yang bisa saya bantu Mas?" sapa wanita cantik berpakaian seksi itu, tapi bagi Bayu Najma jauh lebih cantik.
"Em, saya mencari lipstik," ucap Bayu kikuk, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Untuk pacarnya ya Mas?" kata wanita itu lagi.
"Ah iya, saya mencari lipstik untuk istri saya." Pramuniaga cantik itu nampak terkejut mendengar ucapan Bayu, bagaimana tidak penampilan Bayu itu masih seperti bocah bau kencur.
Tapi ia dengan cepat kembali bersikap profesional dengan melayani pembelinya dengan sebaik mungkin. Setelah Bayu menyebutkan merek wanita itu membantu untuk memilih beberapa warna. Setelah mendapatkan lipstik yang diinginkan Najma, Bayu langsung membayarnya ke kasir.
Dan kini Bayu baru menyadari arti dari cantik itu perlu modal, demi apa pun hanya untuk membeli sebuah lipstik yang gunanya hanya sebagai pewarna bibir, ia harus merogoh kocek yang lumayan banyak untuk dirinya. Tapi Bayu tetap membelinya, ia ingin membuat Najma senang.
Bayu mengernyit melihat seseorang yang nampak familier di matanya. Merasa penasaran Bayu mengikuti orang itu yang menuju sebuah butik. Dirinya tak mungkin menjadi penguntit seperti ini jika orang yang familier di matanya itu bukan Pram, pria itu kini tengah jalan dengan seorang perempuan.
Bayu mengenali perempuan itu, karena perempuan itu dulunya pernah ingin menikah dengan Pram. Pria itu dengan santai membelikan apa yang diminta perempuan yang bertingkah layaknya seorang jalang. Apa sebelum pernikahan yang dulunya sempat akan terjadi itu, Pram memang sudah menjalin hubungan lebih dulu dengan perempuan itu? pikir Bayu.
Mereka terlihat sangat mesra, bahkan Pram diam saja saat perempuan jalang itu mengecup bibirnya. Bayu mengepalkan tangannya ia merasa marah mengetahui Pram ternyata bermain hati di belakang Najma. Tidak tahukah Pram jika Najma begitu mencintai pria itu. Jika saja Najma mencintainya, Bayu tidak akan mungkin mengecewakan Najma seperti apa yang dilakukan Pram kini.
Jika tidak memikirkan ia akan pulang kemalaman. Maka Bayu akan terus mengikuti Pram bersama perempuan jalangnya itu.
*****
Wajar saja jika ia manja dengan Bayu, ia sekarang sedang mengandung anak lelaki itu. Najma akhirnya dapat tenang melihat Bayu sudah memasuki pekarangan rumah. Najma langsung menghambur memeluk Bayu. Ini bukan dirinya, tapi Najma tidak peduli ia hanya ingin memeluk Bayu.
"Kenapa lama sekali?" tanya Najma dengan wajah cemberut.
"Maaf. Aku sedikit bingung saat memilih warna lipstiknya tadi," ujar Bayu, ia segera mengajak Najma masuk ke dalam rumah.
Setelah berbincang-bincang sebentar Najma menyuruh Bayu untuk segera mandi dan makan malam. Sementara dirinya sendiri hanya meminum jus buah sambil menunggu Bayu menyelesaikan makan malamnya. Bayu menatap Najma. Wajah wanita itu nampak cerah dari tadi pagi sampai saat ini, Bayu jadi ragu untuk mengatakan apa yang dilihatnya tadi.
"Najma bolehkah aku bertanya?" Bayu bergumam nyaris terdengar seperti bisikan. Najma mengernyit menatap Bayu yang nampak memendam sesuatu.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Apa yang akan kamu lakukan jika seandainya orang yang sangat kamu cintai ternyata telah mengkhianatimu?" tanya Bayu. Najma berpikir selama beberapa saat sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Bayu.
"Aku akan membencinya seumur hidupku." Najma menyahut dengan mantap.
__ADS_1
"Sebelumnya. Apakah kamu pernah mengalami yang namanya patah hati atau dikhianati?"
"Aku tidak pernah patah hati atau pun dikhianati, memang kenapa Bayu?" Saat ini Najma berpikir mungkin saja Bayu ada sedikit masalah dengan pacarnya jadi bertanya seperti itu, dan Najma tak keberatan menjawab segala pertanyaannya.
"Ah, tidak apa-apa hanya bertanya saja," ucap Bayu tersenyum simpul. Bayu mengurungkan niatnya untuk menceritakan kejadian tadi.
Selain ia yakin Najma tidak akan percaya dengan ucapannya, Bayu juga tidak mau hubungan baiknya dan Najma jadi kacau karena masalah ini. Lagi pula apa yang dilihatnya tadi belum tentu seperti apa yang ada di pikirannya kini, dan mungkin ia tadi salah mengenali orang.
*****
Bagas mengunjungi Najma, dengan membawa beberapa camilan favorit Najma. Ia juga membelikan make-up dan beberapa potong pakaian. Najma sangat dekat dengannya, ia sangat hafal dengan kebiasaan putrinya yang suka sekali berdandan dan memakai pakaian bagus.
“Papa!” Najma yang sedang membaca buku mengenai kehamilan terkejut melihat kehadiran Bagas.
“Bagaimana kabarmu?” Najma menghela napas.
“Seperti yang Papa lihat,” sahutnya. Bagas meletakkan paper bag berisikan barang-barang bawaannya di dekat Najma.
“Dari mana kamu mendapatkan buku itu?” tanya Bagas, melihat Najma yang sepertinya tak berminat untuk ngobrol dengannya. Putrinya itu pasti marah karena diasingkan di tempat ini dan menjauhkannya dari pria yang ia cintai. Tapi Bagas tak peduli dengan kemarahan Najma, cukup selama ini ia diam membiarkan Najma membangkang padanya hanya untuk membela Pram.
“Bayu yang kasih.” Baru saja ingin menayangkan Bayu. Pemuda itu muncul dengan membawa sepiring roti bakar dan segelas susu untuk Najma. Bayu kaget melihat kehadiran ayah Najma, ingat Bayu saat pria paruh baya itu menamparnya setelah tahu statusnya dengan Najma.
Bagas memang tidak merendahkan statusnya. Pria itu hanya meminta agar Bayu menjadi pria bertanggung jawab atas kehamilan Najma. Bagas meminta agar Bayu menemani Najma sampai saat melahirkan nanti, Bayu yang memang menginginkan kesempatan itu tentu saja mengiyakan.
“Bayu bisa kita bicara sebentar?” Bayu menahan napas, jujur ia gugup.
“Bisa Pak,” sahut Bayu. Bagas memberi kode agar Bayu mengikutinya, pria itu ingin mereka bicara empat mata, tanpa adanya Najma.
“Bagaimana keadaanmu dan Najma selama di sini?” tanya Bagas.
“Kami baik-baik saja.” Bagas menepuk-nepuk pundak Bayu.
“Semoga Najma tidak terlalu merepotkanmu ya. Dia memang manja, aku harap kamu bisa tahan.” Bayu mengangguk pelan. Tatapan Bagas nampak menerawang.
“Aku tidak menyangka putriku akan bernasib seperti ini. Belasan tahun aku dan istriku menunggu kehadirannya, setelah hadir pun dia seolah enggan untuk hidup. Waktu kecil Najma sering sekali sakit,” ujar Bagas, mengenang masa lalunya dulu.
“Dulu, aku belum lah sesukses sekarang, tapi setelah dia hadir bisnisku berkembang pesat. Aku dan istriku menganggap hadirnya sebagai keberuntungan, karena tak bisa selalu ada di sisinya aku memilih materi sebagai penebusnya.”
Entah kenapa Bayu jadi ingat Bapak ibunya di kampung, meski ia tidak hidup dalam limpahan materi yang berlebih tapi dirinya dihujani oleh perhatian dan kasih sayang. Orang tuanya tidak pernah membeda-bedakan kasih sayang mereka, semua anak mendapat kasih sayang yang sama rata. Meski didikan bapaknya bisa dibilang cukup keras.
“Waktu itu Najma menginjak usia 22 tahun. Dia memaksa agar diizinkan menikah dengan pria pilihannya. Karena tak sampai hati membuatnya kecewa aku dengan berat hati mengizinkan. Melihat Pram yang pekerja keras waktu itu aku yakin kalau Pram bisa membahagiakan Najma, tapi ternyata aku salah.” Bagas terlihat menyesali apa yang telah terjadi.
“Saat tahu Pram banyak memberi luka di hidup putriku. Aku sungguh marah dan kecewa, terlebih Najma tidak pernah bercerita padaku, dia selalu mengatakan pernikahannya baik-baik saja. Hatiku sebagai seorang Ayah yang telah membesarkan putrinya selama puluhan tahun sakit, apa lagi saat tahu hal nekat yang telah dilakukannya.” Bayu yang tak tahu harus mengatakan apa, memilih untuk menjadi pendengar yang baik.
__ADS_1
“Apa yang terjadi di antara kamu dan Najma membuatku cukup terguncang. Maaf jika waktu itu aku menamparmu,” ujar Bagas.
“Saya mengerti,” kata Bayu. Setelah mendengar cerita yang keluar dari mulut Bagas. Bayu jadi mengerti bagaimana sayangnya pria itu pada putrinya. Bayu pun menganggap tamparan yang diberikan di wajahnya waktu itu sebagai bayaran yang pantas karena dulu ia juga pernah menampar Najma.