Istri Titipan

Istri Titipan
Bab 7


__ADS_3

Endah melangkah dengan angkuh masuk ke dalam rumah anaknya. Lipstik merahnya mentereng di bibirnya yang suka sekali mengucapkan kata-kata sinis itu. Tak lupa sanggul khas Ibu-Ibu sosialita dan tas branded nya. Serta pergelangan tangannya yang dipenuhi perhiasan emas dan juga cincin-cincin yang memenuhi jari-jarinya.


Ia memutar bola matanya, melihat Najma yang tengah enak-enakan tiduran di sofa. Ia mengambil gelas air di atas meja menyiramnya ke wajah wanita itu. Najma terlonjak ia mengusap wajah basahnya.


"Dasar ya kamu! istri pemalas. Suamimu kerja, kamu malah enak-enak tiduran disini!" Ujarnya.


"Aku cape Bu, lagi pula pekerjaan rumah sudah ada yang membereskan."


"Mentang-mentang kamu ini! Seharusnya kamu itu belajar masak sana. Berapa tahun kamu menikah dengan anak saya sampai sekarang kamu masih belum bisa memasak!"


"Tapi, Mas Pram tidak pernah mempermasalahkan itu," sahut Najma, ia memang tidak bisa memasak, selama ini kalau tidak makan masakan buatan pelayan ia makan di luar.


Pram pun juga tidak masalah dengan Najma yang tidak bisa memasak. Pria itu juga tidak pernah menyuruh Najma melakukan pekerjaan rumah. Malahan Pram melarang keras ia melakukan pekerjaan rumah tangga, jika pria itu tahu ia menyentuh dapur Pram akan mengamuk. Pria itu tidak ingin istri cantiknya yang selama ini ia bangga-banggakan akan terlihat dekil saat melakukan pekerjaan rumah tangga.


"Alahh..... itu karena dia sangat bodoh. Heran saya sama anak itu. Memilih wanita pemalas seperti kamu, padahal masih banyak wanita yang lebih bagus di luaran sana untuk dijadikan istri dari pada wanita seperti kamu ini!" Endah mendorong Najma hingga wanita itu terjatuh, langsung saja ia jambak rambut Najma.


"Sebenarnya saya itu sudah lama gregetan sama kamu. Kenapa kamu tidak minta cerai saja dengan Pram? saya sudah bosan melihat wajah kamu!"


"Ibu lepaskan, sakit."


"Makanya setelah ini kamu minta cerai sama anak saya!"


Bayu yang kebetulan lewat awalnya berniat membiarkan saja karena sudah biasa bagi Bayu melihat Ibu Pram marah-marah sambil menjambak rambut Najma.


Tapi saat melihat Najma mulai menangis, ia memutuskan untuk ikut campur dalam masalah kedua wanita itu. Ia Menarik kasar tangan Endah yang menjambak rambut Najma. Wanita tua itu menatapnya marah.


"Kamu tidak usah ikut campur! kamu itu hanya supir disini beraninya menyentuh tangan saya!"


"Saya tidak bisa membiarkan seseorang berbuat semena-mena." Bayu membantu Najma untuk bangun. Endah berkacak pinggang amarahnya siap meledak, matanya melotot menatap bergantian Bayu dan Najma.


"Oh, atau jangan-jangan kalian menjalin hubungan gelap di belakang anak saya? awas kalian aku adukan pada Pram!" Ancamnya dengan kesal.

__ADS_1


"Silahkan. Adukan saja." Tantang Bayu dengan tenang. Lagi pula apa yang ia takutkan. Pram sendiri tahu apa hubungan yang terjadi antara ia dan Najma, jika pria itu marah dan mengusirnya Bayu sungguh sangat bersyukur. Dengan demikian ia tidak perlu lagi bermain sandiwara membosankan ini. Ditambah dengan Ibu Pram yang seperti nenek sihir membuat siapa pun pasti tidak akan tahan.


*****


Di kamar Najma kini sedang duduk di ranjang sambil memeluk lututnya, sementara Bayu sedang chatingan dengan pacarnya. Sesekali pemuda itu tersenyum sendiri begitu asik dengan dunianya. Najma menghela napas ia begitu bosan dengan keadaan yang serba canggung ini.


Najma terkejut ketika Bayu sudah berada didekat-Nya, Bayu memaksanya untuk berbaring. Pemuda itu menatapnya dengan lapar, Najma memejamkan matanya, ia pasrah membiarkan Bayu kembali menjamah tubuhnya.


"Najma!" Seruan serta ketukan pintu dari luar kamar membuat Najma mendorong Bayu yang menindihnya. Ia langsung membuka pintu memeluk Pram dengan erat tanpa peduli lagi dengan Bayu. Najma merasa terselamatkan dengan Pram mengetuk pintu kamarnya. Najma ingin semalam saja beristirahat tanpa harus menjadi pelampiasan dari kemarahan Bayu.


"Tumben kamu pulang cepat."


"Aku dapat undangan reuni SMA. Kamu bisa kan pergi keluar malam ini?" Najma mengangguk, ia sangat senang bisa bertemu dengan teman-teman lamanya kembali.


"Aku sudah menyiapkan gaun serta penata rias untukmu. Kamu dandannya di kamarku saja," ucap Pram.


"Baiklah." Najma mengikuti Pram. Ia sempat melirik ke arah Bayu tadi. Pemuda itu nampak kesal, tapi ia tidak peduli.


Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam untuk berdandan Najma kini sudah tampil cantik, ia memakai gaun berwarna navy yang begitu seksi, memperlihatkan bagian punggung mulusnya, malam ini ia terlihat sangat menawan dengan riasan naturalnya. Sejatinya meskipun Najma tidak memakai make-up wanita itu akan terlihat tetap cantik bagi siapa pun yang memandangnya.


Pram meminta Bayu untuk mengantar mereka, karena ia sedang malas menyetir. Sepanjang jalan Pram dan Najma terus bermesraan, tanpa peduli kalau ada Bayu di antara mereka.


Pram membukakan pintu untuk wanitanya, menggandeng Najma memasuki gedung megah tempat diadakan nya acara reuni itu. Najma begitu bahagia menyapa teman-temannya, begitu pun Pram.


"Najma kenapa kamu kembali lagi bersama dia?" Jihan sahabat Najma menatap wanita itu dengan dongkol. Jihan menarik tangan Najma membawa wanita itu menjauh dari Pram.


"Ya ampun Najma bodohnya kamu! Seharusnya kamu itu bercerai dengan Pram dan cari pria lain. Kamu ini cantik, masih banyak pria yang mau sama kamu," ucap Jihan menceramahi Najma yang hanya tertunduk.


"Aku tidak bisa Jihan. Aku begitu mencintai Pram."


"Dasar bodoh! kamu lihat itu Tita teman sebangku kamu dulu." Jihan menunjuk wanita yang ia maksud, wanita bernama Tita itu sepertinya sedang mengandung.

__ADS_1


"Lihat dia sedang mengandung anak keempatnya, padahal dia baru tujuh tahun menikah. Nah kamu sudah berapa lama? Sepuluh tahun! Pram itu mandul, Ibunya jahat kenapa kamu masih bertahan dengannya. Bahkan kamu sampai mengabaikan orang tuamu hanya untuk membela pria sialan itu. Ingat Najma saat dia dulu ingin menikah lagi dia sama sekali tidak memikirkan perasaanmu pada saat itu."


Najma merasa marah pada Jihan yang telah merendahkan Pram, "ini hidupku, kamu tidak berhak atas apa pun. Aku mencintai Pram, aku memilih dia untuk menjadi teman hidupku."


"Bodoh! kamu tidak akan bahagia dengannya!" Jihan mengumpat, ingin sekali ia menampar wajah Najma untuk menyadarkan wanita itu dari kebodohannya.


"Aku bahagia dengan pilihanku." Najma menyentak kasar tangan Jihan, meninggalkan sahabatnya itu dengan perasaan marah. Moodnya kini berubah buruk, ia sudah tidak berniat lagi untuk menyapa teman-teman lamanya.


Najma memilih menghampiri Pram, “Hai Najma. Kamu masih kelihatan cantik seperti dulu,” ucap salah satu teman Pram. Najma tersenyum menanggapinya.


“Btw, kalian sudah punya anak berapa?” Najma berdehem ia melirik Pram yang nampak kikuk.


“Kami masih dalam proses membuat anak. Ingin menikmati lebih lama waktu berdua sebelumnya nantinya punya anak,” ucap Najma, ia memberi kode agar Pram mengikutinya meninggalkan tempat itu.


“Aku bosan sekali kenapa hampir semua orang menanyakan berapa jumlah anak yang kita miliki.” Najma menggerutu setelah mereka menjauh dari tempat itu, ia mengambil gelas berisikan tequila dan menegaknya sampai tandas.


“Jangan terlalu banyak minum itu, nanti kamu mabuk,” ucap Pram melihati Najma kembali mengambil segelas tequila lagi.


“Aku memang berniat untuk mabuk.” Pram mendesah, tangannya bergerak melepaskan jepitan rambut wanita itu, sehingga rambut Najma yang semula tergulung dengan rapi jatuh menutupi punggungnya yang semula terekspos.


“Begini lebih cantik,” ucap Pram. Beberapa mata yang menyaksikan apa yang dilakukan Pram nampak kagum melihat sikap manis Pram terhadap Najma nampak tidak berubah dari semenjak mereka pacaran dulu.


*****


Bayu terkejut saat Najma kembali dalam keadaan mabuk, wanita itu bahkan sampai harus digendong oleh Pram. Najma terdengar meracau tidak jelas, “aku pusing.” Najma mulai merengek, kebiasaan yang tidak asing lagi bagi Pram.


“Sudah kubilang tadi jangan mabuk,” ujar Pram, pria itu membantu mencari posisi yang nyaman untuk Najma.


“Bayu jalankan mobilnya,” perintah Pram, setelah Najma agak tenang. Dari kaca spion Bayu melirik apa yang dilakukan pasangan itu, ia melihat Pram sedang mengusap kepala Najma. Dalam hati Bayu mencemooh, bagaimana Najma bisa menjadi seorang Ibu sedang wanita itu kelakuannya sangat manja. 


Sepanjang perjalanan pulang Najma banyak mengoceh, sesekali wanita itu cekikikan. Sementara Pram menanggapi ocehan Najma yang sedang dalam keadaan mabuk dengan sabar, sampai wanita itu akhirnya ketiduran.

__ADS_1


“Malam ini Najma istirahat di kamarku,” ucap Pram ketika mereka sudah tiba di rumah. Bayu langsung berpikiran negatif, kalau Pram akan bercinta dengan Najma. Ia menilai Najma sebagai wanita menjijikkan, mau-maunya ditidurinya bergantian oleh dirinya dan Pram.


“Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Najma tidak menjijikkan seperti yang kamu bayangkan. Aku tidak akan menyentuh Najma sebelum dia mengandung. Malam ini Najma hanya istirahat di kamarku,” ujar Pram, ia menggendong Najma keluar dari dalam mobil. Bayu memperhatikan bagaimana cara Pram memperlakukan Najma, jujur ia sedikit salut melihat betapa besar cinta yang dimilikinya pria itu terhadap istrinya.


__ADS_2