Istri Titipan

Istri Titipan
Bab 30


__ADS_3

Pram sekarang sedang berada di rumah sakit menemani Najma, wanita itu baru saja melahirkan bayinya tadi pagi. Jangan tanya bagaimana perasaan Pram saat mendampingi Najma melahirkan, ia sangat gugup dan takut.


Kepalanya dipenuhi dengan pikiran-pikiran negatif. Setelah Najma melahirkan bayinya dengan selamat semua rasa yang tadi bersarang di dadanya sirna sudah berganti menjadi perasaan bahagia.


Seorang bayi perempuan yang begitu cantik, akan menjadi warna baru dalam kisah cinta mereka. "Selamat sayang, akhirnya kamu menjadi seorang Ibu," ucap Pram tulus, ia ikut bahagia dengan kelahiran sang bayi.


Tentu saja, ini semua berasal dari idenya. Najma dulu memilih agar mereka mengambil bayi di panti asuhan saja, tapi Pram bersikeras agar Najma memiliki anak kandung dengan cara menikah dengan lelaki lain.


"Maaf," ucap Najma melihat bekas cakaran di lengan Pram. Rasa sakit yang ia rasakan saat melahirkan tadi membuatnya tidak sadar sudah melukai lengan pria itu.


"Ini hanya luka kecil. Tidak perlu meminta maaf." Pram mendaratkan sebuah kecupan di bibir Najma, wajah wanita itu terlihat pucat namun rona kebahagiaan terpancar jelas di sana.


Seorang perawat masuk ke ruangan Najma dengan membawa bayi mungil digendongnya, senyum di wajah Najma merekah. Ia tidak sabar menunggu perawat itu memberikan bayinya, untuk ia susui.


"Saatnya memberikan ASI untuk bayinya Bu," ucap perawat itu ramah. Najma menanggapinya dengan tersenyum dan mengangguk.


Najma menatap bayinya dengan haru, terlebih saat sosok mungil itu mulai menyusu dengannya. Beginikah rasanya menjadi seorang Ibu setelah sekian tahun menunggu, seperti ini juga kah yang dirasakan orang tuanya dulu?


"Dia cantik." Najma menoleh ke asal suara, ia menatap Pram dengan lembut tatapan yang sudah lama tidak ia berikan untuk pria itu.


"Kamu jadi memberikan dia nama Akela Saskia?" Tanya Pram, matanya tak lepas menatap bayi cantik yang sedang menyusu itu.


"Iya, bukankah sebelumnya sudah aku katakan kalau Akela Saskia itu nama pemberian Bayu. Kamu tidak keberatan kan?"


Wajah Pram terlihat kecut. "aku tidak keberatan, kurasa tidak ada salahnya kita memakaikan nama pilihan Bayu untuknya. Anggap saja itu untuk menghormati Bayu sebagai Ayah biologisnya," ucap Pram, pria itu berusaha menekan egonya.


Tidak apa sekarang ia mengalah, lagi pula nanti Najma dan bayinya akan menjadi miliknya. Pemuda kampung itu tidak akan bisa mengusik kebahagiaan mereka, dengan seiring waktu berjalan Bayu akan terlupakan.


*****

__ADS_1


Bayu melompat dari tempat duduknya saking terkejutnya saat melihat sebuah gambar yang dikirim Najma melalui WhatsApp ke ponselnya, wanita itu sudah melahirkan bayinya. Seorang bayi perempuan yang begitu cantik, Bayu sekarang resmi menyandang status sebagai seorang Bapak.


Bayu yang kebetulan belum berangkat ke kebun, berteriak-teriak mencari Ibunya. Ia menemukan wanita yang sudah melahirkannya itu, di halaman depan rumahnya tengah menyirami tanaman. Hampir saja ia disiram Ibunya, karena kehadirannya yang secara tiba-tiba dan terkesan mengagetkan.


"Ada apa Bayu? Kamu ini teriak-teriak seperti di hutan saja." Gerutu Ibunya. Bayu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ia menampilkan cengiran khasnya ketika sedang bertingkah konyol.


"Anu, Bu ini." Bayu meringis, kenapa sekarang ia jadi canggung dengan Ibunya sendiri. Rasanya aneh sekali saat ia mengatakan kalau dirinya sekarang sudah jadi Bapak dari seorang bayi perempuan.


"Anu. Anu, ada apa sih Bayu jangan buat Ibu kesal denganmu," kata Ningsih, menatap anak tertuanya itu dengan greget. Sudah besar, masih saja bertingkah kekanakan.


"Anakku sudah lahir Bu, perempuan lucu sekali. Ini Ibu lihat fotonya," kata Bayu, ia dengan antusias menunjukkan gambar bayinya.


Ningsih tak kalah senang dengan Bayu, cucu pertamanya sudah lahir. Seorang bayi perempuan, selama ini ia menginginkan seorang anak perempuan terlahir dari rahimnya. Tapi tuhan lebih mempercayai ia untuk melahirkan anak laki-laki, Ningsih membayangkan seandainya cucu dan menantunya ada disini pasti ia akan sangat bahagia.


"Jika saja cucu Ibu ada disini pasti akan terasa lebih menyenangkan. Bayu kamu kenapa tidak coba membawa mereka kesini. Ibu ingin mengenal menantu dan cucu Ibu Bayu." Wajah Bayu memucat mendengar permintaan Ibunya, sejujurnya ia pun ingin melakukan itu. Tapi maukah Najma menginjakkan kaki ke rumahnya yang sederhana?


*****


Dulu ketika ia pulang ke rumah dengan membawa luka di tubuhnya karena berkelahi. Ayahnya akan menjadi orang pertama yang mencemaskannya. Apa pun yang ia lakukan Ayahnya selalu membelanya, jika dibandingkan dengan Ibunya Najma memang lebih sayang dengan ayahnya.


"Papa," ucap Najma lirih saat Bagas memeluknya.


Sadar diri dengan posisinya Pram memilih keluar dari ruangan, tidak ingin mengganggu momen pertemuan di antara Ayah dan anak itu.


"Pulanglah nak, akhiri hubunganmu dengan pria itu." Najma menggeleng tanda ia menolak permintaan Ayahnya.


"Dia sudah bukan siapa-siapamu lagi, kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dari dia. Kamu sempurna, mudah bagimu untuk mencari pria yang lebih dari dia."


"Tidak mau Pa," ucap Najma tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


"Tinggalkan pria itu, dia tidak pantas untuk kamu cintai," ucap Bagas dengan tegas. Sebenarnya mudah baginya untuk menjauhkan Najma dari Pram. Tapi usahanya ingin menjauhkan Najma dengan Pram akan sia-sia, jika Najma tidak pernah menginginkan dirinya menjauh dari pria itu.


Cara satu-satunya untuk membuat Najma meninggalkan Pram hanya satu, yaitu dengan cara membuat Najma membenci Pram.


*****


Empat hari sudah Najma menikmati perannya sebagai seorang ibu, ia sangat kerepotan tentu saja. Najma tidak punya pengalaman sama sekali dalam hal mengurus bayi. Hanya naluri sebagai seorang ibulah yang diandalkannya. Najma menolak saran Pram untuk memperkerjakan seorang baby sitter, ia ingin sendiri mengurus bayinya. Apa lagi ini anak pertamanya, Najma jadi sangat protektif.


“Mas tolong jagain Akela sebentar. Aku mau mandi,” ucap Najma. Pram segera meninggalkan laptopnya, ia mendekati Akela yang diletakkan Najma di atas ranjang mereka.


Akela sekarang sedang membuka matanya, ketika Pram menyentuh tangan mungilnya Akela menggenggam erat telunjuk besar Pram. Bayi mungil itu menatapnya, darah Pram berdesir. Tatapan mata bayi polos itu membuat Pram jatuh kasih padanya.


“Meski kamu bukan anak kandungku, aku berjanji akan selalu menyayangimu.” Pram mengecup lembut pipi Akela, ia mengangkat tubuh mungil itu dan menimangnya dengan sayang. Akela terlihat sangat nyaman dalam gendongan Pram.


“Mas!” panggil Najma setelah keluar dari kamar mandi, ia sudah mengenakan dress rumahannya.


“Akela kenapa digendong?”


“Habis dia lucu banget. Aku jadi gemas pengen gendong,” ujar Pram. Najma mendekat ke arah mereka, ia ingin mengambil Akela dari gendongan Pram agar pria itu bisa melanjutkan pekerjaannya, namun Akela menangis ia seolah enggan diturunkan dari gendongan Pram.


“Sayang kamu kok nangis?” Najma mengusap punggung mungil anaknya, membujuk agar bayi kecil itu menghentikan tangisnya, namun usahanya seolah sia-sia tangisan Akela justru semakin kencang.


“Dia masih mau digendong aku kali,” ujar Pram. Najma menatap Pram, apa benar yang dikatakan pria itu? Tapi masa iya. Pram kan bukan ayah kandungnya Akela, namun Najma membiarkan saja ketika Pram menggendong Akela kembali.


Tak sampai semenit ketika digendong kembali oleh Pram, Akela langsung berhenti menangis. “Dia langsung diam,” ucap Najma takjub.


“Ini kan pertama kali aku gendong dia. Mungkin dia pengen puas-puasin digendong sama aku,” kata Pram. Waktu Akela masih umur sehari Pram menolak permintaan Najma untuk menggendong Akela. Bukannya apa, seumur-umur Pram tidak pernah menggendong bayi, ia takut waktu itu, apa lagi Akela masih sangat rapuh.


“Jadi sekarang kamu sudah berani gendong bayi?” Pram mengangguk membenarkan pertanyaan Najma. Menggendong bayi baru lahir tidak seseram yang ia bayangkan.

__ADS_1


__ADS_2