
"Aku tidak mungkin jatuh cinta pada wanita dewasa, perasaan ini pasti bukan cinta." Bayu kembali membantah apa yang dikatakan oleh hatinya.
"Sadarlah Bayu. Siapa kamu dan siapa Najma. Dia putri orang kaya, lihat siapa di sini sainganmu. Kamu tidak sebanding dengan pria yang dicintainya. Ibarat kata, kamu itu hanya remah-remah di matanya. Tidak ada peluang untuk dirimu Bayu." Bayu memarahi dirinya sendiri. Tak hanya itu, ia juga memaki-maki hatinya yang seolah tak tahu diri, berani sekali menaruh rasa pada wanita secantik dan sesempurna Najma.
"Agghhh.... Najma Syakira!" Bayu mengacak rambutnya frustrasi. Wanita itu membuatnya lupa segalanya selama beberapa bulan belakangan ini, lupa pacar setianya di kampung, lupa permintaan orang tuanya yang menyuruh ia segera pulang dan lupa akan statusnya yang tak sederajat dengan Najma.
"Bayu...." suara Najma yang mengalun merdu menyapa pendengarannya membuat Bayu menegang. Apa Najma mendengarkan apa yang tadi ia ucapkan?
"Kamu mau tidak menemani aku jalan-jalan?" Bayu berdehem, ia bernapas lega. Berarti tadi Najma tidak mendengar apa yang ia katakan.
"Jalan-jalan ke mana?"
"Di sekitar sini saja Bayu. Anggap saja olahraga sore," ujar Najma, tangannya mengelus perutnya yang sudah membuncit, waktu berlalu tanpa terasa usia kandungannya sudah menginjak bulan kelima.
"Baiklah," ucap Bayu. Najma tersenyum semringah, ia mengajak Bayu untuk mengikuti langkahnya. Kebun di belakang rumahnya dipilih Najma sebagai lokasi jalan-jalannya, dengan perutnya yang membuncit Najma semakin terlihat menawan di mata Bayu.
Dan Bayu merasa bangga karena dirinyalah yang membuat Najma seperti itu. Najma mengandung anaknya. "disini tempat main favoritku dulu." Najma menunjuk sebuah pohon asam yang sangat besar, dulu ia sering mengumpulkan buah asam itu untuk dijadikan mainan bersama teman-teman masa kecilnya dulu.
"Orang tuamu tidak marah kamu main ke hutan?" tanya Bayu, hutan di sini tidak terawat banyak tanaman liar tumbuh dengan subur.
"Tidak. Paling kalau lama belum pulang dicari." Najma mendudukkan pantatnya di batang pohon kayu yang sudah tumbang.
"Dulu aku pikir menjadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi ternyata kenyataannya tidak seperti itu. Jika bisa, aku kembali menjadi anak kecil lagi." Bayu menghela napas panjang, ia memberanikan diri untuk menyentuh perut Najma.
"Apa yang terjadi di masa lalu tidak akan dapat terulang kembali, yang terpenting sekarang jalani saja hidup ini," kata Bayu. Wajah Najma berubah kecut.
"Aku harap bayi ini nantinya bisa membawa warna baru dalam hidupku." Najma menatap netra coklat Bayu. Lagi-lagi mata bulat Najma yang cantik membuat Bayu kembali terperosok pada pesona wanita itu.
*****
Setelah menghabiskan banyak waktu untuk berpikir, Bayu memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Ia sudah menemukan alasan kuat untuk pulang, Bayu pikir tiada guna mengharap rasa pada Najma. Bayu pun menyampaikan keinginannya itu pada Najma.
"Bayu kamu akan kembali kesini lagi bukan?" ucap Najma, setelah Bayu menyampaikan maksudnya.
"Entahlah, tapi sepertinya tidak." Bayu menempelkan pipinya ke perut Najma merasakan pergerakan calon bayinya di sana. Timbul rencana jahat di kepala Bayu untuk menculik bayi ini nanti setelah lahir, tapi ia segera menepis pikiran jahatnya itu.
"Jadi kamu tidak akan kembali?" Najma berucap lirih, nyaris terdengar seperti bisikan perasaannya kini campur aduk.
"Mungkin saja. Aku pun masih mengingat baik apa yang membuat kita menjadi seperti ini. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan, jadi tidak ada alasan untuk aku kembali kesini lagi. "
__ADS_1
"Lalu apa yang harus aku katakan. Jika anak kita nanti menanyakan siapa Ayah kandungnya?" Najma merutuki mulutnya yang dengan lancar mengucapkan kata-kata itu. Mengapa dirinya sekarang jadi seresah ini memikirkan Bayu tidak akan kembali menemuinya.
Bayu menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Ia mengelus rambut Najma yang terasa halus. "Soal itu kamu tenang saja, sesekali aku akan mengunjunginya itu pun jika kamu mengizinkan," ujar Bayu. Ada rasa sesak yang mengimpit dadanya saat ia mengucapkan kalimat itu.
"Bayu." Najma menyebut nama lelaki di depannya dengan sendu. Entah mengapa ia merasa tidak rela ditinggalkan Bayu.
Bayu mengernyit dalam, melihat kesedihan di mata wanita itu. "Sudahlah. Jangan memasang wajah sedih seperti itu nanti bayinya juga ikut sedih. Kamu harus bahagia sepanjang hari, supaya saat bayinya nanti lahir dia tumbuh menjadi anak yang ceria."
"Kamu harus kembali kesini lagi Bayu." Bukannya menjawab Bayu justru memeluk wanita itu. Jika boleh jujur Bayu pun ingin dirinya kembali, tapi seperti yang ia katakan tadi ia tidak memiliki alasan untuk tetap bertahan disisi wanita itu.
Beberapa hari sebelumnya....
Bayu yang waktu itu dalam perjalanan pulang dicegat oleh sebuah mobil. Ketika sang pemilik mobil keluar Bayu langsung mengenalinya. Pram dengan angkuh menghampiri Bayu, mencengkeram kerah bajunya dengan emosi yang meletup-letup.
"Bedebah! Selama ini kamu berperan dalam menjauhkan Najma dariku!" Bayu dengan sigap menghindar saat Pram ingin memukulnya. Walau ia bisa dibilang bocah ingusan, tapi ia menguasai ilmu bela diri. Bayu tak mau terpancing emosi Pram, ia berusaha untuk tetap tenang menghadapi pria di depannya.
"Kenapa kamu lakukan ini Bayu? Kamu melupakan perjanjian yang telah kita buat," kata Pram, ia berang saat mendapat informasi dari orang bayarannya kalau Najma yang selama ini disembunyikan oleh ayahnya ternyata tinggal berdua dengan Bayu.
Bayu mencemooh dalam hati, 'perjanjian' kata Pram. Ia tidak pernah membuat perjanjian dengan pria itu, yang ada pria itu yang memaksanya untuk menikahi Najma. Jadi disini Bayu merasa ia tidak melanggar sebuah perjanjian.
"Anda kasar, saya tidak yakin janin yang di kandung Najma bertahan sampai saat ia dilahirkan," kata Bayu, dengan pembawaan yang sangat tenang sekali.
"Berkacalah Bayu tentang siapa dirimu. Kamu ingin memiliki Najma itu hanya mimpimu di siang bolong. Kamu tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan sehingga Najma bisa berpaling kepadamu, dengan keadaanmu kamu tidak akan bisa membuatnya bahagia yang ada Najma akan menderita karena hidup melarat bersamamu. Sedangkan aku! Aku memiliki segalanya yang bisa membuatnya bahagia. Sekujur tubuhnya akan dipenuhi dengan perhiasan-perhiasan mewah. Bahkan setiap langkah kakinya akan kutaburi dengan permata!" Kata Pram dengan angkuh. Bayu pun sadar tentang apa dan siapa dirinya. Tidak perlu Pram menghinanya, ia pun nanti dengan sendirinya pasti akan mundur karena dirinya tak mau menjadi perebut milik orang lain.
*****
"Papa ingin menemui anak itu?" Bagas menatap istrinya yang kini memasang wajah sinis.
"Dia itu anak kita. Kamu lupa bagaimana susahnya kita dulu untuk mendapatkan anak dan kini kamu dengan mudahnya tidak mengakui Najma sebagai anakmu."
"Aku tidak akan mengakui Najma sebagai anakku selama dia masih mengandung anak pemuda miskin itu! Memangnya kamu sudah tahu Najma salah tetap mati-matian membela dia." Risma mendengus. Mimpi apa dia akan memiliki keturunan dari benih seseorang yang bukan berasal dari darah biru.
"Kesalahan apa pun yang Najma lakukan dia tetap akan menjadi anak kesayanganku," kata Bagas, ia tidak peduli dengan penilaian orang-orang terhadapnya. Rasa cinta dan kasih sayangnya yang berlebihan pada anak satu-satunya itu, membuat ia gelap mata.
Risma berdecih, ia membiarkan suaminya pergi. Kalau berdebat soal anak ia memang selalu kalah, sebenarnya Risma tidak benar-benar membenci anaknya hanya saja terlalu kecewa dengan perlakuan Najma.
Setelah Bayu meninggalkannya. Najma terus memasang wajah sumpek, ditinggal di tempat seperti ini Najma merasa terisolasi. Bayangkan saja jarak antar rumah bisa 60 - 100 meter. Sebenarnya beberapa teman masa kecilnya masih ada yang tinggal di daerah sini, tapi Najma terlalu malas untuk bertemu dengan mereka kembali.
Najma yang sedang bersantai, mengernyit melihat sebuah mobil memasuki halaman. Najma langsung berubah lesu saat menyadari kalau itu mobil Ayahnya, saat ini ia tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Apa lagi yang menyebabkan ia berada di tempat ini Ayahnya, ia kesal sekali sehingga saat Ayahnya tersenyum padanya kini pun ia tak membalasnya.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Bagas, tatapannya tertuju pada perut Najma yang terlihat buncit. Menyadari tatapan Ayahnya, Najma langsung memeluk perutnya seolah melindungi sang jabang bayi.
"Papa untuk apa kesini lagi? pulang sana, aku tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa."
Bagas tersenyum hambar, kalimat itu membuatnya sakit hati. "kamu anakku, di usiaku yang sudah senja kamu adalah satu-satunya alasan untuk aku bahagia." Najma menelan ludah mendengar jawaban Ayahnya. Kalimat itu begitu menampar telak dirinya. Ia selama ini selalu dimanjakan, apa yang ia minta dari Ayahnya pasti dikabulkan.
"Bagaimana hubunganmu dengan Bayu?" melihat raut wajah Najma yang tiba-tiba berubah. Bagas langsung mengalihkan pembicaraan, biar bagaimanapun ia tak ingin melihat putrinya menangis.
"Baik-baik saja. Bayu sekarang sedang pulang kampung." Bagas terkejut mendengar jawaban Najma. Bayu pulang ke kampung halamannya lelaki itu tidak memberitahu kepulangannya. Bayu meninggalkan Najma. Padahal ia sudah memberi kepercayaan pada Bayu.
Saat pertama kali bertemu Bayu. Bagas langsung menyukainya melihat pembawaan Bayu yang santun terhadap orang tua. "Papa tidak tahu kalau Bayu pulang kampung. Apa yang dia katakan padamu sebelum pergi?" tanya Bagas, ia merasa ada yang tidak beres karena sebelumnya Bayu mengatakan tidak akan pergi sebelum Najma melahirkan.
"Katanya Bayu kangen dengan suasana kampung halaman dan orang tuanya," ucap Najma, mengatakan apa yang menjadi alasan Bayu meninggalkan nya.
"Kapan dia akan kembali lagi?" Najma mendengus. Bayu bahkan tidak memberi kepastian kapan tepatnya dia akan kembali lagi kesini.
"Tidak tahu, tapi Bayu mengatakan kemungkinan kalau dia tidak akan kembali lagi kesini," ujar Najma. Bagas mengamati ekspresi wajah Najma yang memendam sebuah kekesalan.
"Papa rasa ada alasan lain, mengapa Bayu meninggalkanmu." Najma teringat pada perubahan sikap Bayu beberapa hari belakangan. Bayu sering melamun dan terkadang Bayu sering tak acuh jika ia ajak bicara.
Sementara pikiran Bagas kini tertuju pada satu orang, Pram. Pasti pria sialan itu berhasil menemui Bayu dan mengancamnya. "Kamu mau ikut pulang bersama Papa?" Najma memutar bola matanya, hubungannya dengan Risma sedang tidak baik. Ibunya itu tidak terima ia mengandung anak Bayu.
"Tidak. Lebih baik aku di sini saja, aku tidak mau melihat Mama sama Papa berdebat, aku pusing. Di sini lebih tenang," sahut Najma.
"Baiklah, tapi jangan coba-coba berpikir untuk kembali bersama Pram."
"Mana mungkin lah. Pergi dari sini saja kecil kemungkinan. Para bodyguard yang dibayar Papa itu mereka selalu mengawasi gerak-gerikku," ucap Najma ketus, ia merasa sesak napas karena tidak bebas melakukan apa yang ia mau.
*****
Pagi sekali Najma sudah bangun dari tidurnya, embun pagi yang menempel di dedaunan pun belum pergi dari tempatnya. Najma bosan tidak memiliki orang yang bisa menuruti keinginannya, soal Bayu pemuda itu sepertinya memang tidak akan kembali menemuinya.
Najma memeluk boneka kucing yang dulu diberikan Bayu. Boneka imut yang selalu menemani malam-malamnya, tak pernah terpikir oleh Najma kalau nasibnya akan seperti ini. Najma mendesah, ia keluar dari kamarnya untuk mencari udara segar.
Najma berjalan-jalan di halaman rumahnya, menuju ayunan yang dulu sering menjadi tempat ia main, Najma tak jera main ayunan meski ia pernah jatuh. Ayunan itu kini sudah berkarat karena termakan usia. Perosotannya juga sudah tidak bisa digunakan lagi.
Najma meringis saat makhluk di dalam perutnya menendang, ia mengelus-elus perutnya penuh kasih. "Saat kamu lahir. Mama akan menemanimu main, kamu akan jadi kesayangannya Mama." Setelah anaknya nanti lahir Najma memutuskan untuk tidak menjadi wanita karier lagi, ia ingin menjadi ibu rumah tangga seutuhnya supaya bisa selalu bersama anaknya. Pram pasti menyetujui keputusannya itu.
Ngomong-ngomong soal Pram. Najma sama sekali tidak mengetahui bagaimana kabar pria itu. Apakah pria itu masih hidup atau kah sudah mati karena putus asa berbulan-bulan tidak berhasil menemukannya, atau justru sebaliknya. Pram telah berbahagia dengan wanita lain yang mampu menggeser kan posisi Najma di hatinya. Tapi Najma berharap, Pram masih setia padanya seperti janji pria itu dulu yang hanya akan menjadikan dirinya sebagai cinta pertama dan terakhir dalam hidupnya.
__ADS_1