
Najma terbangun dengan kepala pusing dan perut yang terasa mual. Efek mabuknya semalam masih terasa. Najma menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya tadi malam ia minum sampai mabuk. Pasti perbuatannya tadi malam memalukan sekali. “Kamu sudah bangun?” suara berat Pram mengagetkan Najma yang sedang melamun.
“Mandilah. Sarapan pagi sudah siap,” ucap Pram. Najma mengangguk, ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Najma terkejut mendapati dirinya hanya memakai dalaman.
“Tadi malam kamu mengeluh panas, akhirnya aku tidak memakai pakaian untukmu,” ujar Pram, saat ini ia berusaha mati-matian untuk tidak menerkam Najma yang hanya mengenakan pakaian dalam. Apa lagi ia sudah cukup lama tidak menyentuh wanita itu.
Najma pun menyadari tatapan penuh nafsu dari Pram. Ia bergegas pergi ke kamar mandi. Setelah kepergian Najma Pram berusaha mengatur nafasnya yang memburu, teringat kalau setiap malam Bayu menyentuh Najma membuat dadanya panas.
“Mas ayo kita sarapan.” Suara Najma yang mengalun manja menyapa pendengaran Pram. Wanita itu sudah selesai melaksanakan ritual paginya ternyata. Pram menggandeng Najma, bau harum menguar dari tubuh wanita yang secara hukum masih berstatus sebagai istrinya itu.
Najma berbinar menatap nasi goreng yang tersaji di depannya. Aroma masakan itu menusuk hidungnya, perut Najma jadi keroncongan. Najma pun langsung menyendok makanan itu ke mulutnya, matanya melebar saat mencicipi rasanya.
“Ini nasi goreng buatan kamu?” tanya Najma, rasa masakan yang dibuatkan Pram Najma hapal betul.
“Iya, kamu suka?” Najma mengangguk.
“Sudah lama kamu enggak masakin aku nasi goreng,” ucap Najma dengan suara merajuk andalannya.
“Kamu kan tahu aku sibuk. Bisnisku lagi berkembang pesat,” ujar Pram, lagi pula ia kerja keras juga untuk Najma. Pram tidak ingin membuat Najma hidup susah bersamanya, ia tidak peduli jika orang-orang menganggapnya sebagai pria gila kerja.
“Kamu memang selalu sibuk. Sampai hanya punya sedikit waktu untukku, pekerjaanmu selalu menjadi yang pertama ketimbang aku.” Najma mencibir kelakuan Pram selama ini, ia sudah cukup bersabar dengan Pram yang gila kerja. Memang Pram selalu memenuhi kebutuhannya, tapi Pram jarang sekali mengajaknya pergi liburan untuk menghabiskan waktu berdua karena pekerjaannya itu.
“Aku kerja juga untuk kamu,” ujar Pram, ia masih ingat dengan janjinya pada Ibu Najma dulu yang harus selalu mengelilingi Najma dengan gelimang harta. Pram tidak mau dicap sebagai suami gagal karena membiarkan Najma hidup melarat dengannya.
*****
Sepulang dari mengajar Najma merasa bosan, di rumah Najma tidak ada kegiatan. Sementara Pram tidak mengijinkannya untuk keluar menghabiskan waktu bersama teman-teman sosialitanya semenjak marak gosip mengenai arisan brondong.
Pram si pencemburu membayangkan hal yang tidak-tidak dilakukan oleh Najma dan teman-temannya. Apa lagi mereka sudah dikategorikan sebagai tante-tante. Najma saja usianya sudah tiga puluh dua tahun.
Tiba-tiba Najma berpikir mungkin mulai dari sekarang ia harus belajar memasak, apa lagi jika nanti ia sudah menjadi seorang Ibu. Tapi ia harus memulai belajar memasak dari mana, bahkan takaran air untuk memasak nasi pun dia tak tahu.
“Pokoknya aku harus belajar masak.” Najma membatin, ia pun segera menuju dapur. Membuka kulkas mengambil wortel dan sosis. Najma berencana untuk memasak nasi goreng makanan kesukaannya.
“Ibu sedang apa?” tanya salah satu pelayan, tidak biasanya melihat Najma berada di dapur.
“Aku ingin memasak.” Ucapan Najma membuat pelayanan berumur empat puluhan itu memucat.
“Jangan Bu. Nanti Bapak marah kalau tahu ibu memasak,” ucapnya, selama ini ialah yang bertugas memasak. Semua pelayan di rumah ini tahu kalau Pram tidak mengizinkan Najma melakukan pekerjaan rumah tangga. Najma diperlakukan layaknya seorang ratu, lecet sedikit saja Pram akan mempermasalahkannya.
Dan memang sebelum menikah dengan Pram, Najma anak tunggal dari orang tua kaya hingga ia tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga. Segala kebutuhannya selalu ada yang melayani.
“Pram tidak akan tahu kalau Mbak tidak bercerita. Sudahlah tidak perlu khawatir Pram akan marah. Sekarang Mbak tinggalkan sendiri, aku ingin masak,” ucap Najma.
“T-tapi....”
__ADS_1
“Biarkan aku bereksperimen dengan dapur. Sekarang Mbak pergilah,” ucap Najma, ia memberikan senyum manis untuk menenangkan pelayan di rumahnya.
Najma menatap bahan-bahan yang ada di depannya, ia meringis bingung harus diapakan bahan-bahan itu. Akhirnya Najma memotongnya secara asal. Najma mulai memanaskan penggorengan, minyak mendidih membuat bergidik ngeri.
Menghela napas ia memasukkan bahan-bahan yang dipotongnya. Dasarnya ia memang benar-benar tidak tahu bagaimana cara memasak yang benar, minyak panas itu muncrat mengenai lengannya.
"Aduh panas..!"
"Kenapa?" Najma tersentak saat Bayu menyentuh lengannya, ia tak mengetahui kapan pemuda itu berada di dapur.
"Kena minyak panas," sahut Najma. Bayu mematikan kompor yang masih menyala, sebelum menyalakan kran air untuk membersihkan lengan Najma yang terkena cipratan minyak panas.
"Dimana kamu biasanya menaruh salep untuk luka bakar?"
"Di kotak P3K didekat rak koleksi bunga-bunga akrilikku."
"Aku akan mengambilnya, tunggu sebentar." Najma terheran-heran dengan Bayu. Tumben sekali pemuda itu perhatian dengannya.
Najma menatap lengannya yang memerah. Pram nanti pasti akan repot menanyai ini dan menceramahinya agar tidak lagi mencoba menyentuh dapur. Lamunan Najma buyar saat Bayu kembali.
“Sini tanganmu.” Bayu meraih lengan Najma, ia mengoleskan salep dikulit lengan Najma yang memerah. Bayu menyayangkan jika kulit mulus wanita itu terdapat bekas luka.
“Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan?” Najma mendengus mendengar pertanyaan Bayu yang terkesan ketus.
“Aku sedang belajar masak,” sahut Najma. Ekspresi wajah Bayu terlihat mencemooh, tentu saja. Berapa usia Najma? Wanita itu tidak bisa memasak.
“Aku berpikir mulai sekarang aku harus bisa memasak sebelum diriku menjadi seorang ibu,” ujar Najma. Meski dirinya belum hamil, Najma sudah membayangkan apa-apa saja yang akan ia lakukan bersama anaknya nanti. Kalau ia bisa memasak, maka dirinya bisa selalu membuat masakan kreasi untuk buah hatinya. Ia pasti akan jadi Ibu kebanggaan karena pintar masak.
*****
Pram mengernyit melihat Najma mual-mual, ia berpikir mungkin saja Najma sekarang sudah isi. “Sayang. Kamu mual-mual, jangan-jangan....” Najma menggeleng, ia paham arah pembicaraan Pram.
“Mana mungkin lah, ini terlalu cepat. Tadi aku lama berendam di kolam renang, sepertinya aku hanya masuk angin.” Pram mendesah pelan, ia menangkup wajah cantik wanita itu. Mata bulat Najma yang dikaguminya terlihat menawan saat berkedip dimana bulu mata lentik yang membingkainya seperti terlihat menyombongkan diri.
“Sebaiknya kita buktikan,” ujar Pram, mengecup bibir merah Najma. Ia segera mengambil tes pack yang sebelumnya memang sudah disiapkan.
“Kamu coba ini.” Najma menerima tes pack yang diberikan Pram. Ia dengan berdebar mencobanya di kamar mandi. Najma harap-harap cemas dibuatnya.
"Apa hasilnya?" tanya Pram dengan tak sabaran saat Najma baru saja keluar dari kamar mandi. Wajah wanita itu nampak lesu Najma menggeleng lemah.
"Aku masih belum hamil." Pram mendesah kecewa. Ia mengambil tes pack di tangan Najma yang menunjukkan satu garis merah.
"Tak apa kalian baru satu bulan melakukannya. Mungkin dua atau tiga minggu lagi kamu akan hamil," ujar Pram menghibur Najma sekaligus dirinya yang sebenarnya teramat kecewa karena janin yang ditunggu belum juga hadir.
Tangan Najma terulur menyentuh wajah tampan Pram, ia tidak mengerti jalan pikiran Pram kini. Pria itu ingin membahagiakan dengan membuat ia menjadi orang tua dengan cara menikah dengan laki-laki lain.
__ADS_1
“Kenapa harus dengan jalan seperti ini?” wajah Pram berubah miris, dalam hatinya ia menyesali keputusannya menikahkan Najma dengan Bayu. Seharusnya ia tak perlu terburu-buru, seharusnya ia mencoba saran Najma waktu itu yang menyuruhnya melakukan pengobatan secara tradisional.
“Maafkan aku,” ucap Pram lirih, dirinya benar-benar kacau saat mengetahui kalau ia mandul sehingga tidak dapat berpikir jernih.
Pram menarik Najma ke dalam pelukannya, Pram menyusupkan wajahnya ke leher wanita itu. “Apa pun yang terjadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Kamu itu gairah hidupku.” Suara Pram terdengar putus asa. Najma melingkarkan tangannya membalas pelukan Pram.
Selama ini walau banyak perbuatan Pram yang menyakitinya, ia tidak pernah berpikir untuk meninggalkan pria itu. Bahkan Najma sendiri memilih untuk menjauh dari orang tuanya demi bisa bersama Pram.
*****
Satu-satunya orang yang bisa membuat Pram berbuat kasar pada Najma adalah Ibunya. Ia begitu menghormati wanita itu, apa pun yang ibunya katakan Pram selalu percaya dan menurutinya. Sekarang ini Endah bertamu ke rumah Najma dan Pram, pastinya wanita itu hanya datang membuat masalah.
"Haduh.... lama sekali Ibu menunggu," cibir Endah dengan mata mendelik sinis ke arah Najma.
"Maaf Ibu,” ujar Pram yang kini bertingkah seperti anak kucing di hadapan Ibunya. Sungguh tidak pantas dengan sifatnya yang egois dan pemarah itu.
"Ya sudah, lagi pula Ibu tidak ingin lama-lama disini. Pram, Ibu hanya ingin memberitahu kalau Najma istrimu itu terlibat skandal dengan supirnya itu!" Pram melirik Najma yang tertunduk. Ia menahan napas sepertinya ia harus berhati-hati. Ibunya amat teliti, jika melakukan kesalahan sedikit saja semua akan berakibat fatal. Pram tidak ingin ibunya mengetahui kisah di antara Najma dan Bayu.
"Aku percaya dengan istriku Bu, dia tidak akan berbuat macam-macam di belakangku. Lagi pula mana mungkin Najma tertarik dengan Bayu, dia hanya supir. Lagi pula Bayu itu masih muda pastinya dia juga tidak akan melirik Najma."
Endah mencebik, greget ia dengan Pram. "Kamu tidak tahu kemarin sewaktu Ibu berkunjung kesini Najma dan Bayu dengan kasar mengusir Ibu. Seolah-olah Ibu ini seperti pengemis yang masuk ke rumah orang kaya. Istrimu itu tidak ada hormatnya sekali sama Ibu!" Najma mengangkat wajahnya yang semula tertunduk, begitu kejamnya Ibu Pram menuduhnya seperti itu.
"Aku tidak melakukan itu. Ibu berbohong soal itu." Najma membela diri. Pram kini mulai pusing membayangkan Ibunya yang ia sayangi diperlakukan dengan kasar.
"Diam! Aku lebih percaya dengan Ibuku." Bentak Pram dengan kasar. Endah tersenyum puas melihat Najma dimarahi. Inilah yang paling Endah sukai dari Pram, ia benar-benar berhasil menjadikan anaknya itu sebagai bonekanya.
"Sudahlah. Ibu ingin pulang saja. Pram kamu urus saja istrimu itu!"
"Ibu pulang. Ingin aku antar?" Pram benar-benar sangat penurut pada ibunya, di depan ibunya Pram seolah tidak bisa membedakan mana kepura-puraan dan yang mana sungguhan.
"Tidak perlu. Lagi pula Ibu kesini dengan supir pribadi Ibu," ucapnya dengan suara lembut yang dibuat-buat. Setelah kepergian Ibunya Pram menatap Najma dengan nyalang.
"Seperti itu kamu pada Ibuku," desisnya dengan tajam, ibunya wanita nomor satu dalam hidup Pram, ia sangat menghormati wanita itu.
"Sungguh aku tidak melakukan apa yang seperti Ibu katakan tadi. Ibu kamu berbohong, dia sengaja ingin kita bertengkar." Ucapan Najma menyulut emosi Pram.
"Maksudmu Ibuku tadi memfitnahmu begitu!" Najma mengangguk. Pram langsung mendorong wanita itu hingga terjatuh.
"Aku tahu kamu tidak menyukai Ibuku, tapi tidak seharusnya kamu menjelek-jelekkan dia." Pram meninggalkan Najma begitu saja.
Najma menatap punggung Pram yang menjauh dengan hati sakit, dirinya akan selalu kalah jika bersaing dengan wanita tua yang berstatus sebagai ibu Pram. Perlahan air matanya jatuh merembes membasahi wajah cantiknya yang terlihat sendu.
Dari jauh Bayu menyaksikan itu. Batinnya meringis melihat Najma yang seperti keracunan dengan cinta mati hingga rela diperlakukan seperti itu. Merasa amat kasihan ia mendekati wanita itu. Najma sempat terkejut ketika Bayu memeluknya, namun ia memilih untuk menenggelamkan wajahnya di dada pemuda itu untuk menumpahkan kesedihan hatinya.
Bayu hanya mengusap punggung Najma, ia tidak mengatakan kalimat apa pun untuk menghibur wanita itu. Ia biarkan Najma menangis sepuasnya, walau kini bajunya basah karena air mata wanita itu. Bayu tak peduli. Ia ingin menjadi sandaran sementara untuk wanita itu.
__ADS_1
“Dia tidak pernah mempercayai ucapanku jika ibunya sudah bicara.” Najma mengadukan apa yang dialaminya pada Bayu.
“Dan kamu sangat bodoh karena memilih bertahan dengan pria macam itu,” batin Bayu.